Menikah Dengan Pria M*esum (Suami Takut Istri)

Menikah Dengan Pria M*esum (Suami Takut Istri)
Kemurkaan Nathan Terhadap Istri dan Sahabatnya


__ADS_3

"Sumpah gue capek banget." Nathan merentangkan tangannya ke udara. Tangannya terasa sangat pegal setelah mengerjakan beberapa berkas yang diberikan oleh Leo tadi. Andai bukan sahabat, maka dia tidak akan mau melakukannya.


"Semangat Nathan, tinggal dua berkas lagi, setelah itu lo bisa ketemu sama istri tercinta lo! Ingat, lo udah punya keluarga, jadi nggak boleh bermalas-malasan!" Nathan menyemangati dirinya sendiri. Dengan cepat dia memperhatikan berkas yang tersisa itu. Dia mulai membaca dan fokus dengan setiap tulisan yang tertera, karena dia tidak mau menganggap sepele hal ini. Dia tidak mau perusahaannya mengalami kerugian karena masalah kecil yang dia lakukan.


Tiga puluh menit kemudian akhirnya pekerjaannya selesai juga. Dengan senyum yang mengembang dia segera membereskan berkas-berkas yang berserakan di atas meja kerjanya.


Melihat jarum jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Ternyata sudah jam delapan. Astaga dia bahkan lupa mengabari istrinya jika dia pulang lambat malam ini. Nathan mengambil handphonenya, lalu menelpon Dara, tetapi sama sekali tidak diangkat.


Merasa khawatir, Nathan segera menyambar kunci mobilnya, dan bergegas pulang.


Di perjalanan, tidak sengaja Nathan melihat ada penjual martabak. Seketika dia teringat jika istrinya sangat suka sekali dengan martabak, apalagi martabak manis rasa keju.


Nathan akhirnya menepikan mobilnya, berniat untuk membelikan istrinya martabak. Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya martabak pesanannya selesai juga. Segera dia membayarnya, bahkan memberikan beberapa uang lebih untuk penjual martabak tersebut yang umurnya mungkin hampir setengah abad.


Nathan kembali melanjutkan perjalanannya, sesekali dia bersendung bahagia dengan earphone yang melekat di telingganya.


"Gue benar-benar nggak sabar malam ini," gumam Nathan yang terlihat sangat excited, sepertinya memang benar-benar tidak sabar.


Nathan menambah kecepatan mobilnya. Dia ingin segera sampai di rumah untuk bertemu dengan istrinya. Dia tidak sabar ingin bermanja-manjaan dengan istri rasa pembantunya itu, alias istri tercintanya.


Setelah sampai, Nathan segera memparkirkan mobilnya. Dia sempat melihat mobil yang digunakan Leo tadi. Tetapi meski pun demikian, dia sama sekali tidak berpikiran negatif. Mungkin saja Leo memang sudah pulang dari pemakaman. Pikir Nathan.


Dengan senyum yang mengembang Nathan masuk ke dalam rumah.


"Assalamualaikum," sapa Nathan begitu membuka pintu rumah. Tetapi keadaan rumah sangat sunyi, seolah-olah tidak ada orang saja. Tetapi yang membuat Nathan bingung karena tidak mendapati keberadaan istrinya. Dia pikir Dara mungkin sedang berkutat di dapur, atau setidaknya sedang duduk di meja makan menunggunya pulang.


"Apa mungkin dia marah?" gumam Nathan. Seketika Nathan gelisah. Bagaimana jika istrinya itu benar-benar ngambek? Tidak bisa dibayangkan. Mungkin Dara akan menjadi batu es, saking dinginnya bersikap dengan ia nanti.


"Sayang." Nathan terus berteriak memanggil istrinya sambil menaiki satu persatu anak tangga. Kini tujuannya adalah kamar mereka, karena berpikir mungkin saja Dara berada di sana karena sedang ngambek dengannya.


Ceklek ....


Nathan membuka pintu kamar mereka, tetapi sama sekali tidak mendapati keberadaan istrinya, bahkan pintu kamar mandi pun terbuka, jadi dapat dipastikan jika istrinya tidak ada di sana. Kening Nathan mengerut. Lantas, di mana istrinya?


Nathan lalu kembali turun ke lantai bawah, berniat ke kamar Leo untuk menanyakan di mana keberadaan istrinya.


