Menikah Dengan Pria M*esum (Suami Takut Istri)

Menikah Dengan Pria M*esum (Suami Takut Istri)
Masakan Pertama Suami


__ADS_3

Tiga hari sudah berlalu. Selama tiga hari itu pula tidak ada yang terjadi. Semuanya berjalan baik-baik saja. Yang aneh hanya perasaan Dara yang semakin tidak karuan, tetapi meski pun demikian dia tidak pernah memberitahukannya pada suaminya, takutnya Nathan justru ikut khawatir. Tetapi melihat tidak ada yang terjadi membuatnya justru merasa sedikit lega. Mungkin memang hanya perasaannya saja.


Lucy? Dia hanya membarikan kesempatan untuk kedua pengantin itu untuk menghirup udara segar sebelum dia memainkan drama barunya. Ya, dibandingkan langsung membu-nuh orang, dia bahkan lebih memilih untuk memainkan drama terlebih dahulu. Menurutnya itu lebih menyenangkan, dan menjadi kepuasan tersendiri untuknya.


Nathan membuka matanya saat merasakan cahaya yang masuk melalui celah-celah jendela kamar mereka. Setelah menormalkan penglihatannya, hal pertama yang dia lihat adalah wajah cantik istrinya yang terlihat sangat kelelahan. Wajar saja! Mengingat dia menggepur habis-habisan istrinya semalam.


Astaga, sungguh, melihat tubuh istrinya itu selalu membuatnya candu, sehingga tidak mampu menahan diri untuk tidak menyentuh wanita yang memiliki postur tubuh yang cukup berisi tersebut. Tetapi bukan Nathan namanya jika mendengar ucapan istrinya yang memohon jangan. Mulut istrinya mengatakan jangan, tetapi tubuhnya tidak bisa berbohong, karena dengan jahilnya dia menyentuh gunung istrinya, dan tentu saja langsung membuat Dara mende*ah tertahan. Tentu saja dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia segera melancarkan aksinya dan membuat istrinya hanya bisa pasrah dengan permainan yang dia ciptakan. Inilah dia, memang sangat m*esum, tetapi itu hanya berlaku untuk istrinya saja! Tidak untuk sembarang orang!


Lagi-lagi Nathan terkekeh melihat pahatan indah yang dia buat di seluruh leher dan da-da wanita itu. Kini leher dan da-da Dara dipenuhi oleh kiss mark yang sangat banyak. Jujur saja, setiap mereka bercinta Nathan memang selalu meninggalkan banyak jejak di tubuh istrinya. Itu menjadi kesenangan tersendiri untuknya ketika bangun pagi, senyumnya pasti terbit melihat pemandangan indah itu.


Nathan menyibak selimut yang menutupi tubuh istrinya yang terlihat masih tertidur nyenyak. Dia lalu bangkit dan mendekatkan kepalanya di antara kedua paha istrinya. Kini terpampang dengan jelas di depannya milik istrinya yang terlihat memerah dan sedikit bengkak, mungkin karena permainannya semalam cukup ganas. Tentu saja melihat milik istrinya membuat dia meringis, seolah-olah merasakan sakit yang dirasakan istrinya. Tetapi mau bagaimana lagi? Percayalah, namanya juga pengantin baru, selalu ingin lagi dan lagi.


"Maaf, ya. Karena ulah si Joni, kamu jadi kayak gini. Cepat sembuh, ya."


Cuppp


Nathan mengecup singkat milik istrinya itu, berharap kecupan singkat itu mampu menyembuhkan bengkakkan itu, meski pun faktanya tidak sama sekali.


Nathan lalu kembali menatap wajah cantik istrinya, dia mulai merapikan anak rambut istrinya yang berjatuhan menutupi wajahnya.


'Aku janji akan selalu mencintai kamu Aldara. Aku tau jika ada sesuatu yang kamu khawatirkan saat ini, tetapi aku bersumpah tidak akan meninggalkanmu, melainkan akan selalu berada di sampingmu' Nathan berkata dalam hati dengan sungguh-sungguh. Tidak akan pernah dia biarkan rumah tangganya hancur begitu saja. Dia percaya jika Allah tidak mungkin memberikan cobaan melebihi kemampuan umat-Nya, dan dia percaya jika dia dan Dara mampu menghadapi apa pun cobaan yang datang.


Perlahan tangan Nathan terangkat dan diletakkannya tepat di atas perut rata istrinya. Dia mulai mengusap-usap lembut perut istrinya.


