
"AHH! NATHAN, KELUAR!" teriak Dara menggelegar.
"E—eh ... o—oke, tapi bisa nggak sih buka dulu handuknya?" Dengan tidak tahu malunya Nathan justru meminta sesuatu yang bisa membuat nyawanya bisa saja melayang ke alam baka. Iya kalau langsung ke surga, kalau nyangkut di neraka dulu kan barabe.
"LO MAU GUE BUNUH, HAH?!"
"Enggak, saya cuman pengen belah duren doang, kok." Nathan perlahan berjalan mendekati Dara, sehingga membuat Dara menjadi was-was, tanpa sadar dirinya justru memundur saat Nathan semakin dekat. Entah kenapa dia menjadi takut sekarang.
"Lo jangan macem-macem, Than! Gue bisa bunuh lo nanti!" ancam Dara dengan wajah serius.
Nathan tak memperdulikannnya, dia terus berjalan mendekati wanita itu. Jujur saja, ingin sekali rasanya ia tertawa terpingkal-pingkal melihat ekspresi Dara yang sedikit ketakutan.
Nathan berjalan semakin mendekat, sehingga berada tepat di depan Dara yang mengeratkan lilitan handuknya. "Cih ... jangan ge'er kamu! Saya cuman ngambil handphone saya yang ketinggalan!" ketus Nathan, lalu segera keluar dari dalam kamar Dara.
Bukannya apa-apa, dia hanya takut tidak mampu menahan diri jika terus melihat tubuh Dara yang putih dan mulus tersebut.
"Astaga, si Joni langsung berdiri begitu ngeliat Ayank-nya, padahal belum juga ngeliat secara langsung." Nathan mengelus celananya yang sedikit mengembung tersebut.
Sementara Dara yang ada di ruangannya langsung mengambil pakaian yang akan ia kenakan, lalu masuk ke dalam kamar mandi. Dia memilih untuk mengganti pakaian di sana saja.
"Sial! Tuh orang kenapa mesum banget sih? Lagian masuk nggak diketok dulu pintunya. Dasar orang gila!" Dara terus mengumpat Nathan sambil memasang bajunya.
Tak berselang lama dia akhirnya selesai. Dara lalu berjalan menuju meja riasnya, mengambil lipgloss dan memasangnya secara perlahan di bibir, kemudian mengambil botol parfume, dan menyemprotkannya ke area tubuhnya.
"Perfect!" gumam Dara.
Dara segera keluar dari dalam kamar, dan justru tidak mendapati keberadaan Nathan.
"Kemana tuh anak?" Dara bertanya pada dirinya sendiri sambil celingukkan ke sana kemari.
Berjalan menuruni tangga, karena yakin laki-laki itu berada di bawah. Tetapi baru saja dia berniat berjalan ke ruang tamu, dia justru mendengar suara aneh di dapur. Langsung saja dia berjalan ke arah dapur.
Benar saja! Nathan sedang sibuk membongkar isi lemari pendingin, entah apa yang sedang dicari oleh laki-laki itu.
__ADS_1
"Lo ngapain, Than?"
"Eh, cari makan, Dar. Saya laper," jawab Nathan dengan tampang wajah menyedihkan, tetapi justru memuakkan di mata Dara.
"Ckk ...." Dara berdecak kesal mendengarnya, padahal dia sedang malas untuk berkutat dengan alat dan bumbu dapur. Tetapi melihat Nathan yang kelaparan, dia menjadi tidak tega, dan dengan terpaksa turun ke dapur untuk memasak masakan yang simple saja untuk mereka berdua.
"Udah minggir, gue mau masak!" Dara mendorong Nathan dengan kuat, sehingga hampir saja membuat laki-laki itu terjatuh. Nathan hanya mampu mengelus dada, dia harus ingat kalau perempuan di depannya memang syadis syekali.
