
"NATHAN?!" Dara terkejut bukan main saat melihat Nathan yang terjatuh, meringkuk dan menyembunyikan wajahnya di antara kedua lututnya. Terlihat jika bahu laki-laki itu sedikit bergetar.
Ibu tadi yang baru saja menyelesaikan ucapannya nampak terlihat bingung melihat perubahan laki-laki yang ada di depannya. Awalnya dia berniat menawarkan bantuan, tetapi Dara dengan tegas menggeleng. Karena tidak tahu apa yang harus dilakukan, wanita paruh baya tersebut ijin pamit.
Dara segera melangkah mendekati suaminya saat melihat ibu tadi udah pergi.
"Than, lo nggak apa-apa, kan?" Dara berjongkok, lalu mengangkat kepala suaminya yang sedang menunduk tersebut. Terlihat jika wajah Nathan kini dipenuhi oleh air mata, bahkan laki-laki itu sedikit sesenggukan.
Nathan menggeleng, memberitahukan pada istrinya bahwa dia sedang tidak baik-baik saja. "Dar, sa–saya jahat! Sa–saya udah buat Om Bima dan Leo menderita!" Air mata Nathan semakin deras, dan terdengar isakan kecil yang semakin cepat. Mendengar jika kondisi ayahnya Leo tidak baik-baik saja tentu membuat Nathan terpukul. Apa yang sudah dia lakukan? Kenapa dia sampai tidak memikirkan jika hal ini mungkin saja terjadi? Ah, betapa bodohnya dia dulu!
Dara membawa laki-laki itu ke dalam pelukkannya. Nathan tidak menolak, dia membenamkan kepalanya di dalam dekapan istrinya. "Ini nggak sepenuhnya salah lo! Ini memang sudah garis takdir. Berhenti untuk menyalahkan diri lo. Sekarang yang harus lo lakuin adalah berusaha untuk memperbaiki semuanya." Dara berkata dengan lembut sambil tangannya mengelus punggung laki-laki itu dengan lembut. Tidak bisa dipungkiri jika dirinya sangat sedih melihat suaminya yang biasa dia kenal sangat ceria dan cerewet, kini terlihat seperti laki-laki yang lemah dan cengeng. Dirinya sangat takut jika apa yang terjadi sekarang ini akan menimbulkan trauma yang baru di dalam diri suaminya, mengingat kondisi laki-laki itu sedang tidak baik-baik saja.
"Ta–tapi jika saya nggak menghancurkan pe—"
Dara menangkup kedua pipi suaminya. "Ssstttt! Nggak perlu ngungkit itu lagi. Nangis nggak akan bisa membuat semuanya kembali seperti semula. Kamu masih mempunyai kesempatan untuk memperbaiki semuanya, jangan jadi laki-laki lemah! Karena Leo nggak akan suka ngeliat sahabat yang paling dia sayangi menjadi sosok yang lemah. Nathan yang Dara dan Leo kenal adalah sosok yang periang. Jadi, tolong jangan kayak gini!" Dara berbicara sangat lembut, perlahan senyum juga terbit di wajahnya. Kini dia juga sudah mengubah gaya bahasanya menjadi aku kamu.
Jujur saja! Dia sangat terpukul mendengar kondisi pria yang sudah dia anggap seperti ayahnya sendiri kini sedang tidak baik-baik saja, apalagi dia sama sekali tidak tahu keberadaan mereka.
Setelah Dara pindah, dia tetap menyimpan nomor Leo dengan baik, bahkan mereka cukup sering bertukar kabar. Tetapi beberapa minggu kemudian nomor Leo menjadi tidak aktif, sehingga dia memang tidak pernah tau kondisi dan kabar sahabatnya itu. Anehnya, dia justru tidak mempermasalahkan, karena ketika dia bertelponan dengan Leo, secara tanpa sadar ingatan kejadian yang terjadi antara dirinya dengan Nathan kembali terlintas, sehingga membuatnya tidak pernah lagi menghubungi Leo, bahkan hanya menjawab singkat pesan laki-laki itu ketika Leo menanyakan kabarnya dan kabar hubungannya dengan Nathan. Mungkin Leo sadar jika dirinya sedikit menghindari, sehingga laki-laki itu memutuskan untuk berhenti menghubungi dirinya.
