Menikah Dengan Pria M*esum (Suami Takut Istri)

Menikah Dengan Pria M*esum (Suami Takut Istri)
Ternyata Kejadian Itu Menimbulkan Trauma


__ADS_3

"Seperti bencong!" gumam Lisa yang masih bisa didengar oleh Nathan.


Nathan menatap tajam sekretaris istrinya tersebut. "Diam kamu jomblo! Iri bilang sekretaris!" sahut Nathan dengan ketus. Sepertinya kedua manusia itu akan menjadi rival kedepannya.


Nathan dan Sean segera pergi dari restoran tersebut. Bahkan Nathan mengabaikan para satpam yang meringis kesakitan tersebut. Biarkan saja! Toh dia sudah bayar lebih pada pemilik restoran tersebut.


'Makanya, jangan memandang rendah orang! Babak belur kan lo pada!' gerutu Nathan pada satpam tersebut.


Segera Nathan masuk ke dalam mobil dan duduk di belakang, sementara Sean duduk di kursi mengemudi, karena tugasnya selain menjadi sekretaris, dia juga menjadi tangan kanan Nathan.


Sementara Lisa, setelah kepergian Nathan, dia langsung menatap Dara seolah meminta penjelasan.


"Ada apa?" tanya Dara yang merasa heran dengan tatapan sahabatnya.


"Kok lo mau maafin dia sih! Mana maafinnya pas dikasih black card lagi! Kesannya itu lo kayak cewek matre, Ra!" kesal Lisa.


"Emang!" sahut Dara dengan santai. "Siapa sih yang nggak mau uang, Ca?" kekeh Dara yang kini sudah biasa saja.


"Tapikan ... masa lo nggak marah sih sama suami lo! Lo bayangin aja, masa dia diam aja pas istrinya lagi dihajar sama satpam? Bukannya ngejagain lo, dia malah mendukung para satpam buat ngegebukin lo!" ketus Lisa. Dia merasa sangat jengkel dengan tingkah Nathan yang tidak ada jiwa seperti seorang suami.


"Kenapa gue nggak marah, ya?" Dara mengetuk jari telunjuk di dagunya, seolah sedang berpikir. "Karena dia suami gue, Ca! Gue resmi menjadi istrinya sekarang! Yakali aja gue kasar sama dia! Entar gue durhaka," sambung Dara dengan wajah seriusnya.


"Emangnya kenapa lo sampai marah banget sama suami lo?" Kini Lisa justru dibuat penasaran, sebenarnya apa yang terjadi di dalam ruangan tersebut, sampai-sampai bosnya itu benar-benar mengamuk, bahkan rela menghabiskan waktunya untuk meladeni para satpam tersebut.


Dara yang mendengarnya seketika kembali teringat dengan syarat-syarat yang diberikan suaminya tadi. Tanpa sadar dia terkekeh ketika mengingat kata-kata yang tertulis di lembaran tersebut. Benar-benar menggelikan!


Lisa yang melihatnya tentu dibuat bingung. "Cerita napa, Ra!" rengek Lisa sambil menggoyang-goyangkan lengan sahabatnya tersebut.


"Nggak ada apa-apa kok, Ca! Biasa pasti adalah pertengkaran kecil dalam rumah tangga." Dara sama sekali tidak berniat menceritakan apa yang baru saja terjadi, terlalu memalukan menurutnya.


"Lo cinta nggak sih sama Pak Nathan?" Lisa bertanya dengan serius, lalu memandang lekat mata sahabatnya.


Dara terdiam sebentar mendengar pertanyaan sahabatnya. "Cinta? Gue sendiri belum tau sama perasaan gue. Tapi, cinta nggak cinta, gue tetap harus belajar mencintai dia, karena bagaimana pun dia adalah suami gue. Gue Aldara, udah resmi menjadi istri Nathan. Gue udah berjanji sama hidup gue kalau gue hanya akan menikah sekali seumur hidup! Jadi, gue akan pertahankan pernikahan ini," jawab Dara, setelah itu memperlihatkan senyum kecilnya.

__ADS_1


"Good job!" Lisa mengacungkan kedua jempolnya. "Pertahankan rumah tangga lo, ya! Apa pun yang terjadi lo nggak boleh kalah. Pak Nathan udah jadi milik lo, jadi nggak ada seorangpun yang boleh milikin dia lagi selain lo! Dan saran gue, cobalah untuk belajar mencintai suami lo mulai sekarang. Jangan ragu, karena Pak Nathan benar-benar mencintai lo, dan gue jamin itu. Jangan bersikap kekanak-kanakan, Ra!" Lisa menepuk pelan bahu sahabatnya tersebut.


"Pasti! Gue akan belajar mulai sekarang!" sahut Dara mantap. Ya, dia sudah bersungguh-sungguh akan membuka hatinya secara perlahan pada Nathan. Sebenarnya dia masih mencintai laki-laki itu dari dulu sampai sekarang. Tetapi perasaan itu tidak sebesar dulu.


"Yaudah, kita kembali ke kantor. Tapi maaf, gue nggak bisa makan siang bareng lo, soalnya—"


"Iya, gue tau! Nggak apa-apa kok, santai aja. Lo harus prioritasin suami lo!" Sebelum Dara menyelesaikan ucapannya, Lisa lebih dulu memotong.


