
"Nathan." Dara berucap dengan sangat lirih, sehingga membuat Nathan sedikit merinding.
"Huh ... emang semangkoknya berapa, suami orang?" Alih-alih langsung memesan, Nathan justru memilih untuk menanyakannya terlebih dahulu, kan siapa tau harganya mahal.
"Satu mangkoknya 20 ribu, Kang." Pemilik kedai bakso tersebut menjawab dengan sopan.
Nathan melotot, apa-apaan harganya semahal itu. "Buset, mahal amat, Pak. Di depan komplek saya aja harganya cuman 15 ribu, dan itu udah dapat es teh manis! Bapak kok bisa jualan dengan harga yang mahal begitu?" Nathan tentu tidak mampu menahan mulutnya untuk tidak mencerocos.
"Maaf, Kang. Tapi daging lagi naik, Kang. Sementara bakso saya pakai daging asli." Pemilik kedai tersebut berusaha menjelaskan.
"Naik apa? Naik daun? Emang tuh sapi nge-DJ, ya?" ketus Nathan asal.
Pemilik kedai bakso tersebut menggaruk tengkuknya, kenapa ada laki-laki tampan tapi se somplak pria di depannya?
"Yaudah, saya pesan kuahnya aja!"
"Hah? Gimana, Kang?" Mesan kuah doang? Berarti bukan bakso dong namanya?
Brukk
"NATHAN!" teriak Dara dengan lantang.
"Huh ... saya pesan bakso tiga mangkok, Pak." Dara memberikan senyum terbaiknya.
"Siyap, Neng!" Pemilik kedai bakso tersebut langsung pergi, karena tidak mau berurusan dengan laki-laki aneh tersebut.
"Kok bisa, ya?" gumam Nathan yang sayangnya masih bisa didengar oleh Dara.
"Bisa apa?"
"Kok bisa ya kamu tiba-tiba jadi lemah lembut setelah tadi sempat berubah jadi hulk?" tanya Nathan polos.
Dara hanya berdecak kesal, dia malas meladeni laki-laki tidak waras tersebut, karena menurutnya meladeni Nathan hanya akan menghabiskan waktu berharganya saja.
Tak berselang lama bakso yang mereka pesan akhirnya tiba. Tanpa basa-basi Dara melahapnya. Nathan yang melihatnya terkekeh lucu melihat pipi Dara yang mengembung, karena sedang mengunyah bakso yang berukuran besar tersebut.
Cuppp
__ADS_1
Nathan yang gemes langsung mencium pipi Dara yang mengembung tersebut, sehingga membuat Dara terkejut setengah mati, dan bakso yang ada di mulutnya terkeluar dan masuk kembali ke dalam mangkok.
Nathan yang melihatnya sontak melotot. Sungguh, pemandangan di depannya sangat menjijikkan menurutnya. Andai yang makan itu bukan calon istrinya, maka dapat dipastikan dia akan langsung pergi.
"Astagfhirullah! Kamu jorok banget sih, Dar!" pekik Nathan.
"Lo apain gue?" pekik Dara. "Pipi gue udah nggak perawan sekarang!" Dara justru marah atas apa yang baru saja dilakukan oleh laki-laki itu.
"Itu adalah bukti rasa cinta saya kepada wanita pembohong, mana nggak setia lagi," sahut Nathan asal.
Plakk
"Ya Allah, Dar. Kita belum nikah lho, tapi kenapa tangan kamu semakin menjadi-jadi?" pekik Nathan, untungnya hanya mereka berdua yang tersisa di sana, karena pembeli yang lainnya sudah pergi.
'Sial! Kenapa gue malah berdebar hanya karena dicium?'
"Gue bakalan laporin ke bokap gue kalau lo udah berani macem-macem sama gue, padahal belum juga halal," ancam Dara dengan tatapan tajam, setajam silet.
"Astagfhirullah, saya cuman cium pipi kamu lho, Dar. Bahkan saya aja nggak ada ngegrape-grape kamu." Nathan tentu tidak terima mendengar ancaman Dara yang akan melaporkannya pada calon mertua.
"Gini aja, gimana kalau misalnya kita main uhuy-uhuy dulu di semak-semak yang ada di sana. Nah, kalau udah selesai, kamu bisa tuh lapor ke calon Papah Mertua. Saya ikhlas kok digebukin sama Papah kamu, yang penting saya udah belah duren. Tapi, sebenarnya saya nggak pengen belah duren, soalnya saya lebih suka belah semangka aja, karena lebih mulus, dan pastinya aluss pisan. Saya bingung kenapa orang bilangnya belah duren, padahal dari survey yang membuktikan, punya perempuan itu nggak ada durinya, lho. Kenapa nggak belah semangka, melon, atau —"
Sebelum Nathan menyelesaikan ucapannya, Dara lebih dulu memasukkan bakso ukuran yang besar dengan sambal yang sangat banyak ke dalam mulut laki-laki itu, sehingga membuat Nathan melotot, apalagi saat mendapatkan sensasi pedas yang teramat membakar lidahnya. Rasanya seperti anda menjadi Iron Man. Ah, lebih tepatnya, lebih ngeri dari pada neraka.