"Semoga kamu cepat hadir, ya. Biar rumah ini jadi rame," ucap Nathan dengan lembut. Tidak bisa dipungkiri jika dia sangat mendamba-dambakan sosok bayi kecil di kehidupannya. Dia ingin sekali mendengar panggilan ayah dari mulut mungil dan menggemaskan itu. Dan jujur saja, dia sangat mendambakan bayi perempuan, karena dari yang dia dengar, anak perempuan cenderung lebih dekat dengan ayahnya dibandingkan ibunya. Dia ingin menjadi super hero untuk putrinya, dan menjadi pelindung untuknya. Namun, jika pun Tuhan memberikan dia anak laki-laki, maka dia tetap bersyukur untuk itu, karena anak memang adalah anugrah yang mahal harganya. Bahkan tidak bisa dibeli dengan uang.


Nathan melihat jam yang ternyata sudah menunjukkan pukul satu siang. Ah, dia baru ingat jika semalam mereka baru tidur jam tiga subuh. Entah berapa ronde semalam, yang dia ingat hanya rasa nikmatnya saja. Tetapi dia ingat betul jika Dara berkali-kali mencapai puncak, sementara dia tidak terlalu banyak. Melihat istrinya yang pasrah saja menjadi kesenangan dan kebangaan untuk dirinya sendiri.


Segera Nathan bangkit, dan berjalan menuju kamar mandi dalam keadaan tel*n–jang. Dia segera membersihkan dirinya, kemudian memasang pakaiannya. Sebenarnya Dara dan Nathan masih berada di hotel, mereka belum pulang. Padahal Bima sudah dipindahkan ke rumah sakit yang lebih besar, bahkan Leo dan Sean pun sudah mulai kembali bekerja di perusahaan pusat. Tetapi meski pun demikian, Nathan masih ingin menghabiskan waktunya berduaan dengan istrinya di hotel itu. Ya, hotel yang menjadi saksi bisu mereka berdua menghabiskan malam pertama.


Selesai membersihkan diri, dia segera berjalan menuju dapur.


Segera saja Nathan mulai berkutat dengan wajan dan bumbu-bumbu dapur lainnya. Kali ini dia ingin membuat dua nasi goreng special untuknya dan istrinya. Mungkin terlalu simple, tetapi mau bagaimana lagi? Hanya itulah masakan yang baru dia pelajari.


Ya, sebenarnya Nathan selama ini menyempatkan dirinya untuk belajar memasak di kantor. Semua itu dia lakukan karena pernah mendengar jika Dara suka dengan laki-laki yang bisa memasak, karena terkesan romantis menurutnya. Setiap kali dia selesai memasak sepiring nasi goreng, dia selalu meminta pendapat Sean bagaimana rasanya. Saat itu ingin sekali rasanya dia memecat sekretarisnya itu yang dengan gamblang menyebut nasi gorengnya adalah nasi goreng terburuk yang pernah dia makan. Tetapi begitu dia mencoba, rasanya memang sangat buruk.


Tak terhitung karingat yang menetes karena kepanasan, air mata yang mengalir saat dirinya memotong bawang, dan teriakan-teriakan gemes saat minyak meletup-letup. Sungguh, minyak yang meletup-letup sangat mengerikan menurutnya. Hingga beberapa kali percobaan, jadilah nasi goreng yang menurut Sean cukup enak.

__ADS_1


Dengan pede Nathan memasak nasi, lalu lanjut membuatnya menjadi nasi goreng. Nathan hanya menambah sosis serta beberapa sayur di nasi goreng tersebut, lalu menggoreng dua telur untuk dia dan istrinya.


Senyum Nathan terbit begitu manis saat melihat dua piring nasi goreng yang baru saja dia buat dengan aroma yang sangat menggugah selera. Dia sudah mencicipinya tadi, dan rasanya enak menurutnya.


Dengan antusias dia segera membawa dua piring nasi goreng tersebut ke kamar. Begitu sampai, dia tersenyum tipis melihat istrinya yang masih terlelap. Sebenarnya dia tidak tega membangunkan istrinya itu, tetapi bagaimana pun Dara perlu makan. Dia tidak ingin wanita yang dia cintai sakit nantinya.


"Dar, bangun." Nathan menepuk pelan pipi istrinya.


"Eugh ... malas," gumam Dara yang justru semakin mengeratkan selimutnya.


"Bangung dong sayang. Aku nggak tahan lho ngeliat tubuh kamu kayak gini. Kalau kamu nggak bangun, aku lahap lagi kamu nanti," ancam Nathan yang sontak membuat Dara langsung bangun. Gila saja Nathan masih meminta, padahal semalam dia sudah tepar oleh ulah suaminya itu.


