
Nathan tidak bisa berbuat apa-apa, kini yang bisa dia lakukan hanya menangis di taman sendirian. Bagaimana caranya agar Leo mau memaafkannya? Dia tau jika apa yang sudah dia lakukan memang sangat keterlaluan. Lantas, apa yang bisa dia lakukan untuk menebus dosanya, sementara Leo sudah tidak mau menganggapnya sahabat. Wajar saja, jika dia yang berada di posisi Leo, maka dia juga mungkin akan membenci orang yang sudah membuatnya menderita! Tidak peduli siapa orang itu sekali pun.
Nathan bangkit berdiri, memilih untuk pulang saja, dan memberitahukan masalah ini pada istrinya, mungkin dengan cara itu dia dan istrinya bisa menemukan solusi bersama-sama apa yang seharusnya mereka lakukan.
"Maafin gue, Yo." Nathan memejamkan matanya, sepertinya penyesalannya kali ini tidak akan berarti apa-apa. Nasi sudah menjadi bubur.
Nathan segera pergi dari rumah sakit tersebut. Tak sedikit orang yang memandang iba Nathan karena berpikir mungkin keluarga laki-laki itu sedang dalam kondisi lemah. Semua itu mereka simpulkan karena melihat mata Nathan yang sembab dan terlihat masih ada air mata yang belum kering sepenuhnya.
Nathan berjalan cepat, tidak peduli dengan tanggapan orang-orang yang melihatnya.
Segera dia masuk ke dalam mobil, lalu melajukannya dengan kecepatan tinggi, tidak sabar ingin memberitahukan perihal ini pada istrinya. Di satu sisi dia bahagia karena bisa bertemu kembali dengan ayah dan sahabatnya, tetapi di sisi lain dia merasa sedih dan terpukul saat Leo yang sudah tidak menganggapnya sebagai sahabat lagi.
Arggh!!
Nathan hanya bisa berteriak frustasi di dalam mobil, lalu memukul setir mobil dengan kuat.
Tak berselang lama mobil masuk ke basement. Segera dia parkirkan mobilnya di sana. Nathan segera keluar dari dalam mobil, lalu sedikit berlari menuju kamar hotel di mana dia dan istrinya menginap.
Setelah sampai di depan pintu kamar hotelnya, dia segera menekan beberapa angka, lalu tidak lama kemudian pintu terbuka. Segera dia masuk dan mendapati istrinya yang sedang melamun di pinggir kasur.
"Dar, saya udah dapat informasi tentang Leo!" Langsung saja Nathan memberitahukan perihal Leo pada istrinya.
"Astagfhirullah!" Dara terkejut bukan main melihat keberadaan suaminya. Hampir saja dia berteriak karena berpikir itu adalah hantu yang menyerupai suaminya. "Salam, Than!" sambungnya dengan ketus sambil menatap tajam laki-laki itu.
Nathan terkekeh menyedari keteledorannya. Akibat terlalu excited ingin memberitahukan perihal Leo, dia malah lupa mengucap salam terlebih dahulu.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam," jawab Dara.
"Saya udah dapat informasi tentang Leo, Dar!" Nathan kembali mengulang ucapannya.
Dara nampak terkejut mendengarnya. "Seriusan? Di mana? Terus gimana kabarnya?" Dara terlihat bahagia mendengar kabar yang diberikan Nathan. Setidaknya suaminya itu sudah bertemu dengan sahabatnya sendiri.
"Me–mereka sengsara, Dar ..." lirih Nathan nyaris tak bersuara.
Dara mengerutkan keningnya. "Maksud lo? Hidup mereka baik-baik aja kan meskipun lo udah ngehancurin perusahaan mereka?" Dara bertanya untuk memastikan. Kini perasaannya mulai tidak enak, dia takutnya jika kehidupan Leo dan ayahnya justru jauh dari kata baik-baik saja.
Belum sempat Nathan menjawab, tiba-tiba Dara berteriak heboh. "ITU BIBIR LO KENAPA?"
Nathan sedikit meringis mendengar teriakkan istrinya yang sangat nyaring cetar membahana. "Habis ditonjok sama Leo," jawab Nathan yang sontak saja memegang sudut bibirnya yang sedikit robek tersebut.
