Menikah Dengan Pria M*esum (Suami Takut Istri)

Menikah Dengan Pria M*esum (Suami Takut Istri)
Itulah Gunanya Istri, Yaitu Bisa Merangkap Jadi Pembantu!


__ADS_3

"Bisa cepat dikit nggak sih, Dar? Saya capek lho," cetus Nathan sambil terus memainkan handphonenya, sementara Dara sibuk mengemasi pakaiannya ke dalam koper.


Kebetulan kedua orang tuanya sedang pergi, karena ada urusan yang tidak bisa ditunda-tunda, sedangkan adiknya pergi entah kemana, mungkin sedang nongkrong dengan teman-temannya. Sehingga di rumah tersebut hanya ada mereka saja.


"Ckk ... orang gue yang kerja, kenapa malah lo yang capeknya?" ketus Dara dengan wajah yang sudah jengkel.


"Ya terserah saya dong! Emang nggak boleh kalau saya capek?"


"Iya'in deh! Yang waras memang harus ngalah sama yang —"


"Genteng!" sahut Nathan lebih dulu, lalu cengengesan tidak jelas saat melihat wajah datar istrinya.


Dara tidak mau banyak bicara lagi dengan Nathan, dia memilih untuk segera menyelasaikan pekerjaannya saja. Nathan sendiri sibuk dengan handphonenya, jujur saja dia marah saat mendapat laporan dari Sean jika sepertinya ada yang sedang bermain-main di perusahaannya. Sean melaporkan jika laporan keungan sedikit bermasalah, dan perusahaan mengalami kerugian. Meski pun tidak terlalu banyak, tetapi tetap saja, dia paling benci dengan yang namanya pengkhianatan.


[Segera cari orang yang sudah berani bermain denganku! Besok aku akan datang ke perusahaan, dan aku ingin orang itu sudah ada dihadapanku besok! Jika kau gagal, kau sudah tau 'kan konsekuensinya?]


Rahang Nathan mengeras, sorot matanya tajam ke arah depan. Kurang baik apa dia pada karyawannya? Gaji sudah dia sesuaikan tergantung bagaimana cara kerja mereka! Tidak pernah sekalipun dia mengurangi gaji mereka jika mereka bekerja sampai lembur. Bisa dibilang para karyawan tersebut merasa beruntung bisa bekerja di perusahaan milik Nathan, hanya saja, perusahaan Nathan memang memiliki aturan sangat ketat, sehingga tidak sembarang orang bisa masuk ke dalam perusahaannya, bahkan sekalipun dibantu oleh orang dalam.


Ya, inilah sosok Nathan yang sebenarnya, berbanding terbalik jika berhadapan dengan wanita yang bernama Dara, tetapi Nathan juga bisa sedikit berbaur dengan Sean, sehingga dia tidak terlalu dingin terhadap sekretarisnya tersebut.


Dara tentu melihat perubahan raut wajah suaminya tersebut. Kening Dara mengerut melihat Nathan menggeram marah.


"Kenapa lo?" Dara memberanikan diri untuk bertanya.


"Eh ..." Nathan terlihat tampak sedikit terkejut. "Itu ... saya marah waktu ngeliat saldo ATM saya berkurang 100 miliar lebih, dan saya baru ingat kalau uang itu udah raib," sambung Nathan dengan asal.


Dara memutar matanya malas, suaminya itu memang selalu saja membahas tentang mahar yang sudah diberikan. Jika memang tidak ikhlas, kenapa tidak dibatalin saja pernikahannya? Begitulah pemikiran Dara.


"Ckk ... yaudah buruan berangkat!" Dara segera menyeret kopernya tersebut.


"Mau dibantuin?" tanya Nathan saat melihat istrinya sedikit kesusahan menyeret dua koper besar tersebut.


"Ckk ... yaudah boleh," jawab Dara sedikit ketus.


"Cih ... padahal niat hati cuman pengen basa-basi doang, tapi malah dianggap serius. Nggak bisa apa dijawab nggak usah, kan kalau saya udah nawar kesannya suami yang baik gitu." Nathan menggerutu dan tentu saja itu masih bisa didengar oleh Dara.


