
..."Dulu kamu manggilnya pakai panggilan aku-kamu, tetapi sekarang malah lo-gue. Tetapi tidak masalah, aku akan mengubah panggilan itu menjadi Sayang " ~Nathan....
Dara terlonjak kaget saat mendengar suara menggelegar Nathan dari arah bawah. Segera dia bangkit dan sedikit berlari menuruni tangga. Dapat dia lihat Nathan yang seperti sedang ketakutan.
"Lo kenapa?" tanya Dara dengan panik.
"Sakit, Dar. Minyak gorengnya nackal!" Nathan mengadu sambil menunjukkan minyak goreng yang sedang meletup-letup, dan telur yang hampir saja sudah gosong di sana.
"Astaga Nathan, lo kalau nggak bisa masak kenapa malah maksa pengen masak sih! Lo liat ini, telurnya udah gosong begini!" Dara mengomel, dengan cekatan dia segera mengangkat telur yang sudah gosong tersebut, kemudian mematika kompor, sehingga minyak goreng tersebut berhenti meletup.
"Hiks ... hiks ... kamu bukannya belain saya malah marah-marah. Saya lapar, Dar! Saya nggak tega ngeliat kamu yang kecapean, makanya saya yang turun tangan! Mana saya nggak pernah masak lagi!" Nathan menangis layaknya anak kecil, dia mengusap-usap tangannya yang terkena percikkan minyak panas tadi.
Mendengar alasan Nathan membuat Dara merasa tersentuh. Bahkan suaminya itu rela turun tangan karena tidak tega membangunkan dia.
"Hais, mana sakit lagi," ringis Nathan.
Mendengar ringisan suaminya, Dara segera menghampiri laki-laki itu, lalu mengangkat lengannya.
Terdapat bulatan berwarna merah yang cukup besar di lengan Nathan. Dara yang melihatnya menjadi kasihan, segera dia ambil air dingin, dan sehelai kain.
"Makanya, lo kalau lapar bilang aja sama gue, itukan udah kewajiban gue sebagai seorang istri! Lo nggak perlu sungkan sampai nggak tega bangunin gue hanya karena gue capek. Kalau kayak gini kan gue jadi ngerasa bersalah." Dara berkata dengan lembut sambil meniup-niup tangan Nathan.
Tanpa sadar Nathan tersenyum tipis. Tiba-tiba ingatan semasa mereka pacaran dulu kembali terlintas di pikirannya. Dia masih teringat waktu dia tidak sengaja terjatuh, Dara mengomel tetapi dengan telaten dia membersihkan luka yang ada di lututnya.
FLASH BACK
"Gimana pelajaran hari ini?" tanya Dara dengan santai, lalu ikut duduk di bawah pohon yang ada di taman. Dara memberikan sebotol air mineral pada laki-laki yang menjadi kekasihnya saat ini.
"Biasa aja! Nggak ada yang special, karena yang special cuman nasi goreng bawaan kamu," gombal Nathan yang justru membuat Dara mendengus kesal.
Nathan menyenderkan kepalanya di bahu Dara, dan Dara membiarkannya saja.
"Kamu nggak ada bawa bekal, Yank?" Nathan menatap pacarnya sambil cengengesan tidak jelas.
"Maaf ya, aku lupa. Lagian Mamah nggak ada masak," bohong Dara. Padahal karena dia lambat bangun tadi pagi, jadi dia tidak sempat memasak. Tetapi yang Nathan tahu selama ini Dara tidak bisa memasak, dan bekal yang selalu dibawa adalah buatan mama-nya. Dara sendiri tidak mempermasalahkan hal itu, dia ingin melihat seberapa cintanya pacarnya tersebut. Apakah Nathan akan meninggalkan dia hanya karena dia tidak bisa memasak? Tetapi sayangnya tidak! Nathan tidak pernah mempermasalahkan hal itu.
Nathan hanya cemberut mendengarnya. Mau bagaimana lagi?
Dara yang melihatnya sedikit tidak tega. "Yaudah, gimana kalau kita makannya di kantin aja?" usul Dara yang sontak dibalas gelengen keras dari Nathan.
"Kenapa?" Dara bertanya dengan malas, pasti alasan yang sama lagi.
"Nggak apa-apa."
"Aku yang bayar!" ucap Dara lagi.
"Enggak, Dar! Kamu tuh harus hemat! Jangan kebiasaan boros tau nggak! Nggak baik! Kamu harus membiasakan diri hidup hemat sedari dini!" Nathan mulai menceramahi pacarnya tersebut.
