
Akhirnya mobil yang membawa Dara dan Nathan tiba juga di sebuah rumah sakit terdekat. Namun, baru saja Dara berencana ingin turun, Nathan lebih dulu menahan pergelangan tangan wanita itu. Hal itu tentu membuat Dara bingung.
"Kenapa?"
Nathan menghembuskan napas gusar, lalu memperlihatkan layar ponselnya pada istrinya.
Dara sontak berdecak kesal setelah membaca pesan tersebut. Selalu saja begini. Jika boleh jujur, ia sudah sangat lelah dengan semuanya. Andai wanita yang menjadi musuhnya itu tidak licik, maka sudah ia pastikan akan menindasnya habis-habisan. Tapi saat tau jika wanita itu bahkan tak segan-segan melukai siapa pun membuat ia harus berpikir dua kali. Meski pun kemampuan bela dirinya cukup untuk melindungi dirinya sendiri, tapi tetap saja. Jika berhadapan dengan segerombolan orang, mungkin ia akan kalah.
"Gue selama ini selalu sabar lho, Than. Tapi lama-lama gue gedeg banget tau nggak! Itu dia nggak bisa apa nahan si Ulat bulu sementara aja. Masa setiap saat datang mulu. Udah kayak jalangkung aja. Capek gue pura-pura jadi cewek lemah mulu. Coba aja lo semua biarin gue nindas tuh cewek sampai kena mental!"
Dara terus menggerutu sembari menatap suaminya dengan tatapan jengkel. Namun berbeda dengan istrinya, Nathan malah terkekeh. Istrinya ini sudah mirip seperti psikopat saja.
Ditangkup Nathan kedua pipi istrinya, lalu menatap wanita itu dengan lembut.
"Dar, aku tuh sayang banget sama kamu, dan aku nggak mau ada kejadian yang nggak pernah kita pikirkan sebelumnya. Aku nggak mau kehilangan kamu. Aku sadar, mungkin aku lebih memilih untuk mati saja dari pada harus kehilangan kamu. Aku minta maaf karena ulahku di masa lalu, kamu malah kena imbasnya," ucap Nathan dengan wajah bersalah. "Aku minta maaf, ya ..." imbuhnya.
"Udah, nggak usah minta maaf mulu. Perasaan dari semalam kamu minta maaf mulu. Ini semua nggak sepenuhnya salah kamu kok. Kita jalani saja sama-sama."
Dara memberikan tatapan lembut pada suaminya. Dia tidak suka pada Nathan yang selalu minta maaf seolah-olah apa yang terjadi sekarang adalah murni kesalahan dia. Padahal menurut Dara sendiri, ini semua juga salahnya. Andai dia tidak egois dan memilih menyusul Nathan untuk menjelaskan semuanya, mungkin ini tidak akan mungkin terjadi. Hidup memang tidak ada yang tahu.
"Aku juga tau kekhawatiran kamu. Aku nggak akan ke mana-mana kok. Aku akan selalu ada di samping kamu. Aku janji nggak akan pernah ninggalin kamu."
Nathan memeluk tubuh istrinya yang jika ia perhatikan agak gemukan. Dikecupnya kening wanita itu dengan lembut.
"Aku janji, setelah ini semua selesai, kita berdua akan hidup bahagia. Aku akan membahagiakan kamu, dan berusaha untuk menjadikan kamu wanita yang paling behagai di dunia ini."
Dara terkekeh mendengar penuturan suaminya itu. Nathan ini sering kali membuatnya gemes. Bagaimana tidak, kadang Nathan bersikap kekanak-kanakan, tapi pria itu juga kadang bersikap dewasa. Benar-benar memiliki dua kepribadian, namun ia suka, karena Nathan lah yang selalu bisa mengembalikan mood-nya.
"Yaudah sana kamu turun duluan. Habis itu aku. Jangan sampai bikin curiga."
"Kamu tenang aja. Suamimu ini kalau urusan acting mah jago. Jadi nggak sabar pengen casting sinetron suara hati suami yang tersakiti nanti.
"Sialan nih suami!"
Melihat suaminya yang sudah keluar dari dalam mobil, Dara sedikit melihat dari kaca spion. Ternyata ada mobil di belakangnya. Menghembuskan napas gusar. Segera Dara ambil air, lalu sedikit percikan ke wajahnya, dibuatnya wajahnya sesedih mungkin.
"Oke, Dara, this's your time! Show your talent, and let see who wins at the end of this drama." Dara bergumam sendiri sembari mengeluarkan smirknya. (Oke, Dara, ini giliranmu! Tunjukan kemampuanmu, dan mari lihat siapa yang menang di akhir drama nanti.)
Melihat wajah dingin suaminya, Dara jadi ingin tertawa. Benar-benar menggemaskan. Ingin sekali rasanya ia menguyel-uyel kedua pipi suaminya itu.
Menarik napas, lalu mengeluarkannya secara perlahan, Dara membuka pintu mobil, kemudian keluar.
"Cepat!" ucap Nathan dengan aura dinginnya, lalu segera berjalan meninggalkan Dara begitu saja.
__ADS_1
Dara tidak menjawab, ia berjalan secara perlahan menyusul suaminya sembari menunduk.