"Bisa nggak sih kalau ngomong itu dijaga, Than? Kalau emang nggak niat nggak usah!" Dara sudah merasa sangat jengkel dengan suaminya tersebut. Ah, bagaimana mungkin dia sudah hampir gila, padahal baru sehari menikah?


"Ya mau gimana lagi, saya kan orangnya jujur, setia lagi. Kata Pak Haji, kita sebagai manusia harus ngomong jujur, Dar!" sahut Nathan santai, lalu bangkit berdiri, dan berjalan mendekati istrinya tersebut.


"Aaaa! Lo ngapain gendong gue!" Dara memekik dengan sangat nyaring saat Nathan menggendongnya seperti karung beras saja.


"Eh ... Saya pikir kamu karung beras tadi." Bukannya minta maaf, Nathan justru cengengesan tidak jelas.


Tangan Dara sudah terangkat ke udara. Rasanya ingin sekali dia melayangkan tamparan keras ke arah wajah suaminya, berharap dengan cara itu bisa menyadarkan dia.


"Udah nggak usah angkat tangan gitu. Saya nggak lagi ngadain quiz, lagian kalaupun saya ngadain quiz, pasti nggak jauh dari kesetian," celoteh Nathan yang tahu maksud istrinya mengangkat tangan seperti itu.


Tanpa basa-basi Nathan segera mengambil alih dua koper besar tersebut dari tangan Dara, lalu menyeretnya keluar. Dara sendiri segera mengekori suaminya.


"Eh, kalian ada di sini?" Vira dan Damar yang baru saja datang memberikan senyuman pada sepasang pengantin baru tersebut.

__ADS_1


"Iya, Mah, Pah." Dara dan Nathan menjawab bersamaan.


"Nggak mampir dulu sebentar?" tawar Damar.


"Nggak dulu deh, Pah. Kebetulan ini udah sore, kapan-kapan kita pasti berkunjung ke sini kok," tolak Nathan dengan halus.


"Yaudah, kalian hati-hati, ya! Nathan, jaga putri Papah dengan baik, ya! Papah percaya kalau kamu memang yang terbaik. Jadi, jangan pernah kecewain Papah yang sudah memutuskan untuk menyerahkan Dara ke kamu." Damar berkata dengan tegas.


"Baik, Pah!" Nathan menjawab dengan mantap. "Nathan janji nggak akan buat Dara menangis, Pah!" sambung Nathan dengan bersungguh-sungguh. Damar tersenyum mendengarnya, dia sangat percaya kalau dia tidak salah memilih laki-laki untuk putrinya.


"Yaudah kita pamit, ya, Pah, Mah. Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Vira dan Damar hanya mampu memandang sendu kepergian putrinya. Ada sedikit rasa tidak rela, tetapi mau bagaimana lagi? Putri mereka sudah dewasa, sudah sewajarnya ikut dengan suaminya. Sekarang mereka hanya bisa berdoa untuk kebahagian putri mereka.


Sementara Nathan dan Dara segera berangkat menuju rumah baru mereka. Sebenarnya Dara tidak tahu sama sekali tentang rumah tersebut, surprise kata suaminya.


"Dar ..." panggil Nathan menatap sekilas istrinya, lalu kembali menatap jalan.


"He'em?" Dara hanya berdehem saja.


"Nggak ada sih, cuman ngetes doang," jawab Nathan sedikit cengengesan.


'Stres!' batin Dara.


"Iya saya tau kalau saya ganteng, makanya wanita sadis aja kepincut sama saya," celetuk Nathan, seolah tau isi pikiran Dara.


Nathan tidak menyahut, laki-laki itu sontak diam mendengar ucapan istrinya, entah kenapa dia tidak suka mendengar ucapan Dara barusan. Sebegitu tidak inginnya kah Dara hidup dengannya?


Dara heran saat tidak mendapat respon dari suaminya. Biasanya dia pasti akan mencerocos panjang lebar.


'Apa kata-kata gue sedikit keterlaluan, ya?' batin Dara yang seketika merasa bersalah. Tetapi karena gengsi yang tinggi, dia tidak ingin minta maaf.


Dara memilih untuk memejamkan matanya saja.


Merasa mobil yang sudah tidak bergerak lagi, Dara sontak membuka matanya. Matanya menatap sekeliling, tetapi sedetik kemudian dia melotot melihat rumah yang sangat sederhana.


