
"Kamu kenapa nggak mau nerima perjodohan ini sih, hah?" tanya Nathan dengan ketus.
Saat ini mereka sedang berada di taman belakang rumah Dara. Nathan memberikan tatapan tajam pada wanita itu, tapi Dara sama sekali tidak takut, karena menurutnya jika Nathan melotot tidak ada tampang mengerikannya, malah justru menggemaskan.
"Tadi kan gue udah bilang apa alasannya," jawab Dara jengah.
"Kasih saya alasan yang jelas telur dadar!" perintah Nathan dengan gemes.
"Lo mau tau alasan yang sebenarnya?" tanya Dara sambil menatap Nathan yang mengangguk dengan semangat. "Yang pertama, karena lo itu nggak waras. Yang ke dua, karena lo itu sinting. Yang ke tiga, karena lo itu udah gila. Dan yang ke empat, karena lo itu mesum!" ketus Dara.
"Ckk ... perasaan nggak waras, sinting, dan gila itu sama aja deh. Kenapa jadi belibet, sih!" gumam Nathan.
"Saya kayak gini juga karena kamu! Kenapa saya mesum? Ya jelaslah! Orang saya juga laki-laki normal! Meski pun saya mesum, tapi saya nggak pernah lho bercocok tanam! Anu saya ini udah saya jaga dengan baik, supaya cuman bersarang di anu kamu," sahut Nathan sedikit ambigu.
"Apaan sih lo, ngomong itu yang jelas dikit napa! Anu-anu apaan coba?" ucap Dara dengan ketus.
"Perlu saya ucapkan maksud dari kata 'anu' itu?" tanya Nathan serius.
Dara menjadi gelisah sendiri. Sebenarnya dia sangat paham sekali maksud Nathan tadi. "Gak perlu!" ketus Dara.
"Ckk ... yaudah, berarti kamu terima perjodohan ini, 'kan?"
"Sejak kapan gue bilang gue nerima? Gue udah bilang kalau gue nggak bisa!" Dara menjadi jengkel sendiri, apakah laki-laki di depannya tidak paham bahasa manusia?
"Dara!" bentak Nathan yang sontak membuat Dara terlonjak kaget, pasalnya suara Nathan benar-benar mengerikan saat membentak. "Pengen kawin," rengek Nathan mendudukkan dirinya di samping Dara, lalu menggoyang-goyangkan lengan wanita itu.
"Lo jangan kayak anak kecil deh, Than!" Dara justru merasa geli dengan sikap Nathan yang sengat kekanak-kanakan.
"Kamu pengen punya anak? Yaudah langsung gas aja. Kalau perlu malam ini kita bikin, biar besoknya langsung jadi debay, gimana? Usulan yang bagus, bukan?" tanya Nathan dengan manaik-turunkan alisnya.
"Lo kenapa jadi makin nggak waras sih, Than? Lagian siapa yang pengen bikin bayi? Bahkan bibir gue pun nggak mau dicium sama lo!"
"Dar, kamu seriusan nggak mau kawin sama saya? Di luar sana banyak lho yang suka sama saya, yang lebih bahenol, lebih montok, lebih aduhay, dan semuanya serba gede deh. Pokoknya nggak kayak kamu, udah tepos, kurus, tinggi, nggak ada imut-imutnya, mana galak lagi. Kamu seharusnya bersyukur lho saya pengen dijodohkan sama perempuan yang pembohong, mana nggak setia lagi kayak kamu. Sebenarnya saya itu nggak pengen dijodohkan sama kamu, tapi karena saya anak baik, rajin, sholeh, tidak sombong, dan yang pastinya rajin menabung, maka saya dengan lapang dada menerima kamu yang pembohong, mana nggak setia lagi," cerocos Nathan dengan lancar.
Dara yang mendengarnya hanya memutar matanya dengan malas, kenapa laki-laki ini tiba-tiba menjadi cerewet seperti perempuan? Bahkan dirinya yang perempuan pun tidak pernah se cerewet itu.
"Gue bakal jawab pertanyaan lo tadi. Iya, gue serius, gue nggak mau nikah sama lo," ketus Dara.
"Wah, nggak bisa gitu dong, Dar! Kalau kamu nggak mau, maka dengan terpaksa saya akan melakukan kekerasan!" ucap Nathan dengan wajah serius.
"Emang berani?" tanya Dara dengan sinis.
"Enggak sih," kekeh Nathan. "Maksud saya tadi, jangan sampai saya perk*sa kamu supaya kamu mau kawin sama saya! Saya bisa aja lo lakuinnya di sini. Saya buka nanti gaun yang saya beli itu." Nathan berbicara semakin ngelantur.
"Hah? Ja—jadi, lo yang beli nih gaun?" tanya Dara terkejut setengah mati, seolah-olah baju yang diberikan Nathan diberikan racun.
"Iya! Asal kamu tau, itu gaun mahal banget! Masa saya cuman beli satu dress doang udah ngabisin uang 1 juta! Itu pun susah payah saya nawar, sehingga bisa dapat dengan harga 500 ribu! Kamu bayangin perjuangan saya Dar," jawab Nathan dengan tampang wajah perjuangan.
__ADS_1
"Gila sih, gimana ceritanya lo bisa dapat potongan harga setengah dari harga aslinya? Gue aja yang pernah coba nawar cuman dikurangin 100 ribu doang," gumam Dara yang merasa takjub dengan kemampuan Nathan.
"Ckk ... ini gimana, kamu mau kan kawin sama saya?" tanya Nathan yang terus mengulang pertanyaan yang sama.
