
"Kenapa kamu sampai pergi dari rumah?" tanya Elno sembari mengelus lembut rambut kekasihnya.
"Mereka jahat, El! A–aku udah nggak sanggup! Bahkan mereka sendiri yang mengusirku," jawab Lucy sembari menangis di dalam dekapan kekasihnya. Meski pun Elno hanya bekerja sebagai buruh kuli, tetapi Lucy sama sekali tidak mempermasalahkannya, karena dia benar-benar mencintai laki-laki itu. Lagian, selama ini hanya Elno lah yang menunjukkan padanya tentang cinta.
"Aku nggak mau dijodohkan sama orang lain. Aku maunya nikah sama kamu aja. Aku sayang dan cintanya cuman sama kamu."
Ucapan yang dilontarkan kekasihnya seketika membuat Elno merasa bersalah. Andai dia memiliki banyak uang, maka dia pastikan akan segera mempersunting kekasihnya dan membebaskan gadisnya dari neraka yang diciptakan oleh orang tuanya sendiri. Tetapi apalah daya, Tuhan masih belum mengkhendaki hidupnya untuk sukses. Mungkin dia memang harus bersabar lagi. Tetapi meskipun demikian, dia sama sekali tidak pernah mengeluh pada Tuhan, karena dia percaya jika semua rencana Tuhan indah pada waktunya. Mungkin memang belum saatnya.
"Maafin aku, ya," sahut Elno sembari menatap sendu kekasihnya. "Maafin aku karena udah buat kamu jatuh cinta sama aku. Maafin aku karena aku, kamu jadinya kayak gini. Aku minta maaf belum bisa memberi kamu kebahagiaan," sambung Elno yang langsung mendapat tatapan tidak suka dari Lucy. Kenapa laki-laki itu harus minta maaf? Padahal ini semua bukan salah Elno.
"Kamu nggak perlu minta maaf. Kamu nggak salah, karena aku sendiri jatuh cinta sama kamu. Lagian selama ini kamu yang selalu ada untukku, bahkan meski pun kamu sibuk, kamu selalu nyempatin diri buat ketemu aku, buat ngedengar semua keluh kesah aku. Kamu orang yang pertama yang mengajarkan aku cinta. Jadi jangan bicara kayak tadi lagi, ya!" ucap Lucy yang semakin mengeratkan pelukkan pada pinggang Elno. Dia paling tidak suka mendengar Elno yang selalu menyalahkan dirinya sendiri, karena membuat hidupnya menderita. Padahal, hidupnya bahkan sudah menderita sebelum adanya laki-laki itu.
Elno tersenyum mendengar ucapan kekasihnya. Dia sangat menyayangi Lucy. Bahkan dia akan melakukan apapun demi melihat wanita itu tersenyum, karena senyum Lucy adalah energi untuknya. "Iya-iya, Cantik. Aku nggak akan ngomong kayak gitu lagi kok." Elno tersenyum pada kekasihnya.
"Sekarang kan aku udah nggak ada tempat tinggal. Jadi, bisa nggak kalau aku tinggal di rumah kamu?" Lucy mengeluarkan wajah menggemaskannya, sehingga membuat Elno tidak bisa menahan diri untuk tidak menguyel-uyel pipi kekasihnya itu. "Ihh, sakit, El!" rengek Lucy karena pipinya selalu mejadi pelampian Elno.
Elno terkekeh lucu. "Apa kamu nggak keberataan tinggal di rumah sederhana?" tanya Elno dengan lembut.
Dengan tegas Lucy menggeleng. "Enggak kok! Malah aku nyaman bisa dekat terus sama cowok ganteng," kekeh Lucy yang langsung membuat Elno ikut terkekeh.
"Tapi awas ya kalau kamu macem-macem! Aku tampol kamu!" ketus Lucy sambil memicingkan matanya.
"Macam-macam gimana?" tanya Elno pura-pura tidak tahu.
"Kalau kayak gini boleh nggak?"
Cupp
Elno memberikan kecupan lembut di pipi Lucy, sehingga membuat Lucy terkejut.
"EL!" pekik Lucy yang merasa kesal.
Elno hanya tertawa saja tanpa merasa bersalah sedikit pun.
"Yaudah, ayok pulang. Ini udah hampir malem." Lucy dan Elno segera pulang bersama sambil bergandengan tangan. Terlihat jika Lucy sangat bahagia bisa memiliki Elno, begitupun sebaliknya.
Senyum kecil terbit di bibir Lucy saat melihat rumah yang cukup sederhana di hadapannya. Jika dibandingkan dengan rumah orang tuanya, tentu sangat berbeda jauh.