Itu semua tentu tidak luput dari dua pasang mata yang terus memperhatikan mereka.
***
"Apa Anda yakin jika dia hamil?" tanya pria itu menatap wanita di sampingnya.
"Sepertinya. Kemaren aku tidak sengaja mendengar wanita itu tiba-tiba muntah. Tapi yang membuat aku kesal karena Nathan ku memanggil wanita itu dengan panggilan sayang."
"Menurutku wajar saja sih. Bukankah Nathan memang masih mencintai istrinya? Jadi, mungkin dia keceplosan karena khawatir." Terlihat Kendrick berusaha meyakinkan wanita di sampingnya itu. Namun tetap saja, wajahnya tetap datar.
"Ada benarnya juga sih. By the way, jika wanita itu hamil, kira-kira anak siapa, Ken?"
"Entahlah." Kendrick hanya mengangkat bahunya acuh. "Mungkin anak Leo," lanjutnya.
"Memangnya apa yang akan Anda lakukan jika dia hamil?" tanya Kendrick ingin tahu.
Lucy mengedikan bahunya. Saat ini dia tidak tahu langkah apa yang harus ia ambil. "Entahlah. Mungkin sesuatu yang lebih menyenangkan."
"Anda tidak akan membunuh anak yang bersalah itu, kan?"
Kendrick memicingkan matanya pada Lucy. Tapi wanita itu malah membalasnya dengan kekehan kecil.
Kendrick sedikit terkejut mendengar ucapan wanita di sampingnya itu. Untungnya dia bisa mengendalikan gerak tubuhnya.
'Sialan! Aku tidak akan pernah rela kau menyakiti calon keponakanku!'
"Kalau kau perlu bantuan, katakan saja. Aku tidak mau kau melakukannya sendiri. Aku takutnya kau sedikit ceroboh," ucap Kendrick dengan lembut.
"Baiklah. Itu urusan nanti. Sekarang ayok kita turun. Itu semua tergantung. Jika kandungan wanita sialan itu lebih dari dua minggu, maka itu pasti anak Nathan, dan aku tidak sudi! Tapi jika kandungannya baru dua minggu, maka kemungkinan itu anak Leo."
Lucy dan Kendrick lalu keluar dari dalam mobil, lalu masuk ke dalam rumah sakit dengan diam-diam, mencari keberadaan Nathan dan Dara. Begitu mendapatkan ruangannya, Lucy menempelkan penyadap suara di pintu tersebut, lalu mereka segera menjauh dari sana agar tidak ada yang curiga.
"Selamat, Istri Bapak dinyatakan positif hamil. Usia kandungannya diperkirakan baru dua minggu. Tolong dijaga baik-baik ya, Pak, Bu. Jangan terlalu banyak bergerak, karena kondisi janin yang ada di dalam kandungan agak sedikit lemah. Saya sarankan jangan terlalu stres, karena itu berakibat fatal pada janin yang ada di di dalam kandungan."
Kendrick dan Lucy sama-sama mendengar dengan seksama apa yang baru saja dikatakan oleh dokter kandungan.
"Baik, terima kasih, Bu."
"Kalau begitu saya pamit ya, Pak, Bu. Untuk vitaminnya, Bapak bisa tebus nanti."
Setelah mendengar suara tapak kaki yang mulai menjauh, kini terdengar suara Nathan kembali.
__ADS_1
"Wow ... ternyata yang kalian lakukan waktu itu membuahkan hasil, ya? Bagaimana mungkin pria br***sek itu baru sekali melakukannya tapi sudah berhasil, sedangkan aku tidak? Ternyata memang benar, hubungan haram memang lebih cepat membuahkan hasil."
Terdengar kekehan sinis dari Nathan.
"Ta–tapi bisa saja ini anak kamu."
"Anakku kamu bilang? Bagaimana mungkin kau mengatakan itu anakku sementara jelas-jelas Dokter mengatakan usia kehamilanmu baru saja dua minggu? Dan bukan kah kalian melakukan hubungan terlarang itu dua minggu yang lalu?"
Nathan berseru dengan nyaring di dalam ruangan tersebut. Membuat Lucy dan Kendrick mendengar dengan jelas.
"Saya benar-benar kecewa sama kamu, Dar! Saya tidak sudi punya istri seperti kamu! Apalagi anak dari pria br***sek tersebut! Secepatnya akan saya urus surat perceraian kita!"
Setelah itu terdengar suara tapak kaki yang mendekat, lalu kemudian menjauh.
"YES!"
Lucy memekik dengan nyaring mendengar pembicaraan kedua pasangan suami istri tersebut. Dan Kendrick dapat melihat itu semua.
"So, berarti itu anak Leo bukan? Sepertinya anak itu harus hidup agar semua rencana kita berjalan dengan lancar," kata Kendrick dengan suara datarnya.
Lucy mengangguk mengiyakan ucapan Kendrick. "Ada benarnya juga!"
'Tapi sayangnya aku ingin membuat Dara hancur! Jadi, akan ku pastikan membunuh janin tersebut, karena aku yakin itu pasti anak Nathan.'
TBC
.
.
.
__ADS_1
.