Menikah Dengan Pria M*esum (Suami Takut Istri)

Menikah Dengan Pria M*esum (Suami Takut Istri)
Akhirnya Mengetahui Fakta itu


__ADS_3

Nathan terdiam mendengar pengakuan istrinya. Apakah Dara barusan mengatakan ingin mencintainya? Seriusan? Demi apa?


"Tadi kamu bilang apa?" tanya Nathan, takut salah dengar, kan tidak lucu jika dia sudah berharap, tetapi ternyata salah paham.


"Ckk ... lo masih muda, tapi kenapa udah budek?" ketus Dara.


"Nggak! Saya cuman mau memastikan pendengaran saya, takutnya saya ternyata salah dengar," ucap Nathan yang kini sudah menggunakan kata saya lagi.


"Emangnya lo dengarnya apa tadi?" tanya Dara yang suaranya masih terdengar ketus.


"Aku ingin mencintaimu!" Nathan kembali mengulang ucapan istrinya tadi.


"Sama! Aku juga ingin mencintai!" balas Dara sambil terkekeh. Dia sengaja ingin bercanda dengan suaminya.


"Lah? Saya cuman ngulangin ucapan kamu, Dar! Bukannya saya mau mencintai kamu!" Nathan baru paham maksud istrinya langsung tidak terima begitu saja.


"Lah? Emangnya lo nggak mau mencintai gue? Oke, fine! Gue tarik kata-kata gue tadi!" ketus Dara yang bibirnya kini maju ke depan. Dia merasa sedikit kesal mendengar Nathan yang mengatakan tidak mau mencintainya, padahal jelas-jelas laki-laki itu baru saja mengatakan jika dia masih mencintai dirinya hinggi detik ini.


"Eh, eh? Nggak gitu juga, Dar! Maksud saya tadi nggak gitu! Maksud saya tadi, apa kamu serius bilang itu tadi?" Buru-buru Nathan memperbaiki ucapannya. Dia sama sekali tidak bermaksud mengatakan tidak ingin mencintai istrinya. Bagaimana mungkin dia tidak ingin mencintai istrinya, sementara dia baru saja mengungkapkan perasaannya tadi?


"Eum ... serius nggak ya?" Dara mengetuk jarinya di dagu, seolah sedang berpikir.


"Saya serius, Dar!" desak Nathan, dia sudah tidak sabar mendengar kata-kata itu diucapkan kembali oleh istrinya.


"Iya, gue emang mencintai lo!" Dara kembali mengucapkan kata yang tadi dia ucapkan.


Karena merasa sangat senang, Nathan refleks memeluk istrinya, lalu memberikan kecupan lembut di kening wanita itu. Dara sendiri hanya diam, menikmati pelukan suaminya itu dengan perasaan bahagia.


Sadar jika dia sedang memeluk istrinya, Nathan segera melepaskan pelukkan itu. "Kenapa kamu mencintai saya?" tanya Nathan sambil menatap dalam mata wanita yang dia cintai.


"Lah? Emang gue nggak boleh mencintai lo gitu?" Dara justru heran dengan pertanyaan aneh suaminya tersebut. Memangnya Nathan tidak ingin apa dicintai olehnya?


"Nggak gitu, Dar. Maksud saya apa yang membuat kamu mencintai saya? Padahal sikap kamu kayak benci banget sama saya." Nathan memperjelas ucapannya agar Dara paham. Padahal dia sempat pesimis jika Dara memang tidak memiliki perasaan apa pun padanya, mengingat sifat Dara seperti membenci dirinya.

