Menikah Dengan Pria M*esum (Suami Takut Istri)

Menikah Dengan Pria M*esum (Suami Takut Istri)
Mengamuk


__ADS_3

..."Tuhan, apakah aku memang berdosa jika menabok suamiku sendiri?" ~Aldara....


"Kenapa? Ada yang salah?" Dara bertanya saat melihat raut wajah aneh mereka semua, apalagi melihat mereka yang melongo. Apa ada yang salah dengan penampilannya?


"Berapa ronde semalam?" celetuk Damar tanpa sadar, sehingga membuat Dara terkejut.


"H—hah?" Dara menjadi salah tingkah sendiri. Bukannya apa-apa, tetapi semalam mereka tidak melakukan apa-apa. Apakah orang tuanya tau jika dia dan Nathan hanya sekedar tidur saja?


Rupanya Dara salah mengartikan pertanyaan papa-nya.


"Berapa ronde semalam? Apa Nathan ganas banget?" kekeh Damar. Damar tidak mampu membayangkan seganas apa permainan kedua pengantin baru tersebut sampai di leher putrinya memiliki banyak tanda, padahal dia dulu saat menikah tidak membuat tanda sebanyak itu.


"Papa apaan sih! Kepo banget!" ketus Dara yang kini semakin salah tingkah. Entah kenapa dia menjadi malu sendiri.


"Setidaknya kamu tutupi tanda itu sayang. Kamu nggak malu diliat orang-orang?" tanya Vania yang ikut merinding membayangi malam panas pengantin baru tersebut.


"Hah? Apa yang ditutupi Mah?" Dara mengerutkan keningnya, sangat bingung dengan maksud wanita yang kini sudah menjadi mertuanya tersebut.


"Itu ...." Vania menjadi malu sendiri, dia hanya memberikan gerakan tangan ke lehernya, berharap Dara mengerti maksud dirinya.


"Itu ... apa?" Dara tentu semakin tidak paham dengan maksud mertuanya itu. Kenapa tidak langsung to the poin saja!


"Itu ...."


"Kiss mark!" Sebelum Vania melanjutkan ucapannya, Daffa yang baru tiba langsung menyela ucapan Vania, sehingga membuat Vira dan Damar melotot. Ah, putranya itu memang tidak ada polos-polosnya sama sekali.


Berbeda dengan mereka, Dara tentu semakin dibuat bingung. "Kiss mark?" beo Dara.


"Bentar!" Vira segera membongkar tas kecilnya, lalu mengambil benda pipih, yaitu cermin. Untungnya dia selalu membawa cermin ke mana pun.


"Nih! Kamu liat sendiri leher kamu." Vira menyerahkan cermin tersebut dengan perasaan sedikit malu. Entahlah, kenapa malah dia yang merasa malu? Seharusnya kan putrinya.


Meski merasa bingung, Dara tetap mengambil benda pipih tersebut, lalu mulai mengangkatnya di depan leher.


Mata Dara melotot melihat tanda merah ke ungu-ungu'an yang sangat banyak di lehernya.


'Ta—tanda apa ini? Nggak mungkin 'kan bekas gigitan nyamuk?'


Dara berusaha mengingat-ingat. Sial! Dirinya bahkan tak ingat apa pun. Ya begitulah dia kalau tertidur, sudah seperti orang mati saja!


'Nathan .... Lo emang pantas untuk dicincang!' Dara berteriak frustasi di dalam hati.


"Nathan di mana, Dek?" tanya Dara dengan suara rendah.

__ADS_1


"Nggak tau. Tadi dia pamit sebentar ke luar," jawab Daffa apa adanya.


Dara berniat pergi mencari suaminya itu, tetapi baru saja dia melangkah, suara Nathan lebih dulu terdengar sehingga membuatnya mengurungkan diri, lalu berbalik dengan wajah biasa saja, tetapi tatapan biasa wanita itu mampu membuat Nathan merinding, hingga tanpa sadar ia terus meneguk salivanya dengan kasar.


"I—ini, saya belikan hoodie buat kamu," ucap Nathan dengan sedikit terbata-bata.


Dara tersenyum dengan sangat manis, tapi senyuman itu justru membuat Nathan semakin takut.


"Makasih Mas Nathan yang paling baik." Dara menerima hoodie tersebut dengan berbicara sangat lembut. Tetapi bukannya baper, Nathan justru dibuat semakin merinding. Tentu saja! Mengingat itu bukanlah sifat asli istrinya.