"No!" jawab Dara singkat.
"Saya kasih cilok se baskom deh kalau kamu mau nikah sama saya, gimana?" tawar Nathan.
"No!"
"Plus es teh manis se panci, gimana? Pasti mau, 'kan?" tawar Nathan lagi.
"Eh, lo pikir gue cewek apaan! Makanan dan minuman kayak gitu juga bisa beli tanpa menikah dengan lo kali!" Napas Dara sudah memburu, bagaimana mungkin ada laki-laki seperti Nathan di dunia ini? Bukannya menawarkan dengan sebokah berlian, ini malah cilok sama es teh manis.
"Ckk ... yaudah, sebutkan apa yang kamu mau? Apa pun itu akan saya kabulkan, asalkan kamu mau menikah dengan saya, gimana?" tawar Nathan lagi yang masih belum menyerah.
Mendengar ucapan Nathan sontak membuat Dara terdiam, ia berusaha menimbang-nimbang tawaran Nathan yang cukup menarik. Seketika ide licik muncul di kepala Dara.
"Oke, gue bakal nikah sama lo asal lo mau nurutin permintaan gue," jawab Dara dengan senyum manisnya.
Mana Nathan sontak berbinar mendengarnya. "Oke, sebutin aja! Saya bakal turutin!" sahut Nathan mantap.
"Gue pengen mahar yang lo berikan ke gue yaitu cincin berlian limited edition, mobil mahal 5, rumah yang lebih besar dari pada rumah orang tua gue, satu apartemen mewah, dan yang paling penting adalah uang sebanyak 100 milliyar, gimana?" tanya Dara dengan santai.
Berbeda dengan Dara, Nathan justru langsung kehabisan oksigen akibat terus menahan napas mendengar permintaan Dara yang hampir tidak masuk akal. Apakah wanita itu serius?
"Huh ... huh ... To—tolong Dar!"
Brukk
Nathan terjatuh dengan gaya lidah yang keluar, dan mata yang melotot.
"Yaudah kalau lo nggak mau, kita nggak jadi nikah aja." Senyum kemenangan terbit di wajah Dara. Dia sangat tau jika Nathan pasti akan menolak setelah mendengar permintaan gilanya itu. Ya, wajar saja, mengingat Nathan adalah pria pelit!
Nathan sontak langsung bangun setelah mendengar ucapan Dara. "Tidak! Deal, kita menikah dengan mahar yang kamu sebutkan tadi!" ucap Nathan mantap yang sontak membuat Dara terkejut setengah mati. Apa ia tidak salah dengar?
"L—lo seriusan, Than?" tanya Dara yang tidak mampu menutupi rasa terkejutnya.
"Tentu! 100 ribu, 'kan tadi?"
"100 milliyar! Bukan 100 ribu, gimana? Lo tetap mau? Lo nggak kasihan sama uang lo sendiri? Lo nggak boleh menghamburkan duit, lho." Dara berusaha mempengaruhi pemikiran Nathan.
"Tidak! Saya tetap setuju!" sahut Nathan mantap.
"L—lo jangan becanda, Than! Lo pikir baik-baik lagi deh. Sayang banget duit lo kalau digunakan untuk sesuatu yang nggak berguna." Dara menjadi gelisah sendiri.
'Kamu meragukan saya ternyata. Jangankan 100 milliyar, 10 ribu pun saya jabanin' batin Nathan.
__ADS_1
"Tidak masalah! Ayok sekarang kita bersama-bersama menghadap Yang Maha Kuasa. Eh maksudnya menghadap orang tua kita, untuk memberitakan berita bahagia ini," kekeh Nathan.
"Akhirnya, sekian lama saya nunggu, pada akhirnya saya bisa juga belah duren. Ternyata benar, perjuangan tidak akan mengkhianati hasilnya. Sekarang terbukti, karena saya menjaga dengan baik anu saya, maka saya mendapatkan anu kamu, sehingga anu saya dan anu kamu akan berubah menjadi nama anu-anu," ucap Nathan asal.
Tanpa basa-basi Nathan langsung menarik tangan Dara tanpa persetujuan sang empunya. Tetapi Dara hanya diam saja, tiba-tiba saja otaknya tidak berfungsi dengan baik.
******
"Kami siap menikah!" ucap Nathan dengan lantang setelah berada di ruang tamu.
"Hah? Seriusan? Emang Dara udah berubah pikiran?" tanya Vira sedikit terkejut.
"Sudah, Tante. Dara udah bilang kalau dia menerima perjodohan ini. Iya kan, sayang?" tanya Nathan menatap Dara yang hanya diam membisu.
"Dara! Kamu udah janji, lho. Masa iya kamu mengingkari janji kamu begitu aja," bisik Nathan tepat di samping telinga Nathan.
"Hah? I—ya Ma! Dara terima kok perjodohan ini," ucap Dara dengan tersenyum paksa.
"Alhamdulillah," ucap semua yang ada di ruangan.
'Astagfhirullah' batin Dara.
Akhirnya keputusan dibuat, yaitu pernikahan Dara dan Nathan akan dilaksanakan dua minggu lagi.
Dara hanya mampu merutuki mulutnya yang dengan lancang mengatakan kata-kata tadi.
Sementara Nathan terus mengembangkan senyumnya. Tidak masalah hartanya akan habis, yang penting dia bisa belah duren dengan wanita pembohong, mana tidak setia lagi, tapi wanita yang ia cintai juga.
TBC
.
.
.
__ADS_1
.