
Nathan terlonjak mendengar suara teriakan Leo yang sangat nyaring. Sontak selang masker oksigen yang ada di genggamannya terlepas begitu saja.
Leo menatap Nathan dengan kilatan mata yang memancarkan kebencian. Dia benar-benar tidak menyangka apa yang Lucy katakan tadi memang benar. Tidak pernah terbesit sedikit pun dalam pikirannya jika Nathan adalah sosok yang seperti itu.
"Yo ... A–Ayah ..." lirih Nathan yang tidak bisa berkata-kata lagi.
Leo berlari ke luar ruangan dengan terus berteriak memanggil dokter. Tidak! Ayahnya tidak boleh pergi secepat itu. Dia belum siap sendirian di dunia ini.
Dokter segera berlari saat mendengar ada yang berteriak memanggilnya. Dia segera berlari menuju ruangan VIP nomor 16 setelah tau siapa yang memanggilnya.
Dokter yang bernama Adriel itu segera mendekati Bima. Dia mulai memeriksa denyut nadi Bima. "Pasien telah tiada. Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa selang oksigennya dilepas? Itu yang membuat nyawa pasien tidak bisa diselamatkan." Adriel menjelaskan dengan sedikit nada marah. Apakah orang di depannya itu menganggap remeh benda itu?
"Enggak! Ayah saya nggak mungkin meninggal, Dok!" Leo menatap nyalang dokter Adriel. Berani sekali laki-laki itu asal ucap. Tidak mungkin ayahnya meninggal!
"Maaf, tapi nyawa Pasien memang tidak bisa diselamatkan. Pasien telah tiada, dia sudah kembali ke sisi Allah." Adriel berkata lembut, tapi tetap terkesan tegas.
Leo menggeleng tidak percaya. Dia mendekati tubuh Bima. Air mata terus mengalir dari pelupuk matanya. "Yah ...." Bibir Leo terasa kelu hanya untuk mengucapkan sepatah kata pun. Tidak menyangka akan secepat ini ayahnya meninggalkan dia.
"Yah, bangun!" Leo mengguncang bahu ayahnya dengan cukup kuat, berharap dengan cara ini ayahnya mau membuka matanya.
"Ayah udah nggak ada, Yo ..." lirih Nathan berusaha untuk memberi pengertian pada sahabatnya itu.
Seketika Leo merasa marah, dia berjalan menunuju arah Nathan dengan langkah kaki lebar. Melihat ayahnya yang terbaring kaku memang membuatnya sakit, tetapi dia merasa sangat marah pada Nathan yang sudah mencelakai ayahnya.
Bughhh
Satu pukulan Leo berikan, sehingga membuat Nathan oleng karena belum siap. "LO ADA DENDAM APA SAMA GUE? KENAPA LO BUNUH AYAH GUE HAH?" teriak Leo yang wajahnya kini terlihat merah karena menahan amarahnya.
Runtuh sudah pertahanan Leo. Air matanya jatuh membasahi pipinya melihat ayahnya yang terbaring kaku di kasur. Hanya Bima lah satu-satunya yang dia miliki, dia tidak memiliki keluarga lagi. Kini, ayahnya sudah tiada, dia hanya sebatang kara di dunia ini. Bagaimana mungkin orang yang dia percayai malah menghancurkan kepercayaannya?
"Lo ke–kenapa br***sek, Than?" lirih Leo yang tak habis pikir dengan Nathan. Apakah laki-laki itu hanya berpura-pura baik selama ini?
Nathan menggeleng dengan cepat. Jelas-jelas bukan dia pembunuhnya. "Bukan gue, Yo! Gue nggak mungkin bunuh orang tua gue sendiri!" sangkal Nathan yang tidak menyangka jika Leo berpikir seperti itu terhadapnya.
Leo menarik kerah Nathan dengan kuat, sehingga membuatnya sampai terbatuk-batuk. "TERUS MAKSUD LO AYAH GUE MENINGGAL SENDIRINYA? LO PUNYA OTAK, KAN? GUE NGELIAT DENGAN MATA KEPALA GUE SENDIRI BANG**T!" Emosi Leo benar-benar tidak terkendali.
"LO YANG NGELEPAS SELANG OKSIGENNYA!"
