
Jam menunjukkan pukul satu siang. Lucy duduk di sebuah ruangan dengan secangkir kopi di hadapannya. Saat ini dia sedang menunggu kedatangan laki-laki yang sangat dia nantikan. Dia harus segera menyelesaikan semuanya secepat mungkin. Entah kenapa dia jadi cemburu, hatinya memanas mengingat ucapan yang dilontarkan Dara pada Nathan miliknya. Rasanya dia tidak sudi jika laki-laki kesayangannya itu disentuh oleh wanita j*l*ng seperti Dara!
"Kenapa Kendrick lama sekali?" Lucy menggerutu di dalam ruangan itu saat melihat jarum jam yang terus bergerak. Jika diingat-ingat dia sudah duduk di kursi itu sekitar lima belas menit yang lalu. Tetapi tidak ada tanda-tanda jika Kendrick akan datang.
"Apa dia gagal menyeret laki-laki itu?" gumam Lucy. Jujur saja dia paling benci dengan yang namanya menunggu, karena menurutnya hal itu sangat membosankan. Tetapi kini apa? Dia melakukan hal yang tidak dia sukai.
"Nathan, aku bahkan rela melakukan ini semua. Jadi, kamu harus membayar waktu berharga yang sudah kusia-siakan ini, yaitu dengan menjadi milikku!" ucap Lucy tersenyum manis saat teringat kembali wajah tampan Nathan yang menjadi candu untuknya.
"Kenapa kau sangat tampan sekali, Than?" Sepertinya Lucy sudah benar-benar gila sampai terobsesi dengan Nathan. "Kau menggemaskan, lucu, berotot, kekar, pokoknya kamu sangat sempurna di mataku."
Saat sedang asik-asiknya membayangkan tubuh Nathan, tiba-tiba pintu dibuka tanpa diketok terlebih dahulu, lalu munculah dua sosok laki-laki. Yang satunya sangat familiar di mana Lucy, dan yang satunya sedikit asing di matanya.
Sebenarnya Lucy sangat jengkel dengan sikap Kendrick yang terlihat tidak memiliki sopan santun padanya. Tetapi mau bagaimana lagi? Kendrick benar-benar bisa dipercaya sebagai tangan kanannya. Jadi, tidak mungkin dia memecatnya begitu saja, sedangkan dia masih memerlukannya.
"Bagaimana kau bisa membawanya ke sini?" tanya Lucy yang hanya dibalas tatapan malas dari Kendrick.
"Anda tidak perlu tau, Nyonya. Tapi tambahkan saja bonusku, karena membawanya ke sini bukanlah hal yang mudah," jawab Kendrick dengan wajah datarnya, dan sedikit sinis.
Lucy terkekeh mendengarnya. Kendrick benar-benar mata duitan. Setiap apa yang dilakukan laki-laki itu pasti dia akan meminta bonus tambahan.
Kendrick adalah anak yatim piatu, dan hidupnya pun biasa-biasa saja. Itulah informasi yang dia dapat mengenai laki-laki itu. Entah itu benar atau tidak, dia sama sekali tidak peduli.
"Kau tenang saja, Ken. Aku pasti akan berikan bonus sesuai kinerja mu," sahut Lucy tanpa beban sedikit pun.
Kendrick hanya mengangguk tidak peduli, lalu segera pergi dari sana tanpa sepatah kata. Lucy yang melihatnya hanya mampu menggeleng-gelengkan kepalanya. Anak buahnya itu benar-benar dingin dan tak tersentuh.
"Ckk ... bagaimana mungkin dia bisa mendapat pasangan jika sifatnya saja seperti es batu," gumam Lucy nyaris tak bersuara.
"Silahkan duduk, Tuan Leo." Dengan lembut Lucy mempersilahkan Leo duduk. Kali ini Lucy nampak sangat percaya diri. Bagaimana tidak, dia baru saja mendapat sebuah video dari Kendrick yang menayangkan di mana Leo sedang duduk merenung di tempat yang dia sendiri tidak tau. Dia memang sengaja mengadakan pertemuan agak siangan, dan tanpa disuruh pun Kendrick tau tugasnya, yaitu mengikuti Leo ke mana pun pergi.
"Sebenarnya gue masih kecewa banget sama lo, Than! Rasa dendam gue belum bisa hilang sepenuhnya!"
