
..."Kenapa aku bersikap seperti ini? Simple saja, karena aku sangat mencintai wanita itu, dan aku punya cara tersendiri untuk menunjukkannya!" ~Nathan...
"Shhh!" Nathan meringis merasakan kepalanya yang sakit. Perlahan matanya terbuka, dia mengerjab-ngerjabkan matanya, berusaha menormalkan cahaya yang masuk ke matanya.
Kening Nathan mengerut saat melihat ruangan yang asing di matanya. Di mana dia sekarang? Pikir Nathan.
Ceklek ....
Pintu terbuka dan menampilkan sosok Sean.
"Anda sudah sadar, Tuan?" tanya Sean yang perlahan mendekati Nathan.
"Gue di mana, Yan?" Nathan bertanya sambil memegang kepalanya yang masih terasa sakit.
"Lo di rumah sakit. Tadi lo pingsan," jawab Sean singkat. Mendengar bosnya yang berkata dengan bahasa santai, Sean ikut menyahutinya dengan bahasa santai juga.
Nathan terdiam, kembali mengingat apa yang terjadi dengan dirinya tadi.
"Sial!" Nathan menggeram marah saat mengingat dia yang menangis tadi. Kenapa ini masih terjadi pada dirinya?
'Argg, kenapa gue bisa selemah ini!' Nathan berteriak frustasi di dalam hati. Padahal sudah lama dia tidak pernah depresi, mungkin hampir setahun ini, tetapi kenapa mendengar penjelasan sekretarisnya tadi membuatnya ketakutan, lemas, dan kembali mengingat kejadian itu.
"Lo nggak apa-apa?" tanya Sean dengan hati-hati saat melihat bosnya yang kembali memukul kepalanya sendiri.
"He'em ...." Nathan hanya berdehem saja. Apakah sekretarisnya tersebut sudah tahu kondisinya?
"Kalau lo butuh teman curhat, gue siap kok, Than! Gue udah anggap lo lebih dari sahabat!" ucap Sean menepuk pelan bahu Nathan, memberi semangat pada laki-laki itu.
"Lo suka sama gue?" tanya Nathan yang tak bisa menutupi rasa terkejutnya. Lebih dari sahabat? Gila saja, dia masih suka lobang!
Sean berdecak kesal. "Nggak gitu juga konsepnya, Bos! Maksud gue, gue udah anggap lo seperti keluarga gue!" Sean memperjelas ucapannya. Sorry saja, dia juga masih normal.
Nathan terkekeh tidak jelas. "Udah, gue nggak apa-apa, kok. Untuk kejadian yang tadi, lo lupain aja!" Nathan menjadi malu sendiri. Demi apa, orang lain sudah mengetahui sisi lemahnya, apalagi tadi dia menangis. Memalukan!
"Lo ... depresi kenapa?" Akhirnya Sean memberanikan diri bertanya, meski pun dia tahu pertanyaan itu terdengar sedikit tidak sopan, terlalu ingin tahu privasi orang lain!
Nathan terdiam sebentar, lalu cengengesan tidak jelas seperti biasanya. "Dokter bilang apa?" Alih-alih menjawab pertanyaan sekretarisnya, Nathan malah ikut melontarkan pertanyaan.
"Pas gue bilang apa yang terjadi sama lo sebelum pingsan, Dokter bilang kalau kemungkinan besar lo depresi, mungkin karena trauma dengan sesuatu, dan Dokter menyarankan lo supaya pergi ke psikolog," jawab Sean yang membuat Nathan hanya mampu menghembuskan napas kasar. Depresi? Entahlah, dia sendiri bingung kenapa sampai saat ini dia masih saja depresi, padahal wanita itu sudah menjadi miliknya sekarang.
"Tadi gue udah berusaha menghubungi istri lo, tapi—"
"Dia jawab apa?" Sebelum Sean menyelesaikan ucapannya, Nathan lebih dahulu memotong. Nathan terlihat sangat panik, jangan sampai istrinya tau penyakitnya! Tidak, dia tidak mau kelihatan lemah!