'Mati gue! Biasanya kalau cewek ngomong manis gini, maka dapat dipastikan besok kepala kita udah lepas.'


"Sa—sama-sama." Nathan menyahut dengan sedikit terbata-bata. Ah, bagaimana ceritanya suami yang takut dengan istri? Bukan 'kah terbalik?


Vira, Vania, Damar, dan Ardian terkekeh melihat kelucuan pengantin baru tersebut. Sepertinya mereka memang tidak salah menjodohkan kedua manusia tersebut.


"Makanya kalau main jangan ganas-ganas, Than!" sindir Damar pada menantunya tersebut.


"Biasa, Pah. Staminanya masih kuat, maklum masih muda," sahut Nathan yang sontak saja membuat Damar mendengus kesal, bisa-bisanya menantunya tersebut menyindir secara halus seperti itu.


"Yaudah ayok makan. Pasti kalian capek banget semalam," goda Vira. Semua yang ada di meja makan semakin gencar saja menggoda pengantin baru tersebut.


'Tunggu aja lo Than. Gue pastikan bakal buat lo jadi ayam geprek nanti!'


Mereka semua lalu makan bersama-sama, dengan keadaan yang hening, tidak ada satu pun yang berbicara, karena memang tidak memiliki topik yang tepat untuk dibicarakan.


"Ewnywak bwangwet!" ucap Dara dengan mulut yang penuh dengan nasi.


"Ingat, Dar! Entar tubuh kamu makin bahenol, lho. Nggak sekalian aja kamu makan meja ini?" bisik Natham tepat di samping telingga Dara.


"Urusan kita belum selesai!" sahut Dara setelah makanannya sudah tertelan.


'Masih ingat aja nih cewek pembohong, mana nggak setia lagi!'


"Kalian kapan honeymoon?" tanya Vira tiba-tiba, sehingga membuat Dara melotot, sementara Nathan justru tersenyum lebar.


"Maaf, Mah. Tapi Dara sibuk." Dara berusaha untuk menolak secara halus.


"Kamu tenang saja, sayang. Perusahaan akan Papah pegang sementara, jadi kalian bisa pergi bersenang-senang," sahut Damar dengan lembut.


Dara menatap suaminya, berharap dia mau membela ia kali ini agar tidak ada yang namanya honeymoon.


"Wani piro?" tanya Nathan berbisik.

__ADS_1


Dara yang jengkel langsung menginjak kaki suaminya sehingga membuat Nathan sontak melotot.


Nathan menatap istrinya, tetapi Dara hanya memberikan tatapan dinginnya.


"Ma—maaf, Pah, Mah. Tapi Nathan punya banyak pekerjaan yang nggak bisa ditinggalin gitu aja. Lagian 'kan belah durennya nggak harus ke Spanyol segala? Toh sama aja rasanya, main di tempat tetangga pun sama aja rasanya," ujar Nathan yang semakin tidak nyambung.


Mereka semua terkekeh mendengar ucapan Nathan yang sangat bar-bar tersebut.


"Yaudah, Mamah nggak bisa paksa kalau kayak gitu," sahut Vira dengan lembut.


"Yaudah, kalian siap-siap gih buat pindahan. Kami pamit duluan, soalnya ada tugas masing-masing yang harus segera dikerjakan," ucap Vania yang sejak tadi hanya diam.


"Oke, Mah, Pah. Hati-hati di jalan, ya!"


Melihat orang tua dan mertuanya yang sudah pergi, Dara langsung menatap tajam Nathan. Bahkan matanya hampir keluar.


Nathan sendiri hanya mampu cengengesan tidak jelas, lalu mengangkat dua jarinya pertanda ingin berdamai.


"Dar, itu apa?" Nathan menunjuk ke belakang Dara yang sontak saja membuat wanita itu menghadap belakang.


'KABOR!'


Dara tidak mendapati apa-apa di belakangnya. Dia lalu berbalik menatap Nathan. Tapi laki-laki itu justru sudah tidak ada di tempatnya, dan dapat dirinya lihat dengan jelas jika Nathan sedang berlari terbirit-birit.


"NATHAN SIALAN!" teriak Dara menggelegar.




TBC



.



.



.

__ADS_1



.


__ADS_2