Menikah Dengan Pria M*esum (Suami Takut Istri)

Menikah Dengan Pria M*esum (Suami Takut Istri)
Siapa Pemilik Perusahaan N'D Group?


__ADS_3

Cupp


Tubuh Nathan terasa tersetrum saat merasakan benda kenyal yang menempel di pipinya, tetapi sayangnya hanya sebentar saja. Apakah istrinya baru saja mengecup pipinya? Padahal dia berpikir Dara mungkin saja justru akan memberikan dia bogeman atau tamparan, tetapi apa? Dia justru benar-benar dicium oleh benda kenyal berwarna pink tersebut!


Brukk


"Assalamualaikum!"


Nathan segera membuka matanya saat mendengar bunyi pintu mobil yang ditutup. Ternyata Dara sudah pergi. Apakah wanita itu sedang malu?


Nathan memegang dadanya, merasakan jantungnya yang berdegub dua kali lebih kencang dari biasanya.


"Ini seriusan gue dicium?" Nathan bertanya pada dirinya sendiri. Apakah ini yang dinamakan dengan keajaiban? Seorang wanita bernama Aldara Stephanie Anderson yang terkenal dengan wanita pembohong, nggak setia, dan yang pastinya syadis menciumnya pagi ini? Sungguh! Andai saja dia punya akun youtube, maka dapat dipastikan akan langsung viral!


"Ajegila, gue dicium, Blis!" Alih-alih menyebut nama Allah, Nathan justru menyebut nama iblis, sepertinya iblis menjadi temannya sekarang.


"Wa'alaikumsalam." Setelah menyebut nama iblis, kini Nathan justru membalas salam istrinya tadi. Benar-benar aneh!


"Astaga, gue nggak nyangka wanita syadis seperti Dara bisa bersikap lembut juga? Apakah ini yang dinamakan dengan rezeki anak sholeh?" Nathan mengangkat dadanya sombong, merasa bangga sudah berhasil menaklukkan wanita syadis seperti Dara.


"Ihh ... rasanya seperti Anda menjadi Iron Man!" Nathan memekik layaknya anak kecil. Astaga, di mana letak jiwa laki-laki mu, Bang!


Andai dia tidak mengingat jika dia seorang laki-laki yang kece, maka dapat dipastikan dia akan keluar dari dalam mobil, lalu lompat kegirangan seperti anak kecil yang dibelikan permen oleh ibunya.


"Dara, you're mine!" Nathan mengangkat sudut bibirnya, sehingga menciptakan senyum miring. Sebenarnya apa maksud laki-laki itu berkata seperti itu?


Setelah itu Nathan segera tancap gas menuju perusahaannya setelah melihat istrinya yang sudah masuk ke dalam perusahaan.


*********


Mendengar permintaan Nathan membuat Dara sedikit terkejut. Cium? Apakah dia sedang bercanda?


Dara tentu ingin menolak, tetapi sekarang dia sudah resmi menjadi istri Nathan, jadi wajar saja jika laki-laki itu meminta, lagian cuman sebuah kecupan, kan?


'Gue pengen nolak, tapi bukannya itu sebuah dosa jika menolak permintaan suami? Sudah cukup dosa gue karena menolak permintaan dia yang meminta haknya!'


'Kayaknya gue emang harus perlahan membuka perasaan gue!' Tiba-tiba ada keinginan di hati Dara untuk berusaha menerima pernikahan ini. Lagian, dia sudah berjanji di hidupnya bahwa dia hanya akan menikah sekali seumur hidup! Nathan juga bukanlah laki-laki yang memiliki prilaku buruk! Pikir Dara.


"Yaudah, lo tutup mata!" pinta Dara yang langsung dituruti oleh Nathan.


'Nih anak pakai acara nurut segala lagi!' gerutu Dara dalam hati. Sebenarnya dia belum siap mengecup pipi suaminya, tetapi melihat wajah Nathan yang sepertinya sangat berharap membuat Dara menjadi tidak tega. Sepertinya laki-laki itu sangat berharap.


'Oke!'

__ADS_1


Perlahan wajah Dara mendekati wajah Nathan yang sejak tadi sudah menutup mata, menunggu untuk dicium.


Cupp


Satu kecupan mendarat di pipi Nathan, tetapi hanya sebentar, karena setelah itu Dara langsung mundur. Sebenarnya yang dia lakukan sudah benar, kan?


'Gue nggak salah, kan? Kan udah halal!' Dara memegang bibirnya yang sudah dengan lancang mengecup pipi Nathan.


Brukk


"Assalamualaikum!" Dara segera keluar dari dalam mobil dengan cepat sebelum laki-laki itu membuka matanya. Dia takutnya Nathan sempat melihat wajahnya yang memerah, tetapi meski pun demikian, dia sempat mengucap salam, karena itu sebuah kewajiban. Astaga, apa yang terjadi dengannya sekarang? Padahal mereka baru saja menikah.


Meski ini bukanlah kali pertamanya mencium Nathan, karena semasa mereka pacaran dulu, baik Nathan maupun dia sering mencium satu sama lain, kecuali bibir. Tetapi tetap saja, ini adalah kali pertamanya mencium Nathan setelah menikah, dan jujur saja, jantungnya berdetak sangat kencang.


"Astaga, kenapa gue deg-deg'an? Padahalkan gue cuman nyium dia doang." Dara memegang jantungnya yang berdetak dengan sangat cepat.


"Enggak, Dar! Yakali aja lo secepat ini jatuh ke pelukan Nathan! Kayak bukan lo banget." Dara berusaha meyakinkan dirinya untuk tidak jatuh cinta pada Nathan. Tetapi mau bagaimana lagi? Dia harus belajar mencintai laki-laki itu, karena sekarang Nathan adalah suaminya.


