Menikah Dengan Pria M*esum (Suami Takut Istri)

Menikah Dengan Pria M*esum (Suami Takut Istri)
Mencari Keberadaan Leo


__ADS_3

..."Tidak! Sebenarnya aku sangat menyayangimu, tetapi aku terlalu bodoh sehingga menuruti egoku, sehingga tanpa sadar menghancurkan kamu sahabat. MAAF ...." ~Nathan....


Dara terus menatap ke arah luar jendela mobil, tanpa mau menatap suaminya yang berada di sampingnya. Ya, mereka saat ini memang sedang berada di dalam mobil. Setelah pertengkaran yang terjadi di rumah sakit tadi, mereka segera pulang karena kondisi Nathan juga sudah membaik.


Nathan yang sedang mengemudi hanya mampu menghela napas melihat istrinya yang masih marah padanya. Tidak bisa dipungkiri jika apa yang sudah dia lakukan memang sangat keterlaluan. Sebenarnya meski pun dia sakit hati, tapi tak seharusnya dia menghancurkan kehidupan sahabatnya sendiri. Dan sekarang apa? Dia seakan tertampar saat mengetahui fakta yang sesungguhnya. Dara tidak selingkuh dengan Leo, tetapi dia malah melakukan hal yang sangat jahat, apalagi orang yang dihancurkannya adalah sahabatnya sendiri. Ah, apakah dia sekarang pantas mendapat julukan ba***gan?


"Dar, saya minta maaf. Sa–saya benar-benar menyesal." Nathan berkata dengan wajah yang sangat menunjukkan penyesalan.


Dara sempat terdiam sebentar. "Nggak ada gunanya lo minta maaf, toh semuanya udah terjadi, kan? Lagian untuk apa lo minta maaf sama gue? Seharusnya lo minta maaf sama Leo." Dara menyahuti tanpa melirik laki-laki yang menjadi suaminya itu sedikit pun.


Nathan kembali menghela napas. "Terus saya harus ngapain?" tanya Nathan dengan suara pelan.


"It's up to you. Tapi yang perlu lo ingat adalah, Leo adalah satu-satunya sahabat yang membuat lo nyaman, apa yang gue ketahui tentang lo pasti Leo juga tahu. Dulu gue ngerasa kalau lo itu memprioritaskan sahabat lo dibandingkan gue. Gue sempat cemburu waktu itu, tetapi akhirnya gue paham kenapa lo sangat suka bersahabat dengan Leo. Lo pernah bilang sama gue kalau lo sangat menginginkan seorang Kakak, makanya sampai-sampai lo bilang kalau lo udah nganggep Leo sebagai Kakak lo sendiri. Leo yang selalu ada untuk lo, dia yang selalu menemani hari-hari lo, yang buat lo ketawa, bahkan mungkin dia lebih banyak membuat lo ketawa dibandingkan gue. Di saat lo pernah kehabisan bensin di jalan dan lupa bawa uang, hanya bawa handphone. Orang yang pertama kali lo telpon adalah Leo, dan tanpa pikir panjang Leo langsung tancap gas menuju lokasi di mana lo berada. Di saat kita bertengkar, Leo lah yang selalu menghibur lo, dan juga mendekati kita kembali. Lantas bagaimana mungkin lo berpikir kalau Leo menyukai gue, sementara dia yang selalu bantuin kita agar berdamai kembali?" Kini Dara mengalihkan pandangannya, dan menatap wajah suaminya yang terlihat terdiam seolah kembali teringat pada kejadian masa lalu.


Nathan menepikan mobilnya.


"Nggak cuman itu. Lo bahkan udah ngehancurin hidup ayahnya Leo, padahal Om Bima sama sekali nggak ada salah sama lo, bahkan dia nggak tau permasalahan anaknya sendiri. Leo pernah cerita sama gue kalau Om Bima sering nyariin lo dan nanyain kabar lo, tapi Leo cuman bilang kalau lo memutuskan untuk belajar ke luar negeri untuk mencapai cita-citanya, dia bilang kalau lo sempat minta maaf karena nggak bisa pamit sama Om Bima. Om Bima percaya, dan selalu mendoakan yang terbaik untuk lo, bahkan Leo pernah mendapati ayahnya yang sedang berdoa, dan nama kita bertigalah yang dia sebutkan. Coba lo ingat-ingat lagi, apakah pernah Om Bima menyakiti hati lo? Nggak pernah! Kita berdua seolah-olah merasakan mempunyai dua ayah kandung! Lo tau? Sejak kepergian lo, gue udah nggak nemuin sifat periang Leo. Dia menjadi sosok yang pendiam, sering melamun, bahkan nggak jarang gue ngeliat dia nangis di belakang sekolah. Dia selalu bilang 'Maaf, Than.' " Tanpa sadar sebening kristal kembali jatuh membasahi pipi Dara. Entah kenapa perasaannya menjadi tidak enak, tiba-tiba dia kepikiran ayahnya Leo. Dia seperti merasa sedikit sesak, sepertinya memang ada sesuatu yang terjadi dengan pria paruh baya itu.