"Maaf, ya." Elno menatap sendu kekasihnya, karena hanya bisa membawa kekasihnya itu ke tempat yang sederhana.
"Ishh, nggak perlu minta maaf, El!" Lucy menjadi kesal lagi.
"Ayok masuk, anggap aja rumah sendiri," kekeh Lucy sembari menyuruh Elno untuk masuk.
Elno tentu ikut terkekeh dengan tingkah menggemaskan kekasihnya itu. Lucy benar-benar gadis yang membawa pengaruh positif untuknya. Wanita itulah yang selalu membuatnya mampu tertawa, bahkan di saat dia sedang susah sekali pun, ketika mengingat wajah cantik kekasihnya, dia bisa bersemangat kembali.
"Dih! Yang punya rumah siapa, yang nyuruh masuk siapa," sinis Elno yang sontak membuat Lucy tertawa terbahak-bahak.
Lucy tersenyum senang melihat rumah Elno. Meski kecil, tetapi terlihat sangat bersih dan rapi. Inilah yang dia suka dari kekasihnya itu. Laki-laki itu adalah orang yang sangat pembersih.
"Yaudah, kamu mandi duluan gih. Kamu bisa pakai baju aku yang ada dalam kamar. Biar aku yang masak untuk makan malam kita malam ini." Elno berkata dengan lembut sembari mengacak-acak gemes rambut kekasihnya.
"Yaudah, aku mandi, ya. Soalnya gerah banget." Lucy segera masuk ke dalam kamar kekasihnya, dan mencari pakaian yang bisa dia kenakan. Sementara Elno segera menuju dapur untuk membuatkan makan malam untuk mereka. Untungnya di lemari pendingin masih ada beberapa potong ikan yang bisa diolah. Segera saja dia membuat ikan pedas manis, makanan kesukaan kekasihnya.
"Uhh, wangi banget," sindir Elno saat Lucy keluar dari kamar mandi.
Lucy yang berniat membalas sindirian Elno seketika tidak jadi saat matanya menatap sepiring penuh masakan ikan pedas manis kesukaannya. "IKAN PEDAS MANIS!" pekik Lucy girang. Dia segera berlari kecil, lalu duduk di sana. Elno yang menyaksikannya terkekeh lucu.
"Kamu makan duluan aja. Aku mau mandi dulu," ucap Elno lembut.
"Enggak! Kamu mandi dulu aja, biar aku nungguin kamu, jadi kita bisa makan sama-sama. Tapi jangan lama-lama, ya."
Elno mengangguk, lalu segera masuk ke dalam kamar mandi. Karena tidak mau membuat kekasihnya menunggu lama, Elno bahkan mandi dengan terburu-buru, bahkan sebelum memastikan apakah badannya sudah benar-benar bersih.
"Maaf ya udah buat kamu nunggu lama," ujar Elno sedikit merasa bersalah. Lucy hanya mengangguk saja, lalu dengan semangatnya dia mangambil porsi untuk kekasihnya, setelah itu mengambil untuknya.
"Berdoa dulu, Sayang!" tegur Elno saat melihat kekasihnya baru saja hendak memasukkan sesendok nasi ke dalam mulutnya.
Lucy terkekeh, lalu segera mengangkat tangannya. Dia bahkan mengucapkan doa makan dengan cepat, sehingga membuat Elno hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya saja. Ingin menegur pun tidak tega, karena melihat wajah kekasihnya itu.
__ADS_1
"Enywak bwanget!" Lucy memuji makanan yang dibuat kekasihnya dengan mulut yang penuh dengan nasi.
"Ditelan dulu, Sayang!" tegur Elno lagi. "Kamu makan sepuas-puasnya aja." Mendengarnya, mata Lucy sekita berbinar, lalu tanpa basa-basi dia segera melahap habis makanan yang tersisa di meja makan tersebut. Untungnya Elno sudah mengambil jatahnya.
"Kalau kamu ngantuk, kamu tidur di kamar aku aja, biar aku tidur di ruang aja." Elno memberi saran, tetapi langsung mendapat gelengan dari Lucy.
"Maunya tidur sama kamu." Lucy merengek pada kekasihnya itu.
"Astagfhirullah, Sayang. Bukan muhrim, Lus!"
"Ishh ... kan cuman tidur doang, lagian kan aku takut tidur sendiri," cicit Lucy yang masih bisa didengar oleh Elno.
"Yaudah, ayok!" Lucy sontak mengangkat kepalanya, lalu menatap wajah kekasihnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Tetapi sedetik kemudian dia tersenyum bahagia. Tanpa basa-basi mereka lalu masuk ke dalam kamar.