"Hah? Kenapa Leo malah nonjok lo? Sebenarnya apa yang terjadi?" Dara justru dibuat bingung. Sebenarnya apa yang terjadi di antara suami dan sahabatnya itu?
__ADS_1
Nathan menghembuskan napas kasar. "Le–Leo sengsara, Dar. Leo menderita karena ulah saya. Ayah kena stroke." Nathan berkata dengan suara yang bergetar.
Dara yang mendengarnya bagai tersambar petir, tubuhnya mendadak saja lemas. Stroke? Apa dia tidak salah dengar barusan?
"Sa–saya jahat, Dar!" Nathan menggelengkan kepalanya dengan wajah frustasi.
"Tenangin diri lo, Than!" Dara justru dibuat panik melihat suaminya yang bertingkah layaknya orang yang sedang depresi. Dia tidak ingin suaminya kembali lemah, dan justru akan membuat trauma baru lagi.
"Kita ke rumah sakit sekarang!" ucap Dara penuh ketegasan.
Nathan mendongakkan kepalanya, menatap istrinya dengan ragu. Pergi ke rumah sakit? Apakah istrinya itu sanggup berjalan, sementara kondisinya seperti itu? Apalagi jalannya pun sedikit aneh.
"Kamu yakin?" tanya Nathan ragu.
Dara mengangguk mantap. Masalah ini harus diselesaikan dengan cepat. Entah hanya perasaannya saja atau bagaimana, tetapi dia merasa akan ada masalah besar yang terjadi ke depannya, tetapi dia tidak bisa memprediksinya begitu saja. Dia tidak ingin Leo menjadi benci dengan Nathan, dan justru berniat akan membalas dendam dengan menghancurkan rumah tangga mereka. Tidak! Dia tidak akan pernah membiarkan rumah tangganya hancur! Kini Nathan sudah menjadi miliknya, dan harus menjadi miliknya selama-lamanya.
Nathan tidak bisa berbuat apa-apa ketika istrinya sudah meminta dengan tegas. Dia mengangguk, lalu membantu istrinya yang sedikit susah berjalan. Untungnya pakaian Dara yang semalam sudah kering, jadi dia bisa menggunakannya.
Ketika mobil bergerak menuju rumah sakit Mitra Anda, tempat di mana ayah Leo dirawat, Nathan sedikit bingung melihat istrinya yang sejak tadi melamun, entah apa yang ada di pikirannya. Mungkinkah dia sangat khawatir dengan keadaan ayahnya Leo? Mungkin saja, karena Bima memang cukup dekat juga dengan Dara.
"Kita berdoa aja semoga semuaya baik-baik aja. Semoga kita bisa bujuk Leo nanti." Nathan mengenggam erat tangan istrinya. Meski dia terpukul saat ini, tetapi dia tidak ingin melihat istrinya yang terlihat sedang sedih seperti itu.
"Than, apa pun yang terjadi, jangan pernah tinggalin gue, ya!" Bukannya meng'amini ucapan suaminya barusan, Dara justru berceletuk yang sontak membuat Nathan bingung.
Dara hanya tersenyum tipis menatap mata suaminya. Ya, dia mendadak merasakan perasaan yang aneh. Perasaan yang dia sendiri tidak bisa jelaskan. Entah kenapa dia lebih dulu merasa sesak, padahal tidak ada yang terjadi. Dia memang khawatir dengan kondisi ayah Leo, pria yang sudah dia anggap seperti ayahnya sendiri. Tetapi perasaan kali ini berbeda.
Apakah dia akan menjadi wanita lemah di kedepannya?
Apakah akan ada banyak tetesan air mata nantinya?
Apakah dia mampu mempertahankan rumah tangganya?
Pikiran Dara berkecamuk. Selama ini dia tidak ada merasakan perasaan seperti ini. Tetapi kini?
'Tuhan, ku serahkan semuanya pada-Mu. Aku harap perasaan aneh ini hanya sebatas perasaan biasa saja. Aku percaya jika Engkau tidak mungkin memberikan cobaan melebihi kemampuan umat-Mu. Aku memohon pada-Mu, janganlah kiranya Engaku memisahkan kami berdua, karena kami sudah berjanji pada-Mu untuk hidup semati.' Dara berdoa dalam hati, berusaha untuk menormalkan perasaannya yang menjadi tidak karuan sejak dia memberikan tubuhnya pada Nathan semalam.
