
"Lu–Lucy ..." lirih Dara nyaris tak bersuara. Saat ini yang dia takutkan adalah Lucy. Dia memang pandai dalam seni bela diri, tetapi entah kenapa dia merasa takut terhadap Lucy. Dia takut jika Lucy nekad melakukan hal-hal yang tidak pernah dia pikirkan sebelumnya.
Nathan melepaskan pelukkannya, lalu menatap mata istrinya dengan tatapan teduh. Telapak tangannya menghapus air mata istrinya dengan lembut, kemudian menangkup pipi istrinya. Andai suasananya tidak setegang ini, dia mungkin akan tertawa melihat wajah Dara, apalagi hidung wanita itu yang memerah.
"Kenapa? Kamu takut sama Lucy?" tanya Nathan yang mendapat anggukan kecil dari Dara.
"Kenapa? Masa Dara yang aku kenal jago bela diri malah takut." Nathan mengejek istrinya, berniat untuk menghiburnya saja.
"Kamu jangan banyak bacot! Ceritain sekarang semua masa lalu kamu selama di London!" ketus Dara, tapi terkesan tegas.
Nathan meneguk salivanya dengan kasar. "Semuanya? Kamu yakin?" tanya Nathan sedikit ragu.
"Kenapa enggak? Awas aja kalau masih ada yang kamu sembunyiin. Kalau sampai aku tau, maka udah nggak ada lagi kesempatan buat kamu!" ancam Dara dengan wajah serius, seolah yang dia katakan tidak main-main.
"Baik, tapi kamu harus janji, kamu nggak bakal kecewa sama aku setelah mendengar semuanya." Nathan mengacungkan jari kelingkingnya di hadapan Dara. Dara yang melihatnya jadi terkekeh. Kenapa malah seperti anak-anak? Pikirnya.
Nathan menghembuskan napasnya secara perlahan. Kini dia akan menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutupi. Memang seharusnya seperti itulah, hanya saja dia terlalu bodoh selama ini sampai menyembunyikan semuanya, hingga membuat istrinya mengetahuinya dengan sendiri, dan dia tahu itu jauh lebih menyakitkan untuk Dara.
"Sewaktu aku memutuskan untuk pergi ke luar negeri, aku memang dalam keadaan sakit hati, karena kesalahpahaman itu. Setelah tinggal hampir sebulan di sana, aku nggak sengaja ketemu sama Lucy. Waktu itu Lucy yang aku kenal wanitanya polos, lugu, baik, dan murah hati." Nathan menjeda perkataannya sebentar, lalu menatap ekspresi wajah istrinya yang terlihat seperti tidak sabar menunggu kelanjutan ceritanya.
"Maaf banget, Dar. Tapi waktu itu, perlahan hubungan kami mulai membaik, kami sering ketemuan. Kehadiran Lucy saat itu perlahan menyembuhkan luka yang membuat nama kamu perlahan terkikis dari hati aku, maski pun hanya sedikit saja. Sosok Lucy yang periang membuat aku bisa ketawa lagi. Hingga suatu hari, Lucy tiba-tiba nyatain cintanya ke aku. Aku emang bingung sama perasaan aku sendiri, tapi aku nggak tega buat nolak dia, dan akhirnya aku nerima dia." Nathan menghirup oksigen terlebih dahulu.
"Selama satu bulan hubungan kami berlangsung, nggak bisa dipungkiri kalau kami cukup romantis saat itu. Sebenarnya ada terbesit dalam hatiku akan menjadikan Lucy sebagai istriku." Nampak Dara terkejut bukan main mendengar kata terakhir yang dilontarkan Nathan. "Tapi aku berani bersumpah kalau nama kamu masih bertahta dalam hatiku saat itu. Tapi, sayangnya hubungan kami cuman sampai satu bulan itu aja, karena ternyata Lucy sudah menikah."
Dara yang mendengarnya sontak membelalakkan matanya. Padahal jika dia lihat, mungkin Lucy masih di bawah umurnya. "Seriusan? Jadi, dia pacaran sama kamu pas udah punya suami?" tanya Dara yang dibalas anggukan oleh Nathan. Dara menggeleng, ia tidak habis pikir dengan Lucy. Bagaimana mungkin wanita itu berselingkuh?