Nathan tidak tahu hendak berkata apa lagi. Rasa sesak yang teramat membuatnya sulit untuk berbicara. Dia hanya mampu membenamkan kepalanya di dalam pelukkan istrinya.
"Jangan kayak gini, Than! Aku mohon," Dara berbisik dengan lirih.
Seketika Nathan merasa bersalah pada istrinya, karena sudah membuat wanita itu ikut merasa sedih, padahal dia sudah berjanji akan selalu membuat Dara tertawa, setidaknya tidak membuat wanita itu menangis.
Segera Nathan melepaskan pelukkan mereka, lalu dengan cepat menghapus air matanya yang belepotan di area wajahnya.
"Saya nggak cengeng lho, Dar!" celetuk Nathan yang membuat Dara bingung, karena dia tidak mengatakan jika laki-laki itu cengeng, lalu kenapa Nathan malah membela dirinya? Tetapi sedetik kemudian Dara paham.
"Cih ... Terus yang keluar dari mata lo itu apa? Berlian?" Dara menyahut dengan ketus, lebih tepatnya pura-pura ketus untuk mengembalikan sifat suaminya.
"Enggak! Tadi itu saya kelilipan," dalih Nathan yang langsung mendapat tatapan tidak suka dari Dara.
"Huhuhu!" Dara segera menangis, lalu menekukkan lututnya dan menangis lebay di antara kedua lututnya.
Nathan mengerjab-ngerjabkan matanya lucu melihat tingkah istrinya. Ah, dia seketika malu, ternyata istrinya tersebut sedang mengejek dirinya.
'Pengen ngilang aja dari dunia ini!' pekik Nathan dalam hati.
"Jangan gitu, Dar! Saya malu! Entar saya nekad lho perk*sa kamu karena saking malunya," ucap Nathan asal. Sejenak dia melupakan perihal Leo, mungkin besok dia akan mulai mencari laki-laki itu, bahkan jika perlu ke ujung dunia sekalipun dia sanggup!
__ADS_1
"Ckk ... Nyempat-nyempat aja lo ngebahas belah duren!" ketus Dara yang kini mulai kesal, tidak bercanda lagi.
"Lho? Saya nggak ada ngebahas tentang belah duren, ya! Beda, Dar! Kalau belah duren itu semacam durennya dibelah, tapi kalau diperk*sa itu semacam nikmat nggak nikmat, tetap nikmati aja kata orang." Nathan semakin berbicara ngawur, mengabaikan tatapan tajam istrinya.
"Kenapa? Kamu mau belah duren sekarang, ya? Yaudah ayok! Kita belahnya di sini aja, mumpung sepi! Mana durennya?" Nathan mengajak istrinya dengan antusias.
"Lho kenapa m*esum banget sih, Than?" Dara benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikiran suaminya tersebut. Sepertinya di dalam otak laki-laki itu hanya ada belah duren, belah duren, dan belah duren saja!
Tetapi meski pun demikian, Dara merasa sedikit tenang melihat suaminya yang perlahan membaik dan tenang, padahal dia sudah sangat takut sekali tadi, takut trauma Nathan bertambah.
"Saya nggak m*esum, Dar! Itu hanya bentuk apa ya? Bentuk kesetiaan saya untuk wanita pembohong, mana nggak setia lagi kayak kamu!" jawab Nathan yang sama sekali tidak nyambung dengan pertanyaan Dara.
"Ckk ... Bukannya semua udah jelas? Kenapa lo masih aja bilang kalau gue wanita pembohong, mana nggak setia lagi!" Dara menjadi jengkel sendiri. Bukankah semuanya sudah jelas? Tapi kenapa suaminya masih saja mengatakan dia dengan kalimat sialan tersebut?
"Nggak apa-apa, itu udah kalimat permanent untuk kamu," sahut Nathan santai, tanpa merasa bersalah sedikit pun.
