Menikah Dengan Pria M*esum (Suami Takut Istri)

Menikah Dengan Pria M*esum (Suami Takut Istri)
Masa Lalu Kelam Lucy (Flash Back)


__ADS_3

"DASAR ANAK PEMBAWA SIAL!" teriak seorang pria paruh baya sambil menujuk wajah anak perempuan satu-satunya yang dia miliki.


Plak!


Pria itu menampar Lucy dengan keras. Meski pun perempuan itu adalah anak kandungnya sendiri, tetapi dia sama sekali tidak pernah mengharapkan kehadirannya, karena dia sangat membenci putrinya itu sejak masih berada di dalam kandungan istrinya.


Sang ibu? Dia hanya menatap sendu putrinya. Dia menyayangi putrinya itu, tapi meski pun demikian, dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk perempuan itu. Suaminya adalah seseorang yang emosional, dia pun sebagai istri merasa sangat takut.


Dia diancam oleh suaminya, jika dia berani menolong putrinya sendiri, maka suaminya pastikan menghajarnya. Sebenarnya suaminya adalah orang yang hangat, tetapi itu semua tidak berlaku untuk putrinya.


Lucy adalah anak yang pendiam, pintar, dan yang pastinya cantik. Dia adalah gadis yang polos, dan juga lugu. Hidupnya benar-benar mengerikan. Orang tuanya bahkan tak mengakui dia sebegai anak. Pernah terbesit dalam pikirannya ingin mengakhiri hidupnya saja, tetapi dia masih ingat pesan ustad, yaitu bunuh diri bukan pilihan yang baik.


Lucy yang biasanya hanya diam menunduk kini menatap ayahnya dengan tajam. Brady yang merupakan ayah Lucy membalas tatapan tajam putrinya.


Plak!


"PUNYA HAK APA KAMU MENATAP SAYA SEPERTI ITU!" teriak Brady yang terlihat sangat murka.


"Kenapa? Kenapa kalian tidak bunuh saja aku jika kalian tidak mengharapkan kehadiranku?" ucap Lucy dengan suara datar. Tidak ada lagi yang namanya Lucy yang polos mau pun lugu.


Brady menjambak rambut putrinya. "YA! SAHARUSNYA SAYA BUNUH SAJA KAMU SEDARI DULU! KAMU ITU ANAK PEMBAWA SIAL! SAYA BAHKAN TIDAK PERNAH MENGHARAPKAN KEHADIRAN KAMU!" teriaknya tepat di depan wajah Lucy.


Lucy memejamkan matanya. Mati-matian dia menahan agar cairan hangat yang sedari tadi dia tahan tidak jatuh membasahi pipinya yang justru akan membuatnya terlihat lemah. Selama ini dia selalu bersabar. Dia selalu diam jika orang tuanya memarahinya. Dia tahu betul kenapa orang tuanya benci dengan dirinya. Itu semua karena mereka sangat ingin mempunyai anak laki-laki sebagai pewaris. Menurut Brady, perempuan itu terlalu lemah untuk memegang sebuah perusahaan. Dia mendamba-dambakan seorang anak laki-laki, tetapi ternyata Tuhan malah memberikannya anak perempuan.


Awalnya dia sempat meminta istrinya untuk menggugurkan janin tersebut, tetapi istrinya justru memohon untuk tidak mengugurkannya, dengan alasan dia masih bisa hamil juga nantinya. Tetapi sangat disayangkan, setelah melahirkan Lucy, rahim istrinya harus diangkat, sehingga membuatnya tidak bisa hamil lagi. Itulah sebabnya Brady teramat benci dengan putrinya itu. Menurutnya, Lucy adalah anak pembawa sial, dan dia sangat benci dengan anak gadisnya itu.


"KENAPA TIDAK BUNUH SEKARANG SAJA?" teriak Lucy dengan napas memburu. Jika dia tidak boleh mengakhiri hidupnya sendiri, setidaknya orang tuanya lah yang membunuhnya.


Plak


Brady kembali melayangkan tamparan di wajah putrinya, tetapi kali ini lebih keras sampai membuat sudut bibir Lucy berdarah. Respons Lucy justru tertawa. Ya, menertawakan kehidupannya yang benar-benar sangat menyedihkam.

__ADS_1


'Kalau pun aku bisa memilih, aku bahkan tidak mau lahir dari dunia ini, apalagi melewati kalian!' batin Lucy. Dia benar-benar sakit. Orang tuanya sendirilah yang sudah membuatnya menjadi sosok yang semenyedihkan ini. Orang tuanya tidak hanya menyakiti tubuhnya, tetapi juga jiwanya. Sedari kecil dia tidak pernah mendapatkan kasih sayang, baik dari ibunya mau pun ayahnya. Jangankan menyayanginya, mendekatinya saja mereka tidak mau, seolah-olah dia adalah parasit dalam keluarga tersebut. Sedari kecil dia hanya diasuh oleh tetangganya yang tulus mau menjadi baby sitter, bahkan tanpa upah. Tetapi sekarang beliau sudah meninggal. Orang yang paling dia sayang sudah tidak ada lagi.


