
SEBELUM MEMBACA TEKAN LIKE, KALO BOLEH TEKAN HADIAH SAMA VOTE JUGA. SAYA GAK BAKALAN MARAH MALAH SENANG.
BERI KOMENTAR PENDUKUNG, KALO KURANG PANJANG DI BANYAK-BANYAKIN BERSABAR. SOALNYA SAYA JUGA MANUSIA, BUKAN ROBOT. CUMAN MUKA DOANG YANG DATAR KAYAK DINDING. MARI KITA SALING MENGERTI.
#Just call me Ga, atau panggil Ga saja
HAPPY READING 🍓
______________
Hingga malam menjelang, Tasya belum juga menunjukkan batang hidungnya. Bahkan Raiden bela-belain berangkat ke kantor, hanya mengusir kesepian tepat tubuh ramping itu berlalu keluar dari pekarangan rumah.
Tapi sayang hingga jam menunjukkan pukul 19:00, gadisnya belum juga pulang ke rumah. Sesekali Raiden berdiri di depan pintu, berharap tubuh ramping itu muncul dari balik gerbang.
Entah kemana perginya anak yang satu itu, Raiden menyesal tidak mengantarnya ke tempat tujuannya.
"Ck, dia kemana sih?"
Raiden mengotak ngatik ponselnya, tapi sayang tak satu pun pesan dan panggilan yang diterima. Hanya berdering.
"Br*ngsek,"
Ketakutan itu kembali menyapa, jantungnya berdetak kencang dengan pikiran yang berkeliaran kemana-kemana.
Tanpa memperdulikan penampilannya yang acak-acakan, Raiden meraih kunci mobil dari atas meja berlari terbirit-birit masuk kedalam mobil.
Malam ini gadis yang satu itu harus ketemu, jika tidak Raiden bisa gila.
"Pak, siapa tau Tasya pulang hubungi saya secepatnya." teriaknya kearah satpam yang berdiri tepat di sisi gerbang.
"Siap, pak."
Raiden hanya mengangguk kan kepala, perlahan melajukan mobil meninggalkan pekarangan rumah dengan pikiran berkecamuk dan seluruh tubuh yang menegang di waktu yang bersamaan.
Di balik wajah dan tubuh yang nyaris sempurna, Raiden mengindap penyakit Thantophobia, atau kecemasan yang berhubungan dengan rasa takut akan kematian, prosesnya, dan kehilangan seseorang yang dicintai. Fobia ini bisa membuat seseorang mengalami kesulitan dalam mengatasi rasa panik dan khawatir.
Itu semua berawal dari masa lalunya, hingga saat ini Raiden belum bisa mengendalikannya. Dokter yang menanganinya selama ini juga bilang, ada sedikit kemajuan. Apalagi mimpi buruk itu beberapa hari belakangan ini tidak muncul dalam tidurnya.
Hanya Tasya alasannya, hanya gadisnya yang membuat hidupnya kembali tenang tanpa beban sedikitpun. Memang tingkahnya aneh, tapi lama kelamaan Raiden terbiasa akan hal itu.
Raiden hanya mengikuti kata hati dan pikirannya, hingga tanpa sadar mobil berhenti di depan gerbang mertuanya. Satpam yang berjaga langsung mendekat, seraya tersenyum hangat.
"Nona muda ada di dalam tuan," ungkap pria paruh baya itu, seakan tau maksud dan tujuannya.
Raiden mengehela napas lega, walau tetap saja pikiran dan hatinya belum terkendalikan.
"Bukannya saya ikut campur tuan, tapi hari ini mohon berhati-hati berbicara dengan nona muda. Mulai dari siang, nona muda melamun di atas balkon." tunjuk nya kearah balkon lantai dua.
Raiden mengikuti arah tunjuknya, menyipitkan mata menatap kearah balkon kamar yang dulu Tasya tempati.
Semua terlihat gelap, hanya ada cahaya bulan dan setitik bayangan.
"Makasih pak,"
Pria paruh baya itu hanya mengangguk kan kepala, menutup gerbang kembali sembari menatap punggung Raiden berlalu masuk kedalam rumah.
__ADS_1
Dia sudah lama bekerja sebagai satpam di keluarga Pratama, bahkan Tasya lebih dekat dengan satpam dan ART ketimbang dengan kedua orangtuanya.
Apapun yang Tasya rasakan, mereka ikut merasakannya layaknya orangtua dan anak.
Selangkah demi selangkah Raiden masuk kedalam kamar, langsung di sambut dengan kegelapan tanpa pencahayaan sedikitpun. Dengan cepat menyalakan lampu, seraya membuka sepatunya.
"Sya,"
Hening, tidak ada sahutan sama sekali. Bahkan gadisnya tidak menyadari keberadaannya. Penampilannya berantakan, dengan tatapan kosong.
"Hei, jangan melamun."
Raiden duduk lesehan di atas lantai tepat disamping gadisnya, menarik tubuh ramping itu kedalam dekapannya.