"HUA DARA! KAMU BENAR-BENAR —"
"Cantik." Dara lebih dulu menyela ucapan Nathan.
Dara lalu mendekatkan wajahnya ke samping telingga Nathan, lalu membisikkan sesuatu yang membuat tubuh Nathan seketika meremang, bukan karena bisikkannya, tetapi karena suara wanita itu yang sontak saja membuatnya merasa geli, dan merasakan sensasi yang aneh.
"Ini baru permulaan, Sayang. Kalau lo bikin gue naik darah tiap hari, maka perempuan pembohong, mana nggak setia ini bakal gantung lo di tiang jemuran!" bisik Dara yang sudah merasa sangat jengkel.
Brukk
Nathan sontak mendobrak meja, sehingga membuat kuah bakso yang ada di dalam mangkok tersebut terkeluar. "DEMI APA KAMU PANGGIL SAYA SAYANG, DAR?" teriak Nathan heboh. Laki-laki itu lalu mengambil handphonenya, dan membuka aplikasi perekam suara.
"Lagi ... lagi dong! Saya pengen abadikan suara kamu yang panggil saya dengan panggilan Ayank!" Nathan menyodorkan perekam suara itu di dekat wajah Dara, yang seketika berubah sangat datar.
__ADS_1
'Sumpah, gue nyerah. Gue pikir dia bakal jadi anjing penurut setelah gue bisikkan kata-kata itu tadi. Tapi apa? Gue rasanya udah depresi banget sumpah. GUE PENGEN BUNUH DIRI!' Dara berteriak di dalam hati, kenapa takdirnya harus se suram ini? Tidak bisakah Tuhan membiarkannya bahagia, dan hidup lebih lama?
"Gue pastikan bakalan siksa lo kalau udah nikah nanti, Than! Gue pastikan bakal buat lo menjerit kesakitan!" lirih Dara, lalu memilih untuk menghabiskan semangkok baksonya lagi. Ya, satu mangkok bakso tidak akan cukup untuk dirinya. Dia memerlukan tenaga ekstra untuk menghadapi Nathan, yang sudah menjadi rivalnya, sekaligus calon suaminya.
'Kita lihat aja siapa yang bakal lebih dulu menjerit. Apakah saya, atau kamu? Karena saya yakin kamu nggak bakal sanggup nggak menjerit setelah saya mengeluarkan jurus, yaitu jurus goyang dumang. Saya yakin kamu bakal ketagihan mendapatkan anu saya yang sangat gede, dan saya pastikan anu kamu bakal pengen lagi, dan akhirnya kita anu-anu terus di kamar dengan anu kamu dan anu saya yang terus menempel, sehingga setelah 9 bulan, kita akan menghasilkan anu yang baru milik anak-anak kita' batin Nathan yang entah paham atau tidak dengan pikirannya sendiri.
Nathan ingin angkat bicara, tetapi melihat cara makan Dara yang mengerikan, Nathan memilih mengurungkan niatnya untuk berbicara, dan lanjut memakan bakso miliknya.
'Kenapa sih kehidupan Nathan begini amat, Ya Allah? Padahal Nathan ganteng, lho, mana sholeh lagi.'
Tidak memerlukan waktu lama, dua mangkok bakso habis dilahap oleh Dara.
"Pak, baksonya satu mangkok lagi!" ucap Dara dengan sedikit berteriak. Rupanya wanita itu masih belum merasa kenyang, meski sudah menghabiskan dua mangkok bakso.
"Astagfhirullah, Dar! Kamu jangan terlalu banyak makan, karena saya nggak suka sama cewek yang montok. Bukan apa-apa, saya cuman takut, kalau saya nggak bakal keluar dari kamar, karena ketagihan sama goyangan kamu."
"Brisik!" bentak Dara, yang sontak membuat Nathan terdiam, tidak berani membuka suara lagi, karena melihat perubahan wanitu itu. Tetapi meski pun Dara kelihatan sedang marah, tanduknya masih aman, dan masih belum keluar.
"Dar, kok baksonya enak, ya? Apa jangan-jangan pakai penglaris? Bisa aja 'kan ada kolor di dalam panci itu," bisik Nathan.
TBC
.
.
.
__ADS_1
.