
..."Cinta itu memang tidak bisa dipaksakan, tetapi jika Nathan yang sudah bertindak, maka semua bisa saja terjadi!" ~Author...
Nathan memberikan senyum terbaiknya saat melihat wajah terkejut Dara. Tapi di mata Dara itu adalah senyum mengejek.
"Silahkan duduk Pak Adrian, silahkan Bu Vania," ucap Damar dengan ramah, mempersilahkan mereka untuk duduk di ruang tamu.
"Ah, terima kasih, Pak Damar." Adrian dan Vania kompak menjawabnya.
Vania lalu menatap Dara yang sangat cantik menurutnya, apalagi dengan balutan dress yang dibelikan oleh Nathan tadi, terlihat sangat cocok di tubuh Dara.
"Ah, iya! Ini anak perempuan saya. Namanya A—"
"Dara!" celetuk Vania lebih dulu.
Dara masih berusaha untuk memahami situasi yang ada. Entah kenapa otaknya mendadak blank saat ini.
"Lho, Bu Vania sudah tau nama putri saya?" tanya Damar sedikit bingung.
"Sangat kenal," kekeh Vania, kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya mengingat kejadian dulu. "Dara ini adalah pacar putra saya waktu SMA. Nathan sering membawa Dara ke rumah, hanya untuk makan, karena mereka nggak mau makan di luar, berhemat kata mereka."
'Sumpah, gue jijik banget ngingat masa-masa itu. Tuh laki-laki juga pelitnya nggak ketulungan, sampai-sampai nggak mau modal dikit buat makan di luar' batin Dara.
"Tapi, entah kenapa tiba-tiba Dara nggak pernah lagi main ke rumah, dan kata Nathan mereka udah putus." Jujur saja, sampai sekarang Vania masih bingung kenapa hubungan putranya bisa berakhir. Padahal dia yakin sekali jika Nathan adalah tipe laki-laki yang setia, seperti ayahnya. Dan jika boleh jujur, dia sangat suka dengan Dara. Menurutnya Dara itu adalah sosok perempuan yang tau sopan santun, dan memiliki kepribadian yang tegas.
Baru saja Nathan ingin menjawab, Dara lebih dulu mengatakannya. "Itu semua karena Dara adalah wanita pembohong, mana nggak setia lagi," ucap Dara yang sudah tau apa yang akan dikatakan oleh Nathan.
Semua yang ada di ruangan tersebut sontak mengerutkan kening mereka mendengar ucapan Dara. Apa maksudnya berbicara seperti itu?
Berbeda dengan mereka, Nathan justru tertawa kecil mendengar ucapan Dara. Sepertinya kalimat itu wajib dia ucapkan setiap hari untuk menyindir gadis itu.
"Maksud kamu apa sayang?" tanya Vira heran.
"Enggak apa-apa kok Tante, biasa anak muda suka becanda, biar makin lope-lope," ucap Nathan dengan tersenyum ramah.
Dara melotot pada laki-laki itu. Sementara Vira justru tertawa kecil mendengar ucapan Nathan.
"Lho, jadi Nathan dan Dara ini adalah sepasang kekasih waktu SMA dulu? Kok kita nggak ada yang tau, ya?" Damar tentu sedikit terkejut mengetahui fakta itu. Dia tidak menyangka jika mereka akan dipertemukan kembali.
__ADS_1
"Kata siapa? Daffa tau kok," celetuk Daffa.
"Kamu tau, tapi kenapa nggak bilang sama Mama dan Papa?" tanya Vira sedikit ketus. "Kita kira Dara ini nggak pernah tertarik sama laki-laki," kekeh Vira.
"Iya, Tante. Saya adalah cinta pertama bur- maksudnya Dara, begitu pun sebaliknya. Dara adalah cinta pertama saya. Kayaknya setelah Dara putus sama Nathan, dia udah nggak pernah menjalin hubungan dengan laki-laki. Sepertinya dia belum move on. Hingga pada akhirnya siapa yang tau, kalau Dara dan Nathan dipertemukan kembali. Seperti kata pepatah jodoh nggak akan kemana-mana, suatu hari nanti dia pasti akan kembali kepada pemiliknya," ucap Nathan sok bijak.
'Cih ... belum move on? Helow, situ kali yang belum move on sama saya. Lagian siapa sih yang pengen berjodoh sama cowok modelan situ' Sayangnya kata-kata itu hanya mampu Dara ucapkan di dalam hati, karena tidak mungkin dia asal berbicara, sementara ada orang tuanya. Meski dirinya sedikit bar-bar, tapi dia masih tau etika dan sopan santun.
"Wah, bagus dong kalau kayak gitu. Jadi, kita nggak perlu susah-susah buat ngedekatin, biar mereka dekat," ucap Vira antusias.
Kening Dara semakin mengerut. "Maksud Mama apa ngomong kayak gitu?" tanya Dara yang benar-benar masih belum paham.
"Ayok kita duduk dulu." Damar mempersilahkan mereka untuk duduk.
"Ra, Papa ingin bicara serius dengan kamu sekarang. Jadi kita akan membicarakan hubungan kamu dengan Nak Nathan," ucap Damar dengan wajah serius.
"Ma—maksud Papa?" tanya Dara yang sudah maresakan gelisah. Apakah tebak 'kannya benar?
