
FLASH BACK
Lonceng pulang berbunyi, Nathan yang memang baru saja menyelesaikan tugas sebagai ketua Osis langsung keluar dari ruangan guru. Rencananya dia ingin bertemu dengan Dara, melihat wajah cantik pujaan hatinya yang tidak pernah membuat dia bosan sama sekali.
Nathan berjalan menuju kelasnya terlebih dahulu, berniat mengambil tasnya, setelah itu baru pergi ke ruangan kelas pacarnya. Selama ini memang Nathan lah yang selalu mengantar jemput Dara. Itu semua tentu atas keinginannya sendiri. Laki-laki itu sama sekali tidak membiarkan Dara pergi ke sekolah sendirian. Terkadang, jika dia benar-benar sibuk, dan tidak bisa pulang cepat karena tuntutan tugas sebagai Ketua Osis, dia meminta tolong pada Leo, sahabat sekelasnya yang paling dia percayai.
Begitu Nathan sampai di dalam kelas, keningnya mengerut saat melihat tas milik sahabatnya yang masih berada di kursi. Tumben sekali, padahal jika sudah lonceng pulang, maka Leo selalu yang paling semangat.
"Tumben nih curut nggak keliatan? Padahal biasanya cepat-cepat pengen pulang!" Nathan tentu bingung, tetapi sudahlah, mungkin laki-laki itu sedang ada kegiatan.
Nathan lalu keluar dari dalam kelas setelah mengambil tas miliknya. Dia lalu berjalan menuju kelas yang ditempati Dara.
Meski umurnya dan Dara selisih satu tahun, tetapi dia dan Dara satu angkatan. Itu semua karena dulu dia lambat sekolah, sehingga seharusnya dia sudah lulus, tetapi masih kelas tiga sekarang.
Begitu Nathan sampai kelas Dara, wanita itu juga tidak berada di dalam kelas, hanya ada tas miliknya yang ada di atas meja.
"Tumben bisa serempak," kekeh Nathan.
Tidak ada sedikit pun rasa curiga di hati Nathan, karena dia sangat mengenal Leo. Leo tidak hanya dia anggap sebagai sahabat, tetapi juga sebagai kakak, karena selama ini Nathan memang ingin memiliki seorang kakak.
"Pasti di lapangan basket!" Nathan kembali bergumam, dia sangat yakin jika kekasihnya tersebut berada di lapangan basket, mengingat olahraga basket adalah olahraga favorit Dara.
Dengan senyum yang terus mengembang Nathan melewati koridor, beberapa siswa dan siswi yang kebetulan lewat terus menyapa Nathan sambil tersenyum.
Nathan sendiri selalu membalas sapaan mereka, dan membalas senyum mereka semua.
Nathan memang memiliki sifat yang dermawan, baik, murah senyum, dan suka membantu orang yang kesusahan. Tetapi teman sekelasnya banyak yang salah mengartikan kebaikannya, sehingga tak sedikit dari mereka yang malah meminta dirinya untuk mengerjakan PR milik mereka. Tentu saja Nathan menolak mentah-mentah, lalu menjelaskan kembali agar mereka paham, kemudian mengkoreksi tugas-tugas yang sudah dibuat mereka. Itulah sebabnya kelas XII IPA 1 adalah kelas favorit guru, dan menjadi kelas terbaik yang ada di SMA tersebut.
Melihat wanita pujaan hatinya yang sedang berdiri di tengah lapangan, Nathan sontak melambaikan tanggannya.
Baru saja dirinya ingin berteriak memanggil Dara, tiba-tiba ....
"LIRA, GUE SAYANG SAMA LO! GUE CINTA SAMA LO! LO MAU NGGAK JADI PACAR GUE?"
Tiba-tiba terdengar teriakan dari pinggir lapangan, lalu terlihat Leo yang berlari menuju Dara sambil membawa kembang sepatu, mungkin dipetik di pinggir kelas sepuluh, karena setahunya hanya di situlah ada bunga kembang sepatu.
