
"Lo ...!" Dara tentu terkejut bukan main saat melihat kehadiran suaminya.
Tunggu!
Jangan bilang pemilik perusahaan itu adalah suaminya sendiri?
Nathan melambai-lambaikan tangannya ke arah Dara. Senyum manis terbit di wajah tampan Nathan, sehingga lesung pipitnya kelihatan. Terlihat sangat tampan dan menggemaskan bagi para wanita, tetapi tidak untuk Dara!
"Lo ... ngapain di sini?" Dara masih belum bisa menutupi rasa terkejutnya. Astaga, cobaan macam apa lagi ini?
"Halo Bini." Nathan mengabaikan pertanyaan istrinya, dia justru mengedipkan matanya berulang kali. Cih ... seperti tante-tente centil saja!
Dara yang melihat kelakuan suaminya tentu dibuat merinding. Kenapa Nathan sangat cocok seperti bencong? "Lo ngapain di sini?" Dara mengulang pertanyaan yang sama.
Nathan tidak menjawab, dia perlahan mendekati Dara, lalu mengulurkan tangannya. "Perkenalkan, saya pemilik N'D Group! Laki-laki yang masih muda, tampannya nggak ketulungan, apalagi tajir melintir!" ujar Nathan dengan penuh percaya diri. Bahkan laki-laki menyisir rambutnya menggunakan tangan.
Lisa yang melihat kelakuan Nathan tentu melonggo? Meskipun ini bukan kali pertamanya melihat sifat Nathan yang menggelikan, tetapi tetap saja, dia dibuat geli dengan tingkah laki-laki itu. Apakah memang ada laki-laki di dunia ini yang memiliki sifat seperti Nathan? Tentu saja! Nathan salah satunya.
Sean sendiri hampir muntah mendengar ucapan bosnya yang sangat percaya diri. Meski pun bosnya tersebut sangat tampan, tetapi tetap saja menggelikan melihat dia yang pede seperti itu.
Dara? Dia hanya mampu menarik napas panjang, lalu mengeluarkannya secara pelan. 'Astaga, cobaan apalagi ini Tuhan?' pekik Dara dalam hati.
"Anda Dara, kan? Perempuan pembohong mana nggak setia lagi itu? Saya dengar-dengar Anda juga syadis lho. Senang berkenalan dengan Anda, dan sepertinya Anda jauh lebih senang bertemu dengan laki-laki yang tampannya nggak ketulungan seperti saya, kan? Saya dapat melihat itu dari sorot mara Anda. Mata Anda memancarkan blink-blink yang membuat saya merinding. Harap sabar ya, Nona! Jangan berubah di sini, karena tidak baik jika orang lain ikut melihat tanduk Anda." Dengan santainya Nathan mencerocos, mengabaikan tatapan istrinya yang semakin tajam.
"Kita batalkan kerja sama ini!" tegas Dara. Lebih baik dia membatalkannya saja dibandingkan harus berurusan dengan laki-laki modelan Nathan! Ya, meski pun dia adalah suaminya!
"Wah, nggak bisa gitu dong wanita pembohong, mana nggak setia lagi! Kalau kamu main batal-batalin aja, maka kamu harus bayar denda!" Nathan langsung merentangkan tangannya, tidak membiarkan istrinya yang sekarang justru akan menjadi partner-nya pergi begitu saja. Enak aja!
"Berapa?" tantang Dara.
Nathan menatap mata Dara dengan tatapan serius, tidak ada lagi yang namanya bercanda sekarang.
"Sean, Lisa, keluar!" tekan Nathan dengan suara dingin.
Mendengar perintah Nathan, Sean segera pergi setelah membungkukkan badannya. Lisa? Dengan polosnya dia ikut keluar, untungnya Dara tidak melarangnya.
Melihat kedua sekretaris tersebut sudah pergi, Nathan langsung berkacak pinggang. "Kamu tanya berapa kan tadi?"
"Iya! Emang berapa gue harus ganti rugi? Gue lebih milih membatalkan kerja sama ini daripada harus berurusan sama orang kayak lo!" ketus Dara.
"Ckk ... gini-gini saya juga suami kamu kali, Dar!" Apa-apaan istrinya tersebut mengatakan tidak mau berurusan dengan dirinya? Memangnya seperti apa sosok dia? Bukan 'kah seperti pangeran berkuda?