Selama ini yang tahu dengan penyakitnya hanya sepupu, paman, dan bibi-nya yang berada di luar negeri. Bahkan orang tuanya sendiri tidak tahu apa yang sudah terjadi dengan putra mereka. Nathan sudah melarang mereka untuk memberitahukan orang tuanya, dia sudah meminta tolong untuk jangan diberitahukan.
Nathan benar-benar depresi hampir setahunan setelah kejadian itu terjadi. Sebulan setelah kejadian itu dia memang memutuskan untuk pergi ke negri Paman Sam, dia bahkan sudah memutuskan Dara tanpa alasan yang jelas, hanya kata "KALIAN PENGKHIANAT!" yang dia ucapkan saat itu.
Dara sendiri awalnya bingung, hingga dia sering menangis sendirian di kamar. Dia pikir Nathan sudah tidak mencintainya. Tetapi tiba-tiba ada seorang siswa yang memberitahukan Dara bahwa dia sempat melihat Nathan menangis dan lari setelah melihat dirinya dan Leo berpelukan. Dara sadar jika ada kesalahpahaman, hingga akhirnya dia berusaha untuk menghubungi laki-laki itu, tetapi sayangnya Nathan sudah tidak bisa dihubungi lagi.
Dara sampai nekat datang ke rumah orang tua Nathan, dan menanyakan di mana Nathan sekarang. Mendengar orang tua Nathan yang mengatakan jika Nathan pergi ke luar negri untuk melanjutkan pendidikan membuat Dara langsung sedih sekaligus kecewa dengan laki-laki itu. Padahal mereka sudah berjanji akan pergi melanjutkan pendidikan bersama-sama, tetapi Nathan bahkan pergi ke luar negri yang bukan mereka sepakati dari awal.
Sejak saat itu Dara membenci yang namanya cinta. Dia sangat kecewa dengan sikap Nathan yang terlalu cepat menyimpulkan semuanya tanpa mau mendengarkan penjelasannya terlebih dahulu. Dari situ Dara berpikir "Untuk apa menjalin hubungan tanpa rasa percaya di kedua pelah pihak."
Jangan salah, semasa Dara kuliah, banyak laki-laki yang berusaha mendekatinya, bahkan secara terang-terangan menyatakan cinta padanya. Tetapi Dara tetap pada pendiriannya, dan tetap kekeuh tidak mau menjalin hubungan dengan laki-laki mana pun. Apa yang sudah terjadi dikehidupannya membuatnya malas menjalin hubungan percintaan kembali. Cukup Nathan yang membuatnya kecewa! Dia tidak ingin kembali dibuat kecewa oleh yang namanya CINTA!
"Nggak diangkat! Gue udah coba hubungi berkali-kali, tapi tetap nggak diangkat, mungkin dia lagi sibuk." Sean melanjutkan ucapannya yang sempat terpotong tadi.
Nathan menghembuskan napas lega. Setidaknya istrinya masih belum tahu.
"Sean! Ingat, jangan pernah mengatakan tentang kondisi saya pada Dara! Jangan pernah!" Nathan menekankan setiap katanya.
"Kenapa?" Sean bertanya karena masih penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi, sehingga membuat laki-laki itu tidak mau istrinya sampai tahu.
"Tidak semuanya kau harus tau sekretaris Sean!" tegas Nathan.
"Ba–baik, Tuan!" Mendengar sahabat sekaligus sahabatnya tersebut memanggil dia dengan panggilan sekretaris Sean membuat Sean seketika gelisah, sepertinya dia terlalu ikut campur sampai terus menanyakan sesuatu yang tak seharusnya dia tanyakan.
__ADS_1
Drttt ... drttt
Tiba-tiba handphone Sean berdering pertanda ada yang menghubunginya, dan terpampanglah di layar tersebut nama Aldara.
"Tu–tuan, Nona Dara menghubungi saya?" Sean menjadi panik saat Dara menghubunginya, pasti perempuan itu ingin menanyakan kenapa dia menelpon tadi.