Tubuh Nathan membeku. Yang dia dengar adalah 'Dara' bukan 'Lira'
Apakah dia tidak salah dengar? Leo, sahabat yang sudah dia anggap seperti kakak sendiri menyatakan cinta pada wanita yang dia sendiri tahu jika wanita itu adalah kekasih sahabatnya.
Nathan menggeleng dengan kuat saat melihat laki-laki itu yang berlutut di hadapan kekasihnya. Perlahan kaki Nathan melangkah mendekati, lalu bersembunyi di belakang tembok, dia ingin mendengar secara langsung apa yang akan dikatakan oleh Leo pada kekasihnya tersebut, dan bagaimana reaksi Dara saat mendengar pengakuan tersebut.
"Ra, percaya nggak percaya, tapi aku udah jatuh hati sama kamu. Aku cinta banget sama kamu, aku nggak bisa menghentikan perasaanku untuk nggak jatuh cinta sama kamu. Aku nggak pernah merasakan perasaan yang seperti ini sebelumnya. Cuman kamu! Cuman kamu yang bisa membuat hatiku berdetak ketika berada di dekat kamu. Jadi, APAKAH KAMU MAU MENJADI KEKASIHKU?" Leo berteriak di akhir kalimat, lalu menyodorkan bunga kembang sepatu itu di hadapan Dara.
Nathan dapat melihat jika Dara sedang menatap Leo, begitu pun sebaliknya. Seketika Nathan merasa marah dan kecewa pada Leo. Ternyata laki-laki yang sudah dia anggap sahabat menusuknya dari belakang. Meski pun demikian Nathan tetap merapalkan doa, berharap jika Dara akan menolak dan tahu milik siapa dia!
Perlahan Dara tersenyum. "Aku mau jadi pacar kamu!" ucap Dara dengan mantap.
Hancur!
Runtuh sudah pertahanan Nathan. Kini lututnya terasa sangat lemas. Dengan susah payah Nathan bersandar di dinding, tetapi percuma, perlahan tubuh laki-laki itu merosot ke lantai.
Menangis? Tentu! Mungkin terdengar cengeng, tetapi bagaimana mungkin dia tidak menangis ketika melihat orang yang sangat dia cintai dan jaga malah mengkhianatinya dengan cara seperti ini, bahkan di tempat terbuka.
Leo bangkit, lalu segera memeluk Dara dengan erat. Nathan yang melihatnya berusaha untuk menahan diri. Laki-laki itu hanya mampu meremas kuat d*danya, berharap dengan cara itu rasa sesak di d*danya sedikit berkurang. Tetapi sayangnya itu tidak ada pengaruhnya sama sekali.
"Se–sesak, Dar!"
Bagaimana tidak sesak? Dara, dia adalah wanita yang pertama kali mengajarkan dia arti cinta. Selama ini dia tidak pernah jatuh cinta, tetapi wanita itu seakan memiliki daya tarik tersendiri, sehingga mampu meruntuhkan pertahanannya.
Samar-samar Nathan mendengar suara Leo dan Dara yang sedang berbicara, tetapi dia tidak dapat mendengar dengan jelas karena posisinya yang memang cukup jauh dari mereka berdua.
Terlihat Dara yang berjalan menjauhi Leo. Nathan yang melihatnya berusaha untuk bangkit, meski lututnya terasa sangat lemas. Dia tidak mau ketahuan oleh sepasang pengkhianat tersebut.
"Dar, lo cinta nggak sih sama Nathan?"
Nathan yang awalnya berniat berlari sontak terdiam. Pertanyaan yang dilontarkan oleh Leo membuatnya menjadi penasaran dengan jawaban yang akan diberikan kekasihnya. Ah, masih pantaskah dia menganggap wanita itu kekasihnya?
Dara berbalik menghadap Leo.
__ADS_1
"Enggak! Gue nggak cinta sama Nathan!"
