
20:00 PM
Setelah lima jam perjalanan tanpa henti, akhirnya Raiden sampai ditempat tujuan. Kantor terlihat sepi, gelap, hanya ada beberapa karyawan yang lembur malam ini.
Derap langkah kaki nya terdengar jelas mengisi kekosongan, dari kejauhan terlihat seseorang berdiri didepan lift stand by menunggunya sembari bercakak pinggang layaknya ibu siap memarahi anaknya.
"Benar-benar kelakuan Lo, dari mana Lo? Mentang-mentang udah punya bini gak ingat tanggung jawab. Gue bunuh juga Lo," sergah Rudi.
Siempunya seakan tuli, berlalu masuk kedalam lift dengan kedua tangan dimasukkan kedalam saku celana.
"Orang ngomong dijawab!"
"Ck, honeymoon."
"Honeymoon-honeymoon, masa genting begini Lo masih pikir yang begituan. Gak habis pikir gue sama Lo,"
Rudi mengusap wajahnya gusar, pusing memikirkan tingkah pria yang satu ini. Andai bukan karena cara kerja Raiden yang cepat selama ini, sudah dari dulu Rudi mengambil alih perusahaan ini.
Memang beberapa tahun yang lalu pria ini bermasalah dengan kesehatan mentalnya, tapi sekarang semua kian membaik. Sudah sepantasnya Raiden memikirkan perusahaan ini, bukan dia yang bukan siapa-siapa keluarga Dirgantara.
Mereka hanya sebatas teman, tidak ada hubungan darah sedikitpun.
"Sejak kapan Lo sadar jadi manusia?" sindir Raiden, meneliti penampilan Rudi yang terlihat kembali seperti semula.
Selama ini sifat yang dia tunjukkan hanya sebatas topeng, kenyataannya Rudi pria normal tidak ada campuran wanita sedikitpun.
Semua berubah tepat kejadian beberapa tahun yang lalu, bertepatan Raiden berurusan dengan Andro dan saudara kembarnya. Mulai kejadian itu Raiden berubah menjadi pribadi yang lebih dingin dan Rudi malah mengubah kepribadiannya karena kehidupannya yang rumit.
"Bukan urusan Lo," tangkas Rudi.
Detik berikutnya pintu lift terbuka kembali, Rudi langsung menyeret tubuh kekar itu masuk kedalam ruangannya tanpa ada penolakan sedikitpun. Raiden akui dia memang salah tapi disatu sisi, ada wanita yang harus dijaga. Tidak mungkin hanya perusahaan yang harus diurus, istrinya juga butuh perhatian.
Pintu ruangan dibuka secara kasar, manik hitam itu langsung disambut meja kerja yang berantakan penuh dengan file-file.
"Jadwal besok udah gue susun, file-file udah gue periksa satu persatu tinggal ditanda tangani," terang Rudi.
Spontan Raiden menoleh kearahnya, menatapnya dengan tatapan menelisik. Siempunya yang menyadari hal itu berdecak kecil, memukul lengan kekar itu melepaskan kekesalannya.
__ADS_1
"Gue gak sejahat itu, lagian kalo gue mau udah dari dulu gue lakuin."
"Alasan,"
Raiden duduk di kursi kebesarannya, membuka file satu persatu untuk memastikan isinya. Siapa tahu pria ini berbohong, karena manusia terdekat sekalipun bisa saja menusuk dari belakang.
"Rese Lo, bertahun-tahun gue kerja di sini masih bisa-bisanya Lo gak percaya sama gue."
Raiden hanya diam, memilih sibuk dengan kegiatannya agar semuanya cepat kelar. Minimal file-file ini tertanda tangani malam ini, agar urusan yang lain bisa ditangani secepatnya.
"Nona muda mana?" tanya Rudi, sembari sibuk dengan file-file ditangannya. Entah mengapa ia suka memanggil Tasya dengan panggilan itu, apalagi mengingat pertemuan mereka. Dimana perempuan itu datang ke kantor mengunakan sandal jepit dipadukan dress selutut. Tidak serasi memang, walau tetap saja dia terlihat cantik.