"Ckk ... justru itu! Udah cukup aja gue hidup sama lo, dan tinggal serumah sama lo! Jangan sampai gue juga harus kerja sama dengan lo!" ketus Dara tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Baik, jika kamu tetap kekeuh pengen membatalkan kerja sama ini, maka kamu harus bayar denda yang sangat besar!" tekan Nathan.
"Berapa?" geram Dara. Ah, suaminya tersebut memang perhitungan.
"Kamu serius mampu membayarnya?" Nathan memicingkan matanya, lalu memandang sinis Dara. Entah datang dari mana keberanian itu, padahal biasanya nyalinya selalu menciut jika berurusan dengan Dara.
__ADS_1
"Ckk .... Apa Anda meragukan saya? Saya akan bayar berapa pun!" Dara menjadi emosi dengan partner-nya tersebut.
"Baik, kamu harus bayar ...." Nathan menggantungkan ucapannya, lantas memandang ekspresi wajah istrinya yang sedang menunggu kelanjutannya. "Dengan belah duren!" sambung Nathan dengan wajah serius.
Plak
Tanpa sadar Dara justru menampar wajah Nathan. Tentu saja, itu semua refleks karena dia terkejut.
"Ya Allah, Dar! Masih nyempat-nyempat aja kamu KDRT! Ingat, kalau saya sampai laporin kamu ke polisi, hukumannya saya dibolehin buat nikah lagi!" ucap Nathan asal.
"GUE SERIUS NATHAN!" bentak Dara.
"Lho ... bukannya udah diseriusin, ya? Oh ... atau mau serius belah durennya? Ayok! Ayok! Satu ronde di sini nggak apa-apa, saya ikhlas kok, meski pun kamu wanita pembohong, mana nggak setia lagi!" Nathan berkata dengan antusias, sementara Dara dibuat pusing. Apakah ada trik untuk menghadapi laki-laki modelan Nathan? Atau apa perlu dia gantung saja suaminya tersebut di tiang jemuran?
"Tuan Nathan Geovanni Adijaya! Tolong bersikaplah formal sedikit!" ucap Dara penuh penekanan.
"Dan m*esumnya dibanyakin, gitu?" Nathan menarik-turunkan alisnya. Apakah semasa berangkat ke sini rasa takut laki-laki ini ketinggalan? Atau mungkin tercecer di jalan, sehingga sekarang dia sangat berani menghadapi wanita syadis seperti Dara
"Wuss ... udah ketebak, Dar!" Dengan cepat Nathan menghindar saat tangan istrinya hampir mengenai wajah tampannya lagi.
"Nathan, lo kenapa nyebelin banget sih!" Dara memekik gemes dengan suaminya tersebut.
"Dara, kamu kenapa jadi wanita pembohong, mana nggak setia lagi sih!" Nathan mengikuti gaya istrinya, bahkan kini gayanya dibuat sedikit lebai.
Nathan cengengesan melihat istrinya yang sudah tidak tau ingin berkata apa lagi. "Duduk, Nona! Kita bicarakan baik-baik kerja sama ini! Jangan egois, jika Anda membatalkannya begitu saja, maka saya pastikan perusahaan Anda akan mengalami kerugian dalam jumlah yang tidak sedikit!" Kali ini Nathan berbicara serius, bahkan mulai mengubah gaya bahasanya. Tapi ingat! Kali ini, jadi masih belum bisa diprediksi semenit yang akan datang.
"Silahkan duduk, Tuan!" ucap Dara yang kini ikut mengubah gaya bahasanya menjadi formal.
"He'em ...." Kali ini Nathan justru bergaya cool, kalem seolah-olah dia keran, padahal aslinya memang keren!
"Baik, mengenai kerja sama kali ini, saya yakin Anda tau jika ini nanti akan memperoleh keuntungan yang sangat besar untuk kedua belah pihak. Karena kali ini biaya yang diperlukan tidak sedikit, maka saya memutuskan untuk membagi keutungan masing-masing 50 persen atau sama rata, bagaimana Tuan?" Kini aura Dara berbeda. Nathan tersenyum tipis melihat istrinya yang menjelaskan tentang kerja sama tersebut. Tidak bisa dipungkiri, Dara memang berbakat menjadi seorang pemimpin.
'Udah jadi istri, bisa merangkak jadi pembantu, eh sekarang dia bisa juga merangkak jadi tulung punggung keluarga. Apa gue pensiun aja, ya? Biar Dara aja yang kerja, tugas gue cuman membelah duren aja! Sekali-kali suami yang lesah-lesahan di rumah, biar istri aja yang nyari nafkah!' batin Nathan yang otaknya mulai ngawur.