Jawaban Dara tersebut sontak membuat hati Nathan bagai ditusuk ribuan jarum. Sangat sakit! Ternyata hubungan mereka yang hampir berjalan tiga tahun itu tidak ada arti apa-apa untuk Dara. Semuanya palsu! Ternyata selama ini hanya dia saja yang mencintai wanita itu, tetapi Dara sendiri tidak pernah menganggap dia kekasihnya.
Nathan sontak berlari sekuat tenaga dari sana. Dia sudah tidak sanggup lagi mendengar pembicaraan mereka.
'Kamu jahat, Dar! Ternyata semuanya palsu!' Nathan berteriak dalam hati.
Setelah sampai di parkiran. Segera Nathan menaiki motornya, lalu melajukan kendaraan tersebut dengan kecepatan maksimum. Tidak peduli jika itu sangat berbahaya untuk keselamatan.
"ARGGHHH!" Nathan berteriak frustasi di dalam helm.
"KALIAN PENGKHIANAT! KALIAN BR***SEK!" Nathan terus berteriak dengan air mata yang terus mengalir.
Nathan tidak menyadari jika di depannya ada truck yang sedang melaju dengan cukup kencang, sehingga ....
Brukkk
Kecelakaan tidak bisa dihindari, sehingga membuat Nathan terpental jauh dari motornya. Tetapi untungnya, Nathan tidak terbentur di atas aspal, karena dia terpental ke rerumputan.
Namun meski pun demikian, kakinya terasa mati rasa, sama sekali tidak bisa digeraki.
"Sa–sakit, Dar!" Setelah mengatakan kalimat itu, perlahan mata Nathan tertutup.
********
Dara yang sedang asik bermain basket tiba-tiba dikejutkan dengan kehadiran Leo, sahabat kekasihnya.
"Apaan!" ketus Dara yang kesal karena permainannya diganggu.
"Tolongin gue, ya?" Leo mengeluarkan puppy eyes-nya, bergaya sok imut. Bukannya imut, Dara justru hampir muntah melihatnya. Jika Leo dibandingkan dengan Nathan, tentu jauh gantengan Nathan, karena meski pun Nathan tidak menunjukkan wajah imutnya, tetapi menurut Dara Nathan memang memiliki wajah yang menggemaskan, sehingga tidak pernah membuat dia bosan melihatnya.
"To the point!" Dara paling tidak suka melihat sikap sahabat Nathan yang kini juga menjadi sahabatnya yang suka bertele-tele jika meminta bantuan.
Leo cengengesan mendengar suara tegas pacar sahabatnya tersebut. Benar-benar tidak ada lemah lembutnya sama sekali jadi perempuan! "Jadi gini, Dar. Lo tau kan siswa yang namanya Lira, kelas XII IPS 1?" tanya Leo yang diangguki oleh Dara. "Nah, gue suka sama tuh cewek! Tapi dia itu orangnya judes, sama kayak lo, nggak ada lemah lembutnya jadi cewek!"
"Ckk ... gue nggak terima curhatan! To the point aja napa! Lo suka banget sih ngomong bertele-tele!" Dara berkata dengan ketus, merasa kesal dengan Leo yang masih sempat-sempatnya curhat masalah cintanya. Apakah wajahnya menunjukkan jika dia penasaran dengan kisah cinta sahabatnya? Sama sekali tidak! Dia bukan tipe orang yang kepo!
"Kenapa harus sama gue?" Dara bertanya, setelah itu melempar bola basket yang ada di tangannya ke arah ring. Leo dibuat spechless melihat bola itu yang tepat sasaran. Pacar sahabatnya ini memang tidak perlu diragukan lagi kemampuannya dalam bermain bola bakset.
"Ya, karena lo kan juga judes!" Leo keceplosan mengatakannya. Sontak saja itu mendapat pelototan dari Dara. "Astaga! Nggak gitu maskud gue, Dar. Lo kan tau kalau gue nggak punya teman cewek. Satu-satunya teman cewek gue cuman elo! Jadi plis lo ajarin gue, ya? Lo pasti tau, kan? Secara lo udah punya pacar!" Leo menjelaskan secara panjang lebar.