"Mau dilanjut?" tanya Nathan yang langsung mendapat anggukan antusias dari Dara.
"Sejak saat itu aku udah nggak percaya lagi sama yang namanya perempuan dan cinta. Menurutku cinta itu bullshit! Saking aku dendam sama perempuan, aku akhirnya membalas dendam dengan menjadi seorang pemain, bukan mainan lagi. Aku mengencani banyak perempuan semasa di London. Ya, bisa dibilang aku selingkuh, mengencani beberapa perempuan sekaligus. Nggak cuman itu, aku juga mabuk, ngerokok, pergi ke club, minum, pokoknya ngelakuin hal-hal yang nggak baik." Akhirnya semua cerita masa lalunya ia ceritakan pada istrinya, tanpa ada yang ditutup-tutupi. Dia tidak mau kejadian yang sama kembali terulang. Cukup kali ini saja dia membuat istrinya kecewa dengan sikapnya.
Dara membekap mulutnya, merasa tidak percaya dengan cerita yang disampaikan oleh suaminya. Seburuk itukah pergaulan Nathan di sana?
"Maafin aku .... Aku terlalu bodoh jadi laki-laki. Aku terlalu cepat menyimpulkan semuanya, hingga menjerumuskan diri aku sendiri ke perbuatan dosa. Bahkan karena perbuatan aku dulu, kamu jadi ikut terseret ke masalah aku dan Lucy." Nathan menundukkan kepalanya, menyesali semua perbuatannya. Andai waktu bisa diputar kembali, dia sangat ingin memperbaiki semuanya, agar tidak pernah ada yang namanya Lucy.
"Kamu nggak pernah macem-macem kan sewaktu di sana? Maksudku berhubungan badan misalnya." Dara bertanya. Mendengar cerita suaminya yang mengatakan dia pernah pergi ke club membuatnya berpikir apakah laki-laki itu pernah bermain sebelumnya.
Nathan menggeleng dengan cepat. "Sama sekali nggak pernah, Dar! Aku berani bersumpah kalau aku masih ori kok. Aku cuman mabuk doang, tapi untuk bermain sama perempuan aku sama sekali nggak pernah. Aku juga nggak pernah ciuman bibir sama perempuan mana pun. Tapi ... aku pernah nyium pipi perempuan, salah satunya Lucy." Meski ragu mengatakannya, Nathan tetap memberitahukannya pada istrinya.
Dara yang mendengarnya sedikit merasa sesak. Tetapi tidak seharusnya dia kecewa, karena Nathan sudah mau berbagi semua masa lalunya. Setidaknya, suaminya sudah mau jujur tentang semuanya, hingga tidak ada disembunyikan.
__ADS_1
"Maafin aku, Dar. Kamu pasti kecewa banget sama aku." Nathan menunduk, tidak berani menatap mata istrinya yang dia yakini pasti sangat kecewa.
Dara tersenyum mendengar permintaan maaf suaminya. Dia mengangkat dagu Nathan, lalu menangkup kedua pipi suaminya itu. "Makasih banyak karena sudah mau berbagi sama aku. Makasih karena sudah mempercayai aku. Jujur, aku sedikit sakit dan kecewa, tapi aku senang kamu mau jujur tentang semunya. Aku mohon jangan ada yang ditutup-tutupin di antara kita berdua lagi. Oke?" Dara berkata seceria mungkin. Ia bahkan memberikan senyum terbaiknya.
Nathan menatap tidak percaya istrinya. Sepositif itukah respons Dara? Padahal dia sudah berpikir jika Dara mungkin saja akan kecewa, bahkan meninggalkannya. Ternyata selama ini ia terlalu overthinking.
Saking senangnya, Nathan langsung membawa istrinya ke dalam pelukkan. Dia memeluk Dara dengan erat, sambil berbisik, "Makasih, Sayang. Aku janji bakal selalu terbuka sama kamu." Dara membalas pelukkan suaminya tak kalah erat.
Sungguh pemandangan kali ini benar-benar menyejukkan hati seandainya ada yang menyaksikan. Sepasang suami istri itu saling bercerita sebelum tidur, dan diakhiri dengan acara peluk-pelukkan.