"Tapi bukan gue, Yo!" teriak Nathan yang terus menyangkal tuduhan Leo terhadapnya. "Pas gue datang, selang oksigennya udah lepas. Di depan mata kepala gue sendiri gue ngeliat Ayah menghembuskan napas terakhirnya. Gue nggak tau apa-apa. Ini bukan salah gue." Nathan berusaha untuk menjelaskan. Dia tidak terima dituduh, sementara dia tak kalah terlukanya melihat sosok pria yang sangat dia sayangi telah tiada.
"Lo nggak usah pura-pura polos bego! Gue ngeliat dengan mata kepala gue sendiri kalau lo yang ngelepasnya!" sinis Leo.
"LO PEMBUNUH NATHAN!" maki Leo sembari menunjuk tepat di wajah Nathan.
"Tapi gue berani bersumpah kalau gue nggak bunuh Ayah lo! Lo dengar nggak sih? Dia itu juga Ayah gue, jadi nggak mungkin gue ngelakuin hal kayak gitu." Seketika emosi Nathan tak terbendung. Dia marah sekaligus kecewa pada Leo.
Leo mendekati Nathan, lalu mengguncang bahu Nathan dengan sekuat tenaga. "Kembaliin Ayah gue, Than hiks .... Lo boleh ambil nyawa gue aja, tapi jangan Ayah gue .... Gue sayang sama dia. Kenapa lo lampiasin semuanya ke Ayah gue. Ayah gue nggak salah, Than. Lo seharusnya bunuh gue aja." Leo menangis meraung-raung sembari terus mengguncang tubuh Nathan. Padahal dia pikir Lucy pasti berbohong, karena dia sangat yakin jika Nathan tidak akan melakukan hal itu. Tetapi kini dia salah, Nathan ternyata tidak seperti yang dia kenal.
__ADS_1
"Tapi bukan gue yang membunuhnya, Yo. Gue nggak tau apa-apa."
Hati Nathan terasa sakit mendengar sahabatnya yang terus-terusan menuduhnya. Kini dia merasa seperti mendapat karma. Kejadian ini seperti kejadian yang terjadi sembilan tahun silam, di mana terjadi kesalahpahaman.
"Apa gue salah liat? Gue ngeliat sendiri, Than!" Leo tidak berteriak lagi, karena tenaganya terasa sudah habis.
Nathan bingung bagaimana lagi menjelaskannya pada Leo, sementara sedari tadi laki-laki itu tidak percaya padanya. Dia bahkan sudah bersumpah, tetapi Leo sama sekali tidak percaya padanya. Lantas, apa yang harus dia lakukan lagi? Menggantikan posisi Bima? Jika memang bisa, dia bersumpah akan melakukannya.
"Gue harus apa Yo supaya lo percaya sama gue?" tanya Nathan yang sudah mulai frustasi.
"Kembaliin Ayah gue!" jawab Leo penuh penekanan.
Nathan menggeleng, bukan karena dia tidak mau, tapi karena tidak bisa.
Adriel yang menyaksikannya merasa ikut sakit hati, membayangkan berada di posisi Leo. Seketika Adriel teringat jika ruangan seluruh ruangan VIP dilengkapi dengan CCTV.
"Maaf, seluruh ruangan VIP dilengkapi dengan CCTV. Jadi, untuk memastikannya, mari kita lihat rekamannya," ucap Adriel dengan sopan.
Seakan ada cahaya yang menyinarinya, Nathan tersenyum cerah, karena mendapat titik terang dari masalah yang sedang dia hadapi. Benar! Saking paniknya, dia bahkan melupakan keberadaan benda kecil itu.
"Kita ke sana sekarang!" perintah Nathan dengan tegas. Mereka bertiga lalu segera keluar, dan sedikit berlari menuju ruangan yang terdapat kumpulan rekaman CCTV.
Setelah sampai, Adriel segera menyuruh petugas yang kebetulan ada di sana. "Putar rekaman CCTV ruangan VIP nomor 16!" ucap Adriel yang langsung mendapat anggukan dari pria paruh baya yang memang sedang bertugas menjaga ruangan CCTV.
"Maaf, Pak. CCTV yang ada di ruangan itu mati sejak jam empat sore tadi."
Tanpa basa-basi Leo segera pergi dari ruangan CCTV itu tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Nathan yang melihatnya segera berlari menyusul Leo yang berjalan sangat cepat.
Leo menatap ayahnya yang terbaring di atas kasur dengan tatapan kosong. Jiwanya seakan terguncang melihat sosok yang teramat dia cintai kini sudah pergi dan tak akan pernah kembali.