Elno membawa kekasihnya ke dalam pelukkannya, dan Lucy bahagia sekali mendapat perlakuan seperti itu. Dia benar-benar haus akan kasih sayang, dan untunglah Elno datang memberikannya kasih sayang itu.
"Sayang, apa kamu nggak pernah ngerasa kesepian tinggal sendiri?" tanya Lucy pada Elno. Dia tahu jika Elno sekarang hanya sebatang kara. Kedua orang tua laki-laki itu memang sudah meninggal bertepatan dengan waktu kelulusan SMA nya. Sementara ibunya memang sudah meninggal waktu dia masih SMA.
"Kesepian? Ya enggak lah, Yank. Meski pun Ibu dan Ayah sudah pergi, tapi mereka selalu ada di sini." Elno menujuk dadanya. "Aku selalu merasa kehadiran mereka kok," sambung Elno dengan senyum kecil.
"Boleh aku bertanya satu pertanyaan lagi?" pinta Lucy yang langsung mendapat anggukan dari Elno. "Kenapa kamu nggak pernah nyium bibir aku? Dan kamu kayak nggak tertarik sama aku," tanya Lucy polos, sehingga membuat Elno terkekeh.
"Karena Ayahku pernah berpesan kalau perempuan itu harusnya dijaga, bukan malah dirusaki. Kamu harus tau, kalau harta yang paling berharga yang kamu miliki sekarang adalah mahkotamu. Dari situlah laki-laki bisa menilai apakah kamu wanita baik-baik atau tidak. Oleh sebab itu, hanya suami kamulah yang berhak mengambil mahkota itu. Tolong jaga baik-baik ya mahkota kamu." Elno berkata dengan lembut, membuat hati Lucy menghangat mendengarnya.
"Pokoknya kamu yang harus jadi suami aku nanti! Aku nggak mau tau!" ucap Lucy mantap.
Elno tersenyum lebar mendengarnya. "Pasti! Secepatnya aku akan menikahimu!"
"Sekarang sesi tanya jawabnya udah ditutup. Sekarang tidur!" perintah Elno saat melihat kekasihnya yang hendak membuka suaranya kembali.
Lucy terkekeh mendengarnya. Dia lalu segera tidur di dalam dekapan kekasihnya. Tak berselang lama, Elno mendengar dengkuran halus dari Lucy. Dia tersenyum lalu mengelus lembut rambut wanita itu.
"Hidup mu benar-benar menyedihkan, Sayang. Aku berjanji akan membayar air mata yang sudah jatuh dengan senyuman setiap harinya," ucap Elno lembut, lalu memberikan kecupan lembut di kening wanita itu.
*******
"Sayang, bangun." Elno menepuk lembut pipi kekasihnya, sehingga membuat tidur Lucy terganggu.
"Aku kerja dulu, ya. Aku udah buat sarapan tadi. Dimakan, ya." Elno berkata dengan lembut.
"Sekarang?" tanya Lucy yang mendapat anggukan dari Elno.
"Yaudah hati-hati, ya."
"Iya, assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam," balas Lucy.
Setelah kekasihnya sudah pergi, Lucy segera bangkit dan berjalan menuju kamar mandi. Dia tersenyum melihat nasi goreng yang sudah ada di atas meja. Tidak hanya itu saja, bahkan ada secarik kertas di samping piring. Langsung saja Lucy membacannya.
*Dimakan ya, Sayang. I love you*
Lucy terkekeh membaca tulisan kekasihnya itu.
"Tumben," gumam Lucy. Ya, biasanya Elno sangat jarang mengatakan kata I love you padanya.
Lucy segera makan makanan yang sudah dibuat tersebut dengan rasa bahagia. Sebenarnya dia bisa masak, tetapi Elno sama sekali tidak menyuruhnya untuk memasak, karena pernah sekali dia memasak, tetapi tangannya terkena minyak, sehingga membuat kulitnya melepuh. Itulah yang membuat Elno tidak menyuruhnya lagi untuk memasak.
******
Jam menunjukkan pukul satu siang. Tetapi sama sekali tidak ada tanda-tanda kedatangan kekasihnya itu. Padahal dia sudah memasak untuk makan siang. Meski pun Elno melarangnya, tetapi dia juga tidak tega melihat kekasihnya yang sudah capek, malah harus turun ke dapur lagi.
Drttt .... Drttt
Tiba-tiba handpone Lucy bergetar, dan ada panggilan dari nomor yang tidak diketahui. Awalnya dia membiarkannya saja, tetapi nomor tersebut kembali menghubunginya. Dengan penuh keterpaksaan, akhirnya Lucy mengangkatnya.