Tok .... Tok ....


Tidak ada sahutan sama sekali. Karena tidak mendapat sahutan, Nathan memberanikan diri untuk membukanya saja.


Tubuh Nathan membeku melihat dua orang yang sangat dia kenali tidur bersama di ranjang yang sama. Perlahan tubuh Nathan merosot ke lantai. Lututnya benar-benar terasa lemas sampai tidak mampu menahan berat tubuhnya.


Nathan menggeleng dengan kuat. Benar-benar tidak menyangka dengan apa yang dia lihat. Perlahan cairan hangat jatuh membasahi pipinya. Tetapi sedetik kemudian Nathan segera bangkit. Dia menggeram marah melihat pemandangan di depannya.


"APA YANG KALIAN LAKUKAN?!" teriak Nathan dengan suara yang menggelegar dan mengerikan.

__ADS_1


Baik Leo mau pun Dara yang sedang tertidur sontak terkejut mendengar suara Nathan yang memekik di gendang telinga mereka.


Tetapi Dara jauh lebih terkejut saat melihat tubuhnya dan tubuh Leo. Apalagi sedang tidur di atas ranjang yang sama. Seketika ingatan tadi kembali berputar di otaknya seperti roll film. Dara mengerjab-ngerjabkan matanya dengan lucu. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Terakhir dia merasakan tubuhnya benar-benar panas dan yang lebih parahnya tiba-tiba dia merasakan ada yang aneh dengan tubuhnya. Dan terakhir yang dia makan adalah martabak dan segelas susu.


Dara menatap Leo dengan tatapan yang sulit diartikan. Mungkinkah ini semua ulah Leo? Apakah laki-laki yang menjebaknya? Tapi ... kenapa?


Sementara reaksi Leo biasanya saja, seolah tidak ada yang terjadi. Dia bahkan menatap Nathan dengan tatapan seolah mengatakan 'ada yang salah?'


Napas Nathan memburu. Dengan cepat dia berjalan mendekati istri dan sahabatnya, lalu tanpa aba-aba ....


Bughh!


Nathan memberikan satu bogeman mentah, sehingga membuat Leo langsung oleng.


"Shhh ...." Leo meringis sembari memegang sudut bibirnya.


"LO KENAPA JADI BR***SEK LEO?!" teriak Nathan tepat di wajah sahabatnya. "DIA ITU ISTRI GUE BANG**T!" Nathan benar-benar tidak habis pikir. Napasnya semakin memburu.


Bukannya minta maaf, Leo justru terkekeh tidak jelas. "Iya, gue tau kok kalau dia itu istri lo. Ada masalah? Gue cuman pengen nyicipin tubuh dia doang kok. Bukankah lo tau kalau sahabat itu harus saling berbagi? Kenapa lo sangat pelit sampai nggak mau membagi istri lo ke gue?" tanya Leo santai, tetapi mampu membuat Nathan menggeram marah. Nathan menggeleng tidak percaya jika kalimat itu keluar dari mulut seorang laki-laki yang sudah dia anggap sebagai kakaknya sendiri. Bagaimana mungkin Leo yang dia kenal selama ini bisa berubah menjadi laki-laki ba***gan?


Bughhh


Bughhh


Bughhh


"LO ITU BR***SEK LEO! LO ITU NGGAK PANTAS HIDUP!" teriak Nathan yang sudah benar-benar murka.


"CKK ... YANG NGGAK PANTAS HIDUP ITU ELO, KARENA LO YANG UDAH BUNUH AYAH GUE BANG**T!" balas Leo tak kalah nyaring.


Dara? Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Pandangannya kosong menatap ke depan. Jiwanya benar-benar terguncang. Apa yang sudah dia lakukan? Sekarang tubuhnya sudah kotor. Dia sudah gagal jadi seorang wanita dan istri. Bagaimana mungkin dia bisa melakukannya? Bagaimana mungkin dia bisa segampang itu memberinya?


"Dan satu yang perlu lo ketahui! Gue cuman bantu istri lo, karena dia yang memintanya!" sinis Leo yang sontak membuat tangan Nathan yang sudah berada di udara dia turunkan. Apa dia tidak salah dengar? Istrinya yang meminta? Yang benar saja! Dia sangat yakin jika istrinya itu tidak mungkin melakukan hal menjijikkan tersebut.