"Eh, om ngapain?" tanya Tasya linglung.
"Cari istri baru,"
Terdengar kekehan geli, jemari lentik itu membalas pelukannya tak kalah erat.
"Om, cariin Tasya?" tanyanya dengan suara sayu, khas orang baru menangis.
"Gak, kepedean kamu." elak Raiden.
"Jahat banget sih om,"
Tubuhnya didorong kebelakang, wajah cantik itu terlihat kesal walau tetap saja mata sembab dan bengkak itu yang lebih mendominasi.
Entah apa yang terjadi, tapi asal gadisnya baik-baik saja Raiden sudah tenang.
Tasya memilih bersandar pada dinding kembali, dengan tatapan lurus kedepan.
Raiden menyondorkan bungkus rokoknya, terlihat dahi itu mengerut detik berikutnya mengelengkan kepala.
"Gak mampan, kata dia juga cewek gak boleh merokok. Gak baik buat kesehatan,"
"Dia?"
"Iya, gebetan Tasya om. Tapi dia lebih suka cewek lain,"
"Jadi kamu galau cuman gara-gara itu?"
"Iya," elak Tasya.
"Gak guna, sumpah."
Raiden mendengus kesal, menyelipkan rokoknya disela-sela jarinya, hingga asap rokok menyembul di udara.
Wajah yang semula tersirat ke khawatiran, hilang sekejap tergantikan dengan kekesalan. Tau galau karena laki-laki lain, lebih baik Raiden bekerja daripada mencari gadis yang satu ini. Gak ada untungnya, malah naik darah tinggi.
Terdengar helaan napas panjang, Tasya menahan mati-matian air matanya walau tetap saja menetes dengan kurang ajarnya.
"Untuk hal yang gak penting, gak usah di tangisi. Bila perlu ke kuburan sana, jangan di sini," ucap Raiden ketus.
Tasya hanya tertawa kecil, mengusap air matanya kasar tanpa berniat menceritakan kejadian sebenarnya.
__ADS_1
"Sok gentle, padahal om juga suka nangis diam-diam."
Sontak tubuh Raiden menegang, menatap kearahnya dengan tatapan tidak percaya.
Entah darimana Tasya tau rahasia yang satu itu, bertahun-tahun Raiden menahan kesedihan dimata orang lain, bisa-bisanya Tasya tau rahasia yang satu itu.
"Om masih cinta kan sama dia? padahal yang di pilih orang lain, bukan om."
"Bukan urusan kamu!" sentak Raiden tanpa sadar.
Tasya hanya tertawa kecil, melirik kearahnya sebentar dan kembali mengarahkan tatapannya kearah yang lain.
"Semua orang sama aja, om juga sama kayak mereka."
Hening, Raiden merasa bersalah akan ucapannya. Tapi di satu sisi Raiden tidak suka siapapun mengajaknya mengulang ingatan masa lalu itu. Cukup kejadian itu terjadi di masa lalu, detik ini sampai maut itu tidak akan terulang kembali.
"Om pulang aja sana, Tasya gak butuh siapa-siapa. Tasya butuh waktu sendiri,"
"Gak, saya suami di sini. Enak aja kamu main usir-usir saya."
Raiden bangkit dari tempatnya, mengangkat tubuh ramping itu dengan entengnya dan menutup pintu balkon.
"Tasya gak mau pulang om,"
"Hm,"
Raiden membawa tubuhnya kedalam kamar mandi, di turunkan tepat didepan cermin. Layaknya Dejavu.
Lengan kekarnya langsung sigap merapikan rambut panjangnya, di sisir menggunakan jemarinya dan ikat rapi.
"Cuci muka!"
Tasya menurut, membasuh wajahnya dengan air. Detik berikutnya tubuhnya di putar menghadap tubuh kekar itu, dengan telaten melap kering wajahnya membuat Tasya terkesiap dalam sekejap.
"Kamu udah makan?" tanya Raiden lembut, mengangkat tubuhnya kembali layaknya karung beras tidak ada romantis-romantisnya sama sekali.
"Belum, gak n4psu."
"Saya b*ntungi juga kamu detik ini, gak n4psu segala. Cuman makan doang apa susahnya, hm?"
"Gak enak om,"
"Makan, gak ada bantahan. Tunggu bentar,"
Raiden mendudukkannya di tepi ranjang, dengan tergesa-gesa berlalu keluar dari kamar. Detik berikutnya terdengar teriakan mengema seisi rumah.
"WOI! SIAPIN MAKAN MALAM, BAWA KE KAMAR!" teriak Raiden dari tangga paling atas.
Tasya meringgis mendengar teriakkan itu, tidak habis thinking dengan kelakuan suaminya.
Malu-maluin sumpah
____________
TERIMAKASIH:)
__ADS_1
Aku suka baca komentar kalian, kadang belajar dari komentar kalian juga. Apalagi komentarnya bijak, bisa di petik pembelajaran untuk diri sendiri.