
..."Kenapa jantungku berdebar hanya karena melihat dia yang tampan?" ~ Aldara....
Nathan terus berusaha untuk mengajak Dara berbicara, yang sejak perdebatan mereka di parkiran tadi tidak mau membuka mulutnya. Wanita itu terus mendiami ia dengan sorot mata yang terus menajam ke arah depan.
"Dar, kamu seriusan nggak mau ngomong sama saya?" tanya Nathan yang kesekian kalinya.
Dara tetap diam, sama sekali tidak berniat membalas pertanyaan Nathan yang menurutnya tidak ada faedahnya. Nathan sendiri tidak menyerah untuk membuat wanita itu mengeluarkan suara merdu yang bisa membuat orang merinding saking merdunya.
"Dar, kamu harus ingat, kalau kamu itu wanita pembohong, mana nggak setia lagi. Jadi, jangan nambah sisi buruk kamu. Coba kamu lihat saya, saya itu orangnya baik, sholeh, dan yang pastinya rajin menabung. Kamu itu udah pembohong, nggak setia, judes, galak, tepos, nggak ada feminimnya sama sekali sebagai seorang perempuan, ditambah suka melakukan KDRT lagi! Kamu nggak merasa bersalah sama saya? Saya calon suami kamu, lho. Kamu harusnya beruntung bisa mendapatkan saya, padahal di luaran sana banyak para gadis yang sedang menunggu kepastian dari saya," cerocos Nathan tanpa jeda, sehingga membuat Dara kembali mengepalkan tangannya.
"Lo milih diam atau milih dibunuh di sini?" tanya Dara dengan suara rendah.
"Emang nggak ada option lain, ya? Saya milih main mantep-mantep di ruang ganti sama kamu aja, biar dapat sensasi baru gitu. Kamu tenang aja, kalau misalnya kamu bunting, saya bakal tanggung jawab kok, secara kan saya orangnya bertanggung jawab, setia, dan yang pastinya nggak pembohong. Saya nggak jadi masalah kalau kamu bunting duluan, sekalian ngikutin yang lagi trending, 'kan?" Nathan justru memberikan jawaban yang semakin ngelantur.
Tangan Dara sontak menarik kerah Nathan dengan sangat kuat. "Lo bisa nggak sih sehari aja nggak nyari masalah sama gue, hah?" teriak Dara dengan suara yang sangat menggelegar, sehingga membuat para pelayan yang sedang menyiapkan baju-baju pengantin untuk mereka terlonjak kaget, bahkan tak sedikit dari mereka yang terjatuh karena saking terkejutnya.
Nathan tersenyum canggung menatap para pelayan tersebut, sungguh rasanya dia ingin menghilang dari dunia saking malunya ditindas oleh seorang wanita.
"Maaf, ya. Biasa, calon istri saya pengen ngajak saya main di ranjang. Tapi, saya menolak, karena belum halal, 'kan? Saya ingin menjaga dia, karena saya bukanlah laki-laki yang br***sek, dan saya bukan laki-laki pembohong, apalagi nggak setia," tutur Nathan yang sontak membuat para pelayan tersebut tersenyum, merasa jika Nathan adalah laki-laki yang sangat baik sehingga mau menjaga menjaga wanitanya, padahal biasanya laki-laki lah yang tidak sanggup menahan napsu, tapi mereka justru sebaliknya.
Berbeda dengan para pelayan tersebut, Dara justru dibuat melotot mendengar penuturan Nathan yang tentunya tidak benar.
"Lo pengen gue bunuh, hah?" teriak Dara lagi.
Dengan perasaan marah, Dara melayangkan cubitan yang sangat keras di perut Nathan, sehingga membuat laki-laki itu meringis kesakitan.
"Aduh, Dar. Ampun, saya cuman becanda doang kok," ucap Nathan sambil menahan rasa sakit yang teramat sakit. Tapi kali ini dia tidak berteriak, karena merasa malu jika ketahuan dirinya takut. Masa calon suami yang takut dengan calon istrinya sendiri, kan tidak lucu.
'Ya Allah, ini kenapa KDRT nya semakin menjadi-jadi?'
"Nathan, kalau lo benar-benar menerima perjodohan ini, maka gue pastikan lo akan menderita selama pernikahan kita. Jadi pikirkan baik-baik sebelum lo menyesal!" ucap Dara dengan suara rendah.
"Enggak apa-apa kok, yang penting jatah saya buat main di ranjang sama kamu tetap rutin, ya. Satu kali kamu menganiyaya saya, malamnya harus dua ronde. Kalau kamu nggak melakukan KDRT, maka kita bisa main sepuluh ronde sehari. Kamu tenang aja, saya bakal buat kamu ketagihan, kok," sahut Nathan yang langsung membuat Dara menatap datar laki-laki itu.
"Lo dengar baik-baik dan simpan di otak lo yang pas-pas'an itu Nathan Geovanni Adijaya! Jangan pernah berharap lo bisa nyentuh gue! Kalau lo berani nyentuh sehinci aja dari tubuh gue, gue bakal patahin tangan lo!" ucap Dara penuh penekanan.
"Ingat dosa, Dar! Dosa kamu udah banyak, lho." Nathan sama sekali tidak takut dengan ancaman wanita itu, ia justru kembali menyindir Dara.
"Lo nggak usah ngingatin gue! Gue udah tau gimana dosa gue!" ketus Dara.
__ADS_1
Nathan memilih untuk diam saja, tidak mau membuat wanita itu kembali kesal dan marah. Takutnya Dara benar-benar membatalkan pernikahan mereka nanti. Kan barabe jika dia tidak bisa belah duren seperti hayalannya selama ini.
