
..."Karena sejatinya, cinta yang tulus itu ditunjukkan dengan tindakan, bukan hanya omongan manis semata!" ~Lisa....
Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh keluarga Prasetya dan Anderson.
Tentu saja! Mengingat hari ini adalah hari pernikahan anak-anak mereka. Rasanya tidak sabar mempersatukan kedua orang yang sudah mereka jodohkan sejak kecil tersebut di dalam sebuah ikatan janji suci.
Di sebuah ruangan, terlihat seorang wanita yang sangat cantik dengan gaun berwarna putih yang melekat di tubuhnya. Wanita itu bahkan belum menggunakan make up sedikit pun, tetapi meski pun demikian, wanita itu masih terlihat sangat cantik. Dia adalah Dara, Aldara Stephanie Anderson, wanita yang beberapa jam lagi akan berubah status menjadi Nyonya Adijaya.
Tidak hanya itu, sahabatnya, Lisa, juga tak kalah cantik dengan dress berwarna peach pink selututnya.
"Gila, lo cantik banget, Ra!" Lisa memandang takjub sahabatnya itu. Tidak bisa dipungkiri, Dara memang memiliki wajah yang sangat cantik, dengan kulit putih mulus.
Dara tersenyum lembut. "Makasih, Ca."
"Sumpah, gue nggak nyangka kalau lo nyangkutnya sama Pak Nathan. Padahal 'kan lo keliatan kayak benci banget sama dia." Lisa terkekeh. Sungguh, mendengar kabar sahabat sekaligus bosnya tersebut akan menikah membuatnya terkejut setengah mati, dan dia dibuat semakin terkejut mendengar jika yang menjadi calon prianya adalah Nathan, laki-laki yang selalu membuat bosnya naik darah.
"Lo nggak nyangka, 'kan? Apalagi gue, Ca! Kayak berasa mimpi tau nggak!" Dara hanya mampu menghembuskan napas berat, tidak menyangka jika takdir membawanya hidup bersama Nathan, padahal Nathan adalah laki-laki yang sangat ingin dia hindari.
"Sabahat sekaligus bos aku yang paling cantik. Dengar, ya!" Lisa menangkup kedua pipi sahabatnya itu.
"Jodoh, rezeki, takdir, itu udah diatur sama Tuhan. Ya, memang cara Tuhan memberikannya kadang dengan cara yang kita sendiri nggak pernah pikirkan sebelumnya. Tetapi percayalah, rencana Tuhan selalu indah pada waktunya. Kamu harusnya beruntung bisa dapetin Pak Nathan. Selama sembilan tahun kalian berpisah, tetapi aku dapat lihat dengan jelas di mata dia, kalau dia masih sangat mencintai kamu. Sembilan tahun bukan waktu yang singkat, Ra. Sangat jarang ada laki-laki yang bisa belum move on selama itu. Jika ada, maka aku jamin kalau dia benar-benar tulus mencintai kamu, dan Pak Nathan salah satu di antara orang-orang itu. Semua orang punya cara masing-masing untuk menunjukkan rasa cinta dan sayang mereka pada orang yang sangat mereka cintai. Jangan salah, kebanyakan laki-laki juga menunjukkannya dengan cara bertingkah konyol, jahil, dan lain sebagainya. Aku yakin, di balik tingkah Pak Nathan yang menurut kamu menyebalkan, terdapat rasa cinta yang begitu besar untuk kamu, tetapi dia nggak mau mengatakan itu, karena apa? Karena sejatinya, cinta tulus itu ditunjukkan dengan tindakkan, bukan hanya omongan manis semata."
Perkataan Lisa sontak saja membuat sebening kristal jatuh membasahi pipi Dara. Dia benar-benar merasa beruntung bisa memiliki sahabat seperti Lisa.
Lisa yang melihat air mata tersebut langsung menyekanya. Menurutnya Dara adalah malaikat yang dikirim Tuhan untuk dirinya, karena di saat dia terpuruk, Dara lah yang selalu ada untuknya.
