
Tepat seminggu sudah Ayah Leo telah pergi. Tidak ada yang terjadi, semuanya berjalan normal-normal saja, bahkan Leo terlihat seperti tidak membenci Nathan meski yang dia tau laki-laki itulah yang membun-uh ayahnya. Entah apa rencananya sampai bersikap biasa saja di hadapan Nathan, bahkan dia bersikap ramah baik di hadapan Dara mau pun Nathan.
Nathan sendiri tidak pernah terbesit di pikirannya jika Leo memiliki rencana licik. Dia sangat yakin jika Leo masih sama seperti yang dia kenal dulu, yaitu selalu memaafkan. Mungkin sahabatnya itu sadar jika ayah mereka telah pergi atas ijin Allah. Itulah yang ada pikiran Nathan.
Dara? Dia berusaha bersikap biasa saja meski pun feelingnya mengatakan ada yang tidak beres. Tetapi dia berusaha berpikir positif saja pada Leo. Dia berusaha percaya jika Leo bukanlah laki-laki yang jahat. Apalagi sifat laki-laki itu sangat ramah, jadi tidak mungkin Leo berbuat jahat.
Bukan maksud apa-apa, tetapi jika diingat-ingat, suaminya banyak membantu Leo, jadi tidak mungkin Leo membalas kebaikan seseorang dengan kejahatan. Leo yang dia kenal bukanlah laki-laki seperti itu.
Saat ini Nathan, Dara, Leo sedang sarapan bersama. Ya, selama seminggu ini Nathan memang meminta Leo untuk tinggal di rumahnya, dan Leo tidak keberatan dengan itu semua. Dia justru semakin bahagia bisa dengan dengan 'wanita pujaannya' yang makin hari terlihat semakin cantik saja.
"Yo ... bagaimana perasaanmu sekarang? Apa mulai membaik?" tanya Nathan penuh perhatian.
Leo yang sedari tadi memang fokus melihat Dara sontak mengalihkan pandangannya saat mendengar suara Nathan. "Eum ... lumayan," jawab Leo singkat.
Setelah itu, Leo kembali menatap wajah Dara yang terlihat sangan cantik.
'Dara memang sangat cantik. Nathan benar-benar beruntung bisa dapetin dia' gumam Leo dalam hati tanpa berkedip menatap Dara.
Dara tentu menyadarinya. Dia jadi risih ditatap Leo seperti itu. Tatapan Leo seperti laki-laki yang ... arggh! Tidak bisa dideskripsikan. Hanya saja, tatapan Leo benar-benar aneh.
Semua itu juga tidak lepas dari pandangan Nathan. Di depan matanya sendiri dia melihat sahabatnya yang seperti mengagumi istrinya. Seketika Nathan merasa panas, dia cemburu melihat tatapan Leo pada istrinya.
Setelah selesai sarapan, Leo segera berangkat lebih dulu. Sebenarnya Nathan sudah menawarkan diri untuk pergi bersama-sama, tetapi Leo dengan tegas menolaknya, dan mengatakan ingin pergi sendiri saja.
Leo mengendarai mobil yang dipinjamkan Nathan padanya. Kali ini tujuannya tidak langsung ke kentor, tetapi ingin bertemu dengan seseorang terlebih dahulu.
Kini hanya Leo saja yang menjadi sekretaris Nathan, karena Sean ijin beberapa sebulan penuh ke luar negeri untuk menjenguk orang tuanya yang sedang sakit.
"Gue suka permainan ini," kekeh Leo sembari mengeleng-gelengkan kepalanya. Menurutnya permainan ini benar-benar sangat menguntungkan untuknya. Tentu saja tidak akan dia sia-sia'kan begitu saja.
Setelah sampai di tempat tujuan, Leo segera menepikan mobilnya, lalu masuk ke dalam cafe dengan perlahan sambil melihat sekelilingnya, memastikan jika semuanya aman. Dia segera masuk ke ruangan tertutup yang memang disedikan khusus oleh pihak Cafe tersebut.
