
Bughh ....
Nathan menjatuhkan dirinya dan berlutut di sana dengan air mata yang tidak berhenti keluar. Menunduk dengan wajah penuh penyesalan. Sungguh, melihat Bima yang stroke membuatnya semakin merasa bersalah. Andai penyakit itu bisa dialihkan ke dia saja, maka dia akan melakukan itu semua, anggap saja sebagai permintaan maafnya. Tetapi sayangnya itu semua tidak bisa digantikan. Apa yang sekarang bisa dia lakukan? Menangis? Ya, hanya itu saja. Tetapi meskipun demikian, dia bersumpah akan membantu biaya pengobatan Bima sampai sembuh.
Leo yang mendengarnya menggeleng, tidak percaya dengan pengakuan yang baru saja diucapkan oleh sahabatnya. Dia tidak pernah tau jika pemilik perusahaan ternyata adalah sahabatnya sendiri.
"Ja–jadi N'D Group adalah anak perusahaan lo?" tanya Leo dengan pandangan kosong ke arah depan. Kini sorot matanya terlihat memancarkan kekecawaan yang luar biasa. Dia sangat yakin jika Nathan tau W'N Group adalah perusahaan ayahnya. Lantas, kenapa laki-laki itu begitu tega? Dendam? Apa hanya karena dendam sahabat yang sangat dia kenal baik berubah drastis menjadi sosok iblis?
Nathan mengangguk lemah, mengiyakan pertanyaan sahabatnya tanpa berani mengeluarkan sepatah kata. Sementara Bima hanya diam sambil terus memperhatikan putranya Nathan yang terlihat sangat menyesali perbuatannya. Dia memang sempat kecewa dengan putranya itu, tetapi untuk benci tentu tidak ada sedikitpun di hatinya, karena bagaimana pun Nathan adalah putranya.
"Kenapa?" Leo bertanya dengan lirih. Kini wajahnya dipenuhi air mata, menatap Nathan dengan pandangan sendu. Kenapa sahabatnya bisa berbuat sejahat itu? Pertanyaan itulah yang ada di benaknya saat ini.
Hiks ....
Nathan tidak mampu menjawab, justru kini yang terdengar hanya isak tangisnya saja. Bibirnya terasa kelu untuk menjelaskan dan mengatakan kenapa dia melakukan itu semua. Dia benar-benar gelap mata saat itu, sehingga tidak menyadari jika apa yang sudah dia lakukan akan menjadi boomerang untuk dirinya sendiri.
Leo menatap ayahnya yang kini justru tersenyum tipis ke arahnya. Leo menatap ayahnya dengan pandangan tidak percaya. Bagaimana mungkin pria itu tersenyum setelah mengetahui jika yang menghancurkan perusahaanya adalah laki-laki yang sudah dia anggap seperti anaknya sendiri?
"Ke–kenapa Ayah tersenyum?" tanya Leo yang sontak membuat Nathan mendonggakkan kepalanya, menatap Bima dan mendapatkannya sedang tersenyum.
Bima menggeleng saja dengan senyum yang masih terpantri di wajahnya.
"Apa Ayah tahu semuanya?" Leo semakin menatap dalam mata ayahnya, meminta jawaban.
Di luar dugaan, Bima justru mengangguk, sehingga membuat Nathan maupun Leo terperangah. Lantas, jika Bima tau jika Nathan lah yang sudah membuatnya seperti itu, kenapa pria itu masih tersenyum? Itulah pertanyaan yang ada di benak Leo dan Nathan.
"A–Ayah tau kalau putra manja Ayah lah yang menjadi pemilik ADJ Company. Ayah bangga sama kamu," ucap Bima lembut dengan sedikit kesusahan.
Nathan yang mendengarnya terdiam, tubuhnya bagai tersengat listrik. Bagaimana mungkin laki-laki itu bisa berbicara seperti itu, padahal dia lah biang kerok yang sebenarnya?
Tetapi berbeda dengan Leo. Dia menatap kecewa ayahnya. Kenapa pria itu tidak pernah menceritakan hal itu padanya? Padahal selama ini dia menyimpan dendam pada pemilik perusahaan yang sudah membuat hidup mereka hancur seperti ini. Namun, fakta yang baru saja dia ketahui kini membuatnya tidak tahu hendak berkata apa lagi. Mungkinkah dia membenci laki-laki yang sudah dia anggap seperti adiknya sendiri? Bukankah seorang kakak tidak boleh membenci adiknya sendiri?
