
Jujur saja, apa yang sudah dilakukan wanita yang sangat dia cintai itu masih membekas sampai saat ini. Pengkhinatan yang dilakukan oleh dua orang yang sangat dia sayangi membuat dia merasa benci sekaligus kecewa hingga detik ini. Tapi hingga detik ini pula dia masih sangat mencintai wanita itu. Wanita yang pernah menggoreskan luka yang dalam itu masih bertahta di dalam hatinya, meski dia sudah berusaha untuk melupakan wanita itu, tapi tetap saja hasilnya nihil. Dirinya merasa kecewa, tetapi dia tidak akan pernah rela jika Dara menjadi milik orang lain, karena hidupnya mungkin akan semakin hancur jika dia sudah tidak memiliki kesempatan sedikit pun untuk memiliki wanita itu.
Setelah membisikkan kalimat itu, Nathan segera bangkit berdiri, lalu berjalan menuju kamar mandi, berniat untuk segera membersihkan diri, karena jujur saja dia merasa sangat lapar, mengingat semalam dia tidak makan sedikit pun.
Setelah Nathan masuk ke dalam kamar mandi, perlahan Dara membuka matanya. Rupanya Dara mendengar bisikkan laki-laki itu, dan dia juga merasakan kecupan lembut itu.
Dara memandang sendu pintu kamar mandi tersebut. "Huh ... gue tau kalau lo memang masih mencintai gue, Than. Maaf, gue malas cerita tentang kejadian saat itu. Jujur, gue sedikit kecewa sama sifat lo yang nggak mau mendengar penjelasan gue saat itu." Dara sama sekali tidak berniat menceritakan tentang kejadian itu pada laki-laki yang menjadi suaminya tersebut. Dia masih ingat saat dirinya berusaha menjelaskan pada laki-laki itu, Nathan malah mengabaikannya begitu saja, sehingga membuatnya kecewa pada sifat Nathan yang menurutnya sedikit kekanak-kanakan.
Dara masih belum menyadari jika ada banyak tanda di lehernya. Dengan santainya Dara bangkit dari tempat tidur. Tapi baru saja dia membuka selimut, dirinya dibuat terkejut melihat pakaiannya.
Sial! Dia bahkan lupa jika sekarang sedang menggunakan lingerie.
"Ckk ... ini pasti kerjaan Mamah sama Mamah Vania. Heran gue, niat bener ngambil baju yang udah gue siapin!" gerutu Dara. Bagaimana mungkin dia sudah menyiapi beberapa lembar baju untuk dirinya, tetapi begitu dia membuka koper, tidak ada sama sekali baju tersebut, yang ada hanya lingerie sialan tersebut.
Dara lalu mengambil handphone yang ada di atas nakas, berniat untuk memesan pakaian secara online, karena tidak mungkin dia keluar dari hotel dengan pakaian seperti ini. Apa kata orang-orang yang melihatnya nanti?
Begitu Dara menyalakan handphonenya, ada banyak pesan masuk yang isinya hanya ucapan selamat. Dara lebih memilih untuk membuka pesan yang dikirim oleh mama-nya.
[Hehe, Mamah ambil ya baju kamu. Kamu harus bisa nyenengin suami kamu, Dara! Kalau kamu nggak nurutin kemauan suami kamu, itu dosa, lho.]
"Ckk ... Dara juga tau kalau itu dosa, Mah. Tapi mau bagaimana lagi, Dara masih belum siap!" gerutu Dara, sehingga membuat Nathan yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi mengerutkan keningnya.
'Kenapa tuh bini?' batin Nathan.
"Yaudah disiap-siapin aja. Belah duren itu hukumnya nggak haram kok, Dar. Kecuali kalau belum halal. Kamu harus tau, belah duren itu banyak manfaatnya, salah satunya untuk menambah populasi manusia di dunia, karena kalau manusia nggak belah duren, maka populasi manusia akan terancam punah," celetuk Nathan dengan asal. Dia akhirnya paham dengan perkataan wanita itu tadi.
Dara mendongakkan kepalanya begitu mendengar suara Nathan. Langsung saja dia memalingkan wajahnya saat melihat penampilan laki-laki itu yang terlihat sangat s*exy dengan handuk yang melingkar di pingganganya, sehingga menampilkan roti sobek, dan jangan lupakan air yang menetes dari rambut laki-laki itu, sehingga menambah nilai plus untuknya.
'Gila! Gue baru tau kalau tubuh Nathan s*exy banget. Aduh, Dar. Jangan sampai deh lo yang nerkam dia duluan. Muka lo mau ditaroh di mana kalau sampai lo yang nerkam duluan! Apa kata dunia, Dar? Seorang Dara yang sudah menolak keinginan suaminya untuk belah duren, secara tiba-tiba menerkam suaminya hanya karena tergoda!' Dara berteriak di dalam hati, berusahan mengembalikan akal sehatnya.
