
Dara terduduk di samping Nathan yang sedang terlelap. Dia menatap ke depan dengan pandangan kosong setelah mendengar penjelasan dokter tentang penyakit Nathan.
Saat ini Nathan memang sedang terlelap, mungkin karena kelelahan kembali mengalami depresi tersebut. Sedari tangan Dara mengenggam erat tangan suaminya yang terasa sangat lemas.
"Maaf, Bu. Baru saja Pasien ini datang ke sini dengan laki-laki yang ada di luar. Saya sudah menyarankan agar Pasien segera dibawa ke psikolog, karena trauma berat yang dialami Pasien tidak bisa dianggap sepele. Jika terus seperti ini, Pasien mungkin akan kehilangan akal sehatnya, dan tidak bisa lagi mengontrol pikirannya." Dokter yang melihat siapa yang terbaring di ranjang rumah sakit tersebut tentu sedikit terkejut melihat keberadaan Nathan. Wajar saja, karena baru saja laki-laki itu keluar dari rumah sakit.
"Sebenarnya, kenapa itu bisa terjadi, Dok?" tanya Dara dengan suara lirih.
"Kemungkinan besar penyebabnya adalah, karena Pesien melihat secara langsung atau mengalami suatu kejadian yang tidak bisa dia terima dengan akal sehat. Seolah dia menolak suatu fakta yang baru saja dialami, tetapi dia melihat atau mengalaminya sendiri. Biasanya penyakit ini sudah terlihat sejak awal, di mana Pasien merasakan perubahan secara tiba-tiba pada tubuhnya, hanya saja mungkin karena kondisi Pasien yang masih shock, sehingga dia tidak memperdulikan kondisinya saat itu." Dokter tersebut mulai menjelaskan pada wanita di depannya secara detail.
"Saran saya segera bawa Pasien ke Psikolog, dan juga bantulah dia untuk berjuang melawan rasa trauma tersebut." Dokter kembali mengingatkan, dan hanya dibalas anggukan oleh Dara. Setelah merasa tidak ada yang perlu dibicarakan, dokter tersebut pamit, karena harus mengurus pasien lainnya.
Penjelasan yang disampaikan dokter tadi terus terngiang-ngiang di kepala Dara.
Dara menatap wajah tenang Nathan yang sedang tertidur. Sumpah, dia tidak pernah menyangka di balik wajah ceria suaminya tersimpan luka yang begitu dalam, sehingga membuatnya sampai depresi hebat seperti itu.
"Gue janji bakal selalu ada di samping lo, Than. Gue janji nggak akan pernah ninggalin lo. Gue harap setelah gue meluruskan semua ini, lo bisa sembuh." Dara semakin mengeratkan genggamannya. Secara perlahan dia mendekatkan wajahnya ke arah wajah Nathan, kemudian memberikan kecupan penuh kasih sayang di kening laki-laki yang menjadi suaminya itu.
"Eughh!" Nathan meleng*h. Perlahan matanya terbuka, berusaha untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam matanya.
Nathan yang merasakan jika tanggannya sedang digenggam oleh seseorang sontak mengalihkan pandangannya ke samping, dan dihadapkan dengan wajah cantik istrinya yang terlihat baru saja menangis, karena masih ada sisa air mata di pipi wanita itu.
Nathan hanya mampu menghembuskan napas lelah saat mengetahui jika dirinya kembali terdampar di rumah sakit. Ckk ... padahal baru saja dirinya keluar dari tempat tidak mengenakan ini, tetapi kini dia malah kembali.
"Kenapa, he'em?" Nathan menatap lembut istrinya, lalu secara perlahan telapak tangannya mengusap lembut air mata yang masih tersisa di pipi istrinya.
Dara yang sedang melamun sontak terkejut melihat suaminya yang sudah sadar. "Lo udah sadar?" Pertanyaan bodoh itu keluar begitu saja dari mulutnya. Jelas saja! Memangnya jika belum sadar, lalu siapa yang dia lihat membuka mata itu?
"Enggak, Dar! Ini saya masih pingsan!" jawab Nathan dengan suara lembut. "Yaiyalah Udin! Emang yang di depan kamu ini siapa?" sambungnya dengan ketus.
Dara menyadari kebodohannya hanya mampu terkekeh tidak jelas. Astaga, benar-benar pertanyaan yang bodoh!
"Kamu kenapa nangis?" Nathan kembali mengulang pertanyaannya tadi.