__ADS_1


"Gue nggak pernah membenci lo, Than! Gue emang pernah marah sama lo, gue pernah jengkel sama lo, gue pernah geram sama lo, gue pernah kecewa sama sifat lo. Tapi percayalah, gue nggak pernah yang namanya membenci lo!" ucap Dara bersungguh-sungguh. "Gue nggak pernah benci sedikit pun sama lo meski pun gue sempat kecewa banget waktu lo mutusin gue tanpa alasan, bahkan pergi ninggalin gue sendirian di sana, padahal lo sendiri udah janji kalau kita bakalan kuliah sama-sama di Amerika! Gue kecewa banget, Than! Gue tiap hari nangis karena lo mutusin gue tiba-tiba, padahal gue sendiri nggak tau apa kesalahan yang udah gue perbuat. Pertama lo ijin nggak turun ke sekolah selama tiga hari dengan alasan ada acara keluarga, gue udah sedih, Than! Gue kesepian di sana. Gue kangen banget sama lo! Apalagi waktu lo sama sekali nggak balas pesan gue! GUE SAKIT, THAN! Gue bahkan pergi ke rumah lo untuk nyari informasi, tapi apa yang gue dapat? Nyokap lo bilang kalau lo udah pindah! Lo bayangin, gue sama sekali nggak tau kalau lo pengen pindah sekolah! Saat itu gue benar-benar kecewa sama lo! Tapi apa? Gue masih berharap kalau lo pasti nemuin gue dan pasti bakal menjelaskan alasan lo pindah ke luar negeri. Waktu lo ngechat gue, dan meminta gue buat datang ke Cafe, gue senang banget, Than! Gue bahagia karena bisa ngeliat lo lagi setelah beberapa hari nggak ngeliat lo sama sekali. Tetapi apa yang gue dapat? Lo justru mutusin gue tanpa alasan yang jelas! Lo ninggalin gue tanpa memberikan kesempatan buat gue ngomong, buat gue ngejelasin! LO TUH SEBENARNYA PERCAYA NGGAK SIH SAMA GUE?" Dara terus mengeluarkan semua uneg-uneg yang selama ini dia simpan selama sembilan tahun. Sebenarnya dia tidak berniat untuk mengatakan itu semua, tapi entah kenapa mulutnya tidak mau berhenti berbicara.


Nathan sendiri tetap diam, mendengar setiap cerita yang dikatakan istrinya.


"Gue terpuruk, Than! Gue depresi waktu itu, tiap hari gue ngurungin diri di kamar, nangis nggak jelas. Sampai apa? Sampai gue sakit dan perlu diinfus selama tiga hari. Gue nggak tau apa alasan lo mutusin gue, dan gue juga nggak bisa nebak! Tiap hari gue mikirin apa yang sebenarnya membuat lo mutusin gue, tapi tetap aja gue nggak tau jawabannya! Hingga ada siswi kelas sepuluh yang menjelaskan semuanya, dan akhirnya gue tau apa alasan sebenarnya lo mutusin gue. Sejak saat itu gue kecewa sama lo, sangat sangat kecewa sama lo! Lo terlalu cepat menyimpulkan semuanya, tanpa memberi kesempatan gue untuk menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya. Sejak saat itu gue sadar, kalau lo cuman cinta, tapi nggak sepenuhnya percaya sama gue. Bagaimana mungkin hubungan yang kita bangun hampir tiga tahun, ternyata nggak cukup untuk lo mempercayai gue! Lo salah paham selama ini, Than!" Dara mulai menangis, dia terduduk lemas di sofa saat mengingat kejadian sembilan tahun yang lalu.


Nathan berusaha mencerna setiap ucapan istrinya. "Jadi, maksud kamu yang saya lihat itu salah? Yang saya lihat itu nggak benar?" tanya Nathan yang masih belum bisa memahami sepenuhnya ucapan istrinya tersebut.


Dara tidak menjawab. Segera dia menyeka air matanya yang terus menetes. Dia lalu bangkit, terlalu banyak berbicara membuatnya haus sekarang, dia berancana untuk minum terlebih dahulu, setelah itu baru menjelaskan tentang semua kesalahpahaman yang terjadi di antara mereka selama ini. Ya, semuanya harus jelas, agar suaminya tersebut tidak menganggap dia rendah dan wanita murahan lagi.


Nathan sendiri hanya diam, mungkin istrinya memang perlu air saat ini, mengingat dia baru saja banyak mengeluarkan suara.


Untungnya di ruangan tersebut ada air yang memang disiapkan Nathan, karena sewaktu-waktu dia bisa haus pas lembur, dan tentu tidak ada orang yang bisa dia suruh, sehingga dia berinisiatif untuk menyediakan tempat air di ruangannya, agar tidak repot lagi.