"KAU SAJA BELUM MEMBALAS BUDI PEREMPUAN SIALAN!" balas Brady tak kalah nyaring.


Lucy terkekeh sinis mendengar ucapan ayahnya barusan. "Balas budi?" gumam Lucy. "Balas budi seperti apa yang kalian maksud? Apa kalian pernah menyayangi ku? Apa kalian pernah menganggap aku sebagai seorang anak? Apa kalian pernah memperlakukan aku seperti seorang anak? APA PERNAH HAH? TIDAK, KAN? LANTAS BALAS BUDI MACAM APA YANG KALIAN MAKSUD?" Sudah habis kesabaran Lucy. Dia yang biasanya hanya menunduk kini menatap nyalang kedua orang tuanya. Dia benar-benar tidak habis pikir inilah akhir hidupnya. Bagaimana mungkin Tuhan memberikan dia cobaan melebihi kemampuannya.


Dia sebenarnya anak yang sholeha. Dia sering sholat, mengaji, bahkan mendengar ceramah. Satu yang membuatnya tidak pernah membenci orang tuanya adalah, karena dia pernah mendengar jika seorang anak seharusnya tidak boleh membenci orang tuanya sendiri, seburuk apa pun orang tuanya.


"DAN PERLU KALIAN INGAT! AKU TIDAK AKAN PERNAH MAU MENIKAH DENGAN PRIA TUA BANGKA TERSEBUT!" teriak Lucy. Ya, yang membuat ayahnya benar-benar marah adalah karena dia menolak dijodohkan. Bagaimana mungkin orang tuanya berniat menjodohkan dia dengan seorang pria paruh baya hanya karena pria itu kaya.


Plak


Bughh


Kali ini Brady tidak hanya menampar putrinya, tetapi dia justru menendang perut Lucy sehingga membuat Lucy terbatuk-batuk.


Sebenarnya alasan Lucy menolak perjodohan itu selain karena umur mereka yang jauh, juga karena dia tau jika pria yang dijodohkan dengannya adalah pria hidung belang. Itulah yang membuatnya bersikap kurang ajar di hadapan pria yang dijodohkan dengannya, sehingga membuat pria itu langsung menolak mentah-mentah.


Lucy kembali terkekeh. "Bahagia? Memangnya apa itu bahagia?" tanya Lucy polos. "Ah, bagaimana mungkin di umur ku yang sudah menginjak dua puluh tahun ternyata masih belum tau apa itu bahagia?" Lucy menertawakan dirinya sendiri.


Brady dan Rani menatap tidak percaya putri mereka ternyata bisa berkata seperti itu. Selama ini Lucy sama sekali tidak pernah berani melawan jika mereka marah, tetapi sekarang apa? Lucy terlihat cukup mengerikan.


"Tidak perlu lagi mengurusku! Keputusan ku sudah bulat. Aku tidak akan pernah mau menikah dengan laki-laki pilihan kalian. Aku akan menikah dengan pilihanku sendiri!" ucap Lucy penuh penekanan.


"Cih ... memangnya apa yang kau harapkan dari laki-laki miskin seperti itu?" Brady menatap sinis putrinya. Dia tahu jika putrinya memiliki kekasih, tetapi sayangnya, laki-laki itu sangat miskin, bahkan kerjaannya hanya sebagai buruh kuli saja.


"Miskin? Menurut saya miskin jauh lebih baik dari pada kaya tapi sifatnya iblis seperti kalian!" Lucy sudah tidak peduli lagi dengan yang namanya hormat. Menurutnya orang tuanya tidak layak untuk dihormati.


"Kau!" Brady yang mendengarnya tidak terima disamakan dengan iblis.


Plak!

__ADS_1


Brady kembali melayangkan tamparan keras di pipi putrinya. "BERANI SEKALI KAMU BERKATA SEPERTI ITU! SEKARANG KAMU KELUAR DARI RUMAH SAYA!" teriaknya menggelegar.


"Of Course!" Tanpa basa-basi Lucy segera berjalan meninggalkan rumah tanpa membawa satu pasang baju pun. Tetapi baru saja sampai di dekat pintu, suara berat Brady langsung menghentikan langkah Lucy.


"Aku pastikan kau akan menyesal telah bermain denganku!" ucap Brady penuh penekanan.


"Kalian yang sudah membentuk aku seperti ini. Jadi, jangan salahkan aku jika menjadi monster suatu hari nanti," ucap Lucy dengan suara dingin, setelah itu tanpa basa-basi lagi, dia segera pergi dari sana. Lucy yang biasanya selalu memberikan tatapan teduh pada orang-orang yang dilihatnya, kini justru hanya ada tatapan dingin yang terpancar dari matanya.


'Tuhan, jangan salahkan aku jika akhirnya aku mundur menjadi pengikutmu. Kau terlalu kejam memberikan cobaan yang begitu besar pada gadis kecil seperti ku ini. Selama ini aku selalu berdoa agar badai ini segera berlalu. Aku selalu percaya pada-Mu. Tapi kini? Maaf, aku tidak bisa terus seperti ini.'




*TBC*



.



.



.



.

__ADS_1


__ADS_2