"Jahat banget kamu! Pengen buat aku mati, ya?" ketus Dara dengan jengkel.


"Enggak! Cuman pengen buat kamu mend*sah aja," kekeh Nathan tanpa rasa bersalah sedikit pun. Dara mendelik tajam suaminya.


"Nih!" Nathan menyodorkan sepiring nasi goreng untuk istrinya. Dara tidak langsung menerimanya, tetapi menatap suaminya dengan bingung.


"Pesan?" tanya Dara yang langsung mendapat gelengan dari Nathan.


"Enggak! Ini aku bikin sendiri. Special buat penutupan belah durennya," kekeh Nathan yang sontak membuat Dara mendengus kesal. Sekian lama tidak mendengar kata belah duren, kini dia kembali mendengar kata sialan itu.


"Ckk ... kamu kan pernah bilang kalau kamu suka sama cowok yang bisa masak. Jadi, makanya aku belajar masak demi kamu. Supaya jadi suami idaman kamu." Nathan berkata dengan santai, tetapi perkataan laki-laki itu mampu menghangatkan hati Dara. Sesayang itukah suaminya, sampai rela belajar masak demi dia?


"Kamu tau? Bahkan aku sampai pernah disemprot sama Sean. Dia bilang nasi goreng buatan aku adalah nasi goreng terburuk yang pernah dia coba. Aku pengen pecat Sean saking gregetnya. Tapi pas aku coba, ternyata emang nggak enak." Nathan terkekeh tidak jelas, dan itu menular pada Dara. Wanita itu juga ikut terkekeh melihat wajah manis suaminya.


"Tapi kamu tenang aja, ini pasti enak kok. Aku jamin." Nathan meyakinkan istrinya bahwa masakannya kali ini pasti enak.


"Iya, aku percaya," kekeh Dara. Entah sejak kapan Dara mulai mengubah gaya bahasanya, itu secara murni tanpa ada paksaan dari suaminya, karena Nathan memang tidak pernah mempermasalahkan panggilan wanita itu padanya.


Dara mulai memasukkan sesendok nasi goreng ke mulutnya, sementara Nathan terus memperhatikan istrinya, tidak sabar menunggu reaksi wanita itu memakan nasi goreng olahannya.


Dara terdiam sebentar. Nasi goreng olahan Nathan tidak terlalu buruk, tetapi sedikit asin.


"Enak!" ucap Dara seceria mungkin untuk menyenangkan hati suaminya.


"Seriusan? Kamu nggak bohong, kan?" Nathan memicingkan matanya. Dia paling tidak suka dipuji tetapi tidak sesuai fakta.

__ADS_1


"Enak!" Dara meyakinkan suaminya. "Tapi sedikit asin," sambung Dara jujur.


"Tuhkan. Yaudah, kalau kamu nggak mau nggak apa-apa. Kita pesan aja." Nathan tidak kecewa pada istrinya. Dia kecewa pada dirinya sendiri yang tidak bisa menghidangkan makanan enak untuk istrinya.


Dara menggeleng tegas, lalu kembali memakan nasi goreng buatan Nathan. "Enggak perlu! Ini enak kok."


Nathan tersenyum tipis. Dia tahu jika Dara adalah tipe orang sangat menghargai pemberian orang lain. "Kalau nggak habis jangan dipaksain, ya," ucap Nathan lembut.


Dara mengangguk acuh, dia kembali melahap nasi goreng yang ada di hadapannya dengan lahap, karena sangat lapar. Meski rasanya sedikit asin, tetapi jika orang yang kita cintai yang membuatnya, maka semuanya tetap terasa nikmat.


"Oh, iya. Hari ini kita pulang. Tapi belanja sebentar dulu buat nanti malam," ucap Nathan sambil sesekali memakan nasi goreng buatannya.


"Nanti malam? Memangnya ada acara apa nanti malam?" Kening Dara mengerut pertanda dia bingung dengan maksud suaminya.


Nathan menyentil gemes kening istrinya. "Hari ini kan Anniversary pernikahan Mamah Vira sama Papah Damar yang ke–27 tahun. Masa Mamah sama Papah sendiri nggak ingat kamu!" ketus Nathan.


Dara menetup jidatnya. Astaga, bagaimana mungkin dia lupa dengan anniversary pernikahan orang tuanya sendiri.


"Yaudah, kita ke Mall nanti beli baju sekaligus beli hadiah, ya!" ucap Dara yang mendapat anggukan dari Nathan.




TBC



.



.



.

__ADS_1



.


__ADS_2