Menikah Dengan Pria M*esum (Suami Takut Istri)

Menikah Dengan Pria M*esum (Suami Takut Istri)
Kebohongan Pertama


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul 09.00, tetapi dua sejoli itu masih betah di tampat tidur, mungkin karna efek kelelahan semalam, mengingat semalam mereka banyak mengeluarkan tenaga.


Tidur Dara terusik saat merasakan ada yang mengganjal di bawah, apalagi saat merasakan sedikit sesak, rasanya seperti ada yang menghimpitnya. Perlahan mata indahnya terbuka, berusaha untuk menormalkan cahaya yang masuk ke dalam matanya.


Melihat Nathan yang berada di atasnya, Dara sontak melotot. Seketika ingatan semalam kembali teringat di dalam pikirannya, bagai roll film. Wanita itu bahkan sedikit meringis saat mengingat suara-suara terkutuk yang keluar dari mulutnya. Sungguh, dulu dia pernah berpikir jika suatu saat nanti dia bercinta dengan laki-laki, maka dia tidak akan pernah mau mengeluarkan suara-suara sialan yang sering dilakukan oleh para wanita. Tetapi, kini dia justru seakan menjilat ludahnya sendiri, karena faktanya dia justry mend***h sepanjang permainan yang diciptakan oleh suaminya semalam.


Masih membekas di ingatannya bagaimana besarnya milik suaminya semalam, apalagi terlihat sangat berotot. Jujur saja, terakhir kali dia pernah melihat pusaka milik laki-laki saat SD, itupun karena dia membantu adiknya yang pup di dalam celana. Tetapi semalam dia melihat dengan jelas bagaimana bentuk gede-nya. Tidak pernah terpikirkan sama sekali jika seperti itulah milik laki-laki yang sesungguhnya.


Mengingat kejadian semalam membuat Dara tanpa sadar meneguk salivanya dengan kasar. Astaga kenapa dia malah kepikiran ingin mengulangnya?


Karena merasa area bawahnya yang terasa tidak enak, dengan perlahan Dara mendorong tubuh suaminya ke samping. Seketika keluar air hasil percintaan mereka semalam dari goa miliknya.


'Astaga, rasanya tubuhku benar-benar hancur!' gumam Dara dalam hati. Tubuhnya benar-benar terasa sangat sakit, apalagi di area kewanit**nnya, terasa sangat perih.


"Shhhh!" Dara sedikit meringis saat tak sengaja memegang area sensitive miliknya.


Tidur Nathan terusik saat merasa ada yang mendorongnya. Mendengar ada yang meringis, sontak Nathan membuka matanya lebar-lebar, karena tau jika itu adalah suara istrinya.


"Kenapa? Ada apa? Kamu baik-baik aja, kan?" Nathan langsung mencecerkan deretan pertanyaan. Dara sendiri sedikit terkejut mendapati suaminya yang sudah bangun, apalagi tubuhnya kini tidak tertutup sehelai benang pun, bahkan selimut pun tidak ada, karena selimut mereka jatuh ke bawah akibat pergulatan panas semalam.


Tetapi melihat wajah bantal suaminya dengan rambut yang acak-acakan justru membuat Dara terkekeh tanpa sadar, karena Nathan yang ada di hadapannya benar-benar terlihat sangat menggemaskan.


"Kamu kenapa malah ketawa? Masih waras, kan?" Nathan justru memandang aneh istrinya. Dia lagi serius, tapi istrinya justru tertawa tidak jelas.


"Muka lo lucu," kekeh Dara yang masih belum bisa menghentikan kekehannya.


"Ckk ... Nggak sadar diri! Muka kamu juga kayak habis apa aja! Rambut kayak singa, badan penuh banget merah-merahnya." Nathan justru balas mengejek istrinya. Bagaimana mungkin istrinya menertawakannya, sementara penampilan wanita itu jauh lebih kusut.


"Ckk ... Ini juga karena ulah lo!" ketus Dara yang langsung merapikan rambutnya.


"Nggak apa-apa, tetap cantik kok." Nathan berkata sambil terkekeh saat melihat wajah kesal istrinya. Jujur saja, dia sedikit meringis melihat ada banyak tanda di tubuh istrinya akibat kebuasannya semalam.


Cuppp


Satu kecupan kembali mendarat di kening istrinya. Tetapi setelah memberi satu kecupan, Nathan langsung menatap tajam istrinya, sehingga membuat Dara bingung.


"Kenapa semalam cuman satu ronde doang? Padahal saya rencananya pengen berpuluh-puluh ronde, lho!" Nathan menatap jengkel istrinya. Sebenarnya ia ingin meminta lagi semalam, tetapi melihat wajah kelelahan istrinya, dia jadi tidak tega, dan memilih untuk berhenti saja.


"Ckk ... satu ronde aja gue udah capek! Nggak tau terima kasih banget jadi laki!" Bukannya minta maaf, Dara justru mengomeli suaminya.

__ADS_1


Nathan cengengesan. "Yaudah, maaf. Makasih banyak karena kamu sudah percaya sama saya. Entar malam 10 ronde, ya?" Nathan mengeluarkan puppy eyes-nya, berharap dengan cara itu istrinya akan luluh.


Dara melotot. 10 ronde? Yang benar saja! Dia yang dua kali mencapai puncak saja hampir pingsan karena kelelahan, itupun suaminya baru sekali. Lantas, bagaimana jika sampai 10 ronde? Tak terbayang harus berapa kali dia mencapai puncak terlebih dahulu!


