
"Aku harus segera ke Indonesia untuk menyelesaikan ini semua," gumam Lucy. Sungguh dia benar-benar tidak terima rasanya ada wanita yang mendahuluinya. Akan dia pastikan wanita itu menyesal nantinya.
"Sayang?" Tiba-tiba terdengar seseorang memanggil dirinya dengan panggilan sayang. Lucy memutar matanya malas.
'Cih ... menjijikkan!' gumamnya dalam hati. Andai bukan laki-laki sumber uangnya, maka sudah dia pastikan akan meninggalkan pria tua bangka tersebut.
"Iya, ada apa sayang?" Lucy menyahut dengan suara yang dibuat-buat lembut, padahal dia ingin muntah mendengar suaranya sendiri.
"Kamu di mana?" Darius yang menjadi suami Lucy kembali bertanya.
Lucy menatap datar suaminya yang sibuk mencarinya, padahal jika suaminya bisa melihat, maka dia pasti dengan mudah menemukannya, karena dia sendiri masih bisa melihat suaminya.
'Merepotkan sekali tua bangka ini!' Lucy menggerutu dalam hati. Sungguh, ingin sekali rasanya dia cepat-cepat membun-uh suaminya itu, agar harta warisan suaminya segera menjadi miliknya. Tetapi tidak semudah itu membun-uh pria itu, karena jika dia salah sedikit, maka mungkin akan ketahuan, dan dia tidak akan sudi berada di sel penjara!
Ya, dua tahun yang lalu, Darius mengalami kecelakaan dan menyebabkan dia harus mengalami kebutaan, karena kaca mobil yang menusuk tepat di bola matanya. Darius sendiri bukanlah laki-laki yang masih muda, karena umurnya kini sudah mencapai 40 an lebih. Dia menikah dengan Lucy sebelum kecelakaan itu terjadi, dan pertemuan mereka berawal dari wanita itu yang menjadi sekretarisnya. Hingga suatu malam dia lupa diri dan akhirnya melempar Lucy ke atas kasur dan memperk*sanya. Dia sendiri tidak tahu kenapa dia bisa melakukan itu semua. Dia hanya merasa jika seluruh badannya terasa panas setelah meminum minuman yang diberikan sekretarisnya itu. Tetapi dia tidak pernah menuduh wanita itu, karena Lucy yang dia kenal adalah wanita yang baik dan polos.
Darius sendiri adalah seorang duda tanpa anak, karena istrinya meninggal dengan cepat, yaitu kecelakaan yang menyebabkan dia mati di tempat.
Hasil dari pergulatan panas mereka malam itu ternyata membuat Lucy hamil, dan akhirnya dia memutuskan untuk menikahi Lucy. Ronald, putranya dan Lucy yang jujur saja tidak memiliki kemiripan dengannya. Tetapi meski pun demikian, dia sama sekali tidak pernah meragukan Lucy, karena dia yakin seratus persen jika Ronald memang anak kandungnya.
Sudah tak terhitung berapa kali dia meminta bantuan pada beberapa pihak rumah sakit untuk mencarikan dia orang yang mau mendonorkan mata. Tetapi meski pun demikian, hingga detik ini dia sama sekali tidak mendapatkannya. Ada yang tidak cocok dan ada juga yang langsung membatalkannya begitu saja, padahal dia sudah menawarkan uang yang lumayan banyak.
Tetapi meski pun demikian dia tetap bersyukur karena memiliki istri yang sangat mencintai dia. Lucy sama sekali tidak pernah mempermasalahkan dia yang buta seperti ini. Bahkan dengan telatennya wanita itu merawatnya. Dia benar-benar bersyukur bisa memiliki istri sebaik Lucy.
