
..."Kata orang-orang, kalau udah halal harus belah duren, 'kan?" ~Nathan....
Dara berjalan menuju kamar yang memang sudah dipesan oleh keluarganya menggunakan uang Nathan. Dia benar-benar merasa kelelahan, padahal dirinya hanya berdiri saja di atas pelaminan tersebut.
"Ya Allah, nih kamar udah kayak apa aja di penuhi bunga-bunga mawar. Sok manis banget suami baru gue, kenapa nggak sekalian taburi bunga bangkai aja? Biar makin romantis!" gerutu Dara yang bukannya tersentuh, malah kesal melihat bunga-bunga yang bertaburan di atas tempat tidur.
"Ckk ... susah amat dibuka bajunya!" Dara menggerutu saat tangannya tidak sampai menyentuh kancing gaun tersebut.
Sekian lama berusaha, akhirnya dia bisa juga membuka gaun mekar tersebut. Karena sudah merasa sangat gerah, Dara langsung menanggalkan gaun tersebut, dan masuk ke dalam kamar mandi, berniat untuk berendam sebentar.
"Ah, seger banget," gumam Dara saat mendaratkan tubuhnya di dalam bathub.
Berbeda dengan Dara yang keenakkan, Nathan justru sedang tersiksa di sana. Ketika dia berusaha untuk berbaur dengan para tamu, banyak dari tamu-tamu tersebut justru membahas tentang pekerjaan, bahkan tak sedikit dari mereka yang secara terang-terangan mengajak perusahaan miliknya untuk bekerja sama dengan perusahaan mereka.
Bukannya tidak suka, hanya saja dia ingin hari ini tidak memikirkan tentang pekerjaan apa pun. Tetapi seperti itulah sifat manusia, mereka selalu berusaha untuk mencari celah agar bisa meraup sebanyak-banyaknya harta yang ada di dunia ini.
"Udah, kalau kamu capek, kamu bisa ke kamar aja. Biar Papah yang urus mereka. Kasihan Dara yang udah nungguin kamu!" bisik Damar dengan sedikit terkekeh.
"Emang boleh, Pah?" tanya Nathan dengan mata yang berbinar.
"Udah sana! Dara udah nungguin kamu tuh!" Damar sedikit tidak tega melihat Nathan yang secara profesional bersikap baik pada mereka yang secara terang-terangan mengajak untuk bekerja sama, padahal terlihat sangat jelas jika laki-laki itu sama sekali tidak tertarik. Tetapi begitulah dunia bisnis, meski tidak suka dan tidak mau, kita tetap harus bersikap profesional.
Tanpa basa-basi Nathan segera berlari menuju kamar yang sudah ia pesan untuk menghabiskan malam panas bersama istrinya nanti. Para tamu sedikit heran melihat Nathan yang berlari, tetapi mereka tidak memperdulikannya, mereka kembali fokus dengan kegiatan mereka masing-masing.
Nathan akhirnya tiba di depan pintu. Entah kenapa dia tiba-tiba menjadi gugup dan takut sendiri.
"Jangan takut, Joni. Punya Dara nggak ada durinya, kok. Palingan cuman hutan belantara doang." Nathan menormalkan detak jantungnya yang sedang berdetak lebih cepat.
Ceklek ....
__ADS_1
Nathan membuka pintu secara perlahan. Pertama kali membuka pintu, matanya disambut oleh pemandangan yang sangat indah. Ternyata orang tua dan mertuanya sudah mempersiapkan semuanya dengan sangat baik sesuai dengan keinginannya, karena kamar itu terlihat sangat indah, sangat cocok menghabiskan malam panas untuk pengantin baru.
"Dar!" Baru saja Nathan berjalan dua langkah, matanya langsung melotot melihat gaun pengantin milik istrinya yang tergeletak begitu saja di atas lantai.