"Ke–kenapa Ayah tidak pernah bilang sama Leo?" Leo menatap kecewa ayahnya itu. Sebenarnya Bima menganggapnya sebagai anak atau bukan sih? Bagaimana mungkin pria itu menyimpan fakta besar tersebut dari dia?
"Ma–maaf, Nak. Ta–tapi Ayah tidak mau kamu membenci Adik kamu sendiri. A–Ayah tidak mau kamu menyimpan dendam pada Adik kamu sendiri." Bima menatap sendu putranya. Dia tau jika dia salah karena telah menyimpan fakta besar tersebut, tetapi dia masih belum berani mengatakannya pada Leo, karena dia bisa merasakan jika ada masalah yang terjadi di antara kedua putranya itu.
Sekali lagi Leo menggeleng tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
__ADS_1
Leo yang sangat kecewa langsung beranjak begitu saja dari hadapan ayah dan sahabatnya. Kini pikirannya menjadi tidak karuan. Dia kecewa, benci, sedih, dan tidak menyangka. Semua perasaan itu bercampur menjadi satu.
Setelah keluar dari ruangan, Leo berlari menyusuri lorong rumah sakit. Air mata tidak berhenti merembas keluar dari pelupuk matanya.
Nathan yang melihat Leo keluar dari ruangan berniat hendak menyusulnya.
"Yah, apakah aku boleh menyusul Leo?" tanya Nathan menatap Bima.
Bima tersenyum tipis. "Per–pergilah," ucap Bima dengan suara lembut.
Nathan menunduk, lalu segera keluar dari ruangan tersebut. Dia segera mengejar Leo yang masih kelihatan sedang berlari. Langkah kakinya tidak kalah cepat menyusul laki-laki itu. Hingga akhirnya dia memperlambat langkahnya saat melihat Leo yang sudah berhenti di kursi taman rumah sakit. Perlahan dia berjalan dengan pelan mendekati laki-laki itu.
Leo menyadari jika Nathan ada di belakangnya. Tetapi dia tetap diam saja.
"Yo, gu–gue minta maaf," lirih Nathan dengan suara bergetar.
"Ke–kenapa, Than?" Leo berkata, tetapi pandangannya tetap fokus ke depan dengan pandangan kosong.
"Gu–gue minta maaf, Yo ...." Alih-alih menjawab pertanyaan Leo, Nathan justru malah mengucapkan kata maaf lagi, sehingga membuat Leo menggeram marah.
"APA KARENA GUE SELINGKUH SAMA DARA HAH?" Napas Leo seketika memburu. Seketika dia menjadi benci dengan Nathan. Andai laki-laki itu tidak bermain di perusahaan ayahnya, pasti pria itu tidak akan menderita sampai harus terus berada di rumah sakit seperti ini. Dia benci dengan Nathan, karena ulahnya hidupnya dan ayahnya menderita seperti saat ini.
"Gu–gue minta maaf, Yo .... Gue salah. Gue terlalu ceroboh sampai tidak berpikir apa yang mungkin terjadi jika gue ngelakuinnya," sesal Nathan.
"Iya! Lo itu beg*!" maki Leo tanpa rasa bersalah sedikit pun. "Sifat lo nggak pernah berubah sejak SMA! Lo selalu bersikap semau lo, tanpa memikirkan jika perbuatan lo bisa merugikan orang lain! Lo itu orang terbo-doh yang pernah gue temui! Lo punya dendam sama gue, tapi kenapa lo malah melampiaskannya ke Ayah lo sendiri? DI MANA OTAK LO NATHAN GEOVANNI?!" teriak Leo dengan wajah merah padam.
Nathan memejamkan matanya mendengar ucapan pedas laki-laki yang sudah dia anggap seperti kakaknya sendiri. Dia tahu betul jika Leo bukanlah laki-laki yang suka berucap kasar. Jadi, jika itu terjadi, maka laki-laki itu memang sedang sangat marah.
"Maaf, Yo ...." Lagi-lagi Nathan hanya mampu mengucapkan kata maaf.
