Menikah Dengan Pria M*esum (Suami Takut Istri)

Menikah Dengan Pria M*esum (Suami Takut Istri)
Akhirnya Menerima Tawaran Tersebut


__ADS_3

Saat ini rumah Nathan dipenuhi oleh orang-orang yang datang melayat. Sebenarnya Leo tidak mau ayahnya dibawa ke rumah Nathan. Tetapi mau bagaimana lagi, dia tidak ada tempat lain, karena dia saja masih tinggal di apartment, itupun Nathan yang memberikannya.


Tidak ada yang dilakukan Leo selain menatap kain putih yang menutupi tubuh ayahnya. Pandangannya tidak pernah lepas dari kain putih tersebut. Jiwanya benar-benar terguncang. Separuh nyawanya telah pergi dan meninggalkan dia sendirian di dunia yang kejam tersebut. Tidak ada lagi tempat berbagi, tempat mencurahkan semuanya, tempat bercanda, tempat meminta pendapat, dan tidak ada lagi tempatnya berbicara terbuka. Kini sosok itu telah pergi meninggalkannya, dan yang lebih menyesakkan adalah, sosok itu tak akan pernah kembali lagi.


Leo bahkan tidak peduli dengan orang-orang yang berdatangan. Yang ada di pikirannya hanyalah ayahnya saja. Kenapa Tuhan sangat kejam hingga mengambil satu-satunya orang yang berharga untuknya? Sebenarnya di mana letak kesalahannya?


Nathan duduk di samping Leo. Dia ingin menghibur sahabatnya itu, tetapi dia tahu jika Leo masih marah padanya. Nathan hanya bisa berdoa semoga Leo mengikhlaskan semuanya, dan tidak ada yang namanya balas dendam nantinya.


Sementara Dara sibuk menjamu para warga yang datang melayat. Jujur saja, dia masih terkejut hingga sekarang. Rasanya seperti mimpi. Padahal baru saja mereka jalan-jalan bersama, tertawa bersama, dan berfoto bersama. Tetapi kini, itu semua hanya menjadi kenangan saja.


FLASH BACK


"Mau dibawakan ke mana Jenazahnya, Pak?" tanya Perawat dengan nada sendu.


"Bawa ke rumah saya. Saya akan kirim alamatnya segera." Bukan Leo yang menjawab, tetapi Nathan.


Leo menatap Nathan dengan tajam karena asal ucap saja.


"Sekali ini saja kau mengijinkan aku, Yo. Ayah harus segera dikebumikan." Nathan memelas di hadapan Leo.


Leo terdiam. Benar! Dia bahkan tidak memiliki rumah. Sepertinya dia memang harus mengalah untuk sekarang ini.


Dengan perlahan Leo mengangguk. Nathan tersenyum melihatnya. Kini dia harus menguatkan mentalnya untuk memberitahukan masalah ini pada istrinya. Dia benar-benar takut jika Dara mendengar pria yang sangat dia sayangi telah tiada. Dia yakin jika wanita itu tak kalah terpukulnya nanti.


Pihak rumah sakit dengan segera mengantarkan jenazah ke rumah duka. Sementara Nathan dan Leo juga segera pergi dari rumah sakit. Nathan sengaja memilih lebih dulu pulang, karena ingin memberitahukan semuanya pada istrinya.


Hanya ada keheningan di dalam mobil. Nathan dan Leo kompak terdiam, tidak tau apa yang hendak dibicarakan lagi. Sebenarnya Nathan ingin sekali mengajak Leo berbicara, ingin sekali menguatkan sahabatnya itu. Tetapi dia sadar jika Leo mungkin perlu waktu untuk tidak diganggu.


Tak berselang lama mobil sampai di rumah milik ia dan Dara. Nathan keluar dari dalam mobil. Baru saja dia hendak masuk ke dalam rumah, dia menghantikan langkahnya saat menyadari jika Leo tidak mengikutinya.


"Kenapa nggak turun?" tanya Nathan pada Leo yang hanya diam saja.


Leo hanya menggeleng pertanda tidak. Terlihat seperti sama sekali tidak berminat menjawab pertanyaannya. Nathan hanya mampu menghembuskan napas kasar. Dia segera masuk ke dalam rumah untuk memberitahukan perihal kematian Ayah pada Dara.


"Dar ...." Nathan memandang sendu istrinya yang sedang asik menonton televisi. Wajahnya kini benar-benar terlihat menggambarkan jika dia berduka.


"Astagfhirullah. Kamu kenapa?" Dara seketika panik melihat wajah suaminya yang dipenuhi air mata.


"A–Ayah, Dar ...."


"A–Ayah? Ayah kenapa?" tanya Dara yang mulai gelisah. Perasaannya seketika tidak karuan. Memangnya apa yang terjadi dengan pria yang sangat dia sayangi itu.


