
"Karena gue cinta sama dia!"
Pengakuan Dara tersebut membuat Nathan terdiam. Rasanya seperti ada sebilah belati yang menusuk jantungnya. Sakit? Tidak perlu ditanya! Karena jika tidak sakit, tidak mungkin dia sampai seperti ini!
Nathan yang kebetulan sedang memandang lekat mata istrinya sontak mengalihkan pandangan saat mendengar pengakuan tersebut. Ah, kenapa wanita itu sangat jujur sekali? Tidak bisakah dia berbohong saja? Setidaknya untuk menyenangkan dirinya!
Dara melihat laki-laki itu yang langsung mengalihkan pandanganya. Apakah laki-laki itu sakit mendengar pengakuan tadi? Lantas, bagaimana dengannya yang ditinggalkan begitu saja, bahkan sebelum menjelaskan semuanya?
Sama! Dia pun merasakan sakit yang sama, apalagi saat ditinggalkan Nathan ke luar negeri! Dia mencintai Nathan, bahkan sangat mencintai laki-laki itu, karena Nathan lah orang pertama yang berhasil masuk ke kehidupannya dengan status pacar. Tetapi melihat sikap kekanak-kanakan laki-laki itu saat itu membuat dia benar-benar kecewa! Bagaimana mungkin Nathan dengan mudah memutusinya tanpa mau mendengar penjelasannya terlebih dahulu. Namun, meski pun Dara sempat stres saat itu, dia berusaha untuk menyibukkan dirinya dengan mempelajari tentang perusahaan ayahnya yang pasti akan menjadi miliknya nanti. Sehingga perlahan dia mampu melupakan laki-laki itu, meski tidak sepenuhnya! Karena di saat dia sedang melamun, dia pasti teringat dengan Nathan.
Pertemuan pertama mereka setelah tidak pernah bertemu selama bertahun-tahun membuat Dara sedikit terkejut, dia tidak menyangka akan dipertemukan kembali, apalagi dengan status sama-sama sebagai CEO, hanya saja perusahaan Nathan adalah hasil jerih payahnya sendiri, sementara perusahaan dia adalah perusahaan milik ayahnya.
Tidak bisa dipungkiri jika saat itu dia berdebar, hanya saja dia berusaha menutupinya dengan sikap formal. Tetapi satu yang membuat Dara terkejut, yaitu perubahan laki-laki itu, salah satunya secara fisik. Nathan yang sekarang benar-benar terlihat tampan, gagah, dan memiliki postur tubuh yang baik. Tetapi bukan itu yang membuat Dara specchless! Dia specchless saat melihat perubahan sikap Nathan. Nathan yang dia kenal dulu memang pelit, tetapi tidak m*esum seperti ini, meski pun Nathan yang dulu tidaklah sampai polos-polos sekali.
"Gue tadi cuman becanda! Gue nggak pernah selingkuh sama Leo!" Dara memperbaiki ucapannya tadi, tetapi reaksi Nathan biasa saja, seolah itu bukanlah masalah untuknya. Namun meski pun demikian, siapa yang tahu dengan perasaannya?
"Ckk ... udahlah nggak usah bahas si Leonet itu! Saya mau muntah kalau mengingat dia! Udah buruan, saya laper! Kamu udah bersih-bersih rumah sampai encok, 'kan?" Nathan memilih untuk mengubah topik pembicaraan, tidak mau lagi membahas tentang masa lalu. Terlalu sesak untuk diingat kembali, apalagi penyakitnya tersebut belum sembuh total hingga kini.
Dara menghela napas, ingin sekali rasanya dia menceritakan cerita yang sesungguhnya, tetapi dia takut Nathan justru tidak percaya dan malah menuduhnya karena menyangkal fakta yang ada. Sudahlah! Mungkin memang belum waktunya dia mengklarifikasi masalah masa lalu itu.
Dara tidak tahu saja jika suaminya tersebut ternyata memiliki trauma yang cukup parah. Dia tidak tahu saja jika jiwa Nathan tergoncang karena kejadian itu. Tentu saja! Itu semua karena Nathan pandai menutupinya. Selama di London saat itu, dia banyak belajar, salah satunya belajar seni bela diri, bahkan kini kemampuan bela dirinya jauh dibandingkan Dara! Tetapi begitulah, dia punya cara sendiri untuk menunjukkan rasa cintanya pada wanita yang dia cintai.
"Yaudah!" Dara lalu berjalan mendekati Nathan, lalu duduk di samping laki-laki itu.