"Gue pengen lo ngerasain sakit seperti yang gue rasain! Gue pengen ngeliat lo nangis, ngerasain di posisi gue, yang sedih dan terpuruk ngeliat orang yang lo sayang dengan kondisi sedang tidak baik-baik saja."
"GUE PENGEN, THAN!"
Begitulah kurang lebih yang Leo ucapkan yang sempat direkam oleh Kendrick. Ternyata laki-laki itu benar. Sepertinya memang bukanlah hal yang mudah melupakannya begitu saja. Lucy benar-benar bersyukur bisa memiliki tangan kanan seperti Kendrick yang bisa diandalkan.
Leo duduk di kursi yang disediakan. Dia menatap Lucy dari atas sampai bawah. Bagaimana dia bisa berada di sini itu masih menjadi rahasianya.
"Perkenalkan, gue Lucy." Lucy menyodorkan telapak tangannya di hadapan Leo, tetapi laki-laki itu hanya menatapnya saja tanpa berniat membalas salam tersebut. Hal itu tentu membuat Lucy murka. Andai dia tidak ingat apa tujuannya bertemu dengan laki-laki itu, maka dia pastikan akan menghabisi laki-laki bernama Leo ini.
'Tahan Lucy! Ingat tujuanmu datang ke negara ini!' Lucy berusaha untuk menenangkan amarahnya yang hampir memuncak. Dia paling tidak suka ada orang yang mengabaikannya begitu saja. Dia tidak suka dianggap rendah oleh orang-orang.
"To the point! Apa yang Anda inginkan sampai menyuruh saya untuk datang ke sini!" ucap Leo penuh penekanan.
__ADS_1
"Santai .... Relax .... Mau makan dulu?" Di saat Leo berbicara menggunakan bahasa formal, Lucy justru menyahutinya dengan bahasa nonformal.
"Jika Anda tidak langsung to the point! Maka saya anggap tidak ada yang penting, dan saya akan pergi. Anda membuang waktu berharga saya!" Leo berkata dengan serius.
Lucy yang mendengarnya berdecih dalam hati. 'Cih ... belagu sekali laki-laki ini! Bos saja bukan!'
Baru saja Leo bangkit, berniat hendak pergi. Lucy lebih dulu menahan laki-laki itu.
"Ckk ... makanya jangan bertele-tele!" bentak Leo tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Sementara Lucy memejamkan matanya, berusaha bersabar menghadapi laki-laki di depannya.
"Saya ingin mengajak Anda bekerja sama." Lucy langsung mengutarakan niatnya.
"Bekerja sama?" beo Leo dengan kerutan di keningnya. "Bekerja sama apa?"
"Bekerja sama menghancurkan Nathan," jawab Lucy yang sontak membuat Leo membelalakkan matanya.
"APA KAU GILA? AKU INI SAHABATNYA!" bentak Leo dengan napas memburu.
"Ya aku tau itu. Tapi aku hanya ingin menawarkan tawaran yang menggiurkan untukmu. Selain itu, aku pastikan akan memberikanmu uang dalam jumlah yang tidak sedikit." Lucy berusaha untuk membujuk Leo agar mau bekerja sama dengannya.
"Cuih ... aku bahkan tidak sudi ingin bekerja sama dengan wanita sepertimu! Apalagi menghancurkan sahabatku sendiri. ITU HANYA ADA DI MIMPIMU!" ucap Leo penuh penekanan.
"Oh, benarkah?" Lucy terkekeh mendengar penuturan laki-laki di depannya. Dia lalu mengambil handphonenya yang kebetulan ada di dalam tas kecilnya. Segera dia tunjukkan video yang menampilkan Leo yang sedang berteriak frustasi sambil mengatakan ingin membalas dendam.
"Aku dapat dari mana ini tidak penting. Sekarang bagaimana? Apa kau ingin bekerja sama denganku?" tawar Lucy lagi.
Leo tersenyum sinis menatap Lucy. "Apakah kau pikir aku akan menyetujuinya hanya dengan video itu saja? Ckk ... video itu bahkan tidak mempan untukku," jawab Leo yang masih keukeh dengan pendiriannya.
"Tentu saja aku berpikir seperti itu!" jawab Lucy dengan penuh percaya diri. "Kira-kira bagaimana jika aku tunjukkan video ini pada Nathan dan Dara. Kira-kira bagaimana reaksi mereka? Apakah mereka akan tetap mau membantu kehidupan miskin lo itu? Atau mereka justru akan menelantarkan lo?" kekeh Lucy.
