MENIKAH DENGAN GADIS SMA

MENIKAH DENGAN GADIS SMA
BERPISAH SEMENTARA


__ADS_3

"Maksudnya?"


Tasya turun dari punggung kekar itu, beralih berdiri tepat dihadapan suaminya. Menatapnya dengan tatapan tidak percaya.


Raiden mengerti akan hal itu, apalagi ia tiba-tiba mengucapkan kalimat yang tidak seharusnya diucapkan dalam waktu dekat ini. Otomatis istrinya syok.


"Om, ngomong apaan?" desak Tasya.


Mendorong pelampung Keano sedikit menjauh. Hingga tubuh kekar melangkah maju memojokkan tubuhnya kepinggir kolam, sembari memegang Keano agar tetap seimbang.


Lengan kekar sebelahnya bebas melilit dipinggangnya, sesekali mengecup lembut bibir istrinya.


"Semalam Rudi kirim pesan, katanya ada pertemuan penting tapi harus aku sendiri yang turun tangan."


"Kan cuman pertemuan, kok aku ditinggal?"


"SMA GALAXY masih libur, tunggu ada pemberitahuan dari sekolah. Jadi kamu nikmati aja dulu liburannya."


"Yah kok gitu?"


"Cuman bentar kok, kalo udah siap aku balik lagi ke sini."


"Jadi aku di sini, om di sana gitu?"


"Iya,"


Terdengar decakan kecil, wajah cantik itu terlihat kecewa sembari mengalihkan tatapannya kearah yang lain.


"Sayang,"


"Tasya ikut."


"Gak, kamu di sini aja. Di rumah juga nanti kamu gak punya teman. Ada proyek yang harus aku ditinjau juga kelapangan," ungkap Raiden.


"Yah,"


"Gak papa yah?"


"Tasya ikut."


"Kamu di sini aja, aku gak yakin bisa jagain kamu 24 jam diluar sana. Musuh keluarga Dirgantara banyak, takutnya malah kamu yang jadi sasarannya."


"Yah, masa kita pisah gitu."


Sontak Raiden tertawa kecil, semakin gencar mengecup lembut bibir istrinya gemas melihat tingkahnya.


"Video call kan bisa?"


"Beda tahu om, orang cuman muka doang yang kelihatan. Siapa tahu om duduk sama cewek lain di sana."


"Ngawur kamu,"


"Om,"


"Kamu di sini aja,"


"Tasya ikut."


"Mau ngapain?"


Hening tidak ada sahutan. Bibir pink itu mengerucut kedepan, dengan kepala menunduk.

__ADS_1


Sebenarnya Raiden juga tidak tega tapi untuk masalah yang satu ini, istrinya tidak boleh tahu. Cukup kejadian beberapa hari yang lalu wanitanya ikut turun tangan. Untuk masalah selanjutnya, Raiden akan turun tangan sendiri selagi ia mampu.


"Kiss me!" pinta Raiden. Mengangkat dagu wanitanya, hingga tatapan mereka beradu.


"Kiss me!" ulang nya lagi.


Manik biru mengerjap dua kali, dengan ragu memajukan wajahnya hingga bibirnya menyatu dengan bibir tebal itu.


Mengecup lembut, setiap sudut bibir suaminya hingga siempunya membalas ciumannya.


"Om, Keano." Tasya mendorong tubuh kekar itu, seraya menunjuk kearah Keano.


"Antar pulang gih! ganggu aja,"


"Makanya Tasya ikut pulang, biar gak ada yang ganggu," rayu Tasya.


Lagian baru juga hubungan mereka membaik, sekarang malah terpisah hanya karena kerjaan suaminya. Padahal apa salahnya dia ikut, mama nya juga dulu sering ikut papa nya. Entah keluar kota bahkan keluar negeri.


"Gak ada. Kamu tetap di sini!"


"Ck, apa salahnya coba?" omel Tasya.


Naik keatas dengan bantuan tubuh kekar itu, diikuti Keano didudukkan di tepi kolam baru terakhir Raiden.


Tepat Tasya hendak meraih Keano, lengannya lebih dulu disentak kecil dengan tatapan tajam mengarah kearahnya.


"Pakai baju dulu!"


Astaga Tasya hampir lupa akan hal itu, saking pusingnya memikirkan pria yang satu ini.


Entah mengapa kehidupan suaminya dipenuhi misteri, entah masa lalu nya sekarang kehidupannya. Menambah beban pikirannya saja.


Dengan gerakan kilat Tasya melepas semua penutup yang tersisa di tubuhnya, melemparnya begitu saja keatas lantai. Memakai kaos kebesaran suaminya sementara waktu.


Benar-benar kelakuan wanita yang satu ini, bisa-bisanya melakukan hal segila itu di tempat terbuka. Aset berharga itu hanya milik Raiden dan hanya ia yang bisa melihatnya.


"Apaan sih om, gak bakal ada yang ngelihat juga."


"Ngejawab lagi."


"Iya-iya, sini Keano nya."