"Wah, ternyata diam-diam Dara juga nggak sabar pengen belah duren. Pokoknya gue nggak boleh kalah. Oke, my Bini, malam ini kita harus begadang. Pokoknya kita harus sama-sama mengerang, mendes*h, dan merasakan bersama-sama kenikmatan yang tiada tara itu." Nathan merentangkan tangannya, seolah-olah Dara siap memeluknya, padahal Dara sama sekali tidak ada di sana.
Pandangan Nathan sontak teralihkan ke dalam kamar mandi saat mendengar percikan air dari dalam sana. Jadi, Dara sedang mandi, agar saat bermain nanti, tubuhnya harum, tidak bau amis. Pikir Nathan.
"Aduh, jadi nggak sabar pengen unboxing. Kira-kira punya Dara nanti rasa apa, ya? Rasa coklat, 'kah? Atau rasa Vanila? Atau rasa boba?" gumam Nathan.
Nathan segera melepas jas yang melekat di tubuhnya, lalu menggulung lengan bajunya dan membuka dua kancing atas kemejanya, sehingga menambah kesan s*exy untuk laki-laki itu.
Nathan berjalan secara perlahan menuju kasur, lalu berbaring dengan tangan kanannya yang dia gunakan untuk menahan kepalanya.
Tidak hanya itu, laki-laki itu bahkan menggigit setangkai bunga mawar. Pandangannya tidak lepas dari pintu kamar mandi, rasanya benar-benar tidak sabar menunggu wanita yang baru saja menjadi istrinya tersebut keluar dari dalam kamar mandi.
"Dara, this is belah duren kita!"
Dara menggerutu pada dirinya sendiri saat dia lupa membawa pakaian ganti ke dalam kamar mandi. Itu semua karena dia sudah merasa sangat gerah, sehingga tidak ingat membawa pakaian ganti untuknya. Dan sekarang dia justru merutuki dirinya.
"Huh ... kayaknya Nathan belum datang juga deh. Mending gue cepat-cepat keluar aja," gumam Dara, lalu segera melilitkan handuk di tubuh kecilnya, kemudian segera keluar dari dalam kamar mandi.
Ceklek ....
Dara celingukan, matanya menatap ke sana kemari, memastikan jika suaminya memang tidak ada di kamar tersebut.
'Aman!'
Wanita itu lalu berjalan santai menuju koper miliknya yang berisi pakaian yang sudah dia siapkan.
__ADS_1
Sementara Nathan membuka mulutnya dengan lebar saat melihat orang yang dia tunggu keluar juga, apalagi hanya menggunakan handuk saja. Beberapa kali Nathan menelan salivanya dengan kasar.
Dara berjalan menuju koper miliknya, tanpa menyadari jika ada Nathan di sana.
Begitu membuka kopernya, dia hanya menemukan dua baju yang memiliki kain yang sangat tipis, dan begitu pendek. Dirinya sangat tau itu jenis baju apa. Itu adalah lingerie! Siapa yang sudah lancang memasuki baju sialan itu di dalam kopernya? Dan di mana baju-baju yang sudah ia siapkan?
"Ckk ... baju-baju gue mana? Lagian ini baju apaan coba? Udah tipis, mana pendek lagi!" gerutu Dara sambil membalik-balikkan kedua lingerie yang berbeda warna tersebut. Satunya berwarna merah terang, dan yang satunya berwarna perpaduan warna hitam dan ungu tua.
"Saya suka yang warna merah, terlihat lebih menantang," celetuk Nathan yang sontak membuat Dara terkejut, karena setahunya tidak ada orang di dalam kamar tersebut.
Perlahan Dara memutar tubuhnya ke arah sumber suara tersebut. Wanita itu mengerjab-ngerjabkan matanya berkali-kali saat melihat keberadaan suaminya yang sudah berbaring dengan anteng di tempat tidur, bahkan dengan setangkai bunga mawar yang justru membuat Dara menjadi geli melihatnya. Terlihat seperti bencong!
"Lo Nathan atau penunggu hotel ini?" Pertanyaan polos itu keluar begitu saja dari mulut Dara.
"Saya suami kamu yang paling ganteng," jawab Nathan dengan pede.
TBC
.
.
__ADS_1
.