Tetapi siapa sangka jika dalang di balik semua ini adalah Lucy sendiri? Dia yang sudah menciptakan drama ini. Dia sudah mengincar Darius sejak lama, bahkan sebelum berpacaran dengan Nathan. Ya, Nathan mantan kekasihnya, dia jatuh cinta pada laki-laki itu pada pandangan pertama. Tetapi dia harus membuang jauh perasaan cintanya itu demi HARTA dan UANG.
Mula-mula dia menyewa sopir untuk menabrak Chelsea, istri dari Darius yang kebetulan baru pulang dari rumah sakit. Dia sedang mengandung saat itu, dan ingin memberitahukan berita bahagia itu pada suaminya. Tetapi sayangnya nyawanya melayang saat sebuah truck melaju dengan kencang dan menabraknya, sehingga membuat dia terpental sangat jauh, dan meninggal di tempat. Hingga kini Darius tidak tahu jika istrinya meninggal dalam keadaan hamil, karena kandungan Chelsea baru menginjak dua minggu saja, sehingga masih sangat kecil.
Setahun kemudian dia melamar pekerjaan di perusahaan milik Darius, dan diterima menjadi sekretaris. Selama hampir lima bulan dia berperilaku layaknya wanita polos dan lugu, agar Darius tidak mencurigainya. Hingga suatu malam saat dia dan Darius yang masih berada di kantor karena lembur, dia memulai rencananya. Dia memasukkan obat perang*ang ke kopi Darius, dan dengan cepat itu beraksi. Dia berpura-pura hendak menyerahkan berkas, tetapi dengan sengaja dia pura-pura tersandung, dan jatuh tepat di tubuh Darius yang sedang terduduk. Dan dari situlah malam panas itu terjadi. Paginya dia menangis dengan hebat, padahal dalam hati dia bersorak gembira karena rencananya berhasil. Karena ingin dianggap masih perawan, dia bahkan menyayat lengannya, dan meneteskan darah tersebut di sprei serta mengoleskannya di area kewa-ni**nnya. Dengan bodohnya Darius percaya itu semua, dan merasa bersalah.
Kecelakaan yang dialami Darius pun tidak lepas dari perbuatan tangan Lucy. Dia yang sudah merencakannya semuanya dengan matang. Ya, memangnya bagaimana mungkin pria itu bisa curiga, sementara Lucy yang dia kenal adalah Lucy yang penuh kelemah lembutan. Lucy memang pandai dalam urusan drama, bahkan menciptakan drama bukanlah hal yang sulit untuknya. Semua pihak rumah sakit sudah dia ancam dan bungkam dengan uang, dan tidak ada yang berani melawannya. Bahkan setiap hari Lucy memberikan obat untuk memperparah mata suaminya itu. Terkesan sadis, tetapi itulah sosoknya. Dia tidak akan segan-segan melakukan apa pun untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Semua permainan yang dia ciptakan tersusun dengan rapi sehingga tidak ada yang tahu kebusukkannya.
Dengan penuh keterpaksaan Lucy mendekati suaminya dengan mulutnya yang terus menyumpahi pria tua bangka itu. "Aku di sini. Mas perlu apa?" Lucy bertanya dengan nada lembut sambil memegang kedua bahu Darius.
"Ah, ternyata kamu di sini. Aku hanya bosan berada di dalam kamar, apalagi kamu tidak ada di sana." Tingkah manja Darius benar-benar membuat Lucy ingin muntah melihatnya.
"Yaudah, kita duduk di sini aja kalau Mas bosan." Dengan perlahan Lucy menuntun suaminya untuk duduk di sofa, lalu dia ikut mendaratkan bokongnya di sana.
"Mas ...." Lucy berkata dengan lembut sambil mengelus rahang suaminya dengan lembut.
"Ada apa Sayang?" Mendengar kata sayang dari mulut pria tua itu membuat mati-matian menahan diri agar tidak mencakar-cakar wajah pria itu.
'Sialan nih Aki-Aki!'
"Kita sudah lama tidak liburan lho. Aku pengen liburan nih." Lucy merengek layaknya anak kecil.
