Menikah Dengan Pria M*esum (Suami Takut Istri)

Menikah Dengan Pria M*esum (Suami Takut Istri)
Ketakutan Dara


__ADS_3

Dara terus mengabaikan Nathan yang sedari tadi mengajaknya berbicara. Jujur saja, dia benar-benar kecewa dengan Nathan. Satu yang perlu diketahui, dia paling benci dengan yang namanya pembohong! Dia lebih suka dengan orang yang mau berterus terang, meskipun faktanya menyakitkan. Tetapi menurutnya, fakta itu mungkin akan lebih menyakitkan jika dia mendengarnya dari orang lain. Bagaimana mungkin sosok Nathan yang sangat dia percayai, kini malah menghancurkan pandangannya terhadap laki-laki itu.


Dia selalu percaya pada Nathan, tapi kini? Kepercayaannya justru dipermainkan oleh Nathan. Apakah laki-laki itu menganggap sepele sebuah kepercayaan? Dara selalu percaya jika seseorang sudah berani berbohong, maka tidak menutup kemungkinan dia akan berani berbohong lagi. Dan dia benci dengan itu semua!


"Dar, kamu kenapa diam aja? Aku minta maaf .... Tolong jangan kayak gini." Nathan minta maaf yang kesekian kalinya.


Saat ini mereka memang berada di dalam mobil. Selama pesta tadi berlangsung Dara selalu mengabaikan dia. Sepertinya wanita itu benar-benar kecewa pada dirinya sekarang. Sebenarnya dia tidak bermaksud membohongi istrinya, hanya saja dia belum siap Dara mengatahui masa lalunya yang benar-benar kelam tersebut. Dia takutnya Dara semakin kecewa padanya.


"Diam! Gue nggak mood buat bicara," sahut Dara akhirnya karena telinganya terasa panas mendengar ucapan permintaan maaf Nathan sedari tadi.


"Tapi ... kamu maafin aku, kan?" tanya Nathan memastikan jika Dara mau memaafkannya.


Dara tidak menjawab, dia memilih untuk diam saja sambil terus memandang ke luar jendela. Nathan yang melihatnya hanya mampu mengembuskan napas kasar. Memang sewajarnya Dara kecewa padanya.


Sementara Dara, meskipun dia menatap ke luar jendela, tetapi pandangannya terlihat kosong. Dia melamun, mengingat kembali pembicaraannya dengan wanita yang bernama Lucy tadi.


Hatinya benar-benar gelisah sekarang. Dia dapat merasakan jika Lucy bukanlah wanita biasa.


Mendengar ucapan Lucy yang mengatakan akan merebut Nathan darinya membuat dia merasa sesak. Dia benar-benar takut kehilangan sosok Nathan, apalagi sekarang dia sadar jika dia sudah mencintai laki-laki itu. Ketakutan tanpa alasan seketika menyelimuti hatinya.


'Apakah akan ada badai besar yang menerpa rumah tanggaku nanti?' batin Dara. Perlahan cairan hangat yang mendesak di dalam sana keluar membasahi pipinya, dan itu semua tanpa sepengetahuan Nathan.


Apakah dia akan sanggup melewatinya?


Atau justru dia kalah?


Itulah yang sederet pertanyaan yang dia tanyakan pada dirinya sendiri. Tetapi dia tetap tidak menemukan jawabannya. Mungkin menang, mungkin juga kalah.


'Tuhan, tolong jangan pisahkan apa yang sudah Engkau satukan.' Dara menyeka air matanya secara perlahan, agar gerak-geriknya tidak dilihat oleh Nathan.


Nathan sendiri sangat sedih melihat istrinya yang sedari diam. Akhirnya dia memutuskan untuk diam saja, dan fokus mengemudi mobil agar segera sampai di rumah, dan menjelaskan semuanya pada istrinya, meski pun terlambat. Ya, terlambat, karena wanita itu sudah tau, meski pun tidak semuanya.


