
"Lo bisa diam nggak sih! Dari tadi ngoceh mulu perasaan!" ketus Dara yang benar-benar sudah merasa sangat jengkel dengan kelakuan Nathan.
"Ckk ... iya-iya, tapi jangan ngambek mulu dong, sayang." Dengan jahilnya Nathan justru mencolek dagu wanita itu. Sepertinya laki-laki itu memiliki nyawa sepuluh sehingga berani sekali mengganggu macan yang sedang tidur.
Dara melotot atas apa yang baru saja Nathan lakukan. Tanpa basa-basi Dara memegang tangan Nathan, lalu ....
krekk
Dengan santainya Dara membunyikan seluruh jari-jari Nathan secara bersamaan, sehingga menimbulkan bunyi yang khas seperti patah tulang.
Nathan melotot, bukan karena sakit, tapi karena bunyi tersebut membuatnya merinding. Nathan segera menepikan mobilnya sebentar, lalu menatap Dara.
"Hua ... gila kamu, Dar! Jari-jari saya nggak patah, 'kan ini?" Nathan berteriak dengan histeris, tapi anehnya dia justru menggerakkan jari-jarinya dengan lincah.
"Eh, Sarden Atan! Kalau jari-jari lo patah, gimana ceritanya lo bisa gerakkinnya!" ketus Dara. Meski kesal dengan sikap polos Nathan, tapi entah kenapa Dara selalu saja menyahuti ucapan tidak berfaedah tersebut.
"Iya juga, ya," gumam Nathan mengiyakan ucapan Dara.
"Jadi, ini nggak patah 'kan, Dar?" tanya Nathan polos.
"Ya enggaklah! Nih lo liat dan dengar baik-baik!"
Krekk
Krekk
Krekk
Dara membunyikan seluruh jari-jarinya, sehingga membuat Nathan merinding mendengarnya. Dia sama sekali tidak pernah melakukan hal itu. Apakah jari akan baik-baik saja setelah melakukan hal itu?
"Wow ... kamu hebat, Dar!" Nathan mengacungkan kedua jemponya di hadapan Dara.
Dara memutar matanya dengan malas. 'Memang terlalu kuno' batin Dara.
"Yaudah buruan jalan! Gue tuh udah laper, karena kebanyakan ngoceh sama lo!" ketus Dara lagi.
"Oke, mau makan di mana?" tanya Nathan yang kembali menghidupkan mobil Dara, lalu menjalankannya dengan kecepatan rendah saja.
"Terserah, restoran mana aja boleh," jawab Dara dengan pelan.
"Cih ... dasar cewek, selalu aja bilangnya terserah. Pas dibeliin ini, nanti salah, bilangnya nggak mau. Pas ditanyain lagi mau apa, dibilangnya terserah aja, pas dibeliin yang lain lagi, eh ternyata salah lagi, bilangnya nggak mau, nggak enak. Emang dasar betina," gerutu Nathan dengan suara pelan, tapi sayangnya pendengaran Dara terlalu tajam, jadi semua yang Nathan ucapkan terdengar jelas di telingganya.
"Than, lo kalau ngomong bisa dalam hati aja nggak sih? Jangan sampai gue nekad bunuh lo di dalam mobil ini, terus m*tilasi lo, dan makan daging lo saking gue udah kelaparan! Jangan sampai buat mobil ini terjadi pertumpahan darah!" ucap Dara dengan suara yang sangat pelan dan menusuk, sehingga membuat Nathan merinding.
__ADS_1
"O—oke, berhubung saya ganteng, jadi saya memilih diam aja," sahut Nathan sedikit terbata-bata.
Dara sendiri hanya diam, tidak berniat menyahuti ucapan laki-laki yang narsis seperti Nathan, meski pada dasarnya Nathan memang sangat tampan, tapi sayangnya ketampanannya harus tertutupi dengan sikap menyebalkannya itu.
"Dar, apa sih yang buat kamu tertarik sama Leonet itu? Apa sih yang buat kamu sampai rela berpaling dari saya?" celetuk Nathan tiba-tiba saat sempat hening beberapa saat.
Dara yang sejak tadi memilih untuk memejamkan matanya sontak membuka mata saat mendengar pertanyaan Nathan yang terdengar sedang serius.