Nathan terdiam mendengar keseluruhan cerita istrinya. Dia semakin merasa bersalah sekarang. Kini dia justru kepikiran Bima, laki-laki paruh baya yang sudah dia anggap seperti ayahnya sendiri. Entah kenapa saat mengingat pria paruh baya itu, dia merasa tidak enak. "Dar, apa kamu juga merasakannya?" Nathan menatap istrinya, bertanya apakah dia juga merasakan hal yang sama.


Seakan tahu apa yang dimaksud suaminya Dara lantas mengangguk. "Gue ngerasa kalau ada sesuatu yang buruk terjadi sama Om Bima," lirih Dara.


Nathan terdiam, ternyata tidak hanya dirinya saja yang merasakan perasaan yang aneh, tetapi istrinya juga merasakan perasaan yang sama.


Tanpa banyak bicara Nathan segera melajukan mobilnya, sekarang yang ada di pikirannya hanya ingin bertemu dengan Leo dan Bima, memastikan bahwa kondisi meraka sebenarnya baik-baik saja, tidak seperti yang dia pikirkan dan rasakan.


Dara hanya diam saja, tetapi saat menyadari jika jalur yang di tempuh bukan arah ke rumah mereka, Dara sontak menatap suaminya yang terlihat masih fokus, seolah-olah tidak ada yang terjadi.


"Lo mau kemana, Than? Ini bukan jalan ke rumah kita lho!" tanya Dara.


"Kita akan menemui Leo!" jawab Nathan mantap, tanpa keraguan sedikit pun.


Dara melotot. Apakah suaminya tersebut waras? Jarak kota mereka dengan kota dahulu di mana Leo tinggal tidaklah dekat.


"Lo gila hah?" seru Dara dengan mata yang melotot.

__ADS_1


"Mungkin." Nathan hanya menjawab singkat saja. Mendengar jawaban yang diberikan suaminya sontak membuat Dara merasa bersalah, dia tidak bermaksud mengatakan suaminya itu gila, hanya saja itu refleks keluar dari mulutnya saat mendengar ucapan suaminya.


"Lo jangan macem-macem, Than! Rumah Leo itu jauh!" bentak Dara dengan suara tinggi.


Nathan menulikan telingganya, dia masih tetap fokus mengemudi mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Nathan! Lo dengar nggak sih ucapan gue?" Dara menjadi geram melihat suaminya yang sama sekali tidak menyahuti ucapannya.


"Diam!" tegas Nathan tanpa melihat istrinya.


"Gimana gue bisa diam? Lo dengar nggak sih ucapan gue? Kenapa nggak besok aja? Ini udah hampir malam, Than!" Bagaimana Dara bisa terima, sementara hari sudah mulai gelap, dan jarak yang harus ditempuh masih cukup jauh.


"ALDARA!" Kali ini Nathan membentak dengan suara beratnya, sehingga membuat Dara sontak terdiam. Ini adalah kali pertamanya Nathan membentak dirinya dengan suara yang begitu tajam dan keras, apalagi laki-laki itu menyebut nama lengkapnya, tidak seperti biasanya yang hanya menyebutnya Dara saja.


Setelah dibentak, Dara tidak mengeluarkan suaranya lagi, wanita itu memilih untuk menatap ke luar jendela saja. Nathan sendiri seketika merasa bersalah telah membentak istrinya, apalagi dengan suara yang kasar, padahal Nathan yang dikenal istrinya selama ini adalah sosok yang tidak pernah berkata kasar.


Perlahan air mata jatuh membasahi pipi Dara. Kenapa dia sangat cengeng? Entahlah, tetapi bagaimana pun perlu diketahui jika dia juga seorang wanita yang paling tidak bisa dibentak, apalagi keluarganya sama sekali tidak pernah membentak dia. Jadi, wajar saja jika dia menangis, mengingat Nathan adalah orang yang dia cintai. Tidak peduli seberapa kuat dia dalam seni bela diri, dia tetaplah wanita yang pada dasarnya lemah, hanya saja mengcover dirinya seolah-olah dia kuat.


