MENIKAH DENGAN GADIS SMA

MENIKAH DENGAN GADIS SMA
EXTRA PART


__ADS_3

Healing atau penyembuhan diri terbaik salah satu diantaranya, berkebun. Berkebun mampu membantu menjaga kesehatan jiwa dan raga. Hingga membangun kedekatan yang lebih, bersama keluarga.


Mungkin selama ini Raiden mengandalkan obat sebagai penenang sementara, namun belakangan ini Raiden memutuskan menghentikan kebiasaan itu. Apalagi istrinya mendukung penuh akan keputusannya.


Rencana awal Raiden pindah ke desa, hanya sekedar memperbaiki hubungannya dengan Tasya. Namun tak disangka, mereka bertemu dengan orang-orang baik. Apalagi istrinya tripikal manusia ramah, hanya hitungan jari saja, Tasya sudah terbiasa dengan lingkungan baru mereka.


Dan entah apa yang Tasya katakan, hingga ladang yang cukup luas diberi para penduduk desa, untuk mereka kelola sementara waktu. Beberapa bulan ini, mereka memutuskan berkebun tak jauh dari rumah. Menanam berbagai macam tanaman.


"Bang!" Tasya menarik-narik ujung kaos Raiden, yang sedari tadi sibuk menanam sayuran.


"Bukannya ngambek? katanya mau cari suami baru," sahut Raiden. Mengulangi ucapan istrinya beberapa jam yang lalu.


Setelah pertengkaran kecil itu, Tasya seakan mendiaminya. Kebiasaan wanitanya, beberapa bulan ini.


Sifat keras kepala dan pembangkangannya sudah hilang terhempas angin lalu. Bahkan lewat tatapan mata saja, Tasya sudah takut dan menuruti ucapannya.


"Gak, pulang yuk! Panas."


"Bentar."


"Buruan!"


"Pulang duluan, sana! Nanggung ini."


"Kamu mah, gak pengertian jadi suami. Tadi aku ngambek, malah ikutan diam. Sekarang malah lebih perhatian sama tanah." Tasya melipat kedua tangan didepan dada, bibir mengerucut ke depan, kesal dengan tingkah suaminya.


Sontak Raiden tertawa kecil, bangkit dari tempatnya, seraya menatap hasil karya tangannya beberapa bulan ini. Tak disangka, seorang Raiden Dirgantara, pria manja yang biasa hidup mewah bisa melakukan hal seperti ini.


Seumur-umur baru kali ini Raiden bercocok tanam, ternyata tak segampang yang dipikirkan.


"Bang, ih." Tasya memukul kecil lengan kekar itu, hingga atensi siempunya beralih ke arahnya.


"Istri kamu itu, aku atau tanah sih?"


"Kamu cemburu sama tanah?" tanya Raiden tenang, tanpa beban sedikitpun.


"Dasar om-om, gak pekaan jadi suami." Tasya mencibik, bibir mengerucut ke depan.


Hal yang paling Raiden benci dalam hubungan adalah, kode. Raiden yakin, istrinya menginginkan sesuatu. Namun, enggan mengatakannya langsung. Seakan menganggapnya cenayang, mengetahui semua keinginannya tanpa diucapkan.


"Iya-iya, maaf. Mau pulang 'kan? yaudah, ayo!"


"Kamu mah, gak peka."


Nah benarkan. Wanita memang makhluk Tuhan yang paling sulit dimengerti.


Raiden mengehela napas sejenak, baru menuntut tubuh gembul itu ke arah gubuk bambu dipinggir ladang, tempat berteduh yang paling nyaman menurut Raiden.


"Bibirnya jangan digituin, ini ladang kalo kamu lupa."


"Mesum."


Tasya duduk diatas bambu itu, diikuti Raiden dengan senyuman jahil dibibirnya.


"Tapi tenang aja, di sini sepi kok. Jadi aman–"


"Diam, gak?" Tasya memukul kecil lengan kekar itu.


Raiden hanya tertawa kecil, membuka topi hitam yang menutupi kepalanya dan menguyar rambutnya kebelakang, yang terasa dibanjiri keringat.


