Menikah Dengan Pria M*esum (Suami Takut Istri)

Menikah Dengan Pria M*esum (Suami Takut Istri)
Sebenarnya Mencari Istri atau Pembantu?


__ADS_3

Sinar matahari masuk melewati celah-celah jendela, sehingga membuat tidur Nathan terganggu. Nathan mengerjab-ngerjabkan matanya berkali-kali, berusaha mengumpulkan nyawanya yang sedang berkeliaran di alam lain.


Begitu kesadarannya terkumpul, dia tersenyum saat melihat wajah cantik istrinya yang sedang terlelap. Benar-benar terlihat cantik! Apalagi bulu matanya yang lentik membuat Nathan betah melihatnya. Jangan lupakan bibir tipisnya yang berwarna pink tersebut, membuat Nathan ingin sekali mengecup, atau jika bisa mel*matnya habis-habisan.


'Akan ada saatnya, Than! Lo hanya perlu bersabar saja. Percayalah, cinta bisa muncul dari kebersamaan!' batin Nathan. Dia sangat yakin jika suatu saat nanti akan memiliki Dara seutuhnya.


Nathan merapikan anak rambut yang menutupi wajah cantik istrinya tersebut.


Cupp


"Morning, Dar," sapa Nathan setelah memberikan kecupan lembut di kening wanita kesayangannya tersebut.


"HOAM ...."


Brukkk


Dara terbangun saat mendengar suara benda yang jatuh. Ckk ... mengganggu tidur nyenyaknya saja!


"Hua Dara ... kamu kalau nendang kira-kira dikit napa!" Nathan memekik sangat nyaring. Sungguh di luar dugaan, dia tidak menyangka jika kekuatan tendangan Dara benar-benar kuat. Posisinya yang memang di pinggir ranjang sontak membuatnya jatuh saat wanita itu menendangnya dengan tidak sengaja.


Dara terlonjak kaget. Dia yang sedang berusaha mengumpulkan kesadarannya sontak melotot mendengar suara Nathan yang terdengar bagai kaleng rombeng!


"Kenapa?" Dara menjadi ikut panik sendiri, tetapi saat melihat suaminya yang sedang tiduran di lantai membuatnya mengerutkan keningnya.


"Lo ngapain tidur di bawah? Emang nggak sakit, ya?" tanya Dara polos.


"Mantep, Dar!" ketus Nathan. Dia menjadi gemes dengan wanita yang menjadi istrinya tersebut. Bagaimana mungkin wanita itu sama sekali tidak tahu diri! Jelas-jelas dia terjatuh karena ulahnya.


"Lo semalaman tidur di situ?" Dara tentu tidak mampu menutupi rasa terkejutnya. Karena semalam dia langsung tidur, maka dia tidak tahu apa-apa.


"Enggak, Dar. Kemaren saya tidur di tempat tetangga kita yang janda itu! Saya jatoh karena ditendang sama kamu!" jawab Nathan yang sudah sangat kesal.


"Karena gue?" Tunjuk Dara pada dirinya sendiri. "Emang salah gue apa?" sambungnya dengan polos.


"Salah kamu itu karena nggak mau diajak belah duren!" jawab Nathan asal, lalu segera bangkit. Nathan berlalu meninggalkan istrinya, kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Menghadapi istrinya pagi ini membuat darahnya mendidih. Alih-alih minta maaf, wanita itu malah mengajaknya berdebat!


Dara memandang polos pintu kamar mandi. Sebenarnya apa salahnya? "Ah, bodolah!" Dara kembali menarik selimutnya, berniat melanjutkan tidurnya. Tetapi baru saja dia memejamkan mata, dia teringat jika belum membuat sarapan. Tanpa basa-basi Dara segera bangkit, dan sedikit berlari menuju dapur, takutnya suaminya pergi cepat pagi ini.


"Gue masak apa, ya?" Dara bergumam sendiri, merasa bingung saat melihat banyak sekali bahan-bahan yang bisa diolah di dalam kulkas tersebut.


Dara tersenyum saat tau apa yang akan dia masak. "Gue masak bubur ayam aja!"


Ya, Dara memutuskan untuk memasak bubur ayam saja, karena itu adalah masakan kesukaan Nathan. Nathan sering memberitahukan dia jika dia sering sarapan bubur ayam yang dibuat ibunya. Hanya saja, Dara tidak pernah membawakan bubur ayam untuk Nathan, karena menurutnya tidak enak jika lambat dimakan.


Dengan cekatan, Dara mulai memasak nasi dengan air yang lumayan banyak. Dia juga membuat beberapa perkedel jagung, telur rebus, serta ayam goreng sebagai bahan pelengkapnya.


Tiga puluh menit, akhirnya bubur ayam yang dia olah selesai juga!


Dara meninggalkan sejenak pekerjaannya, dia berjalan menuju kamar, berniat membersihkan badan terlebih dahulu, baru setelah itu sarapan bersama-sama.


Dara membuka pintu, dan bertepatan dengan itu Nathan juga keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya.