"Yaelah, Yank! Cuman beli bakso dua mangkok kok, sekali-kali nggak apa-apa kali!" Meski sifat Nathan sangat pelit, tetapi tidak ada sedikit pun Dara berniat meninggalkan laki-laki itu. Jujur, dia merasa sangat nyaman berada di dekat Nathan, tidak peduli bagaimana sifat Nathan. Kita tidak boleh hanya melihat sisi buruk orang saja, tetapi kita juga harus melihat dari sisi baiknya. Begitulah yang ada di pikiran Dara.
"Udah nggak usah aja! Lagian katanya hari ini guru-guru rapat, jadi kita kemungkinan pulang cepat. Makan di rumah aku aja," ucap Nathan dengan lembut. Dia memang sering sekali mengajak Dara makan di rumahnya, ya dengan alasan berhemat. Entah memang itu alasannya atau ada alasan lain di balik dia selalu melarang Dara.
"Yau—"
"Shhhhh!" Ucapan Dara sontak terpotong saat mendengar laki-laki yang ada di sampingnya meringis kesakitan.
__ADS_1
"Kamu kenapa?" Dara bertanya dengan panik. Lalu matanya ikut menatap arah pandangan Nathan.
Dara sedikit melotot saat melihat lutut Nathan yang lecet.
"Ini kenapa, Yank? Astaga ...." Dara jadi heboh sendiri.
"Tadi jatoh waktu nggak sengaja kesandung batu." Bukannya mengadu kesakitan, laki-laki itu justru cengengesan tidak jelas.
"Astaga! Makanya kalau jalan itu liat-liat dong! Kamu punya mata, 'kan? Digunain! Aku tuh paling nggak suka ngeliat kamu yang ceroboh kayak gini! Ckk ... yaudah bentar!" Tanpa basa-basi Dara segera berlari meninggalkan Nathan sendirian di sana.
Hampir saja Nathan terjatuh, karena posisinya memang sedang bersandar di bahu Dara, tetapi untungnya dia dengan sigap bangun.
"Aku suka banget ngeliat kamu yang perhatian, Dar. Aku harap kamu yang bakalan jadi istri aku nanti. Aku pengen hidup seumur hidup sama kamu." Meski masih SMA, tetapi Nathan sudah berpikiran akan menikah perempuan yang menjadi kekasihnya tersebut. Bahkan, Nathan selalu menyisihkan uang jajannya untuk mempersiapkan masa depan yang cerah dengan gadis pujaan hatinya, salah satunya dia ingin sukses tanpa embel-embel marga keluarganya. Ya, bisa dibilang ingin sukses dari hasil kerja kerasnya sendiri.
Dara kembali membawa kapas, obat merah, dan sebotol alkohol.
"Kamu tuh suka banget bikin aku khawatir! Enggak sekalian aja kamu patahin nih kaki!" Meski terus mengomel, Dara tetap dengan telaten membersihkan luka yang ada di lutut Nathan.
Cuppp
"Makasih, ya." Nathan mengecup pipi pacarnya setelah gadis itu selesai membersihkan lukanya.
"Sama-sama! Yaudah aku pergi!" ketus Dara, dan tanpa basa-basi dia segara berdiri, berniat untuk pergi karena merasa kesal. Tapi sebelum itu terjadi, Nathan lebih dulu menahan lengan gadis itu.
"Dih ... marah nih ceritanya sama ketus Osis," goda Nathan. Nathan memang menjadi ketua Osis di sekolahnya. Dia juga salah satu incaran para gadis yang ada di SMA tersebut, hanya saja mereka tidak berani berurusan dengan Dara, karena mereka tahu betul jika Dara bisa karate. Bahkan dia pernah membanting salah satu siswa di SMA tersebut.
"Cih ... siapa juga yang marah!" sinis Dara. "Udah, gue mau pergi!" Dara mengubah gaya bahasanya.
"Jangan pergi! Duduk di sini aja, temanin aku, ya?" Nathan berkata lembut sambil menepuk-nepuk rumput, meminta pacarnya tersebut untuk duduk di sampingnya.
Dengan terpaksa Dara akhirnya mendaratkan bok*ngnya di sana, tapi dia masih saja memanyunkan bibirnya, pertanda dia sedang ngambek. Tetapi bukan Nathan namanya jika tidak bisa membuat gadisnya tertawa. Dengan mudahnya dia membuat Dara perlahan tersenyum, hingga akhirnya tertawa terbahak-bahak.
Nathan tersenyum tidak jelas saat mengingat masa-masa menyenangkan saat itu. Ya, masa-masa yang seharusnya masih bertahan sampai saat ini, tetapi sayangnya harus kandas karena pengkhianatan mereka!
"Kenapa lo? Masih waras, 'kan?" celetuk Dara saat mendapatkan suaminya yang tersenyum tidak jelas.