"He'em ...." Melihat temannya yang hanya berdeham saja membuat Leo melonggo. Hanya he'em?
"Kenapa nggak minta bantuan sama Nathan aja?" Dara kembali bertanya sambil menggulung rambutnya ke atas, karena merasa sangat gerah.
"Ckk ... gila aja lo! Masa gue prakteknya sama cowok! Rasanya itu nggak banget, Dar!" Leo menjadi gemes, tidak bisakan wanita itu mengiyakannya saja, toh cuman pura-pura doang?
Dara mengangguk paham, lantas menengadahkan tangannya, seolah meminta. Leo yang melihatnya tentu bingung.
"Maksudnya?"
"Bayar!" jawab Dara singkat. Tetapi jawaban singkat itu mampu membuat Leo melotot.
"Astagfhirullah! Lo kelamaan pacaran sama Nathan jadi matre ya sekarang! Masa bantuin teman aja pakai dibayar segala!" Leo tidak habis pikir. Apakah semuanya memang harus ada uang?
Dara mengangkat bahunya acuh, lalu berjalan santai meninggalkan lapangan basket karena lonceng pulang yang sebentar lagi akan berbunyi. Tetapi sebelum itu terjadi, Leo lebih dulu menahan wanita itu agar tidak pergi.
'Sialan nih cewek! Masa perhitungan banget sama teman!' Leo hanya mampu merutuki Dara dalam hati, sama sekali tidak berani melakukannya di hadapan wanita itu, karena yang ada nyawanya yang terancam, mengingat wanita itu ikut latihan karete.
"Nih!" Dengan perasaan tidak ikhlas Leo memberikan uang 50.000 dari dalam saku celananya. Tidak apa-apa! Yang penting dia bisa memiliki Lira setelah ini.
Dara menerimanya dengan senang hati, sama sekali tidak malu. "Yaudah! Lo ambil bungga kembang sepatu yang ada di sana! Anggap aja itu buket bungga!" Dara menunjukkan tanaman kembang sepatu yang ada dekat kelas sepuluh.
"Lah? Emangnya buat apa? Kita kan cuman pura-pura aja?" Leo justru bingung, apalagi harus pakai memetik bungga segala.
"Ckk ... turutin aja napa! Lo pengen hasil yang perfect, kan?" Dara justru dibuat jengkel dengan laki-laki yang ada di depannya. Tidak bisakah langsung dituruti saja!
Leo berdecak kesal, tetapi dia tetap berjalan mendekati tanaman kembang sepatu tersebut. Setelah selesai dia segera berlari kembali ke tengah lapangan basket.
__ADS_1
"Nih!"
"Yaudah, praktekkin! Gue juga capek ngaliat lo yang udah lumutan!" perintah Dara dengan suara tegas. Leo mengangguk ragu.
Segera Leo berlutut di hadapan Dara.
"Lira! Apakah kamu mau jadi pacarku?"
Dara melonggo mendengarnya. Se simple itukah?
"Ckk ... lo bisa nggak sih lebih romantis dikit, Yo! Kayak orang yang nggak niat menyatakan cinta tau nggak!" ketus Dara.
"Lah? Terus gimana?"
"Oke, gini aja. Lo suruh seluruh siswa buat kumpul di tengah lapangan, lalu minta salah satu siswi buat dorong Lira secara pelan ke tengah kerumunan. Lo diri di pojok sana, lalu teriak 'LIRA, GUE SAYANG SAMA LO! GUE CINTA SAMA LO! LO MAU NGGAK JADI PACAR GUE?' Setelah itu lari ke arah dia, kemudian baru berlutut di sana, lalu bilang 'Ra, percaya nggak percaya, tapi aku udah jatuh hati sama kamu. Aku cinta banget sama kamu, aku nggak bisa menghentikan perasaanku untuk nggak jatuh cinta sama kamu. Aku nggak pernah merasakan perasaan yang seperti ini sebelumnya. Cuman kamu! Cuman kamu yang bisa membuat hatiku berdetak ketika berada di dekat kamu. Jadi, APAKAH KAMU MAU MENJADI KEKASIHKU?' Ingat! Lo harus pakai aku-kamu, jangan lo-gue!" Dara mulai memberikan saran pada laki-laki di depannya.