"Kenapa?" Raiden membuka pembicaraan, seakan memerintahkan Tasya menyuarakan isi hatinya.


"Kaki aku kram," adu Tasya.


Raiden hanya mengangguk, bangkit dari tempatnya berdiri menjulang tinggi tepat dihadapan Tasya.


Membuka topi yang menutupi kepala istrinya dan mengikat rapi rambut panjang itu.


"Cuman itu aja?" tanya Raiden. Menyandarkan tubuh Tasya ke dinding bambu, baru duduk seraya mengangkat kedua kaki istrinya keatas pangkuannya.


"Kangen," lirih Tasya terdengar serak, menahan tangis.


"Kapan-kapan kita pulang ke kota, tapi gak waktu dekat ini," jawab Raiden seakan tahu maksud ucapan istrinya.

__ADS_1


"Yah, padahal aku udah kangen mama sama papa."


"Sabar."


Tasya hanya mengangguk, memilih memejamkan mata menikmati sentuhan lembut jemari besar itu di kedua kakinya.


Belakangan ini, Tasya semakin terlihat seperti anak-anak pada umumnya, sesuai umurnya Apalagi ke dua orangtuanya, semakin menunjukkan perhatian lebih. Berbeda jauh di masa lalu.


Namun, bukan hanya itu saja, lingkungan mereka saat ini membawa dampak positif yang besar. Mulai dari mengenal agama, kesopanan, disiplin, bahkan kesederhanaan.


Mungkin biasanya Tasya memangil Raiden dengan panggilan om, diluar rumah Tasya menganti panggilannya dengan embel-embel bang. Malu didengar tetangga.


Walau sebenarnya, Raiden tidak pernah mempermasalahkan panggilan istrinya. Apapun itu asal Tasya pelakunya, Raiden pasti suka.


"Tiga bulan lagi, kamu yang sabar yah," ucap Raiden lembut.


"Iya. Asal kamu ingat waktu sama umur. Udah tua, masih bisa-bisanya mikirin yang gak benar. Buang-buang waktu malah," omel Tasya.


"Iya-iya, maaf."


"Sekarang minta maaf, nanti malam berulah lagi. Gitu aja tiap hari sampai kiamat."


Tasya membuka maniknya kembali, menatap tajam kearah Raiden yang terlihat fokus memijat kedua kakinya. Walau terkadang, sengaja memijat yang bukan bagian yang tidak seharusnya.


"Mesum."


Sontak Raiden tertawa terbahak-bahak, membiarkan Tasya menarik kedua kakinya.


"Cari kesempatan mulu."


"Yah, harus."


Raiden mengeser tubuhnya mendekat kearah Tasya, merebahkan tubuhnya di atas bambu berbantalkan paha istrinya.


Tatapan keduanya lurus ke depan, menatap kebun yang mereka kelola belakangan ini.


Banyak hal yang mereka lewati, hingga kondisi mental Raiden kian membaik. Bahkan memperdalam agama.


Andai dulu Raiden menyerah dengan keadaan, mungkin hal sederhana yang membuatnya bahagia saat ini, tidak akan ia rasakan.


Setiap orang memiliki penderitaan yang berbeda-beda dan setiap keputusan hidup ada ditangan masing-masing. Menyerah atau pantang mundur, keputusan masing-masing.


"Sya!" panggil Raiden lembut. Memejamkan kedua matanya, menikmati elusan lembut jemari lentik itu diatas rambutnya.


"Kenapa?"


"Aku izinin kuliah, tapi di Indonesia."


"Iya."


"Oh, udah berubah pikiran? gak ngotot lagi ke Jepang?" Raiden kembali membuka maniknya, mendongak keatas tepat manik biru itu menatap tak minat ke arahnya.


"Malas adu mulut."


"Tumben."


"Palingan hasilnya sama. Kalo gak adu mulut, yah tempat tidur. Otak kamu isinya cuman itu-itu aja. Jorok."


Spontan Raiden tertawa terbahak-bahak, mensejajarkanya wajahnya ke perut buncit istrinya dan mendusel-dusel hidungnya di sana.


"Kamu sendiri mau-mau aja."