Dara lebih memilih mengabaikan ucapan suaminya saja, dari pada dia harus berdebat dengan manusia setengah gila tersebut, 'kan? Dirinya takut akan ikut menjadi gila jika terus berdebat dengan laki-laki itu.
[Baju kamu udah Mamah taruh di depan pintu hotel. Silahkan ambil Nyonya Adijaya haha.]
__ADS_1
Dara melotot membaca pesan yang dikirim mama-nya tersebut, bisa-bisanya wanita paruh baya tersebut mengejeknya secara terang-terangan seperti itu.
"Ekhem ...." Dara berdehem dengan sangat kencang, berniat memberi kode kepada suaminya tersebut.
"Kenapa kamu? Keselek buaya? Atau keselek cinta saya?" tanya Nathan yang justru merasa heran.
"Ckk ... yakali aja gue keselak buaya!" Dara berdecak kesal, bagaimana mungkin laki-laki itu mengatakan sesuatu yang sangat mustahil. "Ekhem ... gue pengen minta tolong," cicit Dara.
Seketika mata Nathan berbinar. "Minta tolong apa? Minta tolong buat membelah durennya? Hayuk! Gasken!" Sepertinya di otak Nathan hanya ada kata belah duren saja, sehingga semuanya selalu dia kaitkan dengan kata 'belah duren'
"Ckk ... lo jangan buat gue naik darah! Ini masih pagi!" ketus Dara.
"Saya nggak niat kok pengen naikin darah kamu. Saya cuman niat buat naikkin hasrat kamu aja," sahut Nathan dengan santai.
"Than, gue minta tolong ambilin baju gue yang ada di luar, ya?" Dara mengeluarkan wajah imutnya, berharap dengan cara itu suaminya mau menuruti kemauannya, bahkan kini dia mengerjab-ngerjabkan matanya lucu, layaknya mereka saat pacaran dulu
"Cih ... sok imut banget! Padahal aslinya mah macan rabies," sinis Nathan.
'Ya Allah, bini hamba kenapa imutnya nggak ketulungan? Boleh nggak sih kalau dia digantungin aja?'
'Untung suami, kalau bukan udah gue cabik-cabik tuh orang!'
Begitu membuka pintu, Nathan melihat satu paper bag yang pastinya berisi pakaian milik istrinya.
Nathan lalu mengambil paper bag tersebut, lalu tak sengaja matanya menatap isi dari paper bag tersebut.
Seketika ide jahil muncul di otak m*esumnya. Sepertinya mengerjai istrinya itu sangat menyenangkan.
"He-he sekali-kali jahil nggak apa-apa kali, ya?" gumam Nathan sambil terkekeh. Dengan tidak tahu malunya laki-laki itu mengatakan sekali-kali, padahal sangat nyata jika laki-laki itu sudah menjahili istrinya berkali-kali.
Nathan lalu membongkar isi paper bag tersebut. Setelah mendapatkan benda yang dia inginkan, dia lalu masuk ke dalam kamar hotel tersebut, dengan tangan kiri yang disembunyikan ke belakang, entah apa yang dia genggam.
"Nih!" Nathan memberikan dengan senyum yang sangat manis, sehingga membuat Dara sedikit heran. Tapi, meski pun demikian, dia tetap menerima paper bag tersebut.
__ADS_1
"Makasih!" ketus Dara sedikit tidak ikhlas.
Dara lalu membuka paper bag tersebut, mengecek apakah isinya lengkap.
Begitu Dara membongkar isi paper bag tersebut, dia bingung karena tidak menemukan c*lana d*lam dan br* miliknya. Dikeluarkannya semua isi paper bag tersebut, tetapi tetap tidak menemukannya, hanya ada bajunya saja.
"Ckk ... ini c*lana d*lam dan br* punya gue mana sih?" gerutu Dara.
Nathan tersenyum, kemudian dengan polosnya dia menyodorkan tangannya yang terdapat dua pasang c*lana d*lam dan br* milik Dara.
"Nih!" ujar Nathan tanpa rasa bersalah sedikit pun, bahkan laki-laki itu hanya memegang ujungnya saja, sehingga benda-benda itu menggantung.
Dara mendongakkan kepalanya, alangkah terkejutnya dia, bahkan matanya hampir kaluar karena melotot melihat ulah suaminya itu. Bagaimana mungkin pakaian berbentuk segitiga berwarna merah serta br* miliknya tergantung seperti itu. Sungguh memalukan!
"LAKI KURANG AJAR!"
TBC
Nih, aku kasih visual sesuai haluan aku, ya😆


__ADS_1