Dara menghembuskan napas berat. Sepertinya Ini adalah saatnya dia menjelaskan pada Nathan tentang kesalahpahaman yang terjadi sembilan tahun yang lalu, karena jika terlambat mungkin saja laki-laki itu semakin stres nantinya. Jadi, dia memilih untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada.
"Oke, gue bakal ngejelasan tentang apa yang sebenarnya terjadi sembilan tahun yang lalu. Dan lo!" Dara menunjuk Nathan dengan suara tegas miliknya. "Jangan mikir yang macem-macem! Fokus dengan apa yang gue ceritain! Jangan ingat kejadian itu, cukup dengar gue dan lihat mata gue!" perintah Dara. Dia takutnya jika dia mulai bercerita, Nathan mulai kembali mengingat kejadian itu, dan mungkin depresinya kembali lagi.
Nathan hanya mengangguk ragu. Kini dia berusaha untuk mengontrol pikirannya agar tidak teringat dengan kejadian yang dulu. Nathan menatap mata istrinya, siap mendengar cerita yang disampaikan.
__ADS_1
"Sebelumnya gue ingatin ke lo, kalau gue nggak selingkuh sama Leo!" Sebelum menceritakannya, Dara kembali mengingatkan Nathan.
"Lo masih kenal sama Lira kelas XII IPS 1?" tanya Dara.
Nathan terdiam, berusaha mengingat kembali nama perempuan yang disebutkan istrinya.
"Lira? Bukannya cewek yang pernah ditaksir sama Leo, ya?" tanya Nathan memastikan. Nathan masih ingat jika Leo pernah memberitahukannya jika dia tertarik dengan perempuan yang bernama Lira tersebut. Tetapi saat itu dirinya tidak begitu peduli, karena dia tahu jika Leo memang sosok laki-laki yang mudah tertarik dengan lawan jenis. Leo tipe laki-laki yang tidak bisa berselingkuh, tetapi dia tipe laki-laki yang mudah bosan, sehinga jika dia memiliki kekasih, dan merasa bosan, maka dia akan putuskan.
Nathan sendiri bingung dan kesal dengan sifat buruk sahabatnya itu, tetapi Leo tidak pernah mendengarkan nasihatnya. Tetapi beberapa tahun kemudian Leo mengatakan tidak berg*irah untuk pacaran, sehingga dia memilih untuk menjomblo saja.
"Nah! Akhirnya lo tau!" Dara senang bukan main saat suaminya ternyata masih ingat dengan gadis bernama Lira tersebut. Sementara Nathan dibuat bingung, memangnya apa hubungannya dengan perempuan itu.
"Jadi waktu itu Leo datang ke lapangan basket, dan minta tolong sama gue gimana caranya buat nembak Lira. Awalnya gue nanya kenapa harus gue, terus dia bilang karena dia nggak punya teman cewek dan cuman gue satu-satunya teman cewek yang dia punya, lagian dia minta tolong sama gue karena gue udah punya pacar, yaitu elo! Nah, waktu itu dia minta tolong gimana caranya, dan akhirnya gue jelasin tuh. Gue bilang supaya nanti bawa Lira-nya ke lapangan, terus dia berdiri di pinggir lapangan, lalu teriak dengan nyaring! Setelah teriak dia lari ke arah gue dan berlutut layaknya orang yang menyatakan cinta pada umumnya, dan pastinya dibumbui dengan kata-kata romantis. Itu semua gue yang ngajarin dia. Nah singkat ceritanya gitu. Intinya dia cuman latihan praktek sama gue, karena Lira itu ceweknya jutek. Jadi nggak ada yang namanya selingkuh! Lagian kalau gue disuruh milih, gue pasti milih lo lah! Secarakan lo lebih ganteng dari pada Leo." Dara menjelaskan panjang lebar.
Nathan terdiam, dia benar-benar terkejut setengah mati mendengar penjelasan dari istrinya. Jadi selama ini ... dia hanya salah paham saja?
"Lalu ... kenapa sampai pelukkan?" tanya Nathan. Dia masih ingat betul jika Dara dan Leo sempat berpelukan saat itu.
"Karena waktu itu Leo refleks, dia terlalu mendalami praktek tersebut, sampai mengira jika gue adalah Lira," jawab Dara jujur.
'Ckk ... sialan tuh cowok! Dara kan punya gue! Asal peluk aja!' Nathan mengerutu dalam hati.
"Kamu ... serius, kan?" Nathan memandang Dara dengan pandangan ragu.
