Menikah Dengan Pria M*esum (Suami Takut Istri)

Menikah Dengan Pria M*esum (Suami Takut Istri)
Berkunjung Ke Perusahaan Calon Suami


__ADS_3

..."Aku ingin memberikan saran kepada kalian. Sebaiknya pikirkan terlebih dahulu sebelum bertindak, kalau tidak ingin bernasib sama sepertiku! Percayalah, menikah dengan Nathan adalah mimpi terburuk bagiku!" ~Aldara...


Satu minggu sudah berlalu. Sejak perjodohan tersebut, Dara menjadi sosok yang murung, dirinya tidak menyangka akan terjebak di situasi seperti ini. Bagaimana mungkin laki-laki yang sudah susah payah ia hindari kini malah akan menjadi suaminya? Hanya satu yang Dara takuti, yaitu ia takut mati muda akibat naik darah menghadapi sikap Nathan yang otaknya sedikit mereng.


Sementara Nathan selalu datang ke rumah Dara hanya untuk menghampiri pujaan hatinya, tak jarang laki-laki itu justru menggoda Dara, yang selalu memberikan tatapan membunuh pada dirinya.


Dara memandang sebuah gedung yang sangat besar di depannya. Jujur saya dirinya merasa bangga pada Nathan yang mampu membangun sebuah perusahaan di umurnya yang bisa dibilang masih cukup muda. Sementara dirinya, dia masih tidak mampu membangun sebuah perusahaan, sehingga hanya menjalankan perusahaan milik ayahnya.


"Huh ... entah apa rencana-Mu Allah, sehingga berniat mempersatukan diriku dengan laki-laki seperti Nathan?" gumam Dara dengan pandangan sendu.


"Kenapa harus Nathan dari sekian banyak laki-laki?" pekik Dara tertahan sambil menatap langit.


"Udahlah, Ra! Allah pasti mempunyai rencana yang lebih baik dari apa yang dipikirkan manusia," ucap Dara dengan bijak.


Dara lalu masuk ke dalam perusahaan Nathan. Dara langsung berjalan menuju ruangan Nathan tanpa memperdulikan receptionist yang menatapnya. Sang receptionist hanya bisa diam, karena dia kenal siapa Dara. Ya, tentu saja! Setelah keluarga mereka setuju pernikahan Nathan dan Dara dua minggu lagi, Nathan segera mengumumkan hal itu di depan semua karyawannya, bahkan dia meminta semua untuk datang, karena di sana mereka bisa makan apa saja.


Baru saja Dara berniat masuk ke dalam ruangan Nathan, samar-samar dirinya mendengar Nathan yang berteriak. Seperti laki-laki itu sedang marah.


"Kalian kenapa tidak bisa becus dalam bekerja, hah!"


Dara dapat mendengar dengan jelas jika Nathan membentak.


Karena merasa penasaran, Dara membuka pintu dengan sangat pelan, kemudian mengintip apa yang sedang terjadi.


Brukk


"Kalian tau ini adalah proyek yang sangat penting, kan? Lalu kenapa kalian sangat ceroboh!"


Jujur saja, Dara sedikit terkejut melihat perubahan sikap Nathan, dia tidak menyangka jika Nathan bisa marah, dan dia akui jika aura Nathan cukup membuat ia merinding.


"Gila, Nathan ngeri juga," gumam Dara.


"Saya tidak mau tau, selesaikan laporan itu sekarang! Saya ingin laporan itu ada di atas meja saya hari ini! Jika tidak, saya akan pecat kalian tanpa toleransi sedikit pun!"

__ADS_1


Tatapan Nathan bahkan sangat tajam kepada para keryawannya sendiri.


Ketiga orang yang baru saja disemprot oleh Nathan sontak menunduk hormat, kemudian keluar dari ruangan tersebut. Tapi baru saja mereka membuka pintu, mereka dikejutkan dengan kehadiran seorang wanita cantik di depan mereka. Mereka sangat tau jika itu adalah calon bos mereka. Mereka segera menunduk hormat, lalu pamit pergi.


Berbeda dengan mereka, Nathan justru melotot melihat Dara yang berdiri sambil menatap dirinya. Dia baru ingat jika mereka akan ke butik hari ini.


'Astaga, sejak kapan tuh telur dadar berdiri di situ? Jangan-jangan dia dengar lagi tadi. Mati gue! Gimana kalau dia mikir kalau gue orang yang kasar, terus dia nggak jadi menikah dengan gue? Jadi gue nggak bisa belah duren dong?' batin Nathan yang pikirannya sudah kemana-mana.


Tanpa basa-basi Dara langsung berjalan mendekati Nathan. Tatapan tajam terus diberikan wanita itu. Nathan yang melihatnya hanya mampu menunduk takut.