"Jangan salah, lho. Mereka yang bersikap sangat manis, dan romantis pada pasangannya, bukan berarti mereka pasti laki-laki sejati dan setia. Bisa saja 'kan perlakuan itu ditunjukkannya untuk semua wanita. Sama seperti buah, rasanya sangat manis, tetapi di dalam itu ada biji yang memiliki rasa pahit, begitu pun dengan sebuah hubungan, bisa saja di balik perlakuannya yang manis, terdapat fakta yang begitu pahit, dan membuat kamu menangis." Kehidupan Lisa yang menyedihkan membuat dia paham betul dengan kehidupan percintaan. Orang tuanya dulu juga sangat romantis, hingga akhirnya ibunya mendapat fakta, bahwa suaminya ternyata berkhianat, dan perlakuan manisnya diberikan kepada seluruh selingkuhannya.
Dara memeluk sahabatnya dengan sangat erat saat melihat wanita itu menangis. Dia tau betul bagaimana kehidupan Lisa.
"Jangan buat rumah tangga kamu seperti permen karet, yang hanya memiliki rasa manis di awalnya, lalu akan hambar di akhirnya nanti. Tetapi buatlah seperti permen batang, yang memiliki rasa manis sampai akhir." Lisa mengelus punggung Dara dengan lembut.
"Makasih, Ca. Lo adalah sahabat terbaik gue!"
Rupanya ada seorang wanita paruh baya yang mendengar itu semua. Senyum kecil terbit di wajahnya mendengar nasihat-nasihat yang diberikan oleh perempuan yang nyatanya lebih muda dari pada Dara. Memang benar kata orang, dewasa tidak tergantung dari umur, tetapi dari pola pikir mereka, dan memang mereka yang memiliki keluarga yang hancur akan lebih cepat terbentuk menjadi sosok yang dewasa, karena mereka sudah melihat dan menyaksikan sesuatu yang tak seharusnya mereka saksikan sewaktu kecil.
"Udah, jangan nangis! Masa di momen bahagia kalian malah nangis," ejek Vira.
Dara dan Lisa yang mendengarnya sontak melepaskan pelukkan mereka, lalu mulai cengengesan tidak jelas.
"Oh iya, ini teman Mamah, namanya Tante Melani, dia yang bakal ngehias kamu sayang." Vira memperkenalkan temannya pada Dara.
"Halo, Tante. Nama saya Aldara, tapi Tante bisa panggil Dara, kok." Dara memperlihatkan senyum manisnya.
__ADS_1
"Ternyata anak kamu cantik ya, Vir. Mirip kamu waktu dulu," kekeh Melani.
Vira hanya tersenyum menanggapinya. "Yaudah, aku tinggal dulu, ya. Aku pengen menyambut tamu," ucap Vira, yang dibalas anggukkan oleh mereka semua.
Melihat Vira yang sudah pergi, Melani lalu meminta Dara untuk duduk di depan meja rias. Setelah itu dia mulai memoles berbagai make up di wajah Dara. Sementara Lisa pamit undur diri juga.
"Kamu udah cantik duluan, sayang. Jadi, make up-ya tipis-tipis aja, ya?"
"Iya, Tante. Dara juga sedikit risih kalau terlalu menor. Entar bukannya cantik, malah kayak badut." Dara terkekeh, dan hal itu membuat Melani ikut terkekeh.
*******
Berbeda dengan Dara yang biasa saja, Nathan justru sedang dilanda rasa gugup. Sejak tadi dia tidak bisa diam, selalu mondar mandir.
Saat ini, mereka sedang menunggu Vania yang sedang didandani.
"Aduh, Than. Kamu bisa diam nggak sih? Dari tadi mondar-mandir, Papah pusing ngeliat kamu." Adrian tentu dibuat pusing dengan kelakuan putranya tersebut.