"Permisi, Kak. Gaun dan jas-nya sudah disiapkan," ucap seorang pelayan dengan lembut.
"Udah sana lo coba jas-nya!" perintah Dara dengan ketus.
"Kenapa nggak kamu aja yang duluan! Saya takutnya kamu silau pas liat saya keren banget. Gini aja saya udah keren banget, gimana kalau saya pakai jas pernikahan," ucap Nathan dengan pede.
"Nggak usah kepede'an lo! Udah buruan sana! atau kita nggak jadi nikah? Lo itu saharusnya bersyukur seorang Dara pengen menikah dengan laki-laki yang nggak waras, mana pelit lagi," sindir Dara menirukan seperti yang sering diucapkan laki-laki itu.
"Ckk ... ikut-ikutan aja kamu, itu 'kan kalimat saya! Yang seharusnya bersyukur itu kamu, karena saya masih mau menerima perempuan pembohong kayak kamu, mana nggak setia lagi."
Pelayan yang melihat perdebatan di antara pasangan tersebut hanya bisa diam. Jujur saja dia merasa bingung, ini adalah kali pertamanya dia mendapati ada sepasang kekasih yang justru saling bertengkar dan saling menyindir, karena biasanya yang dilihat adalah sepasang kekasih yang sangat romantis, dan memperlakukan kekasihnya dengan sangat baik.
"Buruan Nathan!" bentak Dara yang sontak membuat Nathan kocar-kacir, takut mendapat amukan dari wanita itu lagi.
Setelah melihat Nathan yang masuk ke dalam ruang ganti, Dara dengan elegannya duduk sambil memainkan telepon genggamnya.
Tak berselang lama, tirai dibuka, dan menampilkan sosok lelaki yang terlihat sangat gagah dengan balutan jas berwarna putih dan dasi berwarna coklat muda yang justru menambah nilai plus untuk laki-laki itu.
Dara mendonggakkan kepalanya untuk melihat penampilan Nathan. Dara terkagum melihat penampilan Nathan yang sangat tampan dan keren. Jujur saja, menurutnya Nathan memang tampan, dan dia tidak pungkiri hal itu.
'Perasaam macam apa ini? Kenapa gue deg-deg'an melihat dia yang sangat tampan dengan jas tersebut?'
Dara terus menatap Nathan tanpa berkedip. Nathan yang melihat respon Dara tertawa kecil.
"Biasa aja kali, Dar. Itu iler dihapus dulu," kekeh Nathan yang sontak membuat Dara tersadar, lalu dengan polosnya menghapus iler-nya, tetapi sama sekali tidak ada. Seketika dia sadar jika dia baru saja dikerjai.
"Ekhem! Ya—udah ambil jas yang itu aja." Dara berkata dengan sedikit terbata-bata.
Nathan mengangguk, kemudian segera mengganti pakaiannya.
*****
"Yaudah sana gantian kamu!" perintah Nathan yang sudah selesai berganti pakaian.
"He'em ...."
Dara lalu berjalan menuju ruang ganti. Matanya dengan teliti melihat sepuluh gaun yang tertata rapi dihadapannya. Semua gaun-gaun tersebut mempunyai ciri khasnya masing-masing. Ada gaun yang belahan dadanya sedikit terbuka. Ada gaun yang tidak mekar, tetapi menyesuaikan bentuk tubuh, dan ada gaun yang mutiaranya bertebaran di mana-mana.
__ADS_1
Pilihan Dara akhirnya jatuh pada gaun yang memiliki motif biasa, tapi terlihat elegan, bahkan sepertinya gaun itu yang harganya paling mahal. Gaun itu memiliki motif yang tidak terlalu mekar, dan di atasnya terdapat brukat yang menambah keindahan tersendiri. Selain itu juga terdapat beberapa mutiara yang tidak terlalu banyak di bagian atasnya. Tidak hanya itu, gaun itu juga sepaket dengan bando yang sangat cantik jika digunakan saat rambut terurai.
"Saya coba yang ini saja," ucap Dara lembut, berbanding terbalik jika berhadapan dengan Nathan tadi.
"Wah, selera Kakak sangat bagus, memang ini gaun paling terbaik di butik ini." Pelayan tersebut memandang takjub Dara.
Dara tersenyum lembut, kemudian mencoba gaun tersebut dengan sedikit bantuan dari pelayan tersebut.
Tak berselang lama Dara selesai, kemudian tirai dibuka sehingga Nathan yang sejak tadi memang menunggu Dara sontak mendonggakkan kepalanya.
"Gimana?" tanya Dara sedikit malas.
"Gila, Dar! Emang berapa harga gaun itu?" Alih-alih memuji, Nathan justru menanyakan perihal harga gaun tersebut, dan itu membuat Dara semakin jengkel.
"Ini adalah gaun yang paling terbaik di butik kami, Kak. Harganya 100 juta," sahut pelayan tersebut, yang sontak saja membuat Nathan terbatuk-batuk, karena merasa tidak percaya.
"Gila! Mahal banget! 50 juta aja gimana?" tawar Nathan yang sontak membuat Dara dan pelayan tersebut terkejut. Bagaimana mungkin menawar dengan tawaran yang tidak masuk akal?
"Saya ambil gaun yang ini aja, Mbak!" ucap Dara. Setelah itu memberi tatapan tajam pada Nathan yang baru saja ingin angkat bicara, berniat ingin menawar lagi, tapi ia urungkan ketika melihat tatapan membunuh yang diberikan oleh Dara.
TBC
.
.
.
__ADS_1
.