"Angkat saja!" sahut Nathan dengan tenang.
"Baik!"
Sean mengangkat panggilan tersebut.
"Halo Sean. Kenapa kau menghubungiku?" tanya Dara di seberang sana. Benarkan? Sesuai sekali dengan tebakkannya!
"Ah, itu ... tadi saya tidak sengaja menekannya, Nona!" Sean menjawab pertanyaan wanita itu dengan jawaban konyol. Jelas saja! Mana mungkin tidak sengaja tertekan hingga berulang kali.
"Tidak sengaja tertekan? Kayaknya nggak mungkin, kenapa sampai sepuluh kali lebih tertekannya?" Dara tentu tidak percaya dengan alasan laki-laki itu.
Sean kelihatan kelabakan, dia menatap Nathan, berusaha meminta bantuan laki-laki itu untuk mencari alasan.
"Sini handphone-nya!" Nathan mengambil handphone tersebut saat Sean menyodorkan benda pipih tersebut.
Nathan menghembuskan napas secara perlahan. "Halo, Bini! Gimana? Udah masak belum? Tadi saya yang nelpon kamu pakai handphone Sean, kan sayang kalau pakai handphone saya, entar habis pulsa lagi, tau sendirikan kalau pulsa sekarang lagi mahal." Ah, Nathan sangat pandai mencari alasan, dan Sean benar-benar dibuat takjub melihat perubahan sikap bosnya tersebut.
"Saya telpon berkali-kali kenapa nggak diangkat?" ketus Nathan pura-pura kesal.
"Ckk ... gue habis mandi!" jawab Dara dengan malas.
"Dih ... ini nggak lagi ngode, kan? Udah nggak sabar ya pengen belah durennya? Sabar, ya! Saya lagi bantuin belah duren punya tetangga nih," sahut Nathan yang mulai ngawur. Nathan memang tidak pernah kehabisan ide jika berbicara dengan istrinya.
"He'em ...."
"Oh iya, kamu udah bersihin rumah, kan? Ingat ya! Harus sampai encok!" Nathan mengubah suaranya menjadi serius.
"GILA LO! LO PIKIR GUE—"
"Enggak kok, Dar! Saya nggak nganggep kamu sebagai pembantu kok, cuman istri rasa pembantu aja."
Setelah mengatakan itu, Nathan langsung mematikan panggilan tersebut. Laki-laki itu terus tertawa tidak jelas. Ah, dia memang selalu merasa terhibur dan bahagia saat istrinya tersebut marah apalagi ngamuk.
Sadar jika dia sedang diperhatikan oleh Sean, Nathan segera berhenti tertawa.
"Ekhem ... kita pergi sekarang! Saya ingin segera bertemu dengan ba***gan itu! Di mana dia sekarang?" Nathan menatap tajam Sean.
"Dia di ruang bawah tanah, Tuan." Sean menjawab dengan tegas. Alvian memang sudah dibawa ke ruang bawah tanah, dan dia ikat di sana.
"Bagus! Kita berangkat sekarang! Laki-laki seperti dia memang tidak layak untuk hidup!" Nathan menatap tajam ke arah depan. Sorot matanya memancarkan kebencian.
"Tapi ...." Melihat kondisi bosnya yang seperti ini membuat Sean tidak tega.
"TIDAK ADA TAPI-TAPIAN!" bentak Nathan tanpa sadar.
"Ba–ba–baik, Tuan!" Mendengar bentakan laki-laki itu, Sean sontak mengiyakan saja, dari pada nyawanya yang terancam, kan?
Nathan dan Sean segera pergi dari rumah sakit tersebut menuju perusahaan. Ya, sebenarnya perusahaan Nathan memiliki ruang bawah tanah, tetapi tidak banyak yang tau, hanya dia dan Sean saja.
Sebenarnya siapa Nathan ini? Apakah dia orang yang berbahaya?
Tak berselang lama mobil sampai di perusahaan ADJ Company. Segera Nathan dan Sean keluar dan masuk ke dalam perusahaan itu dengan aura masing-masing.