********
Leo kembali ke ruangan ayahnya sambil terus menyeka air matanya yang sejak tadi tidak mau berhenti keluar. Entah benar atau tidak keputusan yang dia ambil, tetapi dia masih belum bisa menerima fakta jika Nathan lah yang sudah membuat hidup dia dan ayahnya seperti ini.
'Kenapa harus lo sih, Than?' Leo berteriak frustasi dalam hati. Kenapa harus sahabatnya sendiri dari sekian banyak orang di dunia ini?
Leo masuk ke dalam ruangan ayahnya, tetapi kini pandangannya terlihat datar. Bima yang baru saja menutup mata langsung membuka matanya kembali, lalu tersenyum melihat kehadiran putranya.
__ADS_1
"Ke–kenapa?" tanya Bima.
"Kenapa? Yang seharusnya menanyakan itu aku. Kenapa, Yah? Kenapa Ayah menyimpan fakta besar ini?" lirih Leo menatap kecewa ayahnya.
Bima tersenyum lembut. "Ja–jangan pernah benci dengan Adikmu sendiri."
Napas Leo memburu mendengar ucapan ayahnya. "TAPI DIA YANG UDAH BUAT KITA MENDERITA, YAH!" Leo berteriak frustasi. Bagaimana mungkin ayahnya tidak membenci Nathan, padahal jika laki-laki itu tidak menganggu perusahaan ayahnya, maka hidup mereka tidak akan sehancur ini.
"Dan dia bukan Adikku!" sambung Leo penuh penekanan.
"Ti–tidak! Kamu sendiri yang mengatakan jika Nathan adalah Adikmu. Itu sebabnya Ayah tidak pernah membenci dia, karena dia Adikmu, yang berarti dia juga adalah Anak Ayah. Tidak baik seorang Kakak membenci Adiknya. Apalagi seorang Ayah membenci Anaknya." Bima berkata dengan lembut, sama sekali tidak menunjukkan jika dia kecewa.
Leo merasa tertohok mendengar ucapan ayahnya. Benar! Dia memang pernah mengatakan pada ayahnya jika dia sudah menganggap Nathan seperti adiknya sendiri, karena dia memang ingin memiliki seorang adik.
"Ta–tapi, Yah ...." Kini Leo tidak tau ingin berkata apa lagi.
"Nak, manusia berhak memiliki kesempatan kedua. Coba kamu ingat-ingat lagi apa yang sudah kamu lakukan sehingga membuat Nathan dendam dan melakukan semua ini tanpa berpikir panjang. Kamu jangan melihat dari sisi hidup kamu saja. Kamu bahkan tidak tahu seperti apa kehidupan Nathan. Yang terlihat baik-baik saja belum tentu benar-benar baik. Memaafkan memang bukanlah hal yang mudah, tetapi alangkah baiknya jika kita mau memaafkan sesama. Jangan pernah menyimpan dendam pada seseorang, apalagi dia adalah Adik kamu sendiri." Bima mulai memberikan nasihat bijak pada putranya yang terdiam mendengarkannya.
"Maafkan lah sesamamu, jangan sampai rasa dendam kamu justru menjadi boomerang untuk diri kamu sendiri. Kamu paham, kan?" Bima terus menasehati putranya dengan lembut, berharap putranya tersebut memahami maksudnya.
Sementara Leo terdiam mendengarkan setiap ucapan yang dilontarkan ayahnya. Apakah memang tidak seharusnya dia membenci Nathan yang sudah dia anggap seperti adiknya sendiri? Bukankah manusia memang memiliki kesempatan kedua?
'Apa gue salah membenci Nathan? Apakah gue seharusnya nggak membenci dia? Meski sakit mengetahui faktanya, tapi ... manusia memang memiliki kesempatan kedua, kan? Allah saja mau memaafkan kesalahan umat-Nya. Lantas, kenapa aku tidak mau?'
TBC
.
.
.
__ADS_1
.