"Kamu udah kerja sampai encok nggak sih?" Nathan kembali mengulang pertanyaannya.
"Ckk ... lo yang benar aja sampai nyuruh gue kerja sampai encok! Lo nggak kasihan sama gue? Gue ini istri lo, Than!" ketus Dara. Dia benar-benar dibuat jengkel karena laki-laki itu selalu menanyakan pertanyaan itu. Memangnya apa yang seharusnya dia lakukan agar encok? Biar laki-laki itu puas!
"Dih ... saya nggak ngaku lho! Kayaknya kamu pengen banget diakui sebagai istri! Ingat, Dar! Wanita itu bisa dianggap sebagai istri kalau udah belah duren! Lah kita kan belum, jadi belum sah di mata seorang Nathan!" cetus Nathan yang membuat Dara melonggo.
'Ingat, Dar! Suami lo kan emang langka!' Dara berusaha untuk bersabar saja menghadapi tingkah absurd suaminya tersebut.
"Ckk ... yaudah, buruan makan! Gue udah capek banget masak nih masakan!" ketus Dara, padahal sebenarnya dia tidak terlalu capek, karena dia melakukannya dengan senang hati.
"Uh, kacian istriku! Nggak apa-apa lah, Dar! Sekalian latihan, kan?" celetuk Nathan.
"Latihan apaan?" tanya Dara sambil mengerutkan keningnya.
"Ya latihan jadi pembantu! Siapa tahu suatu hari nanti kamu saya jual, supaya dijadikan pembantu mereka. Kan lumayan, setidaknya kamu udah punya skill!" jawab Nathan asal.
Dara memejamkan matanya. "Jangan sampai gue nekad nusuk nih sendok ke kepala lo ya, Than! Ingat, gue bisa lho sekaligus merangkak jadi dokter! Apa perlu gue bedah aja kepala lo? Lalu buang aja otak m*esum lo itu?" tanya Dara sambil mendelik tajam laki-laki itu.
"Ckk ... udah jangan banyak ngomong! Saya udah lapar banget! Jangan sampai kamu yang saya makan, karena saking lapernya. Tetapi bedanya, saya cuman suka kue apem punya kamu, sama susu!" Nathan segera merebut bekal yang ada di hadapan istrinya, lantas membukanya.
Bau masakan yang dibuat Dara menyeruak memenuhi indra penciuman Nathan. Baru baunya saja sudah membuat dia ngiler, apalagi rasanya!
"Nih!" Nathan menyerahkan kembali kotak bekal tersebut untuk istrinya, sehingga membuat Dara bingung.
__ADS_1
"Suapin!" pinta Nathan dengan suara tegas.
"Hah?"
"Berdua!"
"Hah?"
"Hah huh hah mulu kamu, Dar! Kamu nggak tuli, kan? Kamu suapin saya, tapi kamu juga makan. Kita selang seling!"
"Hah? Tapi kan gue udah bawa dua sendok! Ngapain malah gantian?" Ada-ada aja suaminya tersebut!
"Ishh, maunya disuapin, Dar! Lagian kan sekalian kita ciuman, tapi lewat sendok!" rengek Nathan dengan suara sok imut. "Lagian setelah ini saya ada pertemuan dengan client ! Sedangkan saya belum mempelajari berkas-berkasnya! Kalau saya makan duluan, saya nggak punya waktu buat mempelajari berkas-berkasnya!" sambungnya yang tak sepenuhnya berbohong, karena dia memang ada pertemuan dengan client, hanya saja, dia sudah mempelajari berkas-berkas penting itu dari semalam.
"Huh ... yaudah! Manja banget sih jadi laki!" Dara menggerutu, tapi tetap mengiyakannya.
Baru saja Dara berniat menyuapi sesendok nasi, tangannya sontak terhenti saat melihat sudut bibir suaminya yang sedikit robek.
"Astagfhirullah, ini bibir lo kenapa, Than?" Dara meletakkan kembali sendok yang ada di genggamannya, lalu mulai menangkup kedua pipi suaminya.
"Emangnya bibir saya kenapa? Kamu mau? Yaudah cip*k aja!" sahut Nathan asal, padahal dia tahu maksud istrinya itu.
Dara menatap tajam suaminya. "Jawab dengan jujur, Than! Bibir lo kenapa?" Dara menatap mata suaminya dengan serius.