Dara membekap mulutnya mendengar penuturan fakta yang Nathan ucapkan. Dia menggeleng percaya, menganggap jika suaminya itu pasti berbohong. Nathan dengan sigap langsung membawa istrinya ke dalam pelukkannya. Dia mengelus punggung Dara dengan lembut saat menyadari tubuh wanita itu yang berguncang dengan hebat.


Meski sekarang dia juga terpukul, tetapi dia tidak boleh terlihat lemah, karena jika sama-sama lemah, lantas siapa yang menghibur.


"Enggak mungkin, Than!" Dara memukul dad* bidang Nathan. Ingin menyangkal, tetapi terdengar dengan jelas di telinganya suara sirine ambulance.


"Tenang, Dar. Jangan kayak gini," bisik Nathan yang merasa sangat terpukul melihat istrinya yang terlihat sangat terpukul.


Nathan terkejut bukan main saat merasakan Dara yang terasa lebih berat. Saat dia melepaskan pelukkan mereka, dia terkejut melihat istrinya yang ternyata pingsan.


"Astaga, Sayang ...."


FLASH BACK OFF

__ADS_1


"Yang sabar, Yo ...." Akhirnya Nathan memberanikan diri mengusap lembut punggung sahabatnya. Sementara Leo terlihat tidak menolak, dia hanya diam saja dengan tatapan yang terus menatap kain putih yang menutupi tubuh ayahnya.


"Sekarang gue sendirian di dunia ini," gumam Leo yang membuat hati Nathan bagai ditusuk ribuan jarum. Terlihat sekali jika Leo sepertinya sangat terluka.


"Enggak, Yo! Ada gue, Dara, Papah Adrian dan yang lainnya yang juga orang tua dan saudara lo. Lo nggak sendirian di dunia ini. Kita semua udah anggap lo seperti keluarga kita sendiri. Apalagi lo adalah Kakak gue." Nathan berkata tegas, tetapi tidak ada respons sama sekali dari Leo. Dia hanya diam saja, entah mendengar atau tidak apa yang Nathan ucapkan tadi.


Para pelayat yang datang merasa tersentuh mendengar ucapan Nathan, bahkan ada ibu-ibu yang nampaknya menangis, mungkin karena ikut merasakan sakit yang dirasakan oleh Leo. Apalagi ada beberapa dari mereka yang kenal betul dengan sosok Bima.


Tetapi dari semua orang yang ada di sana, ada seorang wanita yang tanpa diketahui oleh orang-orang tersenyum miring, dan di sampingnya ada seorang laki-laki yang hanya menatap datar kedukaan yang sedang dirasakan. Dia sama sekali tidak merasa tersentuh sedikit pun. Mungkinkah karena dia memang tidak memiliki hati?


Mereka adalah Lucy dan Kendrick. Untuk mematangkan rencana, Lucy memutuskan untuk ikut melayat, agar menarik simpati Leo bahwa mereka peduli pada laki-laki itu. Meskipun faktanya tidak sama sekali.


Dara terkejut melihat kehadiran Lucy yang sedang berdiri di ambang pintu. Entah kenapa dia merasa semua yang terjadi ada sangkut pautnya dengan wanita ular itu. Sementara Lucy yang merasa sedang ditatap lalu mengedarkan pandangannya hingga bertemu dengan tatapan Dara. Dia mengeluarkan smirknya, dan itu dilihat dengan jelas oleh Dara.


Rasanya ingin sekali Dara membanting wanita itu, tetapi dia berusaha untuk menahannya, mengingat mereka sedang berduka sekarang.


Dengan wajah yang dibuat-buat sedih, Lucy segera mendaratkan bokongnya agak sedikit dekat dengan posisi Leo.


"Aku turut berduka cita, Leo ..." ucap Lucy dengan air mata yang membasahi wajahnya. Kendrick? Sama sekali tidak ada perubahan di raut wajahnya.


Leo mengedarkan pandangannya mendengar suara yang tidak asing di telinganya. Ternyata benar seperti dugaannya, ternyata suara itu milik Lucy.


Nathan menggeram marah melihat keberadaan Lucy. Sebenarnya apa mau wanita itu? Memangnya dia siapa, sok-sok'an sekali kenal dengan sahabatnya.


Leo hanya menatap Lucy sebentar, lalu kembali menatap ke depan, sama sekali tidak berniat membalasnya.


Lucy menatap Nathan karena merasa laki-laki itu menatapnya sedari tadi. Dia memberikan tatapan sendu pada laki-laki itu, tetapi justru dibalas sinisan oleh Nathan.


"Boleh aku melihat jenazah?" tanya Lucy dengan isakkan kecil yang keluar dari mulutnya.


Leo sontak menatap Lucy. "Tidak!" jawab Leo penuh penekanan. "Tidak ada yang boleh melihatnya!"


*********


Hiks ... hiks ...


Leo kembali terisak saat sudah sampai di pemakaman. Rasanya tidak sanggup mengantarkan ayahnya ke peristirahatan terakhir. Tetapi mau bagaimana lagi? Mungkin ini memang yang terbaik. Sekarang dia harus berusaha mengikhlaskan semuanya.


