
Dara terus memberikan tatapan tajam pada Nathan yang sedang menunduk di pojok kamar layaknya seorang anak kecil yang sedang takut dimarahi ibunya.
"Nathan, lo tau kesalahan lo?" tanya Dara dengan suara rendah, bahkan sangat rendah, sehingga kamar yang memiliki AC tersebut tidak mempan bagi Nathan, karena suasana yang sekarang sangat mencekam, bahkan lebih mencekam dari pada film horor yang pernah dia tonton.
"Iya," cicit Nathan dengan kepala yang terus menunduk.
"Apa?"
"Karena saya terlalu tampan, 'kan?" Rupanya di situasi yang seperti ini pun Nathan masih sempat bercanda. Sepertinya laki-laki itu memang seperti kucing, memiliki nyawa lebih dari satu. Menurut Nathan, jika dia mati, maka tinggal bangkit saja, simple bukan?
Brukk
Dara memukul pintu dengan kuat, sehingga membuat Nathan terlonjak kaget. Tatapan Dara semakin menajam.
'Ya, Allah. Apakah ini sudah saatnya? Padahalkan udah halal' Nathan meringis melihat tatapan tajam istrinya, bahkan mata Dara hampir saja keluar.
"Lo bisa nggak sih jangan becanda mulu!" bentak Dara.
"Dan kamu bisa nggak sih jangan syadis-syadis mulu!" sahut Nathan, tetapi dengan suara yang menggemaskan.
"Nathan!"
"Iya-iya, saya minta maaf. Saya janji nggak akan ngulangin hal kayak gitu lagi. Tapi kamu harus ingat, Dar. Saya juga laki-laki normal, umur saya udah hampir 30 tahun." Nathan menunduk setelah mendengar suara Dara.
'Mas juga ingin memiliki seorang anak, sayang. Mas juga ingin dipanggil ayah.' Rasanya ingin sekali Nathan mengatakan kalimat itu, tetapi sayangnya dia tidak bisa.
Nathan sangat tau seperti apa kepribadian istrinya. Dara adalah sosok wanita yang tidak tega'an. Dan dia tidak mau jika Dara menuruti keinginannya tanpa rasa cinta sedikit pun.
"Iyi, miif. Maaf-maaf mulu!" sinis Dara.
"Ckk ... terus saya harus bilang apa? Belah duren gitu? Entar kamu malah bilang, bilih dirin mulu! Serba salah, Dar. Kamu tuh harus ingat, kalau kamu itu perempuan pembohong, mana nggak setia lagi! Coba kamu lihat saya, udah ganteng, sholeh, baik, rajin menabung, dan pastinya nggak pembohong, apalagi saya orangnya setia!" cerocos Nathan tanpa henti.
'Kapan? Kapan gue bisa menang melawan Nathan? Apa perlu gue langsung habisi aja nih orang?'
"Ckk ... terus ini gimana ngehilangin tanda-tanda ini?" ketus Dara sambil memperlihatkan tanda-tanda kiss mark yang banyak tersebut.
"Kenapa dihilangin? Diterusin aja, gimana?" goda Nathan sambil menaik-turunkan alisnya. Rupanya Nathan memang sosok lelaki yang pemberani, buktinya dia masih berani menggoda istrinya di tengah situasi yang sedang panas tersebut.
"Nathan, gue serius! Lo kalau udah bosan tinggal di dunia ini bilang. Gue dengan senang hati bakal ngabulin permintaan lo!" ucap Dara dengan wajah serius.
"Buset, lembut banget ucapanmu duhay Istri. Yaudah, tutup pakai foundation aja," ucap Nathan santai, tetapi Dara justru sedikit terkejut.
"Lo tau apa tentang make up? Lo tau dari mana kalau foundation bisa nutupin ini?" Dara memicingkan matanya pada Nathan. Dia merasa curiga pada suaminya tersebut.
Nathan terdiam. Benar juga! Apakah ucapannya tadi salah?
Nathan meneguk salivanya dengan kasar, setelah itu cengengesan tidak jelas. "Saya pernah baca cerita p*rno," jawab Nathan tanpa rasa bersalah sedikit pun. Dia memang pernah membaca cerita p*rno secara diam-diam, selain itu dia juga pernah tanpa sengaja menguping pembicaraan karyawannya di kantor yang membicarakan tentang pernikahan mereka. Dasar bos julid!
Dara menggeleng-gelengkan kepalanya, dia bahkan tidak terkejut sama sekali. "Nggak heran sih. Dari mana sejarahnya muka kayak gitu alim? Udah keliatan kalau lo itu mesum!"
__ADS_1
"Ckk ... muka saya ini limited edition, Dar! Nggak ada di pasaran!" ketus Nathan.
"Ckk ... udah buruan pulang! Kata orang-orang, terlalu lama si hotel bisa menyebabkan sakit kepala!" ucap Nathan sedikit ketus.
"Sakit kepala?" beo Dara.
"Iya, sakit kepala karena dompet semakin menipis. Kemaren aja saya hampir nggak bisa tidur karena—" jawab Nathan wajah yang dibuat-buat sedih.
