
Nathan terpaku mendengar ucapan istrinya barusan. Matanya yang baru saja terpejam sontak terbuka tatkala mendengar suara tegas istrinya tadi. Apa dia tidak salah dengar? Apakah tadi istrinya benar-benar mengatakan dia bersedia memberikan?
Dara sendiri hanya mampu meremas kuat bajunya, sungguh dia benar-benar gugup sekarang. Dia sendiri tidak tau apakah keputusan yang dia ambil ini keputusan yang tepat atau bukan, tetapi semoga ini tidak menjadi boomerang untuk dirinya. Dia percaya, apa pun masalah yang terjadi nantinya, dia dan Nathan pasti bisa menyelasaikannya.
Perlahan Nathan membalikkan tubuhnya ke samping, menghadap istrinya yang sekarang seperti orang yang sedang gelisah.
"Ta–tadi kamu bilang apa?" Nathan kembali bertanya untuk memastikan jika pendengarannya tidak salah.
Bukannya menjawab, Dara justru semakin mengeratkan remasan bajunya, dan itu semua tentu dilihat oleh Nathan.
"A–aku siap memberikan hakmu!" ucap Dara dengan suara lirih dan gemetar.
Nathan tersenyum senang mendengarnya, tetapi sedetik kemudian dia tersenyum tipis, lalu merapikan anak rambut istrinya. "Saya cuman becanda tadi, Dar." Nathan berkata sambil terkekeh. "Udah kamu nggak usah dengarin, saya orangnya nggak akan maksa kok. Kamu jangan anggap serius ucapan saya tadi, sampai-sampai pengen ngasih hak, tapi kamu sendiri belum siap." Nathan semakin terkekeh, tapi kekehannya terdengar seperti terpaksa saja.
Dara menatap dalam mata suaminya. Tidak! Dia tidak akan membiarkan suaminya tidak mendapatkan haknya. Sebenarnya Dara sudah mempersiapkan dirinya sejak saat di mana dia berbaikan dengan Nathan, dan mengatakan bahwa ingin mencintai laki-laki itu. Hanya saja, saat itu memang ada masalah sehingga mereka tidak sempat. Mungkin ini adalah waktu yang tepat, meskipun saat ini mereka sedang berada di masalah yang seharusnya segera mereka selesaikan.
"Tidak! Aku serius! Aku ingin memberikan hak yang seharusnya sudah menjadi milikmu selama ini!" sahut Dara dengan suara tegas, tanpa keraguan sedikitpun.
Nathan menatap mata istrinya, menyelami dalam-dalam mata tersebut yang memancarkan keseriusan. Apa ini benar-benar terjadi? Apakah ini bukan mimpi? Tetapi kenapa istrinya itu dengan mudah ingin memberikan tubuhnya?
"Kenapa?" Pertanyaan konyol itu keluar begitu saja dari mulut Nathan. Dia ingin sekali mendengar alasan kenapa istrinya itu ingin memberikan tubuhnya, padahal hubungan pernikahan mereka bisa dibilang baru saja, apakah istrinya serius ingin memberikan tubuhnya? Tetapi jika alasanya karena kewajiban, maka dia tidak akan pernah mau menyentuh wanita itu, karena yang dia perlukan adalah cinta bukan rasa kasihan.
"Karena ini sudah menjadi kewajiban gue sebagai istri," jawab Dara mantap, tetapi justru membuat Nathan mendes*ah panjang. Jadi, alasannya karena kewajiban, bukan cinta?
Karena tidak ingin menunjukkan rasa kecewanya, Nathan memilih untuk tersenyum saja. Perlahan laki-laki itu membelai lembut pipi istrinya. Kini posisi mereka sangat dekat, Nathan dapat melihat wajah istrinya yang sangat cantik, kulit wajahnya sangat halus dan begitu lembut. Dara sendiri tidak bisa pungkiri jika wajah suaminya terlihat sangat tampan dari dekat, rahang yang tegas, serta mata yang memang sangat dia sukai sejak dulu, karena sangat teduh.
Cupp
Satu kecupan lembut diberikan oleh Nathan tepat di kening istrinya. Dara terpejam merasakan benda kenyal yang menempel di keningnya cukup lama.
"Udah kamu tidur aja. Kamu nggak usah mikiran yang tadi," ucap Nathan lembut.
Dara menatap suaminya dengan tatapan tidak percaya. Bukankah laki-laki itu selalu menagih haknya selama ini? Lantas, kenapa di saat dia menawarkan diri, suaminya justru menolak?
"Se–seriusan? Tapi ... kenapa?" Dara menatap mata suaminya, mencari celah kebohongan.