"Baik, saya tergiur dengan keuntungan yang dijanjikan, tapi sejujurnya saya lebih tergiur pengen makan duren," ucap Nathan, tetapi lebih pelan di akhir kalimat, sehingga Dara tidak mendengarnya. Yang benar saja, jika Dara mendengarnya, maka dapat dipastikan wanita itu akan mengamuk.
"Saya akan terima, tetapi saya memiliki beberapa syarat sebelum menerimanya. Silahkan dibaca terlebih dahulu, Nona Bini ...." Nathan menyerahkan stopmap berwarna coklat tersebut pada wanita di depannya.
Dara mengambil dengan penuh keterpaksaan, pikiriannya mendadak tidak enak. Sepertinya ada yang tidak beres.
Perlahan Dara membuka, dan membaca perjanjian di antara mereka.
Kerja sama ini akan diterima asal pemilik perusahaan memenuhi salah satu syarat yang ada di bawah:
☆ Jika pemilik perusahaan mau diajak belah duren, maka Saya selaku pemilik perusahaan N'D Group bersedia menerima kerja sama ini dengan keuntungan untuk saya 20 persen saja!
☆ Jika pemilik perusahaan bersedia memberikan pada saya dua gunung kembar miliknya yang berisi semburan air s*s*, maka saya selaku pemilik perusahaan N'D Group bersedia menjalin kerja sama dengan keuntungan sebesar 40 persen saja!
☆ Jika pemilik perusahaan bersedia memberikan bibirnya yang kenyal-kenyal bernutrisi itu untuk saya nikmati, maka saya selaku pemilik N'D Group bersedia menjalin kerja sama dengan keuntungan sebesar 50 persen!
__ADS_1
Tetapi jika pemilik perusahaan tersebut tidak menyanggupinya, maka saya selaku pemilik N'D Group dengan penuh keterpaksaan akan membawanya ke semak-semak, lalu langsung digrape-grape. Saya selaku pemilik perusahaan N'D Group akan memperk*sa partner tersebut, tetapi versi halal-nya!
Mata Dara membelalak membaca syarat-syarat yang diberikan partner-nya tersebut. Syarat macam apa ini!
"Bagaimana, Nona? Anda bisa memilihnya. Ingat, jika Anda memilih belah duren, maka keuntungan buat Anda 80 persen," tawar Nathan santai, padahal dia sudah siap hendak lari jika sewaktu-waktu istrinya berubah jadi komodo!
Brukk
"NATHAN SIALAN!" teriak Dara menggelegar, bahkan teriakan Dara terdengar oleh Sean dan Lisa yang kebetulan masih berdiri di luar. Mereka berdua terlonjak kaget mendengarnya. Apakah tadi suara Dara? Kenapa sangat melengking sekali?
Melihat istrinya yang berdiri, Nathan sontak ikut berdiri. Kali ini wajah Dara terlihat sangat merah, sspertinya kali ini dia benar-benar marah.
"LO ADA DENDAM APA SAMA GUE?" teriak Dara di hadapan Nathan.
"Astagfhirullah, Dar! Apakah mungkin laki-laki baik, sholeh, pintar, dan pastinya rajin menabung seperti saya ini memiliki dendam." Nathan menunjuk dirinya, merasa tidak terima jika Dara beranggapan dia memiliki dendam pada wanita itu. "Ada sih, karena kamu wanita pembohong, mana nggak setia lagi," sambung Nathan sambil terkekeh tidak jelas.
Brukk
"HUA ... DARA! KAMU JANGAN NGAMUK! INGAT TANDUKNYA JANGAN SAMPAI KELUAR!"
Melihat istrinya yang hampir menerkam dirinya, Nathan sontak membuka pintu dengan cukup kasar, lalu lari terbirit-birit, takut babak belur jika masih berani berada di dekat istrinya, mengingat wanita itu jago bela diri.
"NATHAN! LO JANGAN KABUR!" Dara tentu tidak terima laki-laki itu kabur begitu saja, padahal tangannya belum mencicipi wajah dan mulut laki-laki itu.
"TOLONG ... TOLONG!" Nathan berteriak histeris meminta tolong di restoran tersebut saat menyadari istrinya yang ikut mengejarnya, sehingga membuat satpam yang berada di luar langsung berlari masuk ke dalam restoran, berpikir ada penjahat di dalam sana. Bahkan, tidak hanya satu satpam, tetapi lima satpam sekaligus.
"Ada apa, Pak? Apa ada penjahat?"
TBC
.
.
.
.
__ADS_1