"Ckk ... namanya itu Leo, bukan Leonet! Lo jangan asal ubah nama orang deh! Lagian dia itu sahabat lo tau nggak!" ketus Dara.
"Iya, dia sahabat saya dulunya. Tapi, sejak saya tau kalian berdua mengkhianati saya, saya sudah memutuskan hubungan persahabatan tersebut, Dar. Kenapa? Kenapa kamu sampai mengkhianati saya? Apa salah saya dulu? Dan kenapa harus Leo dari banyaknya laki-laki di dunia ini?" Akhirnya pertanyaan-pertanyaan yang dari dulu Nathan pendam bisa ia tanyakan pada orangnya langsung.
Tanpa sadar, sebening kristal jatuh membasuhi pipi Nathan, dadanya kembali terasa sesak saat mengingat kejadian itu. Kejadian yang hampir saja membuatnya gila. Pasalnya Dara adalah gadis yang pertama kali mengajarkan dia akan arti cinta, ya bisa dibilang Dara adalah cinta pertamanya dulu. Tapi, Dara juga lah yang memberikannya rasa sakit yang teramat dalam. Apalagi pengkhinatan tersebut dilakukan sahabat dan kekasihnya sendiri.
Sejak kejadian tersebut, Nathan banyak mengencani beberapa gadis, baik di dalam negri mau pun di luar negri, dan itu semua tanpa sepengetahuan orang tuanya. Tapi, meski pun demikian, dirinya tetap saja tidak bisa melupakan Dara, perempuan itu yang terus menduduki tahta di hatinya.
Saat tau perempuan yang akan dijodohkan dengan dirinya adalah Dara, dia tentu tidak menolak, karena ayahnya mengatakan, jika dia tidak menerima perjodohan ini, maka Dara akan dijodohkan dengan laki-laki lain. Dia tentu tidak terima, dan akhirnya menerima perjodohan tersebut.
Dara dapat melihat jika laki-laki itu terluka. Apakah sebegitu terlukanya Nathan hanya karena masa lalu tersebut? Bahkan laki-laki itu sudah tidak menganggap Leo, sahabat satu-satunya dulu, yang selalu ada untuknya, bahkan mereka tidak bisa terpisahkan.
Tapi sekarang, Nathan terlihat sangat membenci laki-laki yang dulu pernah menjadi sahabatnya itu.
"Lo nangis?" ejek Dara.
Dara terkekeh lucu mendengar jawaban Nathan. Sementara Nathan terpaku melihat wanita itu tertawa. Untuk pertama kalinya Dara tertawa selama mereka resmi dijodohkan. Biasanya wanita itu justru bersikap sadis pada dirinya.
"Wah ... kamu kalau saya bahagia, kamu malah melakukan KDRT sama saya! Kalau saya sedih, bukannya dihibur malah diketawain! Kamu punya hati nggak sih, Dar?" ketus Nathan yang rasanya ingin sekali menjitak kepala wanita itu, tetapi sayangnya dia masih sayang nyawa.
"Lo mau apa alasan gue selingkuh sama Leo?" tanya Dara yang langsung mendapat anggukan dari Nathan.
"Ngaca, woy! Leo itu laki banget, ganteng, maco, dan yang pastinya nggak pelit kayak lo!" ketus Dara tanpa rasa bersalah sedikit pun. Meski pun fakta berkata lain, tapi sudahlah, yang berlalu biarlah berlalu, Dara tidak ada niat sedikit pun untuk menjelaskan kejadian dulu, biarkan saja Nathan terus salah paham, dan biarkan waktu yang menjawab semua itu secara perlahan.
"Terus kenapa kamu ngotot pengen nikah sama saya?" pekik Nathan yang rasa kesalnya sudah sampai ke ubun-ubun.
Bukk
Dara kembali memukul bahu Nathan dengan cukup kuat, sehingga membuat laki-laki itu kembali meringis kesakitan.
"Siapa yang maksa pengen nikah sama lo? Lagian lo yang maksa gue! Kalau pengen batal, ya udah sekarang aja! Gue bakal bayar semua pengeluaran yang udah lo keluarin!" ketus Dara. Bagaimana mungkin Nathan tidak tahu diri sama sekali, dan malah menyalahkan dia yang tidak sabaran ingin menikah? Jelas-jelas dia sudah berusaha untuk membatalkan pernikahan mereka itu.