"Eh?" Nathan seketika tersadar.
"Eh uh eh! Itu udah gue kompres! Udah lo duduk aja sana! Biar gue yang masak!" ketus Dara mengusir suaminya, karena dia yang akan mengambil alih pekerjaan tersebut.
"Mau dibantuin, nggak? Kasian nanti kamu capek lho," tawar Nathan, merasa tidak tega membiarkan istrinya memasak sendiri.
"Nggak perlu! Gue bisa masak sendiri! Lo duduk aja di meja makan sana," perintah Dara dengan suara yang agak lembut sedikit, tidak datar seperti biasanya.
"Yaudah! Oh, iya, tadi saya masak nasi, kamu bisa lihat sana." Nathan menunjuk magic com tampatnya memasak nasi tadi.
"He'em ...." Dara lalu melihat nasi tersebut, memastikan jika Nathan memasaknya dengan benar.
Uwekk!
Saat Dara mengambil sedikit nasi, berniat untuk mencicipinya apakah sudah masak apa belum, sontak saja dia memuntahkannya.
"NATHAN! LO APAIN NIH NASI?" pekik Dara menggelegar.
"Astagfhirullah!" Nathan terlonjak kaget. "Nggak saya apa-apain, Dar! Tadi saya cuci, lalu langsung masak," tutur Nathan jujur.
__ADS_1
"Lu nyucinya pakai apa?" Dara memicingkan matanya.
"Ckk ... ya pakai air lah, Dar! Terus tadi saya cuci pakai sabun cuci piring biar benar-benar bersih," jawab Nathan dengan polos.
"Astagfhirullah Nathan! Emang lo mau makan sabun cuci piring hah! Silahkan lo cabain sendiri!" Dara menjadi frustasi sendiri.
Nathan lalu mengambil sedikit nasi tersebut, lalu memakannya. Baru saja nasi tersebut menyentuh lidahnya, segera Nathan muntahkan kembali. Astaga! Rasa apa ini?
"Gila! Nggak enak, Dar!" pekik Nathan.
"Ckk ... udah lo duduk aja sana! Biar gue yang masak!" perintah Dara dengan suara lemah. Sebegitu polosnya kah suaminya tersebut sampai-sampai tidak pernah memasak nasi?
Nathan hanya pasrah mendengar perintah istrinya. Dia lalu duduk kembali di kursi sambil menyaksikan istrinya yang memasak.
Dara membuang nasi tadi, lalu mulai mengolah ulang lagi. Begitu dia ingin membuang ke bak sampah, lagi-lagi dia geleng-geleng kepala melihat banyaknya telur yang terbuang sia-sia. Rupanya sedari tadi Nathan sangat susah memecahkan telur, sehingga banyak yang berakhir di bak sampah.
Dengan lihainya Dara memasak. Karena tidak mau ribet, dan kasihan melihat suaminya yang sepertinya sudah sangat kelaparan, Dara hanya memasak masakan yang simple saja, yaitu telur dadar, dan osengan kacang pancang serta bahan pelengkapnya.
Setelah selesai dia segera menyiapkannya di atas meja. Peluh menetes dari keningnya, membuat Nathan merasa tidak tega.
Dara duduk, lalu mengambil piring Nathan. Dia mengambil nasi serta lauk pauk untuk suaminya tersebut. "Maaf ya, gue cuman masak simple aja malam ini," ucap Dara.
"Astaga, Dar! Kenapa malah kamu yang minta maaf? Seharusnya saya yang minta maaf. Maaf ya karena gara-gara saya kamu nggak jadi istirahat," sesal Nathan.
Dara tidak menjawab, dia hanya berdehem saja.
Nathan memakan makanan yang dibuat istrinya dengan sangat lahap. Rasanya sangat enak, apalagi yang membuatnya orang yang kita cintai, pasti rasa enaknya berkali-kali lipat.
"Ah, enak banget!" Nathan mengelus perutnya yang buncit tersebut karena kebanyakan makan. "Makasih banyak ya, Dar. Kamu bela-belain buat masak meski pun kamu kecapekan. Maaf, karena sudah buat kamu makin capek. Yaudah, kamu tidur aja, biar saya yang cuci piring."
"Emang lo bisa?" tanya Dara yang meragukan Nathan.
"Insya'allah!" jawab Nathan apa adanya.
Karena merasa sangat lelah Dara mengiyakannya saja, toh cuman dua piring doang.
Dara segera naik ke atas, lalu segera membersihkan dirinya. Setelah selesai, dia segera menghempaskan tubuhnya di atas kasur empuk, dan tak berselang lama terlelap tidur, mungkin karena sangat capek.
TBC
.
.
.
__ADS_1
.