"Aduh, Pah. Papah tuh nggak tau rasanya, Nathan lagi deg-deg'an!" ketus Nathan yang masih tidak bisa berhenti mondar-mandir.
"Ckk ... terus kamu pikir Papah sama Mamah ini gimana bisa nyatunya? Karena santet, 'kah? Meski pun pakai santet, tetap aja harus dinikahi! Jadi, Papah udah ngerasain sebelum kamu! Dan Papah nggak sampai gugup banget."
"Iya juga, ya." Nathan cengengesan, dia lupa jika orang tuanya juga pernah merasakan hal yang sama.
"Nathan takut salah ngucapin nama Dara, Pah," celetuk Nathan yang sontak saja membuat Adrian melotot tidak percaya.
"Enggak gitu juga konsepnya Papah Nathan yang mukanya biasa aja! Namanya juga lagi gugup, bisa aja Nathan malah nyebut nama Udin atau Ucup anak buahnya Pak Haji nanti," sahut Nathan asal.
'Ckk ... Siti kek, atau Markonah. Masa iya malah Udin atau Ucup. Emang nggak jelas nih anak'
"Aduh, lagi ngomongin apa sih? Kok kayaknya asik banget?" Tiba-tiba saja muncul wanita paruh baya yang terlihat sangat cantik dengan kebaya yang melengkat indah di tubuhnya.
"Wah, Mamah cantik banget!" Nathan mengacungkan dua jempolnya.
"Ckk ... Papahnya sendiri nggak dipuji tadi. Emang dasar anak durhaka!" gerutu Adrian.
"Yaudah ayok kita berangkat, entar keburu nikah sama orang lain Dara-nya," kekeh Vania yang hanya berniat bercanda saja.
'Dara, malam ini, malam kita sayang! Asek, belah duren juga!' Nathan berteriak dalam hati.
Mereka lalu segera pergi ke hotel besar, di mana kedua mempelai akan melaksanakan akad nikah.
Pernikahan kali ini mungkin akan dihadiri banyak qorang, mengingat mereka mengundang seluruh karyawan yang ada di perusahaan Dara dan juga Nathan. Tidak hanya itu, Adrian, Damar, Vira, dan Vania juga ikut mengundang beberapa teman-teman mereka dulu, sehingga dapat dipastikan akan banyak yang datang nantinya.
__ADS_1
Tak berselang lama mobil memasuki pekarangan hotel. Terlihat banyak sekali mobil yang berjejer di parkiran tersebut.
*******
Ceklek ....
"Kamu udah siap, Ra? Mempelai prianya udah dateng." Vira masuk, dan mendapati putrinya yang benar-benar terlihat sangat cantik dengan make up yang tipis, serta rambut yang tergerai indah, dan dihiasi oleh bando mutiara, sehingga menambah kadar kecantikkan wanita itu.
"Udah, Mah!" jawab Dara singkat.
"Yaudah, ayok!" Vira mengapit lengan putrinya itu, lalu mereka berdua berjalan menuruni tangga.
"Karena akad nikah akan segera dimulai, semuanya harap duduk dikursi yang sudah disediakan," ucap seseorang menggunakan micropon.
Tap ... tap ....
Mendengar suara ketukkan sepatu, semua perhatian langsung tertuju pada pemilik suara sepatu tersebut. Dara memberikan senyum manisnya pada orang-orang, sehingga membuat sebagian pemuda menggigit bibir mereka, karena melihat wanita yang seperti bidadari tersebut.
Nathan mendongakkan kepalanya, saat mendengar calon pengantin perempuannya telah tiba.
Deg ....
'Ajegile, Dara cakep amat. Kalau kayak gini mending nikah tiap hari aja'
'Hua ... pengen ngarungin dia, terus bawa ke kamar, lalu langsung grape-grape.'
TBC
.
.
.
__ADS_1
.