"Yah gimana lagi, namanya juga istri." Tasya menarik napas dalam-dalam, dan mengeluarkannya secara perlahan.


Ternyata menjadi istri itu tidak mudah. Pantasan mamanya mengeluh, setiap papanya berulah.


"Jangan mikirin yang aneh-aneh!" peringat Raiden.


"Hm."


"Kita pulang atau gimana?"


"Kita di sini aja dulu. Di rumah bosan."

__ADS_1


Raiden hanya mengangguk, mengubah posisinya menjadi duduk. Seraya menarik Tasya kedalam dekapannya.


Waktu berjalan begitu cepat. Tiga sekawan yang biasa hidup berdampingan, kini hidup berpisah. Penderitaan, tangis, luka, serta angan-angan berlalu begitu saja.


Impian melanjutkan studi ke Jepang, tidak terwujud sama sekali. Hanya Alex yang melanjutkan studi ke Jepang. Zara kembali memperdalam agama.


Mereka bertiga, benar-benar terpisah.


Kegelapan yang sempat mereka jelajahi kini berakhir, apalagi Zara sudah menemukan keluarganya sendiri. Keluarga Sadewa. Namun masih banyak hal yang belum terungkap, ternyata Zara dan Rudi memiliki hubungan darah.


Rudi Sadewa, sekretaris sekaligus sahabat Raiden satu-satunya. Yang kini sudah naik jabatan, sebagai CEO.


Awal dari semuanya tepat hari kelulusan. Nama yang tercantum di raport Zara, nama yang Rudi cari selama ini.


Entah apa yang terjadi, mereka tidak ada yang tahu. Rudi bungkam, namun berjanji bertanggungjawab atas semua kebutuhan Zara.


"Bang!"


"Kenapa?"


"Kamu udah siapin nama buat anak kita?" Tasya mendongak kepalanya ke atas, tepat kecupan lembut mendarat disudut bibirnya.


"Udah."


"Serius?"


Manik biru itu berbinar, berharap penuh Raiden mengucapkan nama itu. Namun siempunya malah mengeleng.


"Kepo!"


"Yah, bang. Kasih tahu dong," rengek Tasya.


"Gak, rahasia."


"Kamu mah, gak seru."


Bibir Tasya mengerucut kedepan, seraya membuang muka.


"Tunggu lahiran dulu, baru aku kasih tahu."


"Hm, terserah."


Raiden hanya tertawa kecil, tidak berniat menuruti permintaan istrinya untuk yang satu itu.


"Anak kita pasti cantik, kayak kamu. Jadi aku udah siapin nama, yang paling cantik," bisik Raiden.


Sekejap, jiwa kepo Tasya berkobar. Namun tetap mengurungkan niat untuk menanyakan langsung. Karena Raiden tidak akan mau mengungkapkan nama itu, kalo sudah diklaim sebagai rahasia.


"Inisialnya, A."


Sial, sial, sial. Tasya semakin kepo.


_________________


HAI,


MAAF BARU BISA UPDATE.


BELAKANGAN INI AKU FOKUS SAMA KESEHATAN DULU, JADI HIATUS SEMENTARA WAKTU DARI DUNIA KEPENULISAN.


MAAF SEBESAR-BESARNYA, KALO CERITA INI TAK SESUAI EKPESTASI KALIAN. AKU BELAJAR KEDEPANNYA, MEMPERBAIKI TULISAN.


AKU GAGAL LAGI:(


TERIMAKASIH ATAS DUKUNGANNYA, TANPA KALIAN AKU TIDAK AKAN ADA DI TITIK INI. SEKALI LAGI TERIMAKASIH YANG BANYAK.


BTW, MASIH ADA HAL YANG BELUM TERUNGKAP. JADI AKU PUTUSKAN.... KAPAN-KAPAN SAJA. DI LAPAK YANG BARU.


SEKALI LAGI, TERIMAKASIH:)


#JANGAN LUPA MAMPIR. INI BUKAN SEQUEL, IDE UNTUK ANAK TASYA DAN RAIDEN MASIH ABU-ABU.


__ADS_1


__ADS_2