"Halo?" jawab Lucy dengan ramah.
"Halo? Apakah ini bagian dari keluarga Pak Elno?" tanya seorang di seberang sana yang berbicara formal.
__ADS_1
"Eum ... saya kekasihnya. Keluarganya sudah tidak ada. Maaf, ada apa, ya? Dan dari mana Anda tau nama kekasih saya?" tanya Lucy penasaran. Tetapi tiba-tiba perasaannya jadi tidak enak.
"Maaf, Buk. Pak Elno baru saja ditabrak oleh pengendara yang tidak bertanggung jawab. Maaf harus menyampaikan ini, tetapi korban tewas di tempat."
Duar!
Bagai disambar petir, tubuh Lucy sontak ambruk ke lantai. Dia menggeleng tidak percaya. Apakah dia tidak salah dengar tadi? Tidak mungkin!
"APA MAKSUD ANDA?" teriak Lucy dengan derai air mata yang menetes membasahi pipinya.
"Maaf, sekarang korban dilarikan ke rumah sakit untuk dibersihkan. Anda bisa datang ke rumah sakit Medistra, karena sekarang korban dilarikan ke sana. Kalau begitu saya tutup, permisi."
"A ... Aku nggak percaya!" ucap Lucy dengan sedikit kesusahan bernapas.
Tetapi dia segera bangkit, dan kaluar dari rumah. Dia ingin memastikan jika orang yang dimaksud polisi tadi bukanlah Elno miliknya.
Lucy segera memesan taxi online, lalu segera meminta diantarkan ke rumah sakit Medistra. Sepanjang perjalanan dia terus merapalkan doa, semoga memang bukan Elno miliknya.
Lucy segera membayar saat sudah di rumah sakit. Dia langsung berlari kencang masuk ke dalam rumah sakit, kemudian bertanya pada receptionist di mana korban kecalakaan tadi. Setelah mengetahuinya, dia segera berlari.
Tetapi beberapa langkah sebelum dia sampai, dia memperlambat langkahnya saat melihat wajah yang sangat dia kenali.
Lucy menggeleng, dia masih belum percaya. Tetapi yang ada di hadapannya kini adalah sosok kekasihnya yang terbaring kaku dengan wajah yang pucat. Air mata terus jatuh membasahi pipinya.
Dia menangkup kedua pipi Elno. "ENGGAK SAYANG! KAMU NGGAK BOLEH PERGI!" teriak Lucy yang frustasi di dalam ruangan tersebut.
Lucy terus mengguncang tubuh Elno, berharap dengan cara itu kekasihnya itu bisa bangun.
Lucy semakin menangis histeris. Bahunya bergetar dengan hebat. Bagaimana mungkin? Padahal baru saja semalam mereka bermesraan, tetapi kini dia justru telah pergi?
Tiba-tiba masuk seorang pria ke dalam ruangan tersebut. Bukannya ikut terpukul, dia justru tertawa sinis.
"Wow ... jadi, dia sudah meninggal?" tanyanya yang sontak membuat Lucy berbalik.
Lucy menatap tajam ayahnya. Kini feelingnya mengatakan pria itulah yang sudah membunuh Elno miliknya.
"Apa Anda yang melakukannya?" tanya Lucy dengan suara dingin.
"Kalau iya kenapa? Memangnya apa yang bisa kau harapkan dari laki-laki tidak berguna itu? Lebih baik dia mati saja, dari pada menyusahkan! Lagian, aku sengaja membayar orang untuk menabraknya. Ini balasan untuk kamu yang sudah mulai berani!" Brady berkata dengan santai sembari memainkan kukunya.
"Anda benar-benar br***sek!" umpat Lucy dengan sorot mata yang tajam.
Brady hanya memutar matanya malas, lalu segera keluar dari ruangan tersebut. Dia memang hanya berniat menyampaikan itu saja.
Sementara Lucy mengepalkan tangannya. Dia menatap kepergian ayahnya dengan penuh benci.
"Dia pernah mengatakan jika orang tua pasti selalu mengajarkan hal-hal yang baik untuk anak mereka. Lantas, bukankah membunuh bukanlah perbuatan buruk? Orang tuaku lah yang mengajarkannya. Baik, sekarang aku paham!" lirih Lucy dengan suara rendah.
"Kamu tenang saja, El. Aku akan membalaskan dendammu pada pria yang notebone-nya adalah Ayah ku sendiri!"
*TBC*
.
.
.
__ADS_1
.