"ASTAGA, PAKAI BAJU DULU SANA! MAU JADI TONTON KAMU DI LUAR SANA? ENAK AJA."


Raiden bangkit dari tempatnya, mengendong tubuh kecil itu yang sedari diam membisu. Lalu menarik tubuh ramping itu masuk kedalam rumah.


"Kalo mau jadi tontonan, di kamar tiap hari. Gak pakai baju juga boleh, nawarin diri juga boleh. Asal partner nya aku," omel Raiden.


Tasya hanya diam, mengeleng-gelengkan kepala mendengar ucapan suaminya. Padahal niat awalnya meminta Keano hanya ingin memasangkan baju yang baru di tubuh kecil itu. Sekalian mengganti bajunya ke kamar.


Dasar pria ini saja ngawur, mana mungkin Tasya keluar rumah tanpa dalaman. Area kolam berenang juga tertutup, dikelilingi tembok sisi kanan dan kiri.


"Ganti baju, pakai yang lebih sopan!" ujar Raiden dingin.


"Iya-iya, sekalian di lemari yang itu ada baju Keano. Ambil baru pasangin, jangan sudzon mulu jadi orangtua."


Raiden mendengus kesal, membuka lemari yang ditujukan istrinya. Meraih sepasang baju dan dipasangkan ditubuh kecil itu.


Saking dekatnya dengan bocah kecil ini, di kamar Tasya bahkan ada baju Keano. Pantasan kamar ini luas.


Raiden baru tahu isi lemari yang terpajang di kamar ini, ternyata bukan hanya baju saja isinya. Boneka ulat juga banyak tersimpan, bahkan main-mainan anak kecil berjejer rapi di sana.

__ADS_1


"Om ganti baju sana!"


Tasya mengambil alih Keano, hingga berlalu keluar dari kamar.


"Kakak Sya,"


"Abang pulang dulu yah, nanti sore Kakak jemput lagi."


"Oke."


Keano menunjukkan jari jempolnya dan tertawa terbahak-bahak kegelian, merasakan hidung Tasya bersentuhan dengan kulitnya.


________________


Kini kamar diisi isakan tangis, tubuh ramping itu memeluknya erat seakan tidak ingin melepasnya. Raiden bingung harus melakukan apa, antara ingin tertawa atau ngakak. Sama saja.


Baru kali ini ada wanita yang melakukan hal semacam ini didepan matanya, hanya karena berpisah sementara waktu.


Kebetulan juga Raiden belum pernah merasakan yang namanya LDR, boro-boro LDR yang ada disekap dan dibunuh pelan-pelan. Jadi ia tidak tahu menjelaskan situasi saat ini.


"Tasya ikut," lirih Tasya disela-sela tangisnya, entah keberapa kalinya.


"Kamu di sini aja yah, aku langsung pulang kok."


"Kapan, nanti malam?"


"Itu namanya putar balik, ke sini aja lima jam."


"Om gak ada romantis-romantisnya jadi suami,"


Sontak Raiden tertawa kecil, mengelus lembut rambut panjang itu tanpa memperdulikan pukulan kecil di punggung kekarnya.


"Om gak usah pergi yah? nanti Tasya tidur sama siapa coba?"


"Oma kan ada, kalo gak sama Keano."


"Hwuaaa, mending om pergi aja sana! Gak ada gunanya jadi suami. Bukannya nyenangin hati istri, ini malah bikin kesal."


Tasya mendorong tubuh kekar itu menjauh, mengusap air matanya kasar sembari membalikkan tubuhnya.


Banyak rayuan yang Tasya lontarkan, mulai dari morning kiss tiap pagi, jatah tiap jam, hingga menawarkan diri menjadi babu, asal pria ini menggagalkan keberangkatannya.


Walau kenyataannya tak satu pun yang berhasil, yang ada Raiden bangkit dari tempatnya meraih kunci mobil dan jaket dari lemari.


"Aku berangkat dulu, kalo ada apa-apa langsung hubungi. Jangan ngambek!" titah Raiden.


Pura-pura membuka pintu kamar, hingga tubuh ramping itu berbalik.


"Besok-besok gak usah pulang sekalian! cari istri baru diluar sana, aku gak mau jadi istri Om lagi. Udah tua, gak pekaan jadi suami, mana mesum lagi," sergah Tasya.


Sontak Raiden menahan tawa setengah mati, memutar knop pintu dan berlalu keluar.


"SATU LANGKAH OM MAJU, KITA CERAI!"


Raiden seakan tuli, menutup pintu kamar dan tersenyum lebar dibalik pintu.


"OM RAIDEN! TASYA GAK MAU DITINGGAL."


Derap langkah terdengar mendekat, tepat pintu terbuka Raiden langsung mendorong tubuh ramping itu masuk kedalam. Memojokkannya di balik pintu kamar yang tertutup, menyambar bibir istrinya.


Mel*matnya sedikit kasar, grasa grusu mengangkat tubuh ramping itu keatas ranjang dan sedikit menindihnya. #Bukan ditindih setan.

__ADS_1


________________


TERIMAKASIH:)


__ADS_2