"Lo nggak tau gimana kehidupan gue selama ini, Than! Hiks ...." Leo merasa sesak saat mengingat apa saja yang sudah dia lalui. "Gue sengsara, Than! Mental gue terganggu saat gue tau alasan lo pergi ke luar negeri. Gu–gue merasa bersalah. Gue semakin terpuruk karena setiap hari harus mendengar caci makian dari orang-orang. Mereka mencaci Ayah gue, menganggap dia sebagai orang yang licik. Ayah gue kena serangan jantung, dan koma beberapa bulan. Gue harus ngejual semua harta yang gue punya, dari mobil sampai motor kesayangan gue yang kita beli sama-sama waktu itu. Tapi siapa sangka jika ternyata Ayah gue terlilit utang di Bank, karena harus membayar ke perusahaan sialan lo itu. Ru–rumah kami disita, Than! Gue bahkan nggak tau harus pergi ke mana lagi. Gue akhirnya nyari kontrakan dan tinggal di tempat yang kecil. Gue banting tulang untuk nyari uang biaya pengobatan Ayah gue. Nggak kehitung udah berapa banyak perusahaan yang gue lamar. Tapi apa? Hasilnya nihil! Itu semua karena mereka tau gue anak Winata! Gue kepaksa beli motor bekas, dan jadi tukang ojek! Sarjana gue seolah-olah nggak ada artinya!" Leo mulai curhat seperti apa kehidupannya setelah perusahaan mereka bangkrut.
"LO TAU NGGAK SIH SEBERAPA SENGSARANYA GUE BANG**T!"
"Gu–gue bahkan hampir nekad ngejual organ tubuh gue karena saking frustasinya ke mana lagi nyari duit! Hiks ... hiks ...." Tangis Leo semakin pecah, kini dia juga mulai sesenggukan.
Nathan memeluk tubuh sahabatnya yang kini bergetar hebat. Se sakit itukah sahabatnya? Pikir Nathan.
__ADS_1
"Gu–gue capek, Than! Gue bahkan hampir nekad bunuh Ayah gue dan diri gue sendiri! Gue pengen nyusul Ibu gue aja! Gue udah nggak sanggup hidup di dunia. Tapi nggak mungkin, kan?" Leo tidak menolak pelukan Nathan. Dia menenggelamkan wajahnya di d*da sahabatnya.
"Yo, gue janji bakal nyari dokter terhebat di dunia ini untuk nyembuhin Ayah! Kalau perlu gue bakal sediain rumah sakit khusus untuk Ayah kita." Nathan berkata sungguh-sunguh, tetapi justru dibalas gelengen oleh Leo.
Leo melepaskan pelukkan Nathan. "Pergilah! Jangan pernah lagi muncul di hadapan gue! Udah cukup lo bikin hidup kita menderita," ucap Leo dengan suara datar.
"Yo ... kenapa? Gue tau gue salah, tapi tolong maafin gue."
"Kenapa? KARENA GUE BENCI SAMA LO NATHAN!" teriak Leo yang sontak membuat Nathan terdiam. Dia tahu betul jika Leo bukanlah sosok yang mudah menyimpan dendam, apalagi sampai membenci seseorang. Lantas, apakah kesalahannya kali ini memang tidak bisa dimaafkan.
"Enggak, Yo!" Nathan menggeleng keras. "Lo boleh pukul gue! Lo boleh tampar gue! Tapi lo nggak boleh benci sama gue! NGGAK BOLEH!" Nathan berkata dengan penuh penekanan.
Leo terkekeh mendengar penuturan Nathan, lalu ....
Bughhh!
Satu bogeman mentah melayang di wajah Nathan, sehingga langsung membuat laki-laki itu oleng karena mendapat serangan mendadak seperti itu. Nathan meringis merasakan sudut bibirnya yang robek dan sedikit berdarah. Leo? Dia sama sekali tidak merasa bersalah sedikit pun.
"GUE NGGAK PERNAH PUNYA SABAHAT YANG BO-DOH!" teriak Leo, setelah itu pergi meninggalkan Nathan yang terdiam membisu.
Cuman pengen bilang, kemungkinan konflik cerita itu berat hehe. Pengennya ringan, tapi kurang greget aja, jadi di next cerita aja deh yang ringan wkwk
Dara? Dia kemungkinan bakal lemah ya \><
Nathan? Mungkin ada sesuatu yang disembunyikan. (Tapi masih maybe)
Leo? Hmmm ... entahlah (Kalau dia benci sama Nathan, kayaknya pasaran ya😭)
__ADS_1