'Enggak, Dar! Lo nggak akan kehilangan Nathan!' Dara menyangkal perasaannya saat instingnya mengatakan mungkin akan ada banyak air mata nantinya, dan pastinya Nathan akan pergi. Tetapi dia berusaha untuk menyangkal itu semua, karena yakin Nathan akan selalu bersama dengan dia.


Tak berselang lama mobil sampai. Segera Dara keluar lebih dulu meninggalkan suaminya begitu saja. Lagi dan lagi Nathan hanya mampu menghembuskan napas kasar. Dia tidak bisa diginikan oleh Dara. Jika disuruh memilih, dia lebih suka Dara berbuat kasar dan bersikap ketus padanya, dari pada seperti ini.


Nathan menyusul istrinya masuk ke dalam rumah, lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mereka, kamar yang sudah tidak mereka tempati hampir seminggu ini.


"Dar ...." Nathan kembali memanggil istrinya, namun tidak ada sahutan. Padahal Dara tadi masuk ke dalam kamar. Pikirnya.

__ADS_1


"Sayang ... kamu di mana?" Nathan kembali memangil istrinya sambil celingukan ke sana kemari. Masih tidak ada sahutan, tetapi terdengar suara percikan air dari dalam kamar mandi. Nathan menghembuskan napas lega, karena tau jika istrinya ada di dalam kamar mandi.


'Mas akan beritahu semuanya, Sayang. Tanpa ada yang ditutup-tutupi!' gumam Nathan bersungguh-sungguh dalam hati.


Nathan duduk di atas kasur, menunggu istrinya selesai membersihkan diri. Dia terus merangkai kata-kata dalam hati untuk mengatakannya pada istrinya nanti. Bahkan dia terus merapalkan doa, berharap istrinya tidak akan kecewa setelah mengetahui semua masa lalunya yang kejam.


Ceklek ....


Dara keluar dengan wajah datarnya saat melihat suaminya. Melihat wajah istrinya, Nathan tersenyum canggung. Seketika dia menjadi salah tingkah saat istrinya menatap dia dengan tatapan ... argh, entahlah.


"Dar, aku bakal nge–"


"Mandi!" ucap Dara dengan suara dingin dan menusuk.


Nathan yang mendengarnya sontak mengerjab-ngerjabkan matanya, lantas berkata dengan wajah polosnya, "Mandi? Mau mandi sama-sama lagi? Kenapa nggak tadi aja?" Rupanya Nathan salah mengartikan, dia pikir istrinya baru saja mengajak dia ingin mandi bersama-sama.


Dara tidak menyahut, tetapi tatapannya semakin menajam menatap Nathan, sehingga memuat Nathan menjadi semakin tidak karuan.


'Mandi? Maksudnya mandi apaan kalau bukan mandi sama-sama?' Nathan berusaha mencerna baik-baik ucapan istrinya tadi, mendadak saja otaknya ngeblenk. Bagaimana mungkin di situasi ini otaknya masih saja memikirkan belah duren.


"Silahkan mandi." Dara memperjelas ucapannya.


Mengerti maksud istrinya, Nathan seketika menepuk jidatnya. 'Astagfhirullah, jadi maksudnya gue mandi gitu? Ckk ... gue pikir ngajak mandi sama-sama!'


Dara berjalan menuju kasur, lalu segera merebahkan dirinya di atas kasur empuk itu. Dia menatap langit-langit atap kamar mereka.


Tiba-tiba tangan Dara memegang perutnya, lalu mengelusnya dengan lembut. "Jangan hadir dulu ya sebelum Bunda mengatasi semua ini." Dara sadar jika pertama kali dia memberikan tubuhnya untuk Nathan adalah saat-saat dia sedang suburnya. Dia bukannya tidak mau mengandung darag daging Nathan. Tidak! Tidak ada maksud seperti itu. Hanya saja, dia belum siap memikirkan semuanya.


Membayangkan apa saja yang mungkin terjadi ke depannya membuat Dara kembali meneteskan air matanya. Dia menangis tanpa suara.