Dara menghembuskan napas beratnya lagi. Dia dapat melihat dengan jelas jika suaminya itu masih belum percaya sepenuhnya. "Gue harus apa biar lo percaya?" tantang Dara yang sudah mulai kesal.
"Kamu tau dari mana kalau kejadian itulah yang membuat saya seperti ini? Seharusnya kalau kamu nggak selingkuh, kamu nggak mungkin mikir sampai sajauh itu," ucap Nathan.
"Dari Puput! Dia adalah salah satu siswi di SMA kita! Berita putusnya gue sama lo cukup banyak diketahui oleh anak-anak. Waktu itu Puput tiba-tiba datang dan menjelaskan kemungkinan apa yang buat lo mutusin gue! Dari situ gue tahu!" jawab Dara tanpa ragu sedikit pun, karena memang itulah faktanya.
Nathan kembali terdiam, seharusnya Dara tidak mungkin berpikir sejauh itu jika dia sedang berbohong. Apakah yang diceritakan istrinya memang benar?
"Apa kamu memang mencintai saya sewaktu kira pacaran dulu?" Nathan kembali bertanya.
"Of course! Gue nggak mungkin mau pacaran sama lo kalau gue nggak cinta sama lo!" ketus Dara yang merasa aneh dengan pertanyaan laki-laki itu. Helow! Dia bukanlah tipe wanita yang mudah kasihan, apalagi jika itu berkaitan dengan perasaannya. Mana mungkin dia mau pacaran dengan Nathan sampai hampir tiga tahun, jika dia sendiri tidak memiliki perasaan apa pun pada laki-laki itu!
"Lalu ... kenapa pas Leo nanya apa kamu mencintai saya, kamu malah jawab kalau kamu nggak pernah mencintai saya?" Nathan memicingkan matanya menatap Dara.
"Hah?" Dara tentu bingung. Sejak kapan dia mengatakan dia tidak pernah mencintai laki-laki itu. "Kapan gue bilang gitu?"
__ADS_1
"Waktu kamu mau pergi dari lapangan, lalu Leo nyusul dan nanya apa kamu mencintai saya? Dan kamu malah jawab kalau kamu sama sekali nggak pernah mencintai saya!" Nathan memperjelas pertanyaannya.
Dara terdiam sebentar, berusaha mengingat kembali kejadian sembilan tahun yang lalu. Kapan memangnya dia pernah bilang kalau dia nggak mencintai Nathan? Tapi beberapa menit kemudian dia teringat.
"Oh! Waktu Leo nanya itu?" tanya Dara yang dibalas anggukan oleh Nathan. "Astaga! Emang lo nggak ngedengar lanjutannya?" tanya Dara yang hanya dibalas gelengan oleh Nathan.
"Makanya kalau menyaksikan itu jangan separo-separo! Jadi salah paham gini, kan!" Dara berdecak kesal. "Lo tau sendiri kan kalau gue orangnya mudah emosi, apalagi kalau di dekat sahabat lo itu! Wajar aja gue jawab kayak gitu, soalnya gue gemes sama pertanyaan Leo! Dan kalau lo dengar kelanjutannya saat itu, mungkin aja lo nggak akan salah paham kayak gini! Setelah gue bilang kalimat itu tadi, gue ngelanjutin dengan bilang 'Ya pasti gue cinta sama Nathan!' makanya jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan! Apalagi lo nggak ngasih kesempatan buat gue ngejelasin semuanya!" Seketika Dara menatap jengkel suaminya itu.
Nathan kembali terdiam, mencerna seluruh cerita yang disampaikan istrinya tersebut. Dia ingin tidak mempercayai cerita istrinya, tetapi semua penjelasan Dara sangat masuk akal, apalagi memang berkaitan dengan apa yang dia lihat.
"Kamu nggak bohong kan, Dar?" Nathan kembali bertanya untuk memastikan.
"Astagfhirullah! Gue berani bersumpah, Than!" Dara benar-benar gemes dengan suaminya. Kurang jelas apalagi coba penjelasannya tadi?
Nathan mengangguk percaya, karena dia memang mempercayai istrinya tersebut. Kini dia merasa tubuhnya lebih enakan setelah mengetahui fakta yang sesungguhnya.
Tetapi beberapa detik kemudian Nathan melotot saat mengingat apa yang sudah dia lakukan. Dara sendiri menatap aneh suaminya tersebut.
"HUA ... KAMU KENAPA BARU BILANG SEKARANG, DAR!"
TBC
.
.
.
__ADS_1
.