"Dan apa kau pikir mereka akan melakukan itu semua? Tapi kau salah besar, Nona. Nathan dan Dara tidak akan mungkin tega melakukan itu padaku."
"Kau benar. Nathan ku tidak mungkin setega itu. Tapi ... bagaimana jika aku tunjukkan video ini untuk pria yang bernama Bima? Kira-kira bagaimana reaksinya? Apakah dia akan terkejut? Atau mungkin dia akan terkena serangan jantung saat mengatahui ternyata putranya seorang yang pendendam." Lucy bergaya seolah-olah ia sedang sedih.
Tubuh Leo sontak membeku. Dia paling lemah jika itu berurusan dengan ayahnya, laki-laki yang sangat berarti di hidupnya. "Lo!" Leo menunjuk Lucy, tetapi reaksi Lucy biasanya, masih tenang.
"Lo jangan macem-macem sama ayah gue!" ucap Leo dengan suara beratnya.
"Hey, ayolah! Ini akan sangat menguntungkan kita berdua. Aku tau jika kau mencintai wanita yang menjadi istri sahabatmu. Aku dapat melihatnya dari sorot matamu. Jika kau menerima tawaran ini, kau berkemungkinan memiliki Dara, dan aku memiliki Nathan. Tidak hanya itu, aku bahkan akan membayarmu. Cobalah kau pikirkan kembali tawaranku ini." Lucy berusaha mengambil alih pikiran Leo, berharap laki-laki itu mau bekerja sama dengannya.
"Bagaimana kau tau jika aku mencintai Dara?" tanya Leo sambil terkekeh kecil. "Nathan bahkan tidak menyadari itu semua."
"Karena dia dibutakan dengan embel-embel sahabat. Aku orang asing saja dapat melihat itu semua." Meski pun Lucy tidak tahu dan tidak paham itu semua, tetapi Kendrick yang memberitahukannya. Laki-laki itu memang serba guna.
__ADS_1
"Ya, aku menyukai Dara. Bahkan sejak lama. Saat aku belajar menyatakan cinta dengan Dara, aku tidak sepenuhnya menganggap itu semua hanya bentuk latihan. Tapi, aku emang serius nyatain cinta, dan itu buat Dara."
Lucy yang mendengarnya tersenyum senang. Sepertinya sebentar lagi mangsanya akan masuk ke dalam perangkap. Ternyata informasi yang diberikan Kendrick sangat berguna.
"Benar, kan? Jadi pikirkan kembali tawaranku ini. Aku pastikan Dara akan menjadi milikmu!" Lucy berusaha untuk terus meyakinkan Leo yang sepertinya mulai terhasut olehnya.
"Maaf, tapi saya tidak tertarik dengan tawaran sampah Anda itu!" ucap Leo santai, lalu bangkit dan pergi dari sana.
Lucy membelalakkan matanya. Kenapa sangat susah sekali bernegosiasi dengan laki-laki itu. Sudah miskin, belagu lagi! Gerutu Lucy dalam hati.
'Sepertinya aku harus langsung lanjut ke rencana kedua'
"TUNGGU!"
Leo yang baru saja berniat membuka pintu terdiam. Dia membiarkan wanita yang menurutnya gila itu untuk berbicara sesukanya. Tetapi meski lun demikian, dia tidak berbalik sama sekali.
"Aku mendapat informasi kalau Nathan berniat membun-uh Ayahmu!" ucap Lucy dengan wajah seriusnya.
Ucapan Lucy berhasil membuat Leo berbalik, lalu menatap wanita itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Tetapi sedetik kemudian Leo tertawa nyaring.
"Jika itu terjadi, maka aku akan dengan senang hati menerima tawaranmu, bahkan tanpa upah sekali pun aku tidak masalah. Tapi ... jangan terlalu berharap Nona. Nathan tidak sejahat Anda!"
Lucy yang mendengar ucapan awal Leo tersenyum senang. Sepertinya memang tidak ada cara lain selain menghabisi nyawa pria paruh baya itu. Lagian dia sudah sangat tua. Pikir Lucy.
'Kita liat nanti Leo! Gue pastiin lo bakal benci banget sama Nathan.'
TBC
.
.
.
__ADS_1
.