Dara memalingkan wajahnya saat melihat tubuh Nathan yang sangat bagus, apalagi roti sobek yang begitu menggugah selera. Tetapi meski pun demikian, dia bukanlah wanita yang akan berteriak tidak jelas jika melihat pemandangan tersebut. Lebay!


"Ekhem ... kenapa? Tergoda, ya? Kenapa kamu malu ngeliat tubuh suamimu sendiri? Ini masih untung lho saya masih pakai handuk, apa perlu saya buka di sini, Dar? Biar kamu bisa ngelihat yang di bawah saja. Jangan salah, yang di bawah jauh lebih berurat." Nathan menaik-turunkan alisnya. Melihat wajah istrinya yang memerah membuat Nathan mati-matian menahan tawa. Ah, dia sangat tahu jika Dara bukanlah wanita yang polos.


"Bacot!" gerutu Dara, lalu segera berjalan menuju lemari yang berisi pakaian miliknya dan suaminya.


Nathan memang membeli lemari pakaian yang sangat besar, sehingga meski pun pakaian Dara sangat banyak, tetapi masih muat untuk menampung pakaiannya.


Nathan tersenyum manis melihat kepekaan istrinya. Ternyata Dara sudah tahu apa saja yang harus dilakukannya sebagai seorang istri.


Dara mulai mengambil pakaian suaminya. Mulai dari jas, celana, bahkan cel*na dalamnya pun Dara ambil, dia tidak malu sama sekali. Toh cuman megang bungkusannya doang, bukan isinya!


"Nih!" Dara menyerahkan satu stel pakaian tersebut pada Nathan.

__ADS_1


"Pasangin," rengek Nathan dengan suara manja.


"Gila lo!" pakik Dara tanpa sadar. Memasang cel*na dalamnya? Yang benar saja! "Pasang sendiri! Entar gue yang pasang dasinya!" ketus Dara, lalu menyerahkan pakaian tersebut secara paksa. Segera dia masuk ke dalam kamar mandi setelah mengambil pakaian kantor miliknya. Ya, meski sudah menikah, tetapi Dara sama sekali tidak berniat untuk melepaskan perusahaan yang sudah dia kelola begitu saja, walau pun uang suaminya mungkin lebih dari cukup untuk membiaya dia. Menjadi wanita karir adalah impian Dara dari sejak dahulu, dan Nathan masih ingat dengan itu.


Semasa mereka pacaran dulu, Dara memang pernah memberitahunya jika dia sangat ingin jadi wanita karir, dan tidak suka hanya menganggur.


Nathan memasang pakaiannya sambil mulutnya terus menggerutu. Dia bahkan melepaskan handuknya begitu saja, tidak peduli jika istrinya tiba-tiba keluar, biar saja, toh kalau pengen udah halal juga.


Setelah selesai memasang pakaian, Nathan duduk di pinggir kasur dengan tangannya yang menggenggam dasi, menunggu istrinya yang memasangkan seperti yang dia katakan tadi.


Ceklek ....


Pintu kamar mandi terbuka, lalu muncula Dara yang sudah lengkap dengan pakaian kerjanya. Dara mengerutkan keningnya melihat suaminya yang duduk manis di pinggir kasur.


"Kenapa masih di sini?" Dara bertanya sambil berjalan menuju meja rias, lalu mengambil hair dryer, berniat mengeringkan rambutnya yang basah habis keramas tadi.


Nathan tidak menjawab, tetapi dia segera bangkit berdiri, dan berjalan menuju istrinya.


"Biar aku aja yang ngeringin rambut kamu!" Tanpa mendengar persetujuan istrinya, Nathan lebih dulu merebut benda tersebut. Bahkan, tanpa sadar Nathan mengubah gaya bahasanya menjadi 'aku' bukan 'saya' lagi.


Dara hanya diam, sementara Nathan mulai mengeringkan rambut istrinya. Bau sampo strawberry menyeruak dari rambut Dara, sehingga membuat Nathan suka sekali menciumnya. Benar-benar sangat harum!


"Rambut kamu bagus banget, Dar! Lebat dan kuat," puji Nathan.


"He'em ...." Dara hanya berdehem saja.


"Yang di bawah lebat juga nggak?" tanya Nathan yang sontak membuat Dara melotot. Apa-apaan ucapan suaminya tersebut!


"Maksudnya bulu kaki, Dar! Pikiran kamu jangan ngeres duluan!" ketus Nathan, lalu setelah itu cengengesan tidak jelas.


Dara memutar matanya malas. Ah, kenapa suaminya tersebut seperti memiliki kelainan saja?


"Udah!" Nathan mematikan hair dryer tersebut setelah rambut istrinya sudah kering.


"Makasih," ucap Dara tulus, lalu segera mengoleskan vitamin ke rambut panjangnya.


Dara mengambil dasi tersebut, lalu memakaikannya di leher suaminya. "Ckk ... lo ngapain pakai nunduk segala! Tinggi kita nggak terlalu jauh juga kali!" ketus Dara yang merasa gemes dengan suaminya.


