MENIKAH DENGAN GADIS SMA

MENIKAH DENGAN GADIS SMA
KESEMPATAN DALAM KESEMPITAN


__ADS_3

Sore ini Tasya memutuskan membawa suaminya pulang ke rumah. Kondisi Raiden semakin tak terkendali, bahkan terkadang meracau tidak jelas.


Untung supir stand by setiap saat didepan rumah, mempercepat proses mereka pulang ke kota.


Bahkan Nathan, dokter yang menangani suaminya selama ini sudah menunggu kedatangan mereka didepan rumah, dengan Mpok Atiek yang terlihat khawatir.


"Mulai kapan?" tanya Nathan tenang. Raut wajahnya tidak mengisyaratkan kekhawatiran sedikitpun, terlihat biasa menangani hal seperti ini.


"Tadi pagi baru balik ke rumah Oma, siangnya kedinginan sama pusing. Sore, malah makin parah," jelas Tasya. Disela-sela tangisnya.


Maniknya bahkan nyaris bengkak, khawatir melihat kondisi suaminya. Baru kali ini dia melihat sendiri sisi lemah suaminya, yang selama ini Raiden sembunyikan dari siapapun.


Mulai dari wajah yang kian memucat, menggigil padahal suhu tubuh normal, hingga meringgis kesakitan bahkan meracau tidak jelas. Yang lebih membuat Tasya khawatir, manik hitam itu setia tertutup rapat, dengan raut ketakutan.


"Dia gak papa, ini biasa kalo dia kecapean. Sebentar lagi bakalan balik seperti semula," ungkap Nathan sembari menarik selimut menutupi tubuh kekar itu.


"Bang Nathan, gak bohong 'kan?" tanya Tasya serius.


"Iya," balas Nathan tenang. Menatap teduh wanita dihadapannya.


Masa lalu Raiden memang pahit, untung juga semua tindakan Andri tidak terekam jelas di otaknya. Jika tidak Raiden bisa melakukan hal yang sama atau membunuh.


Satu bulan bukan waktu yang singkat. Selama satu bulan dikurung, satu bulan itu juga Raiden melihat sendiri bagaimana caranya Andri melenyapkan musuhnya. Layaknya guru mengajari murid.


Bahkan awal pertama Raiden menjadi pasiennya, semua dapat dia jelaskan secara detail apa yang Andri lakukan selama sebulan itu. Selama dikendalikan alam bawah sadar.


"Saya tunggu di luar, lakukan apa yang saya ajarin. Dia lebih percaya sama kamu," terang Nathan.


"Gak sebaiknya dikasih obat penenang bang?"


"Gak, usah. Terlalu banyak juga gak baik. Cukup lakukan apa yang saya ajarin."


Tasya hanya mengangguk, ikut bergabung kedalam selimut. Memeluk erat tubuh kekar itu dan membisikkan kata-kata sesuai yang diajarkan Nathan.


Tepat pintu tertutup, bibir Nathan terangkat membentuk sebuah senyuman tipis. Reaksi Raiden saat ini berbeda dari biasanya, kemajuan yang sangat pesat.


Biasanya pria itu menangis bahkan berteriak minta tolong tapi barusan, Raiden hanya diam dan menggigil dengan raut ketakutan.


Ternyata pawang nya, bisa diandalkan.


"Bucin."


Nathan tertawa terbahak-bahak, tanpa memperdulikan tatapan bingung yang diarahkan Mpok Atiek kearahnya.


Hanya Nathan yang tahu isi kepala dan hati Raiden, hingga obsesi yang perlahan muncul untuk istri kecilnya saja.


Semua rasa takut yang dia alami selama ini, dia lawan sendiri setelah Andro muncul kembali. Demi menjaga seseorang yang masuk kedalam kehidupannya.


Dia Tasya Jovanka, wanita yang membawa banyak perubahan dikehidupan Raiden, Nathan akui hal itu.


"Kenapa atuh pak? saya jadi takut," ujar Mpok Atiek ragu.


"Gak papa Mpok, maaf. Oh, iya saya numpang duduk di ruang tamu yah. Tunggu pasien saya sadar."


Mpok Atiek hanya mengangguk, mengajak Nathan turun ke bawah.


___________________


Ajaran Nathan memang berhasil, hanya membutuhkan waktu 15 menit tubuh kekar itu perlahan melunak. Kepalan tangannya melongar, bibirnya berhenti mengoceh tidak jelas.


Tapi setelah semua itu berakhir, Raiden malah tertidur pulas.


Satu jam berlalu Tasya setia menunggu suaminya terbangun dari tidurnya, satu jam itu juga Tasya menangis tanpa henti.


"Sayang, hei! kok nangis?"


Sontak Tasya mengangkat wajahnya, gerakan kilat menangkup wajah tampan itu. Membuang jauh-jauh gengsinya dengan mencium setiap inci wajah tampan itu.

__ADS_1


"Aku khawatir tahu."


"Kenapa?" Manik hitam itu mengerjap, menatapnya dengan tatapan bingung.


"Gak papa," elak Tasya.


Kembali mengulangi aksinya, hingga terdengar kekehan geli dari bibir tebal itu.


"Istri Om suami makin nakal," goda Raiden.