__ADS_1
"Nggak apa-apa, saya takutnya kamu menyesal di kemudian hari," jawab Nathan yang membuat Dara bingung. Menyesal?
"Apa setelah gue memberikan tubuh gue, lo akan ninggalin gue?" Dara bertanya dengan tampang polos.
"Sembarangan kamu!" Nathan menatap istrinya dengan pandangan tidak suka. "Yakali aja saya kepikiran ninggalin kamu! Saya ini laki-laki setia, jadi nggak mungkin saya ninggalin kamu."
"Terus kenapa?" Dara kembali bertanya dengan wajah yang penasaran.
"Karena yang saya perlukan adalah cinta, bukan hanya karena kewajiban kamu sebagai istri. Saya nggak mau kamu menyesal suatu hari nanti, apalagi kamu belum meyakinkan dirimu untuk benar-benar mencintai saya." Nathan berkata dengan penuh kelembutan. Apa yang dikatakan suaminya tentu membuat Dara terpaku, setulus itukah suaminya pada dia? Padahal laki-laki itu selalu menyendir tentang belah duren.
Dara menarik napasnya dalam, lalu mengembuskannya secara perlahan. "Justru itu! Aku ingin belajar mencintaimu. Sebenarnya bukan belajar, karena aku memang sudah mencintai kamu. Sembilan tahun yang berlalu juga tidak membuat aku bisa melupakan kamu." Dara meyakinkan suaminya. Dia merasa Nathan adalah laki-laki yang sangat bisa menghargai seorang perempuan. Dia sebagai perempuan merasa tersanjung, karena mungkin saja di luaran sana ada banyak pasangan yang dijodohkan, dan laki-laki yang memaksa pasangannya untuk melakukan hubungan badan, meskipun tanpa cinta sedikit pun. Tetapi, Nathan justru sebaliknya.
"Mari kita buat pernikahan ini menjadi pernikahan yang luar biasa," bisik Dara tepat di samping telingga suaminya.
Perlahan telapak tangan Dara masuk ke dalam bathrobe Nathan, lalu mengelus dada bidang laki-laki itu.
Tubuh Nathan bagai tersengat listrik merasakan hangatnya sentuhan istrinya. Seketika napsunya menggebu-gebu, benda pusakanya tiba-tiba saja berdiri karena sentuhan wanita itu.
"Kamu yang memberi, Dar! Bukan aku yang meminta." Nathan membisik dengan suara beratnya, sehingga membuat Dara merinding. Segera Nathan bangkit, lalu mengukung istrinya, sehingga kini posisi Dara berada di bawah kungkungan Nathan.
Cupp
Perlahan Nathan mendekatkan wajahnya ke arah wajah istrinya. Dara hanya bisa pasrah, dia memilih untuk memejamkan matanya saja saat benda kenyal itu menyentuh permukaan bibirnya.
Nathan terus mencium, bahkan me-***** bibir istrinya yang terasa sangat nikmat dan manis. Dara yang pada dasarnya memang bukan wanita yang polos-polos amat langsung membuka mulutnya, memberika akses untuk laki-laki yang sedang menciumnya itu.
Nathan tersenyum senang di tengah cum-buaan mereka saat istrinya yang memberikan akses untuknya tanpa dia yang melakukannya terlebih dahulu. Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Nathan lantas memasukkan lidahnya ke dalam mulut istrinya. Mulia bergerak liar di dalam sana, menyentuh dan mengabsen setiap deretan gigi putih milik istrinya.
Kini dengan beraninya Nathan justru memainkan lidah sang istri. Dara sendiri menyambut dengan senang hati yaitu dengan membalas ciuman panas yang diberikan Nathan.
Akhh...
Dara mende-sah dengan suara tertahan saat tangan Nathan mulai menyentuh tubuhnya tanpa menghentikan ciuman panas mereka, apalagi saat tangan laki-laki itu bermain di kedua dadanya secara bergantiaan, membuat seluruh tubuhnya terasa terbakar.
Nathan semakin bersemangat mendengar de-sahan istrinya yang terdengar sangat merdu di telingganya.
__ADS_1
"Than ...." Dara menatap sayu mata suaminya saat tautan bibir mereka terlepas. Dara menatap mata suaminya yang kini berada di atas tubuhnya dengan kilatan mata yang dipenuhi oleh gairah.
"Kenapa?" tanya Nathan dengan suara beratnya. Dia berpikir jika Dara memang belum siap.
"I'm yours tonight!" lirih Dara dengan senyum manis yang terpantri di wajahnya.
TBC
Untuk unboxing-nya sabar ya, setelah part ini\><
Btw, kalau bisa jangan pelit-pelit juga sama like yah hehe😅
.
.
.
.
__ADS_1