Menikah Dengan Pria M*esum (Suami Takut Istri)

Menikah Dengan Pria M*esum (Suami Takut Istri)
Maaf, Kelepasan


__ADS_3

Begitu foto itu dibalik, Dara terdiam saat melihatnya. Senyum kecil terbit di wajahnya. Foto itu adalah foto dirinya dengan Nathan semasa SMA dulu, apalagi gayanya yang sedikit bad girl. Dia tidak menyangka jika Nathan masih menyimpan foto tersebut, bahkan meletakkannya di dalam laci meja kerjanya. Dia pikir Nathan sangat membencinya dan sudah melupakan dirinya sejak kesalahpahaman itu terjadi. Tetapi rupanya laki-laki itu masih mencintainya, dan masih belum bisa melupakannya.


"Kalau emang cinta, kenapa harus pakai acara salah paham segala? Apalagi dia nggak mau mendengar penjelasan gue terlebih dahulu! Jadi gini kan!" Dara menggerutu, lalu mengambil foto tersebut serta obat merah.


Dara duduk di sebelah Nathan, lalu menangkup kedua pipi Nathan agar menghadap ke arahnya. Nathan hanya pasrah saja. Ingin melawan, tapi dia juga memang ingin diperhatii oleh wanita itu.


Dara meneteskan obat merah tersebut di atas kapas, lalu dengan perlahan menekankannya pada bibir Nathan tersebut. Nathan sendiri hanya diam sambil memandang wajah cantik istrinya.


'Pengen nyium, tapi masih sayang sama nyawa'


"Aduh ... duh!" Nathan meringis. Sontak saja Dara menghentikan kegiatannya.


"Kenapa? Sakit, ya?" tanya Dara dengan sedikit panik.


"Enggak! Enak, Dar!" jawab Nathan polos.


Dara yang kesal langsung menekankan kapas tersebut dengan kuat, sehingga membuat Nathan langsung meringis kesakitan.


"Astaghfirullah, sakit, Dar!" Nathan meringis. Dara benar-benar menekan luka tersebut dengan cukup kuat.


"Lagian lo nyebelin banget! Udah tua juga, tapi kelakuan kayak anak SD aja!" ketus Dara tanpa rasa bersalah sedikit pun.


"Dih ... kata siapa? Muka saya ini ganteng, Dar! Kalau ada orang yang nggak kenal sama saya, dan saya ngasih tebakkan berapa umur saya, pasti mereka jawab sweet seventeen. Orang muka saya menggemaskan, emang kayak kamu, umur doang yang baru 26 tahun, tapi muka udah kayak perempuan 40 tahunan!" celoteh Nathan yang langsung mendapat cubitan dari Dara.


Nathan meringis kesakitan, sekian lama dia tidak mendapatkan KDRT dari istrinya, kini sepertinya istrinya mulai beraksi kembali.


"Sakit, Dar! Tobat napa! Jangan KDRT mulu," ketus Nathan sambil mengusap perutnya yang habis dicubit oleh Dara.


Dara mengangkat bahunya acuh, lalu kembali mengobati luka yang ada di sudut bibir Nathan secara perlahan. Dara mencondongkan wajahnya, lalu meniup lembut bibir Nathan.


Nathan sendiri langsung menelan salivanya dengan kasar saat aroma napas wanita itu yang menerpa wajahnya. Melihat posisi mereka yang seperti ini membuat Nathan rasanya ingin mengecup benda kenyal yang ada di depannya.


Cuppp


Nathan tidak mampu lagi menahan dirinya, sehingga dia langsung mengecup singkat bibir Dara.


