Menikah Dengan Pria M*esum (Suami Takut Istri)

Menikah Dengan Pria M*esum (Suami Takut Istri)
Meminjam Uang?


__ADS_3

Setelah selesai mandi, Nathan segera menggendong istrinya menuju tempat tidur.


Dara terus memberikan tatapan permusuhan. Bagaimana tidak, dia hanya ingin mandi saja, tetapi bukannya mandi dengan benar, malah ada saja yang dilakukan suaminya itu sehingga membuat dia terus mend***h di dalam kamar mandi. Ingin menghentikan pun tidak bisa, karena sentuhan yang diberikan suaminya benar-benar lembut, sehingga malah membuat dia ketagihan. Tetapi yang membuat dia tidak habis pikir, Nathan sama sekali tidak memberi dia kesempatan untuk bernapas sejenak saja, karena setelah laki-laki itu mencapai puncak, maka dia akan melanjutkan lagi. Begitu seterusnya sampai tiga ronde. Tetapi suaminya yang mencapai tiga kali kl***ks, sedangkan dia sudah mencapai lima kali. Sungguh, tubuhnya benar-benar terasa hancur.


Nathan hanya cengengesan tidak jelas saat tak sengaja melihat mata istrinya yang menatap dirinya dengan tatapan permusuhan. Sungguh, tatapan Dara justru terlihat menggemaskan, karena jika dia tidak mengenakan sehelai benang pun seperti saat ini, maka dia justru terlihat menggemeskan, bukan mengerikan.


'Ketawa-ketawa segala! Memang suami nggak ada akhlak!' gerutu Dara dalam hati.


Nathan meletakkan istrinya di atas kasur secara perlahan. Ah, melihat kondisi istrinya itu malah membuatnya kembali ter***sang. Ingin sekali rasanya dia kembali menerkam Dara, tetapi tidak mungkin, karena wajah wanita itu terlihat sangat sayu, pertanda jika dia sangan lelah.


"Yaudah, mana baju gue?" ketus Dara yang sudah risih tidak mengenakan baju seperti ini, apalagi kini dia dibuat was-was dengan suaminya, mengingat kondisinya tidaklah begitu sehat, jadi tidak mungkin bisa membanting Nathan.


"Oke, tapi ada syaratnya, ya?" ucap Nathan menaik-turunkan alisnya. Nathan memang sudah memesan pakaian untuk mereka dari semalam, sebelum pergulatan panas itu terjadi. Tetapi dia meminta


Dara menatap tajam suaminya itu. Dia sangat tau apa yang ada di otak m*esum laki-laki itu! Apalagi jika bukan belah duren?


"Ambil atau lo nggak akan pernah dapat jatah lagi selama-lamanya?" lirih Dara dengan suara yang sungguh-sungguh.


"Astagfhirullah! Ancamannya bukan kaleng-kaleng. Kalau ngasih ancaman itu gini, Dar. Ambil atau nanti gue perk*sa di sini." Nathan geleng-geleng kepala, lalu cengengesan tidak jelas. Memang laki-laki aneh.


"Iya-iya! Ini saya ambil kok. Ya Allah, tatapannya tajam, setajam mulutnya. Eh, maksudnya silet." Nathan terus bergumam tidak jelas, lalu kembali terkekeh tidak jelas. Ya, anggap saja itu semua bentuk dari rasa bahagia yang dia rasakan, mengingat ini adalah momen yang paling bahagia di hidupnya. Tentu saja! Kini Aldara Stephanie Anderson sepenuhnya sudah menjadi miliknya, bukan hanya sebagai statusnya sebagai istri, tetapi kini tubuh wanita itu pun sudah menjadi miliknya.


Nathan lalu mengambil bathrobe yang berada di lantai, lalu mengenakannya. Segera dia berjalan santai keluar untuk mengambil pesanan pakaian yang memang sudah dia pesan sedari semalam. Sebenarnya bisa saja dia memesan pakaian untuk dikenakan semalam, tetapi dia memilih untuk tidak saja, dan membiarkan istrinya tidur menggunakan bathrobe. Tetapi siapa sangka jika itu justru membawa keberuntungan untuknya?


"Gue pikir setelah dia dikasih jatah bisa waras dikit. Eh, ternyata masih nggak waras aja!" gerutu Dara, untungnya suaminya sudah menjauh, jadi tidak mendengar. Mungkin jika Nathan mendengar, maka akan menerkam dia kembali.


Begitu membuka pintu, Nathan melihat dua paper bag yang berukuran lumayan besar. Segera dia ambil, lalu membawanya masuk.


"Nih!" Nathan menyerahkan paper bag yang berisi pakaian wanita ke arah istrinya.


"Makasih!" sahut Dara sedikit tidak ikhlas, sehingga membuat Nathan gemes.


Kening Nathan mengerut melihat istrinya yang menatap ia dengan tatapan yang dia sendiri tidak paham. "Ada apa?"


"Ckk ... Lo ke kamar mandi aja deh!" saran Dara yang seketika membuat Nathan paham.


"Yaelah, Dar! Lagian saya juga udah ngeliat langsung punya kamu kok. Kenapa pakai acara malu segala sih?"