'Kamu perhatian banget sama saya, Dar. Tapi ini semua karena kamu mencintai saya atau hanya karena status kita sebagai suami istri sih?' Nathan tersentuh, tetapi dia tidak mau terlalu berharap jika perlakuan yang ditunjukkan Dara itu karena wanita itu mencintainya. Bisa saja kan hanya karena status?
Dara semakin menatap tajam suaminya. "Jujur Nathan! Yakali kejedotnya malah luka di bibir!" Dara mertegas suaranya.
"Huh ... tadi ada pengkhianat di perusahaan. Dia nonjok saya, untungnya Sean dengan cepat bantuin, jadi tuh aki-aki tepar juga! Padahal saya pengen banget bejek-bejek tuh orang! Tapi, saya takutnya nanti dia mati, secarakan saya jago bela diri!" jawab Nathan yang tak sepenuhnya berbohong.
Dara mendengus kesal, lalu segera bangkit berdiri, berniat mengobati luka yang ada di bibir suaminya terlebih dahulu. Dia benar-benar khawatir sekaligus ikut merasakan sakit yang dialami suaminya.
"Kamu mau kemana?" Nathan mencekal tangan istrinya tersebut.
"Gue mau ngambil obat merah! Gue pengen ngobatin luka yang ada di bibir lo!" jawab Dara yang kini suaranya mulai melembut.
"Nanti aja, Dar! Makan dulu, ya? Saya udah laper banget, Dar!" Nathan memelas, lagian luka tersebut sudah tidak berasa lagi! Justru sekarang yang berasa adalah perutnya.
Dara yang mendengarnya menjadi sedikit tidak tega. Dia lalu duduk kembali. Mengambil rantang tersebut, lalu mulai menyuapi Nathan.
"Lauknya dulu, Dar! Nasinya entar!" pinta Nathan saat istrinya yang hendak menyuapinya dengan nasi terlebih dahulu.
Dara hanya mampu berdecak kesal, lalu menyuapi lauknya saja pada Nathan.
Nathan menerima dengan senang hati, tetapi saat lauk tersebut sudah memasuki mulutnya, dia terdiam, karena merasa sangat familiar dengan rasa masakan tersebut.
"Dar, kok rasanya ...?"
__ADS_1
Kening Dara mengerut. "Kenapa? Nggak enak, ya?"
"Enak! Tapi, kenapa rasanya sama seperti bekal yang sering kamu bawa ke sekolah?" lirih Nathan. Ah, bahkan sembilan tahun itu tidak membuatnya melupakan rasa makanan yang sering dibawa Dara.
"Ya karena gue yang masak!" sahut Dara santai.
"Hah? Tapi dulu kamu bilangnya Mamah kamu yang buat?" Nathan masih ingat betul saat dirinya yang bertanya pada Dara siapa yang memasak masakan yang sering dia bawa, dan Dara selalu mengatakan jika ibunya yang memasak. Dia juga mengatakan jika dia tidak bisa memasak.
"Entahlah, gue iseng aja dulu," jawab Dara tanpa merasa bersalah sedikit pun.
'Ckk ... kurang apa lagi coba istri gue? Udah berbakat banget jadi ART!'
Nathan benar-benar takjub dengan kemampuan istrinya. Namun, dia juga merasa sangat bahagia, karena selama mereka pacaran dulu, ternyata masakan Dara lah yang sering dia santap.
Dara terus menyuapi bayi besar yang ada di sampingnya. Sesekali dia juga memakan bekal tersebut. Jadi, mereka memang selang-seling, setelah menyuapi Nathan, dia lalu memasukkan sesendok nasi ke mulutnya, begitu seterusnya!
Selesai makan, Dara bangkit berdiri, berniat mencari obat merah untuk mengobati luka yang ada di sudut bibir suaminya.
"Obat merahnya di mana, Than?" Dara bertanya karena dia memang tidak tahu di mana suaminya itu meletakkannya.
"Nggak tau! Coba cari di dalam laci meja kerja saya," jawab Nathan. Dia sendiri juga tidak tahu karena sangat jarang menggunakan benda-benda tersebut.
Dara mengangguk, lalu mulai mencari di dalam laci meja kerja suaminya. Dara tersenyum tipis saat mendapatkan apa yang dia inginkan.
Baru saja Dara berniat menutup kembali laci tersebut, tanpa sengaja dia melihat ada selembar foto di sana. Segera dia ambil foto tersebut, melihat foto siapa yang disimpan suaminya.
Begitu foto itu dibalik, Dara terdiam saat melihatnya.
TBC
.
.
.
__ADS_1
.