"Hehe, maaf kelepasan," kekeh Nathan tanpa rasa bersalah sedikit pun. Tentu saja! Memangnya kenapa dia harus merasa bersalah? Toh udah halal juga. Selama ini dia tidak pernah meminta haknya karena dia menghargai Dara yang masih belum siap. Dia ingin bercinta atas keinginan mereka berdua, atas dasar saling cinta, bukan karena terpaksa, apalagi terpaksa karena itu adalah kewajibannya sebagai istri. Tidak! Nathan bukanlah laki-laki seperti itu. Meski pun dia adalah laki-laki normal, dan tentu saja menginginkan apa yang sering dilakukan oleh suami istri, apalagi umurnya sekarang tidaklah muda lagi. Jadi, wajar jika dia sangat menginginkan berhubungan badan. Tetapi, dia tidak memaksa Dara untuk melakukannya, padahal mudah saja bagi dia untuk bisa mendapatkan haknya. Dia tidak mau memaksakan kehendak, karena jika dia memaksa dara, sama saja dia hanya mencintai tubuh Dara, dan mungkin wanita itu juga menganggap hal yang sama.


Sementara Dara, tubuhnya bagaikan tersengat listrik akibat kecupan lembut yang diberikan Nathan. Seketika jantungnya berdetak dua kali lebih kencang.

__ADS_1


'Astaga, apa yang terjadi sama jantung gue?'


"Ckk ... kebiasan nih laki, suka banget nyari kesempatan dalam kesempitan!" gerutu Dara, tetapi dia tidak benar-benar marah. Nathan sendiri hanya cengengesan tidak jelas mendengar gerutuan istrinya.


Dara segera membereskan barang-barang yang baru saja dia pakai untuk mengobati luka Nathan. Sementara Nathan hanya diam, terus menatap istrinya yang mondar mandir, mungkin ingin mengembalikan obat yang baru saja dia gunakan ke tempat semula.


"Padahal nih bibir bisa langsung sembuh lho, Dar!" celetuk Nathan dengan suara yang dinyaring-nyaringkan, agar istrinya mendengar.


"Emangnya pakai apa?" tanya Dara santai, dia tahu jika ada maksud tersembunyi dari perkataan suaminya, dan dia mengikutinya saja.


"Pakai bibir kamu! Beuh ... pasti langsung sembuh, Dar! Ini aja separo sembuhnya karena habis cium kamu tadi! Coba kalau sampai mel*mat, udah pasti jrengg, langsung sembuh!" Nathan berkata dengan sangat antusias, sementara Dara hanya mampu memutar matanya malas. Perkataan suaminya ini memang tidak pernah jauh dari hal-hal negatif.


"SEAN!" Tiba-tiba Nathan berteriak memanggil sekretarisnya dengan suara yang cukup nyaring, membuat Dara mengelus dadanya. Untung dia tidak memiliki penyakit jantung, kalau punya, sudah tentu akan jantungan sekarang.


Sean yang sedang mengobrol dengan salah satu karyawan sedikit terlonjak kaget mendengar pekikkan Nathan yang memanggil namanya. Ah, mengganggu saja! Padahal dia sedang PDKT dengan karyawan yang baru dilihatnya itu. Dengan cepat Sean berlari masuk ke dalam ruangan bosnya.


"Ada apa?" tanya Sean ketus, karena dia tahu jika Nathan tidak mungkin berbicara formal, mengingat masih ada istrinya di ruangan tersebut. Dari segi pandangannya, Nathan sepertinya tidak mungkin menunjukkan sifat tegasnya di hadapan istrinya, entah apa alasannya, tetapi dia dapat melihat jika bosnya tersebut benar-benar mencintai istrinya. Mungkin memang seperti itulah cara Nathan menunjukkan rasa cintanya, secara semua orang memiliki cara tersendiri untuk menunjukan rasa cinta mereka. Ada yang bucin, ada yang bersikap bodo amat, tetapi aslinya sangat mencintai, ada yang posesif, dan ada juga yang bertingkah humoris, salah satunya Nathan.


"Kamu lapar nggak?" tanya Nathan, membuat kening Sean mengerut. Ah, sudah pasti ada saja ulah bosnya ini lagi.


"Lapar sih enggak, tapi kalau emang ada makanannya, bolehlah," jawab Sean sambil cengengesan tidak jelas. Dia memang sudah makan di kantin tadi, tetapi jika bosnya tersebut menawarkan makanan, tentu saja dia tidak akan menolak, kan rejeki.


Mata Sean berbinar, sepertinya bosnya itu tidak sedang bercanda, tetapi benar-benar bersikap baik, mungkin karena ada istrinya. Tanpa basa-basi Sean segera mendaratkan bokongnya di atas sofa, lalu segera membuka rantang tersebut. Dara sendiri sebenarnya bingung, untuk apa suaminya menawarkan makanan yang sudah habis?