Tatapan tajam Nathan membuat para karyawan tidak ada yang berani menyapa atau bahkan sekedar menatap. Terlalu mengerikan!
Nathan dan Sean memasuki ruang rahasia, lalu menuruni tangga menuju ruang bawah tanah.
Nathan menatap datar orang yang sedang tidak sadarkan diri di depannya.
"Bangunkan dia!" perintah Nathan yang langsung diangguki oleh Sean.
__ADS_1
Sean segera mengambil se'ember air dingin yang kebetulan memang selalu ada di ruangan tersebut, lalu menyiramnya secara kasar ke arah Alvian.
"DINGIN!" Alvian berteriak saat merasakan rasa dingin yang menusuk di kulitnya.
"DIAM!" bentak Nathan dengan suara yang sangat tegas.
Baik Alvian mau pun Sean sama-sama terdiam mendengar suara mengerikan Nathan.
"Tu–Tuan Nathan ...." Alvian meneguk salivanya dengan kasar saat melihat keberadaan bosnya. Ah, sepertinya perbuatan busuknya sudah ketahuan.
"Siapa Anda? Atas dasar apa Anda sampai berani bermain di perusahaan saya?" Nathan bertanya dengan suara dingin dan menusuk.
"Tu–Tuan, tidak seperti itu ...."
"Selingkuh? Berkhianat? Cih ... laki-laki macam apa Anda yang berselingkuh, sementara istri Anda sedang mengandung darah daging Anda sendiri! KENAPA ANDA SANGAT BR***SEK HAH!" Nathan berteriak dengan sangat nyaring. Mendengar ada yang berkhianat di perusahaannya memang membuat ia marah, tetapi mendengar kata pengkhianatan jauh membuat dia lebih murka.
Ternyata semua informasi tentangnya sudah diketahui oleh Nathan. Ah, laki-laki itu sangat cepat sekali mendapatkan informasi tentangnya, padahal dia sudah menutupinya sebaik mungkin.
Alvian tersenyum sinis. "Memangnya apa masalahnya sama lo kalau gue selingkuh? Lo nggak tau aja enaknya selingkuh, coba aja sekali-kali lo coba!" sinis Alvian.
"****! Dasar br***sek!" Nathan menggeram marah.
Perlahan Alvian bangun, lalu tanpa basa-basi melayangkan bogeman pada wajah tampan Nathan secara tiba-tiba.
"Ba***gan!" Nathan meringis merasakan pipinya yang terasa panas, bahkan kini sudut bibirnya sedikit robek.
Tangan Nathan mengepal sehingga urat-urat tangannya kelihatan. Napas laki-laki itu memburu.
Bughh
Bughh
Krekk
"ARGGHH!"
Dengan cepat Nathan memukul Alvian secara membabi buta, bahkan memelintir tangan laki-laki itu sehingga menciptakan suara seperti tulang yang patah. Sean yang mendengarnya seketika merinding. Bosnya tersebut memang sadis!
Alvian terkapar dengan tubuh yang lemas.
Uhuk uhukk
Akibat pukulan Nathan yang bukan main kuatnya, Alvian sampai memuntahkan darah.
"Cih ... kau terlalu kecil untuku, Alvian! Andai aku tidak ingat jika aku manusia, maka sudah ku pastikan akan menghabisimu!" Nathan memandang rendah karyawannya tersebut.
Inilah sosok Nathan yang sebenarnya di dunia bisnis, kejam dan tidak ada kata ampun baginya. Tetapi meski pun demikian, Nathan tidak pernah yang namanya membunuh orang! Menurutnya dia tidak layak menghilangkan nyawa orang, karena dia tahu jika dosanya sangat besar. Hanya Allah yang berhak mengambil nyawa manusia!
"Sean, bawa laki-laki ba***gan ini ke kantor polisi! Buat dia membusuk di penjara! Untuk istrinya, aku yang akan mengatasinya!"
TBC
.
.
.
__ADS_1
.