"Gila! Kata-kata lo manis banget, Dar! Bentar gue catet dulu di handphone!" Leo segera mengambil handphonenya yang berada di dalam kantong, lalu mencatat apa saja yang sudah dikatakan Dara tadi.
"Udah buruan! Ini udah mau jam pulang!" Dara menjadi kesal sendiri saat melihat jam yang sudah menunjukkan kurang tiga menit jam dua.
Teng ... Teng
"Tuhkan, lo lama banget sih! Udah gue mau pulang aja!" ketus Dara, lalu berjalan meninggalkan Leo di sana.
"Ckk ... nggak bisa gitu, Dar! Oke, kita mulai!" Tidak ingin menyia-nyiakan waktu, Leo segera berlari ke pinggir lapangan.
Dara mengacungkan jempolnya pertanda siap.
"LIRA, GUE SAYANG SAMA LO! GUE CINTA SAMA LO! LO MAU NGGAK JADI PACAR GUE?"
Leo segera berlari menghampiri Dara sesuai perintah wanita itu, kemudian dia berlutut sambil mengangkat bunga yang ada di genggamannya.
"Ra, percaya nggak percaya, tapi aku udah jatuh hati sama kamu. Aku cinta banget sama kamu, aku nggak bisa menghentikan perasaanku untuk nggak jatuh cinta sama kamu. Aku nggak pernah merasakan perasaan yang seperti ini sebelumnya. Cuman kamu! Cuman kamu yang bisa membuat hatiku berdetak ketika berada di dekat kamu. Jadi, APAKAH KAMU MAU MENJADI KEKASIHKU?" Leo berkata dengan lantang, tetapi sebenarnya Dara sedang memegang handphone laki-laki itu dan mengarahkanya ke depan Leo, oleh sebab itu dia bisa berbicara dengan sangat lancar.
Dara terdiam sebentar. "Aku mau jadi pacar kamu!" Sebenarnya Dara hampir dibuat ngakak melihat wajah tagang Leo, padahal mereka hanya latihan saja! Tetapi dia berusaha menahannya, kasihan melihat Leo yang sudah serius.
Leo yang mendengarnya refleks memeluk Dara. Dara tentu terkejut mendapat pelukan tiba-tiba itu, padahal dia tidak menyuruh laki-laki itu melakukannya. Dengan kasar Dara mendorong bahu Leo. "Lo apaan sih main peluk-peluk aja! Entar gue lapor ke Nathan baru tahu rasa lo!" ketus Dara.
"He-he ... refleks, Dar! Lagian nggak mungkin juga Nathan sampai marah, kan gue nggak sengaja!"
"Ah, udahlah! Gue mau pulang!" Dara berjalan meninggalkan Leo, karena takutnya Nathan sudah menunggu dia di parkiran.
"Dar, lo cinta nggak sih sama Nathan?" Tiba-tiba saja Leo bertanya pertanyaan random.
Dara sontak menghentikan langkahnya, lalu berbalik dan menatap wajah Leo.
"Enggak! Gue nggak cinta sama Nathan!" jawab Dara yang langsung membuat Leo melotot. Lalu tiga tahun selama ini apa?
"Yaiyalah! Kalau gue nggak cinta, otomatis gue nggak mau pacaran sama dia! Gue bertahan sampai hampir tiga tahun ini karena gue benar-benar sayang dan cinta sama dia! Pertanyaan lo kok bikin gue emosi, ya?!" sambung Dara dengan napas memburu. Dia sedang cape sekarang, dan Leo malah memancing emosinya.
"He-he ...." Leo hanya mampu menggaruk tengkuknya sambil terkekeh tidak jelas. Benar juga! Untuk apa dia bertahan jika tidak cinta?
TBC
.
.
.
__ADS_1
.