Sean melongo saat melihat rantang tersebut yang kosong, padahal dia sudah berharap sekali jika bosnya benar-benar serius menawarkan dia makanan.


"Tuan Bos yang terhormat! Ini maksudnya gimana ya? Ini apa yang mau dimakan? Orang kosong begini! Kalau nawar itu serius dikit napa, Bos! Saya udah berharap banget lho tadi!" ketus Sean, bisa-bisanya bosnya tersebut menipunya.


"Oh, udah kosong, ya? Perasaan tadi masih banyak deh pas saya belum makan," sahut Nathan dengan polos.


Sean hanya mampu mengepalkan tangannya, berusaha untuk tidak mengamuk di hadapan Nathan, apalagi Dara.


"Ya jelaslah masih banyak, kan belum dimakan!" ucap Sean yang sudah merasa gemes dengan tingkah bosnya tersebut. Seharusnya dia sudah mengantipasi bahwa ini mungkin saja terjadi Tetapi percayalah, meski pun demikian, rasa kesalnya ini tidak dibuat-buat, ini semua murni!


"Ya kamunya juga jangan terlalu berharap, karena berharap itu sakit, cukup saya aja yang ngerasain, apalagi dulu saya pernah berharap sama cewek pembohong, mana nggak setia lagi!" ucap Nathan bergaya lebai. Sean yang melihatnya merasa jijik, apalagi saat mengingat sifat tegas Nathan yang sebenarnya. Dara? dia diam saja menyaksikan perdebatan antara sekretaris dan bos, sama sekali tidak merasa tersinggung, toh sudah biasa juga.


"Yaudah kamu makan arwah nasi sama lauknya aja," ucap Nathan dengan antusias.


"Lo pikir gue hantu apa?" ketus Sean yang langsung mengubah gaya bahasanya menjadi 'gue' karena saking kesalnya.

__ADS_1


"Lah? Emang mirip, kan?" celetuk Nathan yang langsung mendapat pelototan dari Sean. Bagaimana mungkin ada hantu seganteng dia?


"Yaudah, yaudah. Mumpung saya orangnya baik. Jadi saya bakal ngasih uang buat makan siang kamu." Nathan mengeluarkan dompet miliknya. Meski pun dia tahu jika sekretarisnya tersebut sudah makan siang, tetapi dia hanya bercanda saja.


Nathan lalu mengeluarkan uang 2.000, lalu menyerahkannya pada Sean.


Lagi dan lagi Sean dibuat melonggo. Dua ribu? Cukup apa memangnya?


"Dua ribu cukup apa, Bos?" geram Sean.


"Eits, jangan salah! Dengan uang dua ribu, kamu sudah bisa mendapatkan dua tusuk cilok? Kalau masih kurang, makan aja dua butir cilok yang ada di dalam celanamu itu," jawab Nathan dengan gamblang, bahkan kini dia mengangkat uang tersebut seperti sedang mengiklankan produk.


Sean hanya mampu menarik napas dalam, lalu menghembuskannya secara perlahan. Sean menatap Dara yang langsung membuat Dara mengerutkan keningnya, seolah bertanya 'kenapa?'


"Maaf, Bu Dara. Tetapi setelah saya lihat, sepertinya suami Ibu ada sedikit masalah, terlihat seperti ada yang bermasalah di otaknya. Saya menyarankan Ibu untuk segera membawanya ke rumah sakit jiwa, sebelum terlambat. Selama saya hidup, saya tidak pernah menemukan orang waras seperti Pak Nathan. Mohon kiranya Ibu pertimbangkan dengan baik ucapan saya," ucap Sean dengan formal. Sedikit membungkukkan badannya, lalu segera pergi dari ruangan tersebut tanpa mengucap salam terlebih dahulu.


"SIALAN NIH SEKRETARIS! SAYA POTONG T*TIT KAMU BARU TAHU RASA!" teriak Nathan menggelegar.




TBC



.



.



.



.

__ADS_1


__ADS_2