"Yo ... bukan gue yang membunuh Ayah! Semuanya udah terjadi sebelum gue datang. Ada yang pengen ngadu domba kita berdua." Nathan kembali berusaha menjelaskan pada Leo, tetapi Leo seakan tuli, dia tidak mau mendengarkan ucapan Nathan sama sekali. Hal itu tentu membuat Nathan frustasi.
"Cih ... gue kecewa sama lo, Than!" Leo menatap Nathan dengan tatapan sinis.
"Gue minta maaf Yo karena gagal ngejaga Ayah. Gu–gue minta maaf. Tapi ... bukan gue yang ngelakuinnya."
Leo tertawa sinis sembari terus menatap wajah ayahnya yang terlihat sangat damai. "Lo yang udah mengibarkan bendera perang, Than. Jangan salahkan gue kalau gue nekad melakukan sesuatu. Gue pastiin akan balas semuanya dengan lebih sadis!" gumam Leo yang samar-samar didengar oleh Nathan. Tetapi sayangnya Nathan tidak mendengar keseluruhannya.
'Aku suka cara kalian bermain. Pertahankan hingga waktunya memang tepat untuk diselesaikan.' batin sosok misterius yang sedari tadi menyaksikan kejadian yang terjadi di depan matanya. Setelah itu sosok itu pergi berlalu bergitu saja.
*********
Ha-ha-ha
Di tempat yang berbeda, terlihat seorang wanita yang tertawa nyaring mendengar perdebatan yang terjadi.
"Kau dengar, Ken? Aku akhirnya menang!" seru Lucy dengan wajah yang berseri-seri.
__ADS_1
"Apa kau benar-benar membunuhnya?" tanya Leo dengan kerutan yang sangat kentara.
"Yes! I did it!" Lucy dengan antusias menceritakan kronologinya pada Kendrick. Mulai dari mana dia melakukannya, sampai dia langsung pergi, dan bertepatan dengan itu pula Nathan tiba.
Kendrick hanya mengangguk tidak peduli. Dia benar-benar tidak habis pikir. Bagaimana mungkin ada manusia yang tidak merasa bersalah sama sekali setelah menghabisi nyawa orang lain?
"Yeah, siapa yang tau jika di balik wajah polos Anda, ternyata Anda tidak jauh lebih dari sosok Iblis," celetuk Kendrick tanpa rasa takut sedikit pun.
Lucy yang mendengarnya sontak berdecak kesal. Dia menatap anak buahnya itu dengan tatapan tidak suka. Sebenarnya di mana letak sopan santun Kendrick pada majikannya sendiri.
"Apa kau tidak bisa sedikit sopan pada majikanmu sendiri?" ketus Lucy yang sontak membuat Kendrick mengalihkan pandangannya.
"Tidak," jawab Kendrick sembari memutar matanya malas. Jawaban yang diberikan Kendrick tentu semakin membuat Lucy tidak suka. Andai dia tidak memerlukan laki-laki itu, maka dia pastikan akan memecatnya.
"Apa rencana Anda selanjutnya?" tanya Kendrick menatap wajah majikannya.
Lucy memberitahukan semua rencananya pada Leo. "Setelah Leo mau bekerja sama, kita berdua akan mem—"
"Kita berdua?" Belum selesai Lucy menyelesaikan ucapannya, Kendrick lebih dulu memotong.
"Ckk ... bisakah kau tidak memotong perkataanku terlebih dahulu?" Lucy menatap tidak suka anak buahnya itu. Dia paling benci ketika ada yang memotong pembicaraanya, dan Kendrick dengan berani melakukannya.
"Ya, kita berdua! Aku memerlukan bantuanmu untuk membujuk Leo, karena aku tau kalau kau pasti jauh lebih licik. Setelah kita mempengaruhi pikirannya, kita katakan saja jika dia ingin hidup bersama Dara, maka dia perlu melakukan hubungan terlarang dengan wanita itu, karena Nathan pasti tidak akan menerima itu semua."
Kendrick yang mendengarnya sontak menghembuskan napas kasar. "Kenapa Anda sangat ingin melakukannya?"
"Karena aku mencintai Nathan! Dan aku ingin hidup bahagia dengan dia!" jawab Lucy mantap.
Kendrick kembali berdecih dalam hati. 'Cinta konon!'
"Baiklah! Tidak terlalu buruk."
TBC
.
.
__ADS_1
.