"Maaf, Dar. Sa–saya nggak bermaksud membentak kamu," sesal Nathan, tetapi tidak ditanggapi oleh Dara. Perlahan Nathan menoleh ke arah istrinya, tetap tidak mendapat respon, tetapi dia melihat dengan jelas jika istrinya itu mengangkat telapak tangannya, lalu seolah menghapus air mata.


Nathan terkejut melihat istrinya yang menangis. Seketika dia merasa semakin bersalah.


"Maaf, tadi aku tak bermaksud," lirih Nathan, lalu menyeka air mata wanita itu dengan jarinya.


Dara hanya menggeleng, malas untuk mengeluarkan suara. Tanpa meminta persetujuan, Nathan langsung membawa wanita itu ke dalam pelukannya.


"Maaf, Dar. Saya nggak bermaksud membuat kamu menangis. Ta–tapi, saya merasa bersalah kalau nggak nyari Leo, saya takut terjadi apa-apa pada sahabat kita." Kini Nathan kembali memanggil Leo sebagai sahabatnya.


Masih tidak ada sahutan dari Dara. Nathan lalu melepaskan pelukkan mereka, kemudian menatap mata istrinya dengan dalam. "Apa kita pulang aja?" usul Nathan yang langsung mendapat gelengan dari Dara.


"Terus gimana, hm?" Nathan mengelus pipi istrinya dengan lembut. Entah kenapa dia merasa akhir-akhir ini dia sudah bersikap dewasa pada istrinya, padahal dia selalu inginnya bersikap kekanak-kanakkan saja.


"Lanjutkan saja!" ucap Dara. Melihat wajah suaminya yang sepertinya sangat terpukul, dan ingin segera menemui sabahatnya membuat dirinya menjadi tidak tega.


"Baiklah, kamu yang meminta." Nathan langsung menarik tangannya yang berada di pipi wanita itu, lalu kembali tancap gas menuju kota yang dulu menyimpan banyak kenangan.

__ADS_1


Setelah menempuh dua jam perjalanan, akhirnya mereka sampai juga di tempat tujuan. Tetapi Nathan masih harus melajukan mobilnya menuju kediaman Leo, yang letaknya berada di tengah kota tersebut. Hanya memerlukan waktu tiga puluh menit, akhirnya Nathan dan Dara akhirnya sampai juga tepat di depan rumah Leo yang tertutup oleh gerbang.


Tin ... Tin ....


Nathan membunyikan klakson mobilnya, tetapi tidak mendapat sahutan sama sekali. Dengan terpaksa dirinya segera keluar dari dalam mobil, dan diikuti oleh Dara.


Tiba-tiba pandangan Dara jatuh pada tempelan yang berada di samping gerbang.


"RUMAH INI DISITA," celetuk Dara membaca tulisan yang tertera.


"Hah?" Nathan sontak terkejut mendengar ucapan istrinya.


"Itu ...." Dara menunjuk tempelan yang dia lihat. Nathan mengalihkan pandangannya. Alangkah terkejutnya dirinya saat membaca jika rumah Leo disita oleh pihak Bank.


Tiba-tiba datang salah satu warga mendekati mereka. "Cari siapa, Pak, Buk?" tanya warga tersebut.


"Ini, kami sedang mencari pemilik rumah ini. Pak Bima dan Leo. Kira-kira mereka kemana ya, Buk?" Dara bertanya sopan pada ibu tersebut.


"Oh, Pak Bima." Nampak jika ibu tersebut mengangguk-anggukkan kepalanya. "Jadi, mereka udah pindah, karena ngutang dari Bank, tapi nggak mampu buat bayarnya. Dengar-dengar sih karena Pak Bima itu ternyata suka bermain curang di dunia bisnis, jadi mungkin kena karmanya kali."


"Te–terus mereka di mana?" seru Dara.


"Saya kurang tau, Buk. Mereka udah pindah, tapi sebulan sebelum mereka pindah, Pak Bima sempat kena serangan jantung, dan akhirnya dibawa ke rumah sakit, katanya sih koma selama sebulan, tapi nggak tau sih kalau sekarang gimana kondisi beliau. Saya sih awalnya kagum banget sama Pak Bima, karena beliau itu benar-benar baik hati dan dermawan, tapi saya nggak nyangka kalau dia itu ternyata licik!" Ibu tersebut tampak antusias menceritakannya.


Bughh


"NATHAN?!"




TBC


__ADS_1


Maaf lambat update, soalnya aku lagi nggak enak badan. Ampun dah, nggak mood banget nulis, apalagi sambil batuk gini, bawaannya pengen tidur aja😞


__ADS_2