"Gila lo! Lo mau bunuh gue?" Dara semakin dibuat jengkel dengan permintaan tidak masuk akal suaminya itu.


"Enggak!" elak Nathan. "Saya cuman mau buat kamu mend***h aja," sambungnya dengan suara sens*al. Lalu tanpa meminta ijin pada istrinya terlebih dahulu, tangan Nathan sudah berada di atas salah satu bukit Dara, kemudian segera saja dia remas dengan lembut.


Akhh....


Dara langsung mend***h akibat ulah suaminya itu.


"Cie ... yang mendesah," goda Nathan dengan senyum nakal yang terpantri di wajahnya.


'Suami sialan!' Dara hanya mampu merutuki suaminya yang benar-benar sangat m*esum tersebut.


"Ah, udahlah, gue mau mandi! Lo nggak ada niat mau nyari Leo?" Pertanyaan Dara sontak membuat Nathan terdiam. Benar! Akibat keasikkan dengan istrinya, Nathan sampai lupa niat awalnya datang ke kota tempat kelahirannya adalah mencari sahabatnya.


"Iya, saya ingat kok. Tapi sebelum itu, saya ingin minta maaf dulu sama kamu," celetuk Nathan yang membuat kening Dara mengerut. Maaf? Memangnya suaminya itu ada salah apa?


"Maaf ... buat?"


Dara yang mendengarnya awalnya hendak marah, tetapi melihat wajah penuh penyesalan suaminya, seketika dia luluh. Setidaknya suaminya itu sedah jujur, bukan?


"Ckk ... Iya, gue maafin. Tapi perlu lo ketahui, gue sama sekali nggak pernah pacaran sama laki-laki manapun selain lo! Sewaktu kita putus, gue sama sekali nggak ada menjalin hubungan lagi."


Nampak Nathan terlihat sedikit terkejut. Sebenarnya dia berpikir jika Dara memiliki banyak mantan, mengingat wanita itu sangat cantik, jadi sangat tidak mungkin jika tidak ada yang menyukainya. "Kamu seriusan? Jadi, saya adalah orang yang pertama dan terakhir untuk kamu?" tanya Nathan yang langsung dibalas anggukan oleh Dara.


"Iya, lo adalah orang pertama untuk gue dan gue pastiin lo adalah yang terakhir," sahut Dara dengan lembut. "Lantas gimana kabar lo? Apa semasa di London dulu lo pernah pacaran sama perempuan di sana?" Tiba-tiba saja Dara melontarkan pertanyaan yang random.


Nathan terdiam mendengar pertanyaan istrinya. Rasanya tidak mungkin dia menceritakan tentang dirinya sewaktu di London saat itu, mengingat kelakuannya benar-benar sangat buruk.


"Iya! Saya nggak pernah pacaran selain sama kamu." Kini Nathan seperti menjilat ludahnya sendiri. Padahal tadi dia mengatakan pada dirinya sendiri jika dalam hubungan tidak boleh ada yang ditutup-tutupi, tetapi kini apa?


Dara memicingkan matanya, menatap curiga suaminya itu. "Seriusan? Lo nggak lagi bohong, kan?"


"Iya, saya nggak bohong. Cuman kamu doang yang pernah menjadi pacar saya." Nathan berkata sambil tersenyum, berusaha meyakinkan istrinya bahwa apa yang dia ucapkan memang benar, meski faktanya tidak berkata demikian.


'Maafin saya, Dar. Saya masih nggak berani untuk jujur masalah itu' gumam Nathan dalam hati.

__ADS_1


"Yaudah, gue percaya sama lo. Sekarang gue mau mandi." Dara memilih percaya saja, karena dia tau jika Nathan bukan tipe orang yang bisa berbohong.


Baru saja Dara bangkit, dia kembali meringis merasakan perih di area sensitive miliknya.


"Mau dibantuin?" tawar Nathan dengan suara lembutnya. Dengan malu Dara mengangguk, karena dia tidak akan mungkin mampu berjalan, meski pun hanya ke kamar mandi saja.


Seketika Nathan tersenyum nakal, lalu bangkit dari tempat tidur. Dara sedikit memalingkan wajahnya saat melihat tubuh polos suaminya, apalagi yang menggelantung di bawah sana.


Dengan perlahan Nathan menggendong tubuh polos istrinya itu. Jujur saja, miliknya kembali menegang hanya karena menyentuh tubuh Dara. Sementara Dara langsung mengalungkan lengannya di leher Nathan.


"Kita mandi sama-sama, ya? Sekalian main," bisik Nathan dengan suara beratnya.


Dara melotot. Ah, padahal dia hanya berniat ingin mandi saja, tetapi ternyata dia salah meminta bantuan pada suaminya tersebut.


Nathan langsung meletakkan istrinya ke dalam bathtub secara perlahan, lalu menyalakan air hangat. Senyum nakal terus terpantri di wajahnya. Segera dia masuk ke dalam bathtub berukuran besar tersebut.


Dara hanya mampu pasrah saat suaminya mulai menyentuhnya lagi. Kini permainan panas itu kembali terulang. Ruangan kamar mandi itu dipenuhi dengan suara d***han kedua manusia tersebut. Mereka saling meng-erang, mend***h, dan menyebut nama masing-masing saat mencapai puncak.




TBC



.



.



.



.

__ADS_1


__ADS_2