"Woy! Kenapa melongo aja Bu Bos!" Tiba-tiba Lisa datang dan menepuk pelan bahu Dara, sehingga membuat Dara sedikit terkejut.


"Astaga, gue pikir siapa! Lo kenapa ngejutin gue segala!" ketus Dara menatap jengkel sahabat sekaligus sekretarisnya tersebut.


"He-he, siapa tau lo kesurupan!" kekeh Lisa tanpa rasa bersalah sedikit pun. "Yaudah ayok masuk! Masa sekretarisnya yang duluan masuk," sambung Lisa yang langsung menggandeng tangan Dara.


"Ckk ... yang seharusnya sampai duluan 'kan emang sekretaris, habis itu baru bosnya!" Dara menyentil pelan kening sahabatnya, membuat Lisa meringis kesakitan.


"Yaudah ayok masuk! Hari ini kan kita ada meeting jam 10! Lo udah siapan bahan presentase-nya, kan?" Dara menatap sahabatnya sambil berjalan masuk ke dalam perusahaan.


Para karyawan menyapa dan menundukkan kepala saat bertemu dengan Dara dan Lisa. Mereka berdua kompak menyapa balik sambil menunjukkan senyum tipis.


"Tenang aja, semua udah gue siapin!" Lisa menepuk dadanya dengan gaya sombong.


"Lo memang sekretaris yang the best!" Dara mengacungkan kedua jempolnya di hadapan Lisa.


Dara masuk ke lift khusus petinggi perusahaan dan diikuti Lisa. Setelah sampai, dia segera keluar, dan masuk ke dalam ruangan CEO, begitu pun Lisa, dia juga masuk, karena Dara memang membuat ruangan CEO dan sekretaris menjadi satu.


Bukannya berjalan menuju mejanya, Lisa justru mengikuti Dara berjalan menuju mejanya, lalu tanpa basa-basi dia segera duduk di kursi di hadapan Dara.


Kening Dara mengerut melihat sikap sahabatnya tersebut. "Kenapa lo?"


"Gimana sama malam pertama lo? Berapa ronde malamnya? Nathan mainnya ganas nggak?" Lisa langsung melontarkan deretan pertanyaan, sehingga membuat Dara mengangga. Bagaimana tidak, ini adalah kali pertamanya Lisa kepo dengan urusan pribadinya. Setahunya Lisa bukanlah orang yang kepo.


Tetapi mendengar pertanyaan yang tidak jauh dari malam pertama membuat Dara kesal setengah mati. Andai yang melontarkan pertanyaan itu bukan sahabatnya, maka dia pastikan akan memecatnya saat itu juga!

__ADS_1


"Kepo banget sih lo! Yaudah buruan, ini udah setengah sepuluh. Kita nggak boleh telat, saya paling tidak suka dengan orang yang nggak bisa menghargai waktu!"


"Baik, Bu!" Mendengar Dara yang mengubah gaya bahasanya membuat Lisa sontak berdiri, dia tau jika Dara sudah berbicara menggunakan bahasa formal, maka dia sedang serius, dan tidak ada yang namanya sahabat.


Mereka berdua lalu segera berangkat menuju salah satu restoran di mana mereka akan membahas kerja sama tersebut sesuai permintaan client mereka kali ini.


"Dari mana client kita hari ini, Ca?" tanya Dara sambil membaca berkas yang akan dia presentasi kan nanti untuk meyakinkan client-nya, dan mendapatkan kerja sama.


"Ini perusahaan baru, Ra. N'D Group, dan dari informasi yang aku dengar, perusahaan ini baru dibangun sebulan yang lalu, tetapi perkembangannya cukup pesat. Aku pribadi nggak tau sih, apa ini perusahaan baru atau anak perusahaan dari perusahaan besar," jawab Lisa apa adanya.


Dara yang mendengarnya mangut-mangut. "Hebat sekali dia bisa membangun perusahaan hanya dalam waktu sebulan," gumam Dara. Dia merasa takjub pada pendiri perusahaan tersebut, padahal dia sendiri masih tidak mampu jika membuat perusahaan baru. Membangun perusahaan bukanlah hal yang mudah, tetapi pemilik perusahaan baru ini malah sanggup membangun hanya dalam sebulan saja. Sungguh luar biasa!


Tak berselang lama mereka sampai di sebuah restoran *****. Dara dan Lisa segera masuk dan berjalan menuju ruangan yang sudah dipesan, yaitu ruangan VIP. Mereka sengaja memesan ruangan tersebut, agar tidak terganggu dengan pengunjung lainnya.


'Ternyata belum datang' batin Dara saat melihat ruangan tersebut yang sepi.


Dara dan Lisa lalu memilih duduk di kursi sambil menunggu client mereka. Dara benar-benar tidak sabar melihat siapa gerangan sosok yang bisa membangun perusahaan hanya dalam waktu sebulan saja.


Ceklek ....


"Maaf, Nona Ayank Bini. Eh, maksudnya Nona burung Dara. Eh, maksud saya Nona Aldara. Saya telat karena tadi nyempatin belah duren, tapi durennya malah nggak ada, jadi ... ya begitulah! Kebetulan Bini saya syadisnya minta ampun!" ucap seorang laki-laki saat memasuki ruangan tersebut.


Tubuh Dara membeku, perlahan dia mendongakkan kepalanya, melihat siapa pemilik suara berat yang sedikit lebai tersebut. Meski pun dia bisa mengenali dari suaranya, tetapi dia masih ingin memastikannya.


"Lo ...!"




TBC



.



.



.

__ADS_1



.


__ADS_2