MENIKAH DENGAN GADIS SMA

MENIKAH DENGAN GADIS SMA
TERSANGKA


__ADS_3

Pukul 22:00


Akhirnya Zara bisa istirahat, walau suara Alex sedikit mengusik. Pulang dari rumah duka, mereka malah keluyuran sesuai permintaan Tasya. Tidak ada yang berani menolak, bahkan pawangnya saja menurut begitu saja.


Zara dan Alex hanya bisa pasrah, asal makhluk halus yang satu itu senang.


Sekarang Zara bisa memejamkan mata, dengan Alex berbaring disampingnya. Mereka biasa seperti saat ini, berbaring diatas ranjang yang sama tapi saling memunggungi.


Takutnya Alex junior bangun kata siempunya, Zara mengerti akan hal itu apalagi usia mereka sudah menginjak dewasa.


"Za, Lo gak dapat wajah pembunuh itu?"


"Gak,"


"Ck, di lacak juga susah banget. Identitasnya tersembunyi, gak ada jejak sama sekali."


"Namanya juga psikopat, dia udah lama ngelakuin itu. Malah kebiasaan kalo gak dia bisa mati. Cuman darah doang yang bisa bikin dia hidup,"


"Frustasi?"


"Lebih ke iblis, broken home, broken heart, dendam."


Zara mengerutkan dahi, dengan gerakan kilat bangkit dari tempatnya. Duduk ditengah-tengah ranjang sembari menatap wajah Alex.


"Ada yang janggal,"


Alex hanya menaikkan alis, maniknya hanya fokus menatap wajah cantik itu yang terlihat fokus memikirkan sesuatu.


"Ada yang janggal deh Lex,"


"Apa?"


Merasa tertarik dengan pembicaraan mereka, Alex mengubah posisinya. Tidur terlentang dengan berbantalkan kedua tangannya.


"Gue juga bingung," Kenapa gue bisa ngerasain perasaan seseorang? astaga, apaan lagi ini?


"Za,"


"Eh, kenapa?"


"Cerita!"


"Malas,"


"Buruan!" tekan Alex. Ia tau ada yang Zara sembunyikan selama ini, apalagi Tasya bercerita tentang kejadian semalam.


Ia juga merasa ada yang aneh dengan gadis yang satu ini, dia bukan Zara yang dulu.


"Gue bisa ngerasain perasaan seseorang."


Sontak manik Alex melotot, meneguk salivanya kasar tanpa mengalihkan tatapannya kearah yang lain.

__ADS_1


_____________


Seperti pagi-pagi sebelumnya, Raiden selalu bangun lebih awal. Tubuh kekarnya sudah di balut pakaian formal, duduk tenang di belakang kemudi sembari mengotak ngatik ponselnya.


Gadisnya masih di dalam rumah, karena jiwa malasnya tadi pagi berakhir terlambat bangun seperti saat ini.


Sesekali Raiden melirik kearah kaca spion, yang langsung tertuju kearah pintu rumah. Bertepatan tubuh ramping itu keluar, dengan penampilan yang berantakan. Kedua tangan terisi penuh, entah apa yang dia bawa.


Detik berikutnya, pintu mobil terbuka bersahutan tubuh ramping itu duduk disamping nya.


"Selamat pagi om suami," sapa Tasya, seraya tersenyum lebar.


"Hm,"


"Cuman hm doang gitu?"


"Pagi,"


"Kurang ikhlas."


"Ck, selamat pagi."


"Ulangi, masih kurang ikhlas."


"Selamat pagi,"


"Kurang lembut, ulangi!"


"U L A N G I!"


Terdengar helaan napas panjang, wajah tampan itu terlihat kesal dengan kedua tangan terkepal. Andai gadis di hadapannya bukan istrinya, habis sudah Tasya detik ini juga.


"Selamat pagi nona muda Dirgantara," ucap Raiden akhirnya, agar drama ini cepat kelar.


"Good boy, besok-besok belajar jadi suami yang romantis."


"Bocil,"


Tasya hanya tertawa kecil, mengancing seragam putihnya satu-satu sesekali menyendokkan sarapan nya kedalam mulut tanpa memperdulikan tatapan aneh suaminya.


"Anak gadis kok begini amat modelannya," decak Raiden.


Siempunya hanya mengangkat bahunya acuh, memilih fokus mengunyah nasi gorengnya masakan spesial om suaminya pagi ini.


"Hadap sana!"


Tasya menurut, menghadap kearah kaca membelakangi suaminya. Hingga terasa sentuhan lembut di kepalanya, rambut panjangnya di sisir rapi dan di gabungkan menjadi satu.


Bahkan rambut pun belum di sisir, masih berantakan layaknya singa mengamuk. Astaga Raiden tidak habis pikir dengan anak yang satu ini. Yang seharusnya istri melayani suami, tapi dalam kehidupan mereka berdua semua berbanding terbalik.


Layaknya bapak menguras putri kecilnya, itulah gambaran kehidupan mereka berdua.

__ADS_1


"Besok-besok kamu gak usah sekolah,"


"Gak bisa gitu dong om, wanita juga wajib sekolah."


"Tapi masalahnya kamu gak pantas dibilang anak sekolah, mana ada anak SMA begini modelannya."


"Ada, tasya."


"Terserah,"


Tasya hanya mengangguk-angguk kepala, tanpa berniat membalas ucapannya. Ia tau suaminya dalam mode on, jadi di biarkan saja mengoceh tidak jelas.


"Masukin baju kamu, pakai ikat pinggang, pakai sepatu, bekal makan siang jangan lupa di makan."


Siempunya menurut, melakukan satu persatu perintah suaminya dan tersenyum lebar.


"Udah,"


"Anak TK, gue nikah sama anak TK. DOSA GUE SEBANYAK APA SAMPAI SEGITUNYA?" jerit Raiden di dalam hati.


Mulai dari ranjang, hingga memakai seragam itu semua bantuan Raiden. Mungkin mulai besok, status mereka akan berganti. Bapak dengan anak, bukan suami istri.


"Pulang sekolah saya jemput, jangan kemana-mana!"


"Siap,"


Raiden sengaja menganti posisi Alex, karena anak yang satu itu harus di jauhkan dengan istrinya. Enak saja waktunya lebih banyak dengan istrinya, seharusnya ia yang di posisi itu.


"Jangan bolos! satu surat panggilan, satu harian pelayanan di atas ranjang." peringat Raiden. Mungkin itu satu-satunya cara agar anak yang satu ini menurut dengan ucapannya.


"Mesum."


Pintu di banting cukup kencang, sesekali tubuh ramping itu berbalik menjulurkan lidahnya.


"Minta di cium kayaknya," ucap Raiden sembari terkekeh geli.


Dengan kaki yang di hentak-hentakkan Tasya melewati lorong sekolah satu persatu, terlihat punggung Alex dan Zara dari kejauhan berlalu masuk kedalam ruangan.


Tanpa memperdulikan lorong yang padat, Tasya berlari sekencang-kencangnya. Tersenyum lebar memasuki ruangan, duduk tepat disamping Zara dengan napas yang tersengal-sengal.


"Selamat pagi dunia,"


"Nama gue Alex, dia Zara bukan Dunia." komen Alex tidak terima.


"Terserah, ada gosip baru gak?"


"Ada, si murid baru jadi tersangka." bisik Alex serius.


______________


TERIMAKASIH:)

__ADS_1


__ADS_2