__ADS_1


"Ckk ... buruan napa! Atau gue nggak akan pernah mau lagi ngasih jatah." Dara kembali mengancam suaminya, sehingga membuat Nathan mendengus kesal.


'Cih ... ancamannya itu mulu!'


Nathan segera berjalan menuju kamar mandi dengan kaki yang dihentak-hentakkan layaknya anak kecil yang sedang merajuk. Dara hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan suaminya itu.


Segera Dara gunakan pakaian yang dibelikan suaminya. Tetapi Dara sedikit meringis melihat celana yang dibelikan suaminya ternyata celana levis. Yang benar saja! Yang ada justru semakin membuatnya merasa sakit di area bawah.


Dara bernapas lega saat melihat hoodie yang dibelikan suaminya berukuran besar. Ya, meskipun sedikit pendek.


Ceklek ....


Nathan keluar dari dalam kamar mandi saat selesai memasang pakaiannya. Dan bertepatan dengan itu pula Dara juga selesai memasang pakaiannya.


Nathan terdiam melihat istrinya yang hanya menggunakan hoodie. Ah, seketika dia ingat jika dia memang membelikan celana levis pada istrinya. Itu semua karena dia memesannya sebelum pergulatan panas itu terjadi.


"Maaf, ya." Nathan berkata dengan wajah memelasnya sambil menatap paha putih milik istrinya.


Seakan tahu apa yang ada di pikiran suaminya, Dara mengangguk. "Nggak apa-apa, lagian hoodie-nya agak gede juga."


"Gue laper, Than!" celetuk Dara saat suaminya yang berjalan mendekatinya.


Segera Nathan menyambar handphonenya. Saat dia menghidupkan data seluler, ada banyak pesan yang masuk, salah satunya dari anak perusahaanya, yaitu N'D Group yang memang berada di kota kelahirannya.


Nathan mengabaikan pesan tersebut. Segera dia memesan beberapa menu makanan, dan meminta untuk dikirim secepatnya dengan bonus tambahan.


"Udah saya pesan. Tunggu sebentar, ya!" ucap Nathan yang langsung dibalas anggukan oleh Dara.


Nathan segera membuka pesan yang dikirim oleh sekretarisnya yang berada di N'D Group.


[Permisi, Pak. Seperti yang pernah Bapak katakan pada saya, kalau jika ada karyawan yang membutuhkan pinjaman karena keperluan yang mendesak, maka bisa memberitahukannya kepada perusahaan. Nah, jadi ada salah satu Office Boy di perusahaan ini yang sangat memerlukan uang dan ingin meminjam uang dari perusahaan untuk biaya pengobatan ayahnya yang memang sedang sakit stroke. Apakah Bapak berkenan meminjamkannya?]


Nathan membaca pesan yang dikirim dengan serius. Seketika dia merasa sedih membayangkan ada di posisi karyawannya. Pasti sangat sakit jika orang tua kita sakit, apalagi ditambah tidak ada biaya pengobatan. Ah, seketika dirinya teringat dengan ayah Leo. Mungkinkah pria itu kini sudah baik-baik saja?


[Baik, saya akan segera ke sana sebentar lagi!]


Ting ... Nong

__ADS_1


Nathan segera mematikan handphonenya saat mendengar suara bel. Segera dia bangkit karena tau jika itu adalah pesanannya.


Nathan membayar lebih saat melihat yang mengantarnya ternyata orang tua. Dia merasa tersentuh dengan semangat orang tua itu. Sementara orang itu terus-terusan mengucap banyak terima kasih saat Nathan memberikannya uang lebihan dalam jumlah yang cukup banyak baginya.


Nathan segera membawa tiga bungkus makanan yang sudah dia beli. Ya, dia memang sengaja ingin membeli banyak makanan.


Mata Dara berbinar melihat banyaknya makanan yang dibelikan suaminya. Segara saja dia rebut plastik itu, karena dia sudah sangat lapar sekali. Tanpa basa-basi Dara segera melahap makanan tersebut. Nathan sendiri mengeleng-gelengkan kepalanya melihat istrinya yang sangat lahap sekali makan.


"Oh, iya, Dar. Aku habis ini bakal ke kantor. Kamu mau ikut?" tawar Nathan sambil sesekali memasukkan sesuap nasi ke dalam mulutnya.


Dara mendelik tajam ke suaminya. "Kok mau ke kantor sih? Kan katanya pengen nyari Leo?" ketus Dara tidak terima dengan keinginan suaminya.


"Sebentar aja. Ada keperluan yang nggak bisa diwakilin. Habis itu kita sama-sama cari Leo. aku yang bakal ngeliling kota ini, dan mendatangi satu-satu rumah sakit kalau perlu," jawab Nathan menenangkan istrinya. Ya, setidaknya setelah dia mengoreksi sedikit kehidupan karyawan yang berniat meminjam uang itu, maka dia akan langsung mencari Leo setelahnya.


"Yaudah pergi aja! Aku di sini aja. Aku malas gerak!" ucap Dara.


Setelah itu tidak ada lagi obrolan di antara mereka. Setelah selesai makan, Nathan lalu pamit pergi ke kantornya sebentar. Dara sendiri hanya bisa mengotak-atik handphonenya untuk menghindari rasa bosan.




TBC



.



.



.


__ADS_1


.


__ADS_2