***********


Nathan mengeluarkan tablet kecil miliknya, melihat data perkembangan perusahaan.


"Bagaimana dengan ba***gan kecil itu? Apa kau sudah mendapatkannya?" tanya Nathan dengan suara dingin dan menusuk, sehingga hampir saja membuat Sean men'rem dengan mendadak karena terkejut. Kenapa bosnya tersebut bisa dengan mudah merubah sikapnya? Jika berada di dekat istrinya, maka Nathan akan menjadi laki-laki yang cerewat, dan pastinya m*esum, tetapi jika sedang serius, aura Nathan jauh berbeda.


"Sudah, Tuan. Ternyata yang berkhianat adalah manager keuangan," jawab Sean dengan formal, bahkan kini dia memanggil Nathan dengan panggilan Tuan, bukan Pak lagi.


Kening Nathan mengerut. "Alvian?" tanya Nathan. Seingatnya yang menjadi manager keuangan di perusahaannya adalah Alvian, pria berumur 40 tahunan. Setahunya pria itu adalah pria yang baik dan ramah. Dia bahkan sama sekali tidak pernah merasa curiga dengan pria itu.


Tubuh Nathan membeku mendengar kata selingkuh, tiba-tiba badannya bergetar dengan hebat, laki-laki itu bahkan kesulitan bernapas. "Se—selingkuh?" beo Nathan dengan suara yang tersendat.


"Ya, Tuan? Ada apa? Kenapa Anda terlihat pucat pasi seperti itu?" Sean menjadi panik saat melihat bosnya yang kesulitan bernapas.


Nathan menggeleng dengan kuat saat ingatan sembilan tahun yang lalu kembali berputar di pikirannya. Dia paling sensitive mendengar kata selingkuh dan pengkhianatan. Secara tiba-tiba tubuhnya akan bereaksi lain setelah mendengarnya, apalagi mendengar jika istri dari Alvian sangat tulus mencintai suaminya. Mendengar jika Alvian selingkuh dengan sahabat istrinya semakin membuat Nathan merasa sesak.


"St–sto–stop, Yan! Huh ... huh ... huh ...." Nathan merem*s kuat d*d*nya saat merasakan sesak yang luar biasa, bahkan sulit untuk bernapas.


Sean dengan cepat memarkirkan mobilnya di sembarang tempat. Nathan membuka pintu mobil dengan sekuat tenaga, lalu keluar.


Karena tidak mampu menahan berat badannya, Nathan terjatuh dan bersandar di pintu mobil sambil terus merem*s kuat d*d*nya, berharap dengan cara itu bisa mengurangi rasa sesaknya.


"Yan, se–se–sesak! Hiks ... hiks ... hiks!" Nathan menjambak kuat rambutnya dan menangis dengan hebat. Kenapa ingatan itu sangat membekas di pikirannya? Laki-laki itu bahkan terus membenturkan kepalanya ke pintu mobil, berharap ingatan itu akan hilang.


"Tuan, apa yang sedang Anda lakukan? Sebenarnya apa yang terjadi?" Sean menjadi sangat panik saat melihat bosnya yang menangis. Sebenarnya apa yang terjadi? Apa ada yang salah dari penjelasannya?

__ADS_1


Meski Nathan adalah bos sekaligus sahabatnya, tetapi Sean sama sekali tidak tahu menahu tentang kehidupan pribadi laki-laki itu. Dia bertemu dan berteman dengan Nathan saat kuliah semester enam saja, itupun karena dia harus mengulang kuliahnya. Dia sama sekali tidak tahu masa lalu dan apa yang terjadi dengan bosnya tersebut.


"Yan, me–mereka jahat! hiks ... hiks ...." Nathan terus menangis, bahkan tangisan itu terdengar memilukan di telingga Sean.


Mereka? Sebanarnya siapa yang dimaksud Nathan? Pikir Sean.


Ya, kejadian sembilan tahun yang lalu masih membekas di hati Nathan hingga kini. Leo, laki-laki yang sudah dia anggap seperti kakak-nya sendiri malah mengkhianatinya dengan berselingkuh dengan kekasihnya. Siapa sangka jika kejadian itu justru menimbulkan trauma hingga kini? Nathan sudah berusaha untuk menghilangkan dan mengalahkan rasa trauma tersebut, bahkan dia sempat pergi ke psikolog, tetapi hasilnya tetap saja nihil. Bayang-bayang itu masih membekas di ingatannya, sehingga membuatnya terkadang merasa sesak napas.


"Mereka jahat! Mereka jahat!" Nathan terus bergumam sambil terus menggeleng-gelengkan kepalanya.


Nathan merasakan matanya berkunang-kunang, bahkan tubuhnya terasa sangat lemas seolah-olah baru saja mengeluarkan banyak tenaga. Perlahan mata laki-laki itu tertutup, dan detik kemudian dia tidak tahu apa-apa lagi. Dia hanya samar-samar mendengar suara sekretarisnya yang memanggil dia.




TBC



.



.



.



.

__ADS_1


__ADS_2