"Hi!" Lucy menyapa saat melihat orang yang ditunggu-tunggu telah tiba. Sementara Kendrick hanya melihat sekilas saja, lalu kembali fokus menatap layar handphonenya.
"He'em ...." Leo membalas dengan hanya berdehem saja.
'Cih ... sok dingin sekali!' gumam Kendrick dalam hati.
"Silahkan duduk, Yo." Lucy tersenyum ramah sembari tangannya menunjuk kursi kosong yang posisinya berada di depannya.
__ADS_1
Leo mengangguk saja, kemudian mendaratkan bok*ngnya di kursi yang disediakan.
"Bagaimana? Apa hubungan kalian membaik? Apa kau bisa berdrama?" tanya Lucy berbasa-basi menatap Leo dengan penuh perhatian, seolah memberitahukan jika dia peduli pada laki-laki itu.
"Ya, aku bermain cantik di sana. Aku bertindak seperti tidak membenci mereka, dan sepertinya Nathan percaya jika aku tidak memiliki dendam padanya. Cih ... bagaimana mungkin aku tidak dendam, sementara dia yang sudah membun-uh Ayahku!" gerutu Leo dengan napas memburu.
"Tentu saja! Bagaimana mungkin kau bisa tidak membencinya? Jika aku yang berada di posisimu, aku pasti juga akan membenci Nathan, meski pun dia sahabatku." Lucy berusaha terus menerus mencuci pikiran Leo agar semakin membenci Nathan. Ya, meski pun laki-laki pujaannya. Di sini yang ingin dia hancurkan adalah Dara, bukan Nathan miliknya.
"Dari mana kau tahu kalau Nathan berniat membun-uh Ayahku saat itu?" Akhirnya pertanyaan yang selama ini Leo pendam bisa dia tanyakan langsung pada orangnya.
Lucy yang memang sudah bisa menebak jika Leo mungkin akan bertanya pertanyaan itu sewaktu-waktu berkata dengan tenang, "Kendrick adalah anak buah yang sangat bisa diandalkan. Dia bisa bekerja tanpa disuruh terlebih dahulu. Dan yang lebih mengejutkannya, semua pekerjaannya sesuai dan sempurna. Jadi, sebelum bernegosiasi denganmu waktu itu, dia sudah mendapakan informasi jika Nathan berniat membun-uh Ayahmu. Awalnya aku tidak mau mengatakannya, mengingat Nathan adalah laki-laki yang sangat aku cintai. Tetapi karena aku tau kau pasti sangat menyayangi Ayahmu, maka aku memutuskan untuk mengatakannya, meski pun akhirnya gagal, dan sia-sia." Lucy menunduk, seolah merasa bersalah pada Leo karena tidak bisa membantu laki-laki itu.
Leo tersenyum tipis melihat Lucy yang menunduk. "Tidak perlu merasa bersalah. Ini sama sekali bukan salahmu. Saharusnya aku malah berterima kasih padamu, karena berkatmu lah aku tau jika Nathan ternyata licik," ucap Leo lembut.
"That's oke, Leo. Aku merasa lega sekarang."
"Jadi, bagaimana? Apa rencana kalian? Aku sudah tidak tahan ingin membalaskan dendamku agar Ayahku bisa tenang di sana. Aku bahkan sudah muak bersikap sok baik di depan laki-laki br***sek itu! Ingin sekali rasanya aku memukulnya, dan jika perlu membun-uhnya! Tetapi aku pikir itu terlalu biasa. Aku ingin dia menangis, jika perlu menangis DARAH!" Leo berkata dengan penuh penekanan.
"Apa kau yakin?" tanya Kendrick memandang remeh Leo.
Leo menatap Kendrick dengan tatapan nyalang. "Tentu saja! Apa aku terlihat bercanda? Akan ku pastikan mereka menyesal telah melakukannya!"
"Up to you!" sahut Kendrick yang malas berdebat. Perlu diketahui, dia paling benci yang namanya berdebat, sehingga biasanya dia langsung mengiyakannya saja ucapan dan permintaan lawan bicaranya.