Nathan melepaskan pelukkannya. "Dar, setahuku Lucy itu sosok yang nekad dan dia bakal ngelakuin segala cara untuk bisa dapetin apa yang dia inginkan." Nathan berkata dengan serius, tetapi hanya dibalas anggukan cuek bebek dari Dara.
"Aku tau. Sewaktu kamu pergi ke toilet, dia ngancem aku," tutur Dara apa adanya.
"Seriusan? Dia bilang apa?"
Dara mulai memberitahukan semua yang Lucy ucapkan padanya. Nampak Nathan terlihat murka mendengarnya. Napasnya memburu. Apakah akhirnya dia akan membunuh manusia nantinya? Lebih tepatnya Lucy?
"Kita hadapin ini sama-sama, ya. Tapi aku sedikit takut. Aku kan cuman bisa bela diri, tapi belum pernah megang senjata," ujar Dara jujur.
"Kamu tenang aja, kan ada aku. Aku pastikan bakal selalu ngejaga dan ngelindungin kamu."
"Sedikit."
*******
"ARGH! Sialan! Berani sekali dia menantangku!" Lucy berteriak frustasi di dalam mobil. Setelah bertemu dengan Dara tadi dia memang langsung pergi karena tidak mau berada di sana lebih lama. Apalagi respons Dara sama sekali tidak takut dengan ancamannya, malahan menantangnya.
Sementara Kendrick yang melihat kefrustasian majikannya lewat kaca depan hanya diam saja. Terlihat seperti tidak peduli.
'Ckk ... cinta benar-benar membuatnya gila!'
"Baik, kau yang memulainya j*l*ng! Jadi jangan salahkan aku jika aku nekad melakukannya." Lucy menunjukkan seringainya. Kendrick tentu melihat seringainya dengan jelas. Dia hanya berdecih dalam hati, lalu memilih untuk diam saja.
"Kendrick! Apakah kau mendapat informasi tentang wanita sialan itu?" tanya Lucy menatap anak buahnya yang terlihat sedang fokus menyetir mobil.
"Tidak ada yang special. Dia hanyalah wanita lemah, sama seperti wanita pada umumnya," jawab Kendrick santai.
"Bagus, ternyata dia hanya berbicara omong kosong saja tadi. Lantas, bagaimana dengan laki-laki yang bernama Leo itu?"
__ADS_1
"Seperti yang ku beritahukan pada Anda sebelumnya. Tapi sekarang dia bekerja di perusahaan milik Nathan."
"Oke, siapkan pertemuanku besok dengan laki-laki itu! Siapkan tempat yang tertutup, agar tidak ada yang tahu. Akan aku pastikan mendapatkan laki-laki bernama Leo itu!" ucap Lucy penuh percaya diri.
"Bukanlah yang sulit," sahut Kendrick dengan santai, karena menurutnya bukanlah hal yang sulit untuk menyeret Leo ke hadapan majikannya itu.
"Apa rencana Anda setelah itu?" tanya Kendrick, tetapi dengan wajah seperti orang yang tidak tertarik mendengarkannya.
Lucy yang sangat mempercayai anak buahnya itu langsung memberitahukan semua rencananya pada Kendrick, memastikan jika rencananya itu sangat bagus dan meminta pendapat laki-laki itu, karena biasanya Kendrick lah yang memiliki banyak ide cemerlang.
"Bagaimana? Apa itu akan berjalan dengan baik menurutmu?" tanya Lucy dengan penuh antusias.
"Jadi, Anda akan membun-uh pria tidak bersalah itu, lalu dengan sengaja menuduh Nathan yang melakukannya sehingga membuat pertemanan mereka hancur, begitu?" tanya Kendrick memastikan.
"Benar sekali!" Lucy mengacungkan kedua jempolnya di hadapan wajah Kendrick. "Karena dengan begitu Leo akan semakin menggebu-gebu membalaskan dendamnya."
"Tidak terlalu buruk. Cukup menarik!" Kendrick mengangkat sudut bibirnya. "Akan ku atur pertemuannya besok!"
TBC
.
.
.
.
__ADS_1