Menikah Dengan Pria M*esum (Suami Takut Istri)

Menikah Dengan Pria M*esum (Suami Takut Istri)
Restoran Kaki Lima, Kembarannya Bintang Lima


__ADS_3

..."Percayalah, saya orangnya nggak pelit, cuman hemat doang. You know hemat?" ~ Nathan....


Tangan Dara dengan antengnya kembali menampar, dan kali ini sasarannya adalah pipi Nathan, tapi tamparannya kali ini hanya pelan saja menurutnya.


Nathan diam, tidak berani lagi mengeluarkan sepatah kata, takut jika dia kembali bersuara, justru kaki Dara lah yang nanti melayang di wajah tampannya.


'Ya Allah, Nathan cuman mau ngingetin, ini belum nikah, lho' batin Nathan dengan pandangan sendu.


"Jangan ngajak gue ngomong! Bilang kalau udah sampai!" Setelah mengatakan itu, Dara memilih untuk memejamkan matanya saja.


"Dih ... orang situ juga yang ngajak saya ngomong," gumam Nathan dengan suara yang sangat pelan, bahkan hampir tidak bersuara, sehingga Dara tidak mendengarnya.


Nathan memilih untuk diam saja, tidak mau membuat wanita di sampingnya kembali marah, apalagi jika sampai benar-benar mengamuk, lalu menerkam dirinya, dan memperk*sa dia di mobil. Sungguh Nathan ngeri membayangkan keperjakaannya yang direnggut secara paksa oleh Dara.


Di pertengahan jalan Nathan melihat kedai bakso di pinggir jalan. Tanpa basa-basi, dia segera memarkirkan mobilnya, karena dari tadi dia memang mencari kedai bakso, bukan restoran. Maklum berhemat.


"Dar! kita udah sampai nih," ucap Nathan lembut sambil menepuk pelan pipi wanita di sampingnya yang sepertinya sempat terlelap tidur.


Tidur Dara terusik akibat ulah Nathan. Perlahan wanita itu membuka matanya. Dara mengerjab-ngerjabkan matanya untuk mengumpulkan nyawanya yang sedang berkeliaran entah kemana.


"Udah sampai, ya?" gumam Dara, lalu melihat ke luar jendela.


Mata Dara melotot saat melihat sekelilingnya. "Nathan, kita ada di restoran mana?" pekik Dara.


"Kita ada di restoran kaki lima, kembarannya bintang lima," jawab Nathan asal.


"Lo waras, hah? Masa iya lo ngajak gue makan di pinggir jalan!" pekik Dara dengan napas memburu.


"Alhamdulillah, saya waras kok, Dar. Kalau saya ngajak makan di tengah jalan, itu baru nggak waras, Dar! Kenapa? Karena kita bisa aja kita gepeng kelindas truck," sahut Nathan dengan santai.


"Lo benar-benar ya, Than. Lo bisa modal dikit nggak sih, hah?" Dara tentu merasa sangat kesal dengan laki-laki itu. Apakah sebegitu pelitnya dia sampai-sampai mereka harus berakhir di kedai bakso? Tidak bisakah mereka makan di restoran saja?


"Ckk ... kamu jangan salah, Dar! Makanan pedagang kaki lima bukan berarti nggak enak. Kamu coba aja kalau nggak percaya, saya jamin kamu bakalan ketagihan, apalagi makannya ditemani laki-laki tampan seperti saya." Nathan menyisir rambutnya menggunakan tangan, bergaya seolah-olah dia memang keren.

__ADS_1


"Yang ada gue bisa muntah kalau makan sambil ngeliat Lo! Pede banget jadi orang." Dara tidak habis pikir dengan sifat Nathan yang terlalu pede seperti itu, padahal menurutnya Nathan ukuran standar saja. Tidak tampan, tapi tidak jelek juga.


Dara segera keluar dari dalam mobil, lalu berjalan menuju kedai bakso tersebut dengan sedikit berdecak kesal.


Nathan yang melihatnya ikut berdecak kesal juga, lalu segera keluar dan mengejar wanita yang lebih dulu pergi itu.


"Pak, pesan bakso 10 mangkok, ya!" ucap Dara sedikit berteriak.


"Astagfhirullah!" Nathan yang baru sampai sontak terkejut mendengar jumlah pesanan Dara. Apakah wanita itu yakin bisa menghabisi bakso sebanyak itu?


"Kamu seriusan Dar pesan sebanyak itu? Bukannya apa-apa, tapi sepuluh mangkok itu 150 lho uangnya!" Bukannya membahas tentang kesehatan wanita itu, Nathan justru membahas masalah uang yang akan dikeluarkannya nanti.