Dara segera meneguk segelas air dengan cepat. Tenggorokannya benar-benar terasa kering sekarang, mungkin karena terlalu banyak berbicara tadi, apalagi dia berbicara tanpa jeda.


Setelah merasa cukup, Dara segera meletakkan kembali gelas tersebut. Baru saja dia berjalan satu langkah, tiba-tiba penglihatannya jatuh pada amplop yang ada di samping tempat air tersebut.


Dara lalu mengambil amplop tersebut, lantas membukanya, dan ternyata ada selembar kertas di dalamnya. Segera Dara membuka kertas tersebut, lalu membacanya. Astaga, ini adalah kali pertamanya dia benar-benar dibuat penasaran, padahal hanya sebatas kertas saja.


Kening Dara sedikit mengerut saat kata pertama yang dia baca adalah 'Rumah Sakit'


Otaknya mulai berpikir, siapa sebenarnya yang sakit? Apakah Nathan? Mengingat kertas tersebut berada di dalam ruangan laki-laki itu.


Dara lalu membacanya dengan teliti, bahkan tidak ada satu kata pun yang dia lewati.


Bagai disambar petir, tubuh Dara membeku saat membaca jika ada nama suaminya di sana, yaitu 'Nathan Geovanni Adijaya' dan yang lebih membuatnya terkejut setengah mati yaitu saat membaca kalimat 'Dari penjelasan yang didapatkan, kemungkinan Pasien menderita depresi yang hebat, mungkin saja ada trauma yang sangat susah untuk dihilangkan sehingga membuat kondisi mental Pasien sedikit terganggu, sehingga itulah yang membuat Pasien menagis, bahkan pingsan. Dari yang saya lihat, Pasien sudah mengalami depresi ini sejak lama, dan tidak mampu untuk melawannya, sehingga saat ada kata atau kejadian yang salah dipendengaran dan penglihatannya, maka tubuhnya akan mulai bergetar, merasakan sesak yang luar biasa, sampai akhirnya pingsan. Saran saya sebaiknya Pasien segera dibawa ke Psikolog, karena jika terlambat, Pasien mungkin tidak mampu melawan rasa traumanya, dan itu akan berakibat fatal untuk kesehatan mental Pasien.'


Dara memegang dadanya yang terasa sesak. Kenapa Nathan mengalami depresi? Apa yang sebenarnya terjadi dengan laki-laki itu selama ini, sehingga membuat dia mengalami ganguan mental? Selama ini dia melihat Nathan sehat-sehat saja, bahkan tidak pernah menemukan laki-laki itu terpuruk. Apa mungkin ini ada kaitannya dengan kejadian sembilan tahun yang lalu?


Lutut Dara terasa sangat lemes, sehingga membuatnya tidak mampu menahan berat tubuhnya. Apalagi melihat tanggal surat tersebut dibuat, yang ternyata surat itu baru saja. Otomatis, Nathan baru saja kembali teringat dengan trauma itu, kan?


Brukk

__ADS_1


Dara terjatuh di sana, ikut merasakan sesak yang dialami suaminya.


Nathan yang sedang melamun, mencerna cerita istrinya tadi sontak terkejut mendengar bunyi benda yang jatuh.


Mata Nathan membelalak melihat istrinya yang terjatuh. Sontak saja Nathan segera bangkit, lalu sedikit berlari menghampiri istrinya tersebut.


"Dar, kamu kenapa?" tanya Nathan panik.


"Th–Than, lo ke–kenapa? A–apa yang bu–buat lo sampai depresi hebat?" tanya Dara dengan napas yang terputus-putus.


Nathan membeku mendengar pertanyaan istrinya, perlahan dia menatap kertas yang ada di genggaman Dara. Sial! Dirinya lupa membuang kertas itu tadi. Setelah dia pulang dari rumah sakit, dia memang menyampatkan untuk minum air sebelum pergi ke ruang bawah tanah, dan yang parahnya dia meletakkan surat itu di pinggir tempat air minum, tetapi dia lupa mengambil kertas itu lagi setelah minum. Dan karena kecerobohannya itu, kini istrinya membacanya.




TBC



.



.



.



.

__ADS_1


__ADS_2