"Baik, kau yang meminta, ya. Aku punya rencana, tetapi balik lagi, tapi ini tergantung kau sendiri," ucap Lucy yang tidak langsung to the point, karena sengaja ingin membuat laki-laki di depannya penasaran.
"Katakan saja, jika itu bisa membuatku puas dan merasa bahagia, aku pasti akan melakukannya!" sahut Leo yang nampaknya tak sabaran mendengarkannya.
Kendrick nampak tidak tertarik mendengar obrolan mereka. Dia sibuk dengan dunianya sendiri. Sedari tadi dia terus mengotak-atik handphonenya, entah apa yang dilakukannya, yang pastinya tidak ada yang tau.
"Pas sekali!" Lucy menjentikkan jarinya ke udara. "Ini akan memuaskanmu, membuatmu bahagia, dan yang pastinya akan menguntungkan untukmu."
"Ckk ... tidak bisakah kau to the point? Jangan berteleh-tele!" bentak Leo yang merasa sudah sangat kesal sekali.
Lucy terkekeh melihat partner-nya yang terlihat tidak sabaran. Bukannya menjawab, Lucy justru mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, lalu menyerahkannya pada Leo.
Kening Leo mengerut melihat serbuk putih yang diberikan Lucy. Dia mengamati benda itu, lalu membaca tulisan yang terdapat di bungkusannya.
"Obat perangsang?" tanya Leo sedikit ragu, tetapi dengan mantapnya Lucy mengangguk. "Untuk apa?" Rupanya Leo belum paham sepenuhnya maksud Lucy.
__ADS_1
"Begini, kau mengatakan jika kau sangat mencintai Dara, dan ingin dia menjadi milikmu, benar?" tanya Lucy yang mendapat anggukan dari Leo.
"Tidak ada cara lain selain serbuk itu. Kau mungkin tidak bisa mendapat hati Dara, tapi kau bisa mendapat tubuh wanita yang sangat kau cintai itu. Kau tau, jika Dara sampai hamil dan ternyata anak yang dia kandung adalah anakmu, maka otomatis dia akan meminta tanggung jawabmu, dan Nathan sendiri pasti akan menceraikannya. Hanya itulah satu-satunya cara yang bisa kau lakukan untuk mendapat wanita itu. Menarik bukan? Rencana ini bahkan sangat menguntungkan untukmu." Lucy berkata dengan bijak, berharap dengan cara itu Leo terhasut.
Leo awalnya terkejut mendengar rencana Lucy yang menurutnya sangat gila. Kendrick tentu tidak bisa menahan tawanya melihat wajah Leo yang justru sangat lucu di matanya. Tetapi setelah mendengar keseluruhan ucapan Lucy, dia mengangguk-anggukkan kepalanya. Ada benarnya juga. Pikir Leo.
"Apa aku benar-benar harus memperkos*nya?" tanya Leo polos. Dia benar-benar tidak menyangka jika rencana Lucy benar-benar sangat licik.
"Bukan memperkos*, karena Dara lah yang mungkin akan memberikan tubuhnya dengan suka rela. Obat yang aku berikan adalah obat perangsang dosis tinggi, jadi sangat tidak mungkin Dara mampu menahan h*sratnya. Dia pasti akan meminta dipuaskan olehmu, karena Nathan akan dibuat lembur di perusahaan," jawab Lucy dengan lancar. Jujur saja, baik Leo mau pun Kendrick mengakui jika publik speaking Lucy benar-benar baik. Wanita itu bisa berkata tanpa keraguan sedikit pun seolah yang dia katakan selalu faktanya.
"Apa kau benar-benar tidak mau mencicipi tubuh yang selama ini mungkin hanya ada di mimpi mu?" tanya Lucy sedikit terkekeh.
Leo terdiam, menimbang tawaran yang diberikan Lucy padanya. Ada benarnya juga! Memangnya kapan lagi dia bisa mencicipi tubuh wanita yang sangat dia cintai itu?
"Baik! Gue terima tawaran lo!" ucap Leo akhirnya. "Kapan rencananya akan dimulai?"
"Malam ini!" jawab Lucy dengan antusias.
TBC
.
.
.
.
__ADS_1