Kebetulan saat Pernikahan mereka berlangsung, Rudi ke luar kota menganti posisi Wisnu sementara waktu.
"Liburan."
Sontak Rudi tertawa terbahak-bahak, yang Raiden yakini tawa bahagia dibalik penderitaan orang lain.
"Siap-siap syuting drama baru, genre apa nih? sad, romantis atau komedi? bisa jadi sesi kangen-kangenan, mungkin," sindir Rudi.
Manusia yang disindir malah biasa saja, karena tidak merasa sedikit pun. Dia juga bingung dengan perasaannya saat ini, rasanya ada yang berbeda dan tertinggal namun entah apa.
Mengerjai sedikit mungkin menyenangkan, sudah lama mereka tidak berinteraksi seperti saat ini. Raiden benci dengan Ruby, sosok yang menyembunyikan identitas sahabatnya selama ini.
Rudi yang duduk dihadapannya benar-benar sahabatnya yang dulu. Tanpa ada kepura-puraan menjadi Ruby, tapi asli Rudi yang dulu.
"Lo pengen tahu?" tanya Raiden dengan wajah datar tanpa ekspresi.
Pria itu hanya mengangguk, tanpa tahu maksud terselubung dibalik wajah datar itu.
"Rasanya~"
Rudi meneguk salivanya kasar, terhanyut dengan kebohongan itu yang membuatnya panas dingin dalam sekejap. Semuanya Raiden jelaskan secara detail, detail kebohongan yang tidak ada kenyataanya.
Lagian dia tidak senonoh itu, menceritakan pengalaman pribadinya diatas ranjang dengan istri kecilnya. Cukup dia, Tasya dan Tuhan yang tahu. Bahkan Readers pun tidak tahu akan hal itu.
"Br*ngsek, besok gue harus cari bini."
__ADS_1
Raiden hanya manggut-manggut, mengikuti setiap gerak gerik pria itu yang terlihat duduk gelisah ditempatnya. Hingga detik berikutnya Rudi bangkit dari tempatnya, berlalu masuk kedalam kamar mandi.
"Ternyata masih tersegel, dasar perjaka tua," gumam Raiden.
Memang pergaulan mereka sejak remaja tidak sebebas yang lain tapi untuk masalah alkohol, mereka berdua tidak perlu dipertanyakan lagi.
Namun untuk masalah ranjang, apalagi wanita. Dari dulu mereka berdua tidak terlalu minat. Hanya sebatas menonton film dewasa saja.
Dunia mereka hanya dihabiskan didepan layar komputer dan file-file seperti saat ini.
_________________
Manik biru mengerjap berkali-kali, sembari meraba-raba ranjang disebelahnya mencari sosok manusia pengantar tidur nya.
"Om,"
Hening tidak ada sahutan. Sontak manik Tasya melotot, mengingat perkataan suaminya tadi pagi.
"OM RAIDEN!"
Tetap sama, tidak ada sahutan sama sekali. Tasya hendak bangkit dari tempatnya, sebelum menyadari tubuhnya hanya ditutupi selimut tebal.
Mereka berdua tertidur setelah kegiatan panas itu, Tasya malas memasangkan pakaiannya kembali setelah digempur habis-habisan. Tapi sekarang, apa yang pria itu lakukan?
"Suami gak tau diri, masa aku tinggal begini? Ini lagi, emang aku wanita apaan?"
Tasya meraih kartu ATM dari atas nakas dengan secarik kertas diatasnya.
"Kamu pegang itu dulu, kalo mau kemana-mana izin dulu sama aku!"
"Pe'a, bini ditinggalin begini malah dikasih uang, lagi. Om pikir Tasya apaan? Nyesel aku nawarin diri. Gak tau diri," umpat Tasya.
Amarahnya membendung, kedua tangan terkepal. Entah kemana perginya pria itu, istri ditinggal tanpa pamit sedikit pun.
Tapi yang lebih membuat Tasya kesal, kartu ATM yang ada di atas nakas. Terutama keadaannya sekarang, layaknya wanita pemuas ranjang saja.
_________________
__ADS_1
TERIMAKASIH:)
#KUOTA SEKARAT LAGI, JADI MAAF GAK BISA DOUBLE UP