'Memang pelit!' gerutu Dara dalam hati.


"Lo nggak usah ngebahas tentang uang! Kalau perlu gue yang bakalan bayar nih bakso! Dasar pelit!" ketus Dara.


"Bukan pelit, Dar! Tapi hemat," tutur Nathan dengan lembut.


"Tap —"


"Enggak, Pak. Satu mangkok aja, ya," pinta Nathan dengan ramah.


"Emangnya lo nggak lapar, Than?" Dara tentu sedikit heran mendengarnya, apakah laki-laki itu tidak merasa lapar? Padahal dirinya saja sudah sangat kelaparan.


"Ya laparlah! Kamu pikir saya kangguru!" jawab Nathan sedikit ngegas.


"Hah? Emang kenapa kalau kangguru?" tanya Dara penasaran.


"Ckk ... ini gimana ceritanya seorang telur dadar, yang dihasilkan dari ****** ayam yang bahenol, sekseh, dan yang pastinya membahana, lalu diolah dengan cara dipecahkan menjadi dua bagian, tidak lupa juga ditaburi dengan lada dan penyedap rasa, dan pastinya dengan bumbu cint— mphhh!"


Belum sempat Nathan menyelesaikan ucapannya, tissue lebih dulu mendarat di dalam mulutnya, dan itu semua tentu perbuatan dari seorang wanita yang bernama Dara, wanita cantik tapi sadis menurut Nathan.


"Lo tuh bisa nggak sih waras dikit?" tanya Dara dengan intonasi yang nyaring, sehingga membuat mereka menjadi pusat perhatian oleh para pembeli yang ada di sana.

__ADS_1


Nathan dengan kasar memuntahi tissue yang ada di dalam mulutnya tersebut, kemudian menatap tajam Dara yang justru membuat Dara ikut menatap tajam. Hal itu justru membuat nyali Nathan menciut, pasalnya tatapan Dara tajam, setajam gibahan tetangga.


"Ckk ... kamu bisa nggak sih jangan asal sumpal aja Ayank calon istri? Ini mulut, lho. Bukan tong sampah! Kenapa kamu nggak sumpal pakai bibir aja? Kan biasanya kalau di novel-novel gitu. Setiap cowok atau cewek cerewet, lalu disumpal pakai mulut, terus dilum*t, akhirnya berakhir di ranjang panas. Tapi kamu apa? Saya pengen banget lho praktekinnya. Tapi saya sadar, kamu bukan perempuan yang pas untuk mempraktekkannya bersama-sama, karena saya yakin, kalau saya nggak bakalan selamat kalau berani. Syukur-syukur kalau kamu diam aja setelah saya cium, tapi kalau kamu langsung lari ke dapur, terus ambil golok, siap membac*k saya, kan bahaya, Dar! Masa iya muncul berita di TV, akibat seorang calon suami yang nekad mencium calon istrinya, kini nyawa sang pria sedang berada diambang kematian. Pria tersebut sedang menghadapi masa kritisnya. Ternyata sang wanita, selain sadis, dia juga pembohong, mana tidak setia lagi. Sumpah, Dar! Itu sama sekali nggak lucu." Nathan kembali berbicara panjang lebar, tanpa memperdulikan banyak pasang mata yang terus memperhatikan mereka. Bahkan tak sedikit yang merasa wajah dan sifat Nathan bertolak belakang.


Dara memejamkan matanya, bagaimana pun mereka sedang berada di tempat yang ramai, jadi tidak mungkin dia menghabisi laki-laki itu di sini.


Sementara pemilik kedai bakso tersebut merasa sedikit bingung. Dia sudah berdiri sejak tadi, tetapi kedua manusia tersebut tak kunjung memesan makanan.


"Ini jadi pesan nggak Neng, Kang?" Pemilik kedai tersebut memilih untuk bertanya saja, agar dia bisa kembali ke grobaknya. Bukan apa-apa, cucian piring sedang menumpuk di sana.


"Lo pesan nggak nih?" Dara bertanya, karena merasa sedikit tidak enak pada pedagang yang sejak tadi memperhatikan mereka, apalagi melihat tatapan para pembeli yang ada di sana.


"Iya! Tapi kita pesan satu mangkok aja, biar romantis gitu. Tapi, saya yang makan baksonya, kamu minum kuahnya aja," saran Nathan yang sontak saja membuat Dara menarik napas panjang, kemudian menghembuskannya secara perlahan untuk menimalisir emosinya yang sudah sampai ke usus-usus, bahkan empedu.


'Sekalian hemat, 'kan?'




TBC



.



.



.

__ADS_1



.


__ADS_2