Mendengar pintu kamar mandi yang dibuka, Dara segera menarik selimutnya, lalu berbaring membelakangi Nathan, karena sekarang air matanya belum bisa berhenti keluar.


Nathan memandang sendu istrinya. Dia tidak suka suasana seperti ini. Dia suka melihat istrinya yang banyak berbicara, bahkan marah-marah tidak jelas. Ya, dia menyukai itu semua, dan dia benci melihat istrinya yang hanya diam. Dia tidak benci dengan istrinya, tetapi dengan dirinya sendiri karena telah menyakiti hati wanita itu.


Perlahan Nathan naik ke atas kasur, dia mendekati istrinya, lalu menyentuh bahu wanita itu.


"Dar, aku minta maaf. Aku nggak bermaksud ngebohongin kamu. Aku tau aku salah, tapi alasan aku nggak bilang sama kamu, karena aku takut kamu kecewa sama aku, apalagi pas aku dengar dari mulut kamu sendiri kalau aku cinta pertama dan terakhir kamu. Aku ngerasa bersalah, makanya aku nggak jujur sama kamu. Aku nggak bermaksud apa-apa, Dar." Nathan menjelaskan dengan lembut, meski suaranya terdengar sedikit bergetar.


Dara yang mendengarnya bukannya merasa tenang, kini dia menangis dengan isakkan kecil yang keluar dari mulutnya. Dia bahkan bingung dengan dirinya sendiri, kenapa dia malah menjadi sensitive seperti ini?

__ADS_1


Nathan terkejut bukan main saat merasakan bahu istrinya bergetar, lalu diikuti isakan kecil wanita itu. Apakah istrinya menangis?


"Dar, kamu nangis?" Nathan berusaha membalikkan tubuh istrinya, dan berhasil meski mendapat penolakkan dari Dara.


Hati Nathan terasa sakit melihat wajah istrinya yang dipenuhi air mata. Kini dia merasa seperti laki-laki yang br***sek yang sudah membuat wanita yang dia cintai menangis.


Sementara Dara, tangannya berusaha menyeka air mata yang sama sekali tidak berhenti sedari tadi.


Nathan membawa istrinya ke dalam pelukkan. Bukannya berhenti menangis, tangis Nathan justru semakin kencang.


"Aku minta maaf, Dar. Aku bakal bilang sama kamu semuanya, dan janji nggak akan pernah bohong lagi sama kamu." Nathan terus menghujani kecupan di kepala istrinya. Dia benar-benar merasa bersalah pada Dara.


"Than, perasaan gue nggak enak. Gue ngerasa bakal ada yang nggak beres nantinya. Gu–gue takut, gue takut lo bakal ninggalin gue nantinya. Gue takut, Than. Hiks ...." Dara mengungkapkan pada Nathan tentang Nathan perasaan yang menjadi tidak karuan. Dia dapat merasakan tidak lama lagi akan ada badai besar yang seolah tidak bisa dihindarkan.


Mendengar ucapan istrinya membuat Nathan ikut meneteskan air mata. Tidak bisa dipungkiri jika dia juga merasa perasaan yang sama, tetapi dia memilih untuk diam saja.


"Jangan takut, Dar. Aku nggak bakal ninggalin kamu. Aku akan selalu ada di samping kamu. Aku BERSUMPAH tidak akan pernah ninggalin kamu apa pun yang terjadi. Tolong jangan kayak gini. Jadilah Dara yang aku kenal selama ini, yaitu wanita yang tangguh dan berani. Jangan khawatir, wajar saja jika dalam hubungan rumah tangga ada badai. Tapi percayalah, semua itu pasti berlalu."


"Aku nggak akan ninggalin kamu. Kamu bisa pegang janjiku ini." Nathan berkata dengan sungguh-sungguh.


"Lu–Lucy ..." lirih Dara nyaris tak bersuara.




TBC



.



.



.

__ADS_1



.


__ADS_2