"He-he, kan biar kayak di film-film gitu, Dar! Kamu juga kenapa pakai tumbuh tinggi segala? Kan nggak bisa romantisan jadinya!" gerutu Nathan.


Dara diam saja, sama sekali tidak ada niatan untuk menyahuti ucapan suaminya.


"Dar, kamu bisa nggak bikin dasinya bentuk burung yang kayak di dalam celana nggak?" Astaga, Nathan memang sangat jahil!


"Astagfhirullah!" Nathan terkejut bukan main saat Dara menarik dasi tersebut dengan sangat kencang, sehingga membuatnya tercekik.


"Makanya jangan main-main mulu!" ujar Dara dengan suara pelan.


'Cih ... sejak kapan saya pernah main sama kamu, Bini? Belah duren aja belum!'


Nathan diam dengan bibir yang maju lima centi. Dara yang melihatnya berusaha menahan diri agar tidak menimpuk bibir tersebut menggunakan tangan ajaib miliknya.


"Udah jadi! Udah buruan, gue udah lapar bengat! Mana ada meeting jam sepuluh nanti lagi!" Dara segera mengambil tas kecil miliknya, lalu berjalan keluar dari kamar meninggalkan Nathan sendirian di dalam kamar.


"YA ALLAH, INI SIH THE REAL ISTRI DURHAKA!" pekik Nathan.


**********


"Kamu masak apa?" tanya Nathan basa-basi, padahal sudah terlihat jelas di depannya ada semangkuk bubur.


"Masak opor ayam!" jawab Dara asal.


"Lah? Kenapa di sini cuman ada bubur doang?" Kening Nathan mengerut.


"Makan! Jangan sampai gue ngamuk di sini!" lirih Dara yang sontak membuat Nathan merinding. Ah, apakah dia sudah bisa mendapatkan gelar suami takut istri?

__ADS_1


Nathan segera menyantap bubur yang ada di depannya. "Eum ... enak banget, Dar!" Begitu satu sendok bubur masuk ke dalam mulutnya, Nathan benar-benar merasa keenakkan. Rasanya tidak kalah jauh dari bubur buatan ibunya.


"Udah, jangan banyak ngomong! Makan!" tegas Dara yang hanya dibalas anggukan oleh Nathan.


Selesai makan, Nathan bersandar. Ternyata istrinya itu pandai sekali memasak, dan dia sama sekali tidak tahu akan hal itu.


Dara masih fokus menyantap makanannya.


"Oh iya, pas saya udah pulang nanti, rumah harus bersih! Piring kotor di cuci! Rumah disapu, dan dipel! Barang-barang dirapiin! Pokoknya kamu harus ngerjain pekerjaan rumah sampai encok!" ucap Nathan tanpa rasa bersalah sedikit pun. Alih-alih melarang istrinya bekerja, Nathan justru memerintah layaknya Dara adalah seorang pembantu saja.


"Iya, sekalian gue hancurin aja nih rumah biar rata kayak tanah!" Gila saja Nathan menyuruhnya melakukan pekerjaan rumah sebanyak itu. Meskipun itu memang pekerjaan seorang istri, tetapi tetap saja itu keterlaluan menurutnya. Sebenarnya Nathan ini mencari istri atau mencari pembantu gratis?


"Eh, nggak jadi aja deh, takutnya barang-barangnya pada kabur, karena takut sama perempuan pembohong, mana nggak setia kayak kamu," sindir Nathan lagi, lalu terkekeh tidak jelas.


"Stres!" gumam Dara.


"Yaudah, buruan! Saya tunggu di mobil. Kalau kamu lama saya tinggal!" Nathan segera berlalu dari meja makan tersebut.


"Cih ... gue juga punya mobil kali!" gumam Dara dengan sinis.


Dara segera meletakkan mangkok kotor bekas mereka makan tadi di westafel. Nanti saja urusan mencuci, yang penting sekarang dia harus pergi bekerja.


*******


"Udah siap?" tanya Nathan setelah Dara memasang seat belt.


Dara memutar matanya malas, kenapa harus menanyakan pertanyaan konyol seperti itu? "He'em ...."


Nathan segera melajukan kendaraan beroda empat tersebut. Ya, mobil pemberiannya kepada Dara, tetapi kini malah dia yang meminjam. Berhemat katanya, karena sudah mengeluarkan banyak uang.


Tak berselang lama mobil sampai di perusahaan milik keluarga Anderson. Dara segera turun, tetapi sebelum itu terjadi, Nathan lebih dulu menahan lengan wanita itu.


"Apa lagi?" tanya Dara tidak sabaran.


"Apakah begini caramu bersikap pada suamimu yang terkece ini duhay istri?" tanya Nathan dengan suara datar.


Kening Dara mengerut. "Memangnya apa?"


"Cium napa, Dar!" Nathan merengek layaknya anak kecil sambil menggoyang-goyangkan lengan istrinya.


Dara melonggo melihat sikap kekanak-kanakan suaminya. 'Seriously?'


"Ya udah, lo tutup mata!" perintah Dara yang langsung dituruti oleh Nathan.


Cupp




TBC



.



.



.


__ADS_1


.


__ADS_2