"Karena nggak belah duren?" Potong Dara lebih dulu, dan Nathan cengengesan mendengarnya.
"Enggak lah! Karena uang 100 miliar itu menghantui saya semalam! Dia bilang, dia nggak suka berpindah kepemilikkan ke wanita yang pembohong, mana nggak setia lagi." Sebenarnya apa yang diucapkan Dara tadi yang ingin dia katakan, tetapi karena sudah ditebak, dia berusaha memutar otak sehingga akhirnya dapat alasan yang masuk akal.
'Ya Allah, pelitnya nggak ketulungan nih laki!'
Dara memilih tidak menyahutinya, karena menurutnya itu semua akan sia-sia, mengingat Nathan orangnya agak sedikit mereng.
"Yaudah buruan pulang!" ketus Dara, lalu masuk ke dalam kamar mengemas pakaian serta barang-barang yang ada di hotel tersebut.
"Cih ... pulang, tapi malah masuk ke dalam! Saya tinggalin baru tahu rasa!" gerutu Nathan dengan suara yang sangat pelan, sehingga Dara tidak mendengarnya.
Setelah selesai berberes, mereka segera pergi dari hotel tersebut. Sepanjang perjalanan Dara menatap ke luar jendela, karena menurutnya pemandangan di luar jauh lebih baik di bandingkan di dalam mobil. Sementara Nathan fokus menyetir dengan sesekali melihat istrinya yang sama sekali tidak ada melihat ia.
"Yang di dalam lebih indah dari pada yang di luar, Dar!" celetuk Nathan, yang sontak membuat Dara mengalihkan pandangannya.
Dara tidak menjawab, dia lebih memilih untuk diam saja, bahkan wanita itu memutar mata malas.
"Males!"
"Kamu tau nggak malam apa yang menakutkan?" Nathan mengabaikan penolakkan Dara, dia malah berucap tanpa persetujuan istrinya tersebut.
"Malam kalau gue sampai belah duren sama lo! Menurut gue itu akan menjadi malam yang paling menakutkan!" jawab Dara asal.
"Ishh, itu bukan menakutkan, Dar! Tapi menyenangkan, mengenakkan, dan yang pastinya memuaskan!" jawab Nathan dengan suara sens*al.
Dara kembali memutar matanya malas.
"Kamu tau nggak?"
"No!"
"Malam yang paling menakutkan adalah malam-malamku tanpamu," ujar Nathan sambil menutup mulutnya menggunakan tangan kiri, sehingga terlihat menjijikkan di mata Dara.
"Menjijik 'kan ...." Dara bergaya seolah-olah dia sedang baper.
Nathan berdecak kesal. "Ckk ... gaya dan kata yang kamu ucapkan nggak cocok, Jamal! Menjijikkan, tapi gayanya kayak cewek lagi baper aja." Nathan kembali berdecak kesal, bagaimana mungkin istrinya sama sekali tidak meleleh dengan gombalannya. Ah, sepertinya gombalan memang tidak cocok dengan perempuan pembohong, mana tidak setia lagi seperti Dara.
"Sayang, temanin aku ke apotik, yuk!" Rupanya Nathan masih belum menyerah, dia masih berusaha untuk meluluhkan hati istrinya. Ya, setidaknya membuat wanita itu ngeblush lah.
"Ngapain? Emangnya lo udah sekarat?" tanya Dara enteng. Dia sangat tau jika Nathan masih berusaha untuk membuatnya baper.
__ADS_1
'Astagfhirullah! jawabannya nusuk banget!'
"Aku mau beli obat demam sayang!" jawab Nathan berusaha untuk bersabar.
"Enggak sekalian suntik mati aja?" tawar Dara dengan suara lembut.
'Bunuh istri dosa nggak sih?' batin Nathan yang sudah sangat jengkel dengan istrinya.
"Aku pengen beli obat demam, soalnya aku lagi demam cinta kamu." Nathan berkata sambil tersenyum, lalu mengedipkan sebelah matanya.
Dara tersenyum manis mendengarnya, dan hal itu tentu membuat Nathan salting. "Kamu mau tau cara yang paling ampuh?" tanya Dara dengan terus mempertahankan senyumnya, bahkan kini dia sudah mengubah gaya bahasanya menjadi 'kamu'.
'Wah, udah pasti dicium sih habis ini.' Nathan bersorak girang dalam hati.
"Enggak tau, emang apa?" tanya Nathan pura-pura tidak tahu.
"Ijinkan aku untuk merobek dadamu, setelah itu mengambil hatimu, kemudian mengompresnya menggunakan air panas, kalau perlu air yang mendidih, supaya lekas sembuh," jawab Dara dengan tampang wajah bersungguh-sungguh.
Nathan melonggo mendengarnya, se sadis itukah?
"Mati dong Dar kalau nggak punya hati?" tanya Nathan polos.
"Tuh tau!" jawab Dara singkat.
Nathan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Astagfhirullah! syadis syekali kamu my Bini!"
"Oh!"
TBC
.
.
.
.
__ADS_1