Dengan lincah Dara memotong bawang, bakso, dan udang, lalu mengambil nasi, yang untungnya masih ada di dalam magic com, jadi dia tidak perlu lagi repot-repot memasak nasi.
Nathan berdecak kagum melihat calon istrinya yang memasak dengan sangat lihai, tanpa kesusahan sedikit pun. Dia baru tau jika Dara bisa memasak, karena semasa mereka pacaran dulu, Dara tidak pernah menunjukkan keahlian memasaknya, hanya sering membawa bekal, yang dia katakan dibuat oleh ibunya.
Tak berselang lama, dua piring nasi goreng sudah siap. Dara segera menyajikannya, dan memberikan sepiring untuk Nathan.
"Wow, ini sih yang dinamakan sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui," celetuk Nathan.
"Hah? Maksud lo?"
"Iya, saya cari istri, dan sekarang malah dapat pembantu juga. Jadi, kamu itu paket komplit. Saya nggak perlu lagi nyari pembantu, karena kamu bisa merangkak sekaligus jadi pembantu. Lumayan, dapat istri rasa pembantu," jawab Nathan dengan enteng.
Nathan memilih untuk diam saja, lalu memasukkan sesendok nasi goreng tersebut ke dalam mulutnya.
"Gila! Masakan kamu enak banget, Dar!" Mata Nathan berbinar saat merasakan rasa nasi goreng yang sangat nikmat tersebut, terlebih yang membuatnya adalah wanita yang sangat dia cintai, meski pun wanita itu pembohong, mana tidak setia lagi.
Senyum kecil muncul di wajah Dara. Entahlah, dia merasa bahagia ketika seseorang memuji masakannya. Nathan tentu melihat senyum indah wanita itu. Sepertinya dia harus sering-sering memuji wanita itu agar dia bahagia.
Tak berselang lama mereka selesai makan. Nathan dan Dara lalu segera pergi ke salah satu tempat yang populer, di mana menjual berbagai jenis cincin pernikahan.
******
"Ini adalah cincin yang paling mahal di toko kami, Kak. Harganya 150 juta." Pegawai toko tersebut memperlihatkan cincin yang memiliki motif yang sangat cantik, di mana cincin wanita memiliki berlian besar yang asli di tengahnya, dan untuk pria, memiliki motif berlian kecil yang melingkari setengah dari cincin tersebut. Terlihat sangat manis.
Nathan yang mendengarnya hanya mampu mengelus dada, lalu mendekati Dara yang sedang mencoba cincin tersebut, berniat membisikkan sesuatu.
__ADS_1
"Dar, bisa nggak sih kamu aja yang pakai cincin? Saya nggak perlu, Dar! Uang sebanyak itu kalau dibelikan cilok bisa dapat beribu-ribu panci," bisik Nathan yang sontak mendapat pukulan di bahunya.
"Yaudah, nggak jadi nikah aja!" ketus Dara.
"Ckk ... ancamannya itu mulu!" gerutu Nathan. "Yaudah saya ambil yang ini. Tapi kalau nyicil bisa nggak sih?" Nathan bertanya sambil cengengesan, wajahnya terlihat sangat polos sekali.
"He-he ... bejanda, Mbak. Yaudah ini!" Melihat tatapan tajam calon istrinya, nyali Nathan seketika menciut. Segera dia mengeluarkan black card miliknya.
"Yaudah, sebentar kita bungkusin ya, Kak." Pegawai tersebut berkata dengan sangat ramah, lalu meraih black card tersebut.
Sebenarnya Nathan dan Dara berencana membeli cincin dari hari-hari yang lalu, tetapi karena banyaknya pekerjaan, mereka lalu mengundurnya, sehingga hari inilah mereka bisa membelinya. Ya, mau bagaimana lagi? Tuntutan pekerjaan membuat mereka tidak bisa membelinya.
'Huh ... yaudah nggak apa-apa lah, yang penting belah duren'
TBC
.
.
.
__ADS_1
.