"Memangnya mau ke mana?" tanya Darius penasaran.
__ADS_1
"Indonesia! Aku ingin sekali ke sana. Aku dengar-dengar negara itu bagus banget. Lagian kita kan nggak pernah ke sana."
"Tapikan anak kita sekolah. Kasihan Ronald dong kalau nggak sekolah."
Ucapan Darius sontak membuat Lucy terdiam. Benar juga! Putranya itu memang masih TK. Lucy memutar otaknya, beruaha mencari ide. Bagaimana pun Ronald adalah putranya.
"Kita bawa saja! Lagian dia kan anak yang cerdas. Kan masih TK juga." Lucy memberi usulan yang langsung mendapat gelengan tegas dari Darius.
"Tidak! Aku tidak mau Ronald tidak sekolah! Meski pun di usinya yang masih kecil sudah bisa membaca, tetapi tetap saja aku tidak mau. Kita bisa liburannya kapan-kapan saja." Darius menolak dengan tegas, sehingga membuat Lucy kesal setengah mati.
Lucy segera melepaskan tangannya yang melingkar di pinggang suaminya.
Hiks ... hiks ....
Akhirnya dengan keterpaksaan dia mengeluarkan jurus akhir, yaitu menangis agar suaminya itu iba, karena dia tahu betul seperti apa Darius. Pria itu tidak suka melihatnya menangis.
"Astaga, kamu kenapa nangis? Jangan gini Sayang. Oke, kita ke Indonesia!" Darius yang memang sangat mencintai istrinya itu akhirnya mengalah dan menuruti keinginan istri kecilnya.
Senyum kemenangan terbit di bibir Lucy. "Yaudah, kita perginya besok! Aku juga udah beli tiket pasawatnya."
Nampak Darius terkejut mendengarnya. "Kenapa cepat sekali Sayang?"
"Ya nggak apa-apa. Semakin cepat, semakin baik," jawab Lucy santai.
Darius hanya bisa mengangguk pasrah. Dia tidak mau melihat istrinya kecewa, meski pun dia tidak bisa melihat, tetapi dia bisa mendengar perbedaan suara Lucy ketika senang dan kecewa. Dia sudah berjanji akan selalu membahagiakan istri kecilnya itu, apalagi wanita itu yang sudah melahirkan darah dagingnya sendiri.
Lucy menghirup udara segar. Kini dia, suaminya, dan putra kecilnya sudah berada di Indonesia saat ini. Senyum miring tercetak jelas di bibirnya.
'Baby, I'm coming! I miss you so much!' Lucy memekik dalam hati. Jika dia sudah mendapatkan Nathan kembali, maka dia pastikan akan mengakhiri hidup suaminya tersebut. Dari pada menyusahkan? Sudah cukup penderitaannya merawat laki-laki buta tersebut yang sama sekali tidak berguna!
Lantas, bagaimana dia bisa mendapatkan Nathan kembali? Simple! Segala cara akan dia lakukan untuk mendapatkan laki-laki itu kembali. Sekali pun melenyapkan istri Nathan, dia tidak masalah. Satu yang pasti! Nathan harus menjadi miliknya!
Ya, Nathan memang sudah membuatnya tergila-gila. Dia sudah sangat terobsesi dengan laki-laki tampan itu.
"Mommy, Daddy, Ronald sangat mencintai Indonesia!" pekik Ronald dengan antusias. Tentu saja! Ini adalah kali pertamanya menginjakkan kaki di Indonesia.
"Benarkah? Yaudah, Ronald bisa bermain sepuas-puasnya di Indonesia. Kita nanti bakal jalan-jalan dan mengunjungi semua tempat wisata populer. Bagaimana?" Meski pun Lucy sosok yang jahat. Tetapi itu sama sekali tidak berlaku terhadap putranya. Dia benar-benar sangat menyayangi putranya itu, bahkan rasa cinta dan sayangnya melebihi rasa cintanya pada Nathan. Ya, mungkin karena Ronald adalah anak yang lahir dari rahimnya sendiri, sehingga timbul jiwa keibuannya.