"Ckk ... kamu bisa nggak sih kalau pengen ngomong, atau lagi kesal jangan mukul orang mulu! Heran saya sama tangan kamu, kenapa aktif banget sih? Awas aja kalau pas malam pertama nanti tangan kamu nggak aktif menjamah tubuh saya dengan sens*al! Saya bikin kamu nggak bisa jalan selama setahun!" Nathan tentu jengkel dengan tangan Dara yang dengan tidak tahu dirinya selalu memukul seluruh tubuhnya. Apakah dia terlalu imut, sampai-sampai tangan Dara merasa gemes ingin menabok dirinya?
"Lagian di mana-mana semua orang juga tau kalau seorang Nathan itu gantengnya nggak ketulungan! Sama Leo? Beuh ... saya itu bagaikan langit dan bumi sama dia! Kamu punya mata minus, ya? Masa nggak bisa bedain yang ganteng sama burik? Lagian saya itu bukannya pelit, tapi hemat, Dar! Kamu bisa bedain nggak sih pelit sama hemat itu?" cerocos Nathan tanpa berhenti dari tadi.
__ADS_1
"Bodo, Than. Buruan, sekarang gue laper! Nyetir mobil jangan pelan-palan juga kali!" perintah Dara dengan suara lemah.
"Ingat, Dar! Saya nggak bakalan membatalkan pernikahan ini! Kenapa? Karena saya pengen belah duren! Dan saya ingin membuktikan sama Leonet itu, bahwa saya jauh lebih gagah di ranjang. Kecuali kalau kamu mau langsung belah duren aja sekarang, maka saya dengan terpaksa akan menuruti keinginan kamu untuk tidak menikah. Kenapa? Karena saya cuman pengen belah duren, saya cuman pengen ngerasain punya kamu yang legit itu. Tapi, berhubung saya itu orangnya sholeh, dan yang pastinya tidak br***sek, maka dengan terpaksa saya menunggu halal saja. Padahal bisa saja lho saya culik kamu, terus perk*sa. Tapi saya memilih untuk nggak melakukan itu, Dar!" jelas Nathan yang membuat Dara menutup matanya sambil kedua tangannya yang terkepal dengan erat di bawah sana.
"BURUAN NATHAN! GUE UDAH LAPER!" Dara mulai mengamuk di dalam mobil, sehingga sontak saja membuat Nathan menambah kecepatan mobil.
"O—oke, saya minta maaf," ucap Nathan pelan.
'Gila sih, sumpah gue takut banget ngeliat nih cewek ngamuk. Kira-kira nih mobil nggak akan kebagi dua, kan?' Nathan menjadi merinding sendiri, saat membayangkan Dara yang mengamuk, lalu menghancurkan mobil yang tidak tahu apa-apa tersebut dengan sangat sadis. Tidak hanya itu, Nathan bahkan membayangi Dara yang akan memakan beling-beling dari kaca mobil, karena saking lapernya.
'Tapi kalau nih mobil kebagi dua, gue ikhlas aja sih, yang penting cinta Dara nggak kebagi dua, soalnya Abang nggak sanggup, Neng. Lagian ini juga bukan mobil gue, kalau mobil gue, baru gue ngamok' Nathan terkekeh sendiri di dalam mobil tersebut.
Dara tentu terus memperhatikan gerak-garik laki-laki stres tersebut. Sejak tadi mulut laki-laki iti tidak bisa diam, mulutnya terus saja komat-kamit layaknya orang yang sedang membaca mantra. Dan tiba-tiba saja laki-laki itu tertawa tidak jelas.
'Fixs, nih orang emang udah stres. Sumpah, ini adalah kali pertamanya gue nemuin ada orang yang beginian' Dara menjadi merinding terlalu dekat dengan Nathan, pasalnya Nathan tidak terlihat seperti orang yang waras.
"Lo waras, Than? Mulut lo kenapa komat-kamit mulu dari tadi? Lo lagi baca mantra apa? Mana ketawa sendiri lagi?" Dara memasang wajah takutnya sambil memandang Nathan.
"Kamu mau tau?" tanya Nathan, dan dengan polosnya Dara mengangguk. "Mantra penglaris," jawab Nathan asal.
Plak
TBC
.
.
.
.
__ADS_1