Lucy yang memperhatikan Leo yang menangis tentu tertawa bahagia dalam hati. Melihat orang lain menderita adalah kesenangan tersendiri untuknya. Kini dia sama sekali tidak merasa bersalah telah menghabisi nyawa seseorang, karena orang itulah yang kini membantunya untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.


Leo menggeleng, dia tidak mau memasuki ayahnya ke liang kubur. Dia ingin ayahnya bangkit. Tetapi apakah mungkin?


Dengan susah payah sambil terus terisak Leo akhirnya masuk ke dalam lubang kuburan, lalu meletakkan ayahnya di sana secara perlahan.


Dia terus menangis sepanjang pemakaman itu berlangsung, hingga tanah itu menjadi gundukkan. Di batu nisan tertulis dengan jelas nama ayahnya di sana. Rasanya benar-benar sangat sesak!


Para pelayat satu persatu pergi, hingga menyisakan Leo, Nathan, Dara, serta orang tua mereka. Sementara Lucy dan Kendrick sudah pergi, tetapi sebenarnya mereka tidak benar-benar pergi, tapi hanya sedikit menjauh dari area pemakaman saja sambil terus memantau dari jauh.


Leo terus menangis sambil memeluk gundukkan tanah tersebut. Hal itu tentu membuat Lucy terkekeh di balik pohon.


"Kau lihat, dia sepertinya sangat terpukul sekali," kekeh Lucy.


"Apakah jika Ronald meninggal Anda tidak akan menangis?" tanya Kendrick yang sontak membuat Lucy terdiam. Dia sangat menyayangi putranya, dan tidak akan pernah rela jika ada yang menyakiti Ronald, dan dia tidak akan pernah rela jika Ronald pergi meninggalkan dia. Tidak akan pernah!


"Jangan membahas yang lain, Ken!" tegas Lucy yang nampak tidak suka mendengar anak buahnya membawa-bawa nama anaknya.

__ADS_1


'Cih ... dia membunuh orang tanpa memikirkan perasaan orang lain, tetapi dia juga sama tidak rela jika putranya meninggalkan dia. Apakah wanita ini masih layak disebut manusia?' batin Kendrick berdecih melihat sifat majikannya yang menurutnya sangat menjijikkan.


"Apakah Anda tidak merasa bersalah sedikit pun?" tanya Kendrick yang terlihat penasaran.


"Eum ... tidak sama sekali," jawab Lucy enteng.


'Anda memang layak merasakan hal yang sama agar tau bagaimana rasa sakitnya!'


"Jika aku tidak membunuhnya, aku tidak bisa melanjutkan drama ini, Ken!" sambung Lucy yang hanya dibalas anggukan acuh dari Kendrick.


********


Nathan dan Dara akhirnya memutuskan untuk kembali ke mobil saja, memberikan waktu untuk Leo sendirian di sana. Mungkin laki-laki itu memang memerlukan waktu sendiri terlebih dahulu.


Lima belas menit di sana, Leo akhirnya bangkit, berniat untuk pergi saja. Baru saja dua langkah, matanya tidak sengaja menangkap sosok Lucy yang berada tidak jauh darinya. Dia terdiam sebentar. Entah apa yang ada di pikirannya, dia mendekati wanita itu.


"Ada apa?" tanya Lucy dengan pandangan sendu.


Leo terdiam sebentar. Tetapi tatapannya kini tidak memperlihatkan kedukaan lagi, tetapi ada kilatan amarah di matanya.


"Apakah tawaran semalam masih berlaku?" tanya Leo dengan suara datar.


Lucy bersorak dalam hati, tetapi dia berpura-pura tidak ingat saja. "Tawaran? Tawaran apa?" Lucy menampilkan wajah polosnya.


"Balas dendam!" balas Leo singkat.


"Sebenarnya tidak. Tetapi aku tau jika kau sangat ingin sekali membalas semuanya. Jadi, tawaran itu masih berlaku kok."


"Katakan saja apa yang harus aku lakukan. Aku dengan senang hati akan melakukannya!" ucap Leo mantap dan hanya dibalas anggukan kecil dari Lucy. Namun, meski pun ekspresi wajahnya biasa saja kali ini, sesungguhnya dalam hati dia bersorak bahagia.


Rupanya ada seseorang yang mendengar semua pembicaraan mereka dari balik pohon. Dia terkekeh sinis menatap mereka semua.


"Oke, let's see who wins! Kau terlalu menganggap remeh musuhmu Lucy!" gumamnya.


Namun sayangnya Kendrick melihat orang yang bersembunyi itu. Dia hanya diam saja, lalu melempar senyum tipis pada orang tersebut. Senyum yang hanya dia saja yang mengerti.


Sosok itu lalu pergi begitu saja setelah tau jika Kendrick melihatnya.




TBC



.



.



.

__ADS_1



.


__ADS_2