"Oke, Mommy! Daddy juga senang, kan?" Dengan antusias Ronald bertanya pada Darius yang pandangannya kosong ke arah depan, tetapi tertutupi oleh kacamata hitam yang dikenakan pria itu.
"Tentu saja! Daddy sangat senang bisa liburan sama kalian berdua! Apalagi putra Daddy yang tampan ini." Darius tersenyum senang.
"Daddy tenang aja! Biar Ronald yang jadi mata Daddy nanti," ucap Ronald polos, sehingga membuat hati Darius menghangat mendengarnya.
Mereka segera pergi menuju salah satu hotel terbesar di Indonesia, dan menginap di sana, mungkin satu bulan lebih. Entahlah, itu semua tergantung istrinya.
Setelah mereka sampai di hotel. Lucy membaringkan tubuhnya di kasur karena merasa sangat lelah. Wajar saja! Mengingat mereka baru saja menempuh perjalanan yang memakan waktu cukup banyak. Tetapi ketika dia teringat dengan tujuannya ke sini. Dia segera bangun, lalu membersihkan dirinya.
__ADS_1
"Mas, aku lagi datang bulan nih, tapi lupa bawa pembalut. Aku beli sebentar, ya?"
"Kenapa nggak nyuruh orang aja? Lagian kamu nggak takut kesesat di sini?" Darius nampak khawatir mendengar permintaan istrinya. Bukan apa-apa, tapi dia takutnya terjadi sesuatu pada istrinya itu, mengingat mereka sama sekali tidak tahu bagaimana negera Indonesia.
"Nggak apa-apa. Percaya, aku pasti baik-baik aja kok." Lucy meyakinkan suaminya tersebut.
"Huh ... yasudah, kamu hati-hati, ya! Kalau ada apa-apa cepat hubungi aku."
Mendengar ucapan suaminya membuat Lucy berdecih dalam hati. Memangnya apa gunanya dia menelepon pria tidak berguna seperti suaminya itu? Yang ada hanya memperumit masalah saja!
"Oke. Kalau gitu aku pergi, ya." Bianca segera pergi dari hadapan suaminya. Sementara putranya sudah terlelap, mungkin karena kelelahan.
Tujuan Lucy kali ini adalah rumah sakit Mitra Anda. Dia mendapat informasi dari Kendrick jika laki-laki pujaannya itu berada di sana dengan istri sialannya.
Sesampainya dia di rumah sakit, segera dia mencari ruangan di mana ada seorang pria paruh baya yang dirawat, katanya pria itu cukup berpengaruh pada Nathan. Tetapi dia tidak menemukan siapa pun di sana. Dia lalu bertanya pada suster yang kebetulan lewat. Segera dia pergi ke taman setelah mengetahui jika meraka berada di taman.
Lucy menatap tajam saat menemukan orang yang dia cari sedang bergandeng mesra dengan seorang perempuan dan tiga orang lainnya.
"Oh, rupanya dia yang bernama Aldara Stephanie Adijaya. Berani sekali kamu mengambil posisiku sebagai Nyonya Adijaya. Tidak ada yang boleh mengambilnya. Hanya aku! Hanya aku yang layak mendapat gelar Nyonya Adijaya itu." Sorot matanya menajam ke arah mereka berempat. Tangannya mengepal dengan sempurna.
"Kau yang memulai Aldara! Jadi jangan salahkan aku jika melakukan hal di luar nalar manusia. Kau belum tau seperti apa itu Lucy."
Lucy semakin menatap tajam saat melihat Dara yang memperhatikannya, setelah dia pergi begitu saja. Setidaknya dia mengetahui sosok wanita yang sudah merebut miliknya.
'Akan ku pastikan merebutnya, Aldara!'
TBC
.
.
.
.
__ADS_1