"Kok kecil banget rumahnya! Gue kan udah minta yang besar! Lo mau kita cerai, hah?" pekik Dara.


"Ckk ... Bukan itu rumahnya! Lagian kamu juga nggak bisa bersyukur amat kalau punya rumah begitu! Kamu tuh harusnya bersyukur, setidaknya masih ada tempat berteduh, karena meskipun rumah itu sederhana, tetapi mungkin saja rumah itu adalah tempat yang diimpi-impikan oleh mereka yang tinggal di jalanan!" omel Nathan, yang sontak saja membuat Dara terdiam. Benar juga apa yang dikatakan oleh suaminya.


"Maaf, gue nggak bermaksud ngomong kayak begitu," sahut Dara dengan wajah menyesal.


"Iya nggak apa-apa. Memang sudah menjadi tugas seorang suami untuk menuntun istrinya ke jalan yang benar," ujar Nathan dengan tulus.


"Kenapa lo nggak bersikap dewasa kayak gini aja sih, Than?" tanya Dara yang melihat perubahan sifat suaminya.


"Eum ... karena saya pengen belah duren," jawab Nathan asal, yang sontak saja membuat Dara menatap laki-laki itu dengan datar. Ah, apakah dia terlalu berharap suaminya bisa menjadi sosok yang dewasa? Sepertinya itu tidak akan pernah terjadi!


"Lo ngapain stop di sini?" ketus Dara.

__ADS_1


"Saya mau beli baskom," jawab Nathan yang jengkel dengan kelemotan istrinya itu. "Ya jelaslah saya mau beli bensin, kamu pikir nih mobil bisa gerak kalau nggak ada bensin? Emang kamu sanggup ngedorong nih mobil? Asal kamu tau, mobil ini juga nggak suka didorong sama perempuan yang pembohong, mana nggak setia lagi kayak kamu," sambung Nathan.


"Banyak omong banget sih lo! BURUAN!"


Nathan segera keluar dari dalam mobil. Tak berselang lama, dia masuk lagi dengan terus menggerutu.


"Udah?"


"Ckk ... iya udah! Nyebelin banget, masa bensinnya mahal amat! Perasaan kemaren masih 10 ribu, tapi sekarang malah 15 ribu per liter! Ngambil keuntungan banyak banget! Heran deh! Coba aja kalau saya yang jualan, pasti cuman harga 20 ribu aja!" Nathan justru curhat pada istrinya.


'Ya Allah, padahal cuman naik 5 ribu doang, tapi hebohnya udah kayak emak-emak aja!'


"Udah buruan! Gue udah capek, pengen istirahat!" ucap Dara dengan suara lemah.


Nathan mendengus kesal saat istrinya tak mengindahkan ucapannya tadi, padahal dia berharap Dara juga ikut heboh dan terjadilah pertengaran di antara mereka. Sepertinya Nathan sangat suka melihat Dara marah.


Nathan segera menjalankan mobilnya, melanjutkan perjalanan mereka menuju rumah baru mereka. Ya, rumah yang sudah dibangun Nathan sejak 2 tahun terakhir.


Tak berselang lama, mobil memasuki perumahan elit. Dara yang memang menatap ke luar jendela seketika dibuat takjub melihat halaman rumah tersebut yang terlihat sangat indah, serta rumah yang sangat besar dan megah.


"Yaudah turun! Kita udah sampai," ujar Nathan dengan lembut.


Dara dan Nathan segera turun dari mobil. Dara berdecak kagum melihat rumah berwarna putih di depannya. Benar-benar sangat mewah! Terlihat ada air mancur di sana, serta taman kecil yang dipenuhi dengan bunga dan pohon-pohon kecil.


"Gede juga rumahnya. Ini para pelayannya mana? Biasanya kalau Tuan dan Nyonya-nya datang pasti disambut," celetuk Dara.


"Nih!" Dengan santainya Nathan menunjuk istrinya sendiri, dan itu tentu membuat Dara melotot.


"Kamu kan istri yang sekaligus bisa merangkak jadi pembantu." Nathan berkata sambil cengengesan.


Plak




TBC



.



.



.


__ADS_1


.


__ADS_2