"Gue benar-benar nggak nyangka kalau lo itu ternyata orang yang kasar. Bagaimana mungkin lo marahin mereka? Lo bisakan bicara dengan baik-baik? Gue kecewa sama lo, Than. Gue merasa dibohongi sama lo. Gue pikir lo orang yang lemah lembut. Tapi gue salah, lo ternyata cukup mengerikan. Gue nggak bisa ngelanjutin perjodohan ini! Gue memutuskan untuk membatalkannya sebelum terlambat. Jangan pernah temui gue lagi!" ucap Dara dengan penuh penekanan. Setelah mengatakan kata itu dia langsung bangkit berdiri, kemudian tanpa basa-basi segera keluar dari ruangan tersebut. Tapi sebelum itu terjadi, Nathan lebih dulu menahan lengan wanita itu.


"Dara, kamu dengar dulu. Saya orang baik, rajin, sholeh, dan suka menabung kok. Saya nggak bermaksud untuk marahin mereka tadi. Tolong kamu percaya sama saya. Tolong jangan batalkan perjodohan ini. Saya benar-benar sayang sama kamu." Nathan memohon dengan air mata yang membasahai pipinya.


"Gimana mungkin gue bisa nikah sama laki-laki psikopat seperti lo? Sampai kapan pun gue nggak akan mau!" Setelah itu Dara menghempaskan tangan Nathan dengan sangat kasar, kemudian sedikit berlari keluar dari ruangan Nathan.


Tubuh Nathan sontak ambruk. "Dara!" teriak Nathan.


"TIDAK!" teriak Nathan spontan yang sontak membuat Dara dan Sean terkejut. Ada apa dengan laki-laki itu? Pertanyaan itulah yang muncul di kepala mereka.


"Hiks ... hiks ... tidak Dara!" Rupanya Nathan masih menganggap itu nyata, padahal itu hanya hayalannya saja.


"Kenapa lo? Waras?" tanya Dara yang semakin heran dengan tingkah Nathan. Baru saja dia melihat sosok Nathan yang berbada, tapi kini Nathan justru bertingkah seperti biasanya, yaitu menyebalkan dan aneh.


Nathan mengerjab-ngerjabkan matanya lucu saat mendapati keberadaan Dara di ruangannya. Bukankah Dara baru saja keluar tadi?


Tapi tanpa pikir panjang, Nathan sontak berjalan mendekati Dara, kemudian memeluk wanita itu dengan sangat erat.


Dara tentu terkejut dengan ulah Nathan. Apa-apaan laki-laki itu berani memeluknya? Bukankah ini bisa dikatakan kurang ajar?


Tapi meski pun demikian, entah kenapa Dara justru membiarkannya.


"Dar, percayalah dengan saya. Saya bukan psikopat. Jangan kan bunuh orang, bunuh semut aja saya masih pikir-pikir. Saya nggak bermaksud marahin mereka tadi. Tapi merekanya yang bikin saya kesal, masa laporannya ada yang salah, kan saya jadi kesal. Jadi saya marahin mereka. Percayalah, saya orang baik kok Dar! Selain itu saya juga bukan orang yang suka berbohong, dan pastinya orang yang setia kok. Enggak kayak kamu, udah pembohong, mana nggak setia lagi." Nathan menjelaskannya dengan air mata yang terus mengalir.

__ADS_1


Dara tentu merasa bingung. Kenapa laki-laki itu harus memberitahukannya? Dia pernah berada di posisi Nathan, di mana ada seorang karyawan yang sangat ceroboh, dan reaksinya pun sama seperti Nathan, yaitu membentak dan berteriak. Tapi kenapa Nathan harus menjelaskannya, padahal dia tidak menanyakan apa pun?


Tapi mendengar kalimat terakhir laki-laki itu, Dara sontak mendorong Nathan dengan cukup kasar, sehingga hampir membuat Nathan terjatuh. Dia tidak habis pikir, bagaimana mungkin laki-laki itu masih saja sempat menyindir dirinya.


"Lo apa-apaan sih, hah? Main peluk-peluk aja!" ucap Dara dengan ketus.


Nathan yang sudah sadar sepenuhnya sontak cengengesan tidak jelas, sehingga membuat Dara menatap heran laki-laki itu. "Ternyata gunung kamu lumayan juga, ya. Saya jadi nggak sabar pengen mendakinya. Apalagi air s*su nya udah keluar."


Dara tentu bingung mendengarnya, dia langsung melihat bajunya. Alangkah terkejutnya ia melihat bajunya yang basah dengan air mata dan ing*s Nathan.


"Lo benar-benar gila Nathan!" teriak Dara menggelegar.




TBC



.



.



.



.

__ADS_1


__ADS_2