Menarik kecil tubuh ramping itu mendekat kearahnya dan menghapus jejak air mata yang membasahi wajah istrinya.


"Ck, aku udah bilang. Gak boleh nangis!"


"Dasar om-om. Orang kamu sendiri yang buat aku nangis."


"Masa?"


"Masa?" cibir Tasya. Mengulangi ucapan suaminya.


"Yah?"


"Apa?"


"Ngomong sama suami itu harus sopan."


"Siapa bilang?"


"Nakal banget jadi istri, udah dibilangin juga," omel Raiden.


Cara bicaranya sudah kembali seperti biasa, berarti masa menyedihkan itu sudah berakhir.


Tasya hanya mengerucutkan bibirnya, jemarinya sibuk mengusap peluh yang membasahi wajah suaminya.


Pria ini selalu saja membuatnya pusing tujuh keliling, baru juga Tasya senang mereka bertemu setelah satu Minggu berpisah. Sekarang malah sakit.


Itu juga terlihat menakutkan, entah apa yang suaminya alami hingga bisa seperti itu.


Menatap manik biru itu intens, sembari menyelipkan helaan rambut yang menutupi wajah cantik itu.


"Om, gak boleh sakit! Gak boleh tutup mata!"


Raiden hanya tertawa kecil, menertawakan diri sendiri. Istrinya pasti sudah tahu kelemahannya, hal yang paling memalukan yang tak seharusnya Tasya ketahui.


Selama ini Raiden menganggap itu semua kelemahan, kekurangan yang harus disembunyikan. Orang-orang tidak perlu tahu, bahkan istrinya sendiri. Takut nya Tasya menjauh dari kehidupannya.


"Jangan melamun, udah berapa kali aku bilangin. Om, gak boleh melamun!"


"Iya,"


"Jangan cuman iya, aku khawatir tahu," lirih Tasya. Meletakkan kepalanya di dada bidang suaminya, dengan memeluk tubuh kekar itu.


"Mulai sekarang, kalo kerja ingat jam istirahat. Jangan terlalu dipaksa!" lanjut Tasya lagi.


Raiden hanya mengangguk, mengelus punggung istrinya sesekali mengecup lembut pucuk rambutnya.


"Nathan ke sini?"


"Iya, barusan pulang. Katanya ada urusan penting."


"Kamu gak papa 'kan?"


"Seharusnya aku yang tanya sama om, bukan om yang tanya sama aku," sergah Tasya tak habis pikir.


Raiden meringgis mendengar teriakan itu, untung telinganya sudah biasa mendengar teriakkan seperti itu. Karena bunda nya, tak kalah cerewet dari istrinya.


"Tasya sayang sama om," ucap Tasya pelan tapi sayangnya, Raiden sangat jelas mendengar ucapan itu.

__ADS_1


"Coba ulangi!"


"Sayang,"


"Ulangi!"


"Mulai hari ini, aku panggil om 'Sayang' aja deh. Biar gimana gitu."


"Gak, usah. Panggil om aja terus. Masa suami sendiri dipanggil om,"


"Jadi ngambek nih ceritanya?" goda Tasya.


Mendongakan kepalanya keatas, menatap wajah tampan itu dari jarak dekat. Kedua lengannya bertengger manis didada bidang suaminya, dengan senyuman mengembang dibibirnya.


Raiden malah mengalihkan tatapannya kearah yang lain, melancarkan aksinya.


"Cup, cup, cup. Sayang gak boleh gitu. Udah tua, ingat umur loh!"


"Aku makin ngambek," ucap Raiden. Mengcopy paste ucapan istrinya.


"Gak, boleh gitu dong sayang."


"Aku gak peduli,"


"Oh, ngejek aku nih ceritanya?"


Tasya bangkit dari tempatnya,


terpaksa Raiden menoleh hendak mengikuti gerak gerik istrinya. Tapi sebelum wajahnya bergerak, tubuh ramping itu lebih dulu naik keatas tubuhnya. Menerjang wajahnya dengan kecupan berlipat-lipat.


"Gak boleh ngambek, gak boleh sakit. Ingat umur!"


Bibir Raiden terangkat dengan sendirinya, membentuk sebuah senyuman manis.


Istrinya tidak henti-hentinya menerjang wajahnya, sembari tertawa terbahak-bahak. Bagaimana tidak Tasya senang, kondisi suaminya mulai membaik. Wajahnya juga tidak sepucat beberapa jam yang lalu.


"Tasya sayang banget sama om Raiden,"


"Om, lagi."


"Jadi?"


"Tadi katanya panggil sayang,"


"Oh, iya aku lupa."


"Coba ulangi!"


"Sayang," ucap Tasya. Terdengar seperti suara setan merayu mangsanya.


"Sekali lagi, coba!"


"Gak, mau ah. Om ngejek Tasya pasti."


"Mana ada," elak Raiden. Dengan menahan senyum setengah mati.


"Coba cium lagi!"


Tasya menurut, mengecup lembut setiap inci wajah tampan itu.


"Buka baju!"


"Buat apaan?"


"Buat debay,"


"MESUM. MASIH SAKIT JUGA."

__ADS_1


______________


TERIMAKASIH:)


__ADS_2