Bugh


Bughh


Nathan yang merasa kesal sekaligus marah kembali melayangkan tinjuan. "LO JANGAN ASAL NUDUH BEGO! GUE TAU ISTRI GUE NGGAK MUNGKIN MELAKUKAN HAL MENJIJIKKAN ITU KALAU BUKAN LO YANG MEMPERK**ANYA!"


"Ciuh ... lo bisa tanya ke istri lo langsung!" sahut Leo yang masih tenang.


Nathan sontak menatap istrinya, meminta penjelasan pada wanita itu. Dia yakin seratus persen jika Dara bukanlah perempuan yang tidak baik.


"Itu nggak benar 'kan, Sayang?" tanya Nathan menatap istrinya yang sedang menatap kosong ke depan. Tetapi Dara sama sekali tidak menyahut, tatapannya bahkan terus kosong ke depan.

__ADS_1


"DARA JAWAB!" bentak Nathan yang mulai kesal karena tidak mendapat jawaban dari istrinya. Dia mungkin akan memaafkan Dara jika Leo lah yang memperk**anya, dan mungkin dia akan memasuki Leo ke sel tahanan. Tetapi melihat Dara yang sama sekali tidak menyahuti dan mengiyakan ucapannya membuat Nathan seketika frustasi.


"ALDARA!" Napas Nathan semakin memburu melihat Dara yang sama sekali tidak memberikan respons. Padahal wanita itu hanya perlu mengatakan 'Iya, itu nggak benar.' Apakah itu terdengar susah?


Leo menatap wajah cantik Dara. Karena tau jika wanita itu tidak mungkin menceritakannya, maka dia langsung mengambil handphonenya yang kebetulan ada di dekatnya. Dia segera membuka aplikasi perekam suara. Ya, dari awal tadi dia memang sudah merekam semuanya. Anggap saja sebagai bukti untuk Lucy nantinya, agar bonus yang dia dapat semakin banyak.


Baru saja Nathan hendak berteriak, tiba-tiba terdengar suara percakapan antara istrinya dan Leo. Nathan menatap tidak percaya jika Leo bahkan sempat merekamnya. Seperti sudah direncanakannya saja.


Nathan diam mendengar rekaman tersebut. Hatinya bagai dihantam oleh batu besar. Sangat sakit, apalagi mendengar istrinya lah yang ternyata memintanya, bukan Leo.


Tubuh Nathan seketika ambruk. Air matanya mengalir dengan deras. Dia mulai menangis di sana. Baru saja dia merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya, tetapi kini apa? Hidupnya justru kembali dihancurkan.


"Apa gue memang nggak diperbolehkan untuk bahagia?" gumam Nathan yang sontak tertawa tidak jelas, menertawakan hidupnya yang benar-benar menyedihkan.


"Lo boleh keluar Leo! Dan jangan pernah bermimpi lo bisa kembali ke rumah ini lagi. Dan satu lagi! Lo dipecat, dan akan gue pastikan memasukkan lo ke dalam daftar blacklist!" Nathan berkata dengan suara dinginnya.


Tanpa basa-basi Leo ssgera pergi berlalu keluar dari kamar tanpa mengemasi baju-bajunya terlebih dahulu.


Sementara Nathan menatap kecewa istrinya. Dia benar-benar tidak menyangka dengan istrinya yang dia anggap baik, ternyata ....


"Kenapa, Dar?" lirih Nathan dengan suara yang sedikit dinyaring-nyaringkan.


"Kenapa? Apa service ku selama ini kurang memuaskanmu?" tanya Nathan yang sontak mendapat tatapan tidak suka dari Dara.


"Saya benar-benar kecewa sama kamu, Dar!" Tanpa basa-basi Nathan segera pergi dari sana. Entah kemana tujuannya nanti, dia sendiri tidak tahu. Tetapi yang pastinya dia ingin sekali menenangkan pikirannya yang benar-benar sedang kacau. Mungkin sebagiknya dia pergi ke club saja. Mungkin beberapa botol alkohol bisa menenangkan pikirannya saat ini.


Entah apa tujuannya setelah ini. Apakah meninggalkan Dara saja? Tetapi sepertinya tidak mungkin, karena dia sangat menyayangi wanita itu.




TBC



.



.



.

__ADS_1



.


__ADS_2