"Jadi begini, Ra. Papa dan Pak Adrian ini adalah sahabat dari dulu sampai sekarang, dan agar kedekatan keluarga kita semakin erat, maka kami memutuskan untuk menjodohkanmu dengan Nathan. Selain itu, sewaktu Papa dan Pak Adrian masih muda, kita dulu sudah sepakat ingin menjodohkan jika masing-masing dari kita memiliki anak dengan jenis kelamin yang berbeda. Berhubung Pak Adrian ini hanya memiliki putra semata wayang, jadi kamu yang akan dijodohkan," jelas Damar pada putrinya.
Sementara Dara berusaha untuk mencerna baik-baik ucapan papa-nya.
"Ke—kenapa kalian nggak bilang-bilang dulu sama Dara tentang perjodohan itu? Kenapa mendadak banget, Pa?" tanya Dara dengan suara pelan.
"Sebenarnya kami sepakat untuk tidak menjodohkan kalian sampai batas umur kalian yang ke 25 tahun. Kami sepakat untuk membiarkan kalian mencari pasangan kalian masing-masing. Tapi ini udah lewat 25 tahun, Ra. Dan kamu masih belum punya pasangan, begitu pun dengan Nathan. Jadi, kita memutuskan untuk menjodohkan kalian. Mungkin kalian memang ditakdirkan untuk berjodoh," jelas Damar lagi.
Dara menggeleng tidak percaya. 'Kalau gitu, kenapa nggak dibilang dari dulu, Pa? Kenapa nggak dibilang pas Dara umur 24 tahun? Setidaknya Dara bakal seret siapa pun untuk menikah dengan Dara, yang penting jangan dengan laki-laki modelan Nathan!' Dara berteriak di dalam hati.
"Jadi gimana, Ra? Kamu mau 'kan menerima perjodohan ini?" Kini semua yang ada di ruangan langsung menatap Dara, tidak sabar menunggu jawaban gadis itu.
Dara menggigit bibirnya sambil menatap Nathan yang juga sedang menatapnya. "A—aku ...."
"Eum ... Maaf, tapi Dara nggak bisa," jawab Dara pelan sambil menunduk.
Semua yang ada di sana sedikit terkejut mendengar penolakkan Dara. Terlebih lagi Nathan, dia sontak melotot mendengarnya.
"Ha-ha, pasti nggak bisa nolak, 'kan? Saya udah tau kok, Dar. Siapa coba yang bisa menolak pesona seorang Nathan," jawab Nathan pede, lebih tepatnya pura-pura pede.
__ADS_1
"Maaf, tapi gue benar-benar nggak bisa, Than." Ingin sekali rasanya Dara berteriak di depan wajah Nathan yang sangat pede mengatakan kalimat itu. Tapi dia urungkan, mengingat masih ada orang tua di sini.
"Kenapa? Kenapa kamu nggak mau? Padahal saya ganteng, lho. Lagian saya juga nggak pembohong, apalagi saya setia banget orangnya, nggak kayak kamu!" ucap Nathan sedikit ketus. Dirinya tentu tidak terima dengan penolakkan Dara yang secara terang-terangan.
"Iya sayang, kenapa kamu nggak mau?" tanya Vira.
"Huh ... cinta itu nggak bisa dipaksain, Ma. Jika kalian menyatukan kedua belah pihak tanpa rasa cinta, maka mungkin saja sesuatu yang tidak diinginkan akan terjadi. Perjodohan bisa saja berakhir dengan bahagia, tapi perlu kalian ingat, kalau sebuah perjodohan lebih banyak berakhir dengan ending yang menyakitkan, bahkan mungkin sampai ke perceraian. Kenapa harus menyatukan kedua belah pihak yang tidak memiliki perasaan apa pun? Sementara mereka bisa mencari pasangan mereka sendiri? Tidak ada yang salah dengan yang namanya perjodohan, karena mungkin saja itu adalah salah satu cara Tuhan mempersatukan kedua manusia dalam sebuah ikatan janji suci. Tapi, yang namanya sebuah perjodohan, pasti kedua belah pihak akan bersikap canggung dan aneh di awal-awal pernikahan tersebut, dan pastinya akan butuh waktu lama untuk bisa saling menyesuaikan," jawab Dara dengan bijak, sehingga membuat semua yang ada di ruang tamu tersebut merasa tersentuh dengan kata-kata Dara.
"Tapi saya cinta kok sama kamu, Dar!" sahut Nathan dengan serius.
Tangan Dara mengepal, rasanya ingin sekali dia melayangkan tinjuan pada wajah menyebalkan Nathan itu. Sudah susah payah dirinya berbicara panjang kali lebar, tapi Nathan justru masih kekeh ingin melanjutkan perjodohan tersebut.
"Tap-"
"Ekhem! Eum ... Tente, Om, boleh saya pinjam Dara nya sebentar? Saya ingin bicara, mungkin setelah bicara ini nanti, Dara bakal setuju dengan perjodohan ini," ucap Nathan yang lebih dulu memotong ucapan Dara.
"Boleh kok," jawab Vira, kemudian mendorong putrinya.
Dara hanya mampu berdecak kesal, kemudian mengikuti Nathan dari belakang dengan terus menggerutu di dalam hati.
TBC
.
.
.
__ADS_1
.