"Sekarang saya persilahkan Anda untuk menangis sejadi-jadinya Tuan Adijaya! Silahkan, saya siap mendengarnya." Dara berkata dengan suara dan gaya formal, tetapi justru membuat Nathan jengkel.
"Sialan nih istri sah!" Nathan memanyunkan bibirnya, sehingga membuat Dara gemes, rasanya ingin sekali dia memukul bibir yang lagi doer tersebut!
"Udah buruan! Kita pergi!" Dara segera beranjak, tetapi Nathan masih diam di tempat, sama sekali tidak bergeming.
"Kenapa lo diam aja! Buruan!" Dara membentak suaminya yang terdiam tersebut.
"Ckk ... Lo pikir kita bakal pulang? Yang waras aja lo! Kita nginap di hotel aja!" Ya, tidak mungkin rasanya mereka pulang, sementara dirinya merasa sangat lelah, jadi lebih baik mereka menginap di hotel saja untuk malam ini.
Nathan tersenyum nakal mendengar kata hotel, kini di pikirannya dipenuhi dengan hal-hal negatif. Itu semua tentu tidak luput dari pandangan Dara. Ah, dia sangat tahu sekali apa yang ada di pikiran suaminya itu! Dasar otak m*esum!
Seakan tahu apa yang ada di pikiran suaminya, Dara lantas berkata, "Lo nggak usah mikir yang macem-macem! Kita cuman tidur doang di hotel!"
"Lah? Kamu cuman mau tidur doang di hotel? Nggak ada niat pengen jungkir balik atau salto gitu nanti sana," ucap Nathan polos.
"Ckk ... Lo jangan suka buat gue ngamuk, Than!"
Dara segera masuk ke dalam mobil, sementara Nathan masih diam membisu di tempatnya. Dara hanya bisa berteriak frustasi di dalam mobil, saat melihat suaminya yang nampak seperti orang tidak waras saja. Segera dia keluar dari dalam mobil, lalu membanting pintu dengan cukup kuat.
"Lo dengar nggak sih, Than?" pekik Dara menatap jengkel suaminya.
"Kita ke hotel?" Alih-alih menjawab, Nathan justru balik bertanya.
"Iya!"
__ADS_1
"Tapi Dar ... Nginap di hotel itu biayanya mahal! Gimana kalau kita tidur di sini aja? Lagian itu ada kardus buat lapiknya. Kita harus hemat, Dar! Biaya nginap di hotel itu setara dengan lima panci cilok." Nathan menawarkan dengan wajah yang serius.
Dara menatap suaminya dengan pandangan datar, dingin, dan menusuk, sehingga membuat Nathan merinding melihat tatapan istrinya.
"Yaudah ayok kita ke hotel!" Dengan cepat Nathan segera bangkit, lalu cengengesan tidak jelas di hadapan istrinya.
'Ingat, Than! Ini udah malem! Jangan sampai istri lo berubah! Iya, kalau jadi babi ngepet, bisa disuruh buat keliling, terus lo yang jaga lilin ,tapi kalau dia ternyata berubah jadi kuntilanak? Habis lo! Mana wujud manusianya aja syadis, apalagi kalau jadi hihihi!'
Dara masih tidak mengeluarkan suara, dia terus menatap tajam suaminya, sampai laki-laki masuk ke dalam mobil. Segera Dara ikut masuk dengan tatapan dinginnya.
Melihat istrinya yang sudah masuk, Nathan bersiap untuk menyalakan mobilnya, tetapi sebelum itu dia menatap istrinya kembali.
"Ini Dara, kan?" Nathan bertanya dengan hati-hati, memastikan jika yang ada di sampingnya tersebut memang istrinya, bukan arwah lain yang sedang memasuki tubuh wanita itu.
"Yaiyalah! Emang lo mikirnya siapa?"
"Kuntilanak," jawab Nathan keceplosan.
"NATHAN!"
"Iya, iya! Astagfhirullah, Bini ku kenapa syadis banget sih?!" Nathan segera melajukan mobilnya menuju salah satu hotel yang ada di kota tersebut. Untungnya dia masih hafal dengan